Sub-Spesialisasi dari Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi

Asma dan PPOK

info

Seluruh informasi pada halaman ini ditujukan sebagai referensi umum dan tidak membatasi cakupan layanan medis yang dapat diberikan oleh masing-masing dokter. Untuk memastikan kesesuaian keahlian dokter dengan kebutuhan medis Anda, konsultasikan dengan dokter terkait.

Dokter spesialis pulmonologi dan kedokteran respirasi dengan subspesialis asma dan PPOK secara khusus mempelajari kondisi yang terkait dengan penyempitan saluran pernapasan. 

 

Tugas utama subspesialis ini adalah menegakkan diagnosis, menangani, serta membuat rencana perawatan untuk pasien yang mengalami penyempitan saluran pernapasan karena kondisi medis tertentu.  

 

Beberapa contoh penyakit yang dapat menyebabkan penyempitan saluran pernapasan serta menjadi ruang lingkup dokter spesialis pulmonologi dan kedokteran respirasi dengan subspesialis asma dan PPOK adalah asma, bronkitis kronis, dan emfisema. 

 

Pada tahun 1679, dr. Théophile Bonet mendeskripsikan PPOK sebagai “voluminous lungs”. dr. Giovanni Battista Morgagni menguatkan teori dr. Bonet dengan menjelaskan berbagai kasus ketika paru-paru menjadi bengkak karena menghirup udara. 

 

dr. Baillie pada tahun 1789 mempublikasikan ilustrasi mengenai emfisema sebagai patologi penyakit. Dengan demikian, emfisema diketahui sebagai bagian awal dari PPOK. Kemudian, bronkitis kronis dimasukkan ke dalam kelompok PPOK pada tahun 1814 yang ditemui oleh dokter asal Inggris, Charles Badham. 

 

Pada abad ke-19, dr. Henry Hyde Salter menggambarkan kondisi paru-paru selama terjadi serangan asma. Memasuki tahun 1892, Sir William Osler yang merupakan salah satu pendiri John Hopkins Medical School mengemukakan definisi tentang asma. 

 

Keunggulan Subspesialisasi

 

Untuk mendapatkan gelar subspesialis asma dan PPOK, dokter umum perlu menempuh pendidikan dokter spesialis pulmonologi dan kedokteran respirasi terlebih dahulu selama 3.5–5 tahun. Setelah itu, dilanjutkan dengan menjalani pelatihan subspesialisasi asma dan PPOK selama kurang lebih 2-3 tahun untuk mendapatkan gelar Sp.PKR, Subsp.APPOK. 

 

Pada dasarnya, dokter spesialis pulmonologi dan kedokteran respirasi dengan subspesialis asma dan PPOK memerlukan kemampuan yang tinggi dalam mendiagnosis dan mengobati berbagai kondisi yang terkait dengan penyempitan saluran pernapasan secara akurat. Dalam hal ini, subspesialis ini dilatih untuk melakukan berbagai prosedur medis, seperti tes fungsi paru, bronkoskopi, spirometri, terapi inhalasi, dan lain sebagainya. 

 

Selain itu, dokter subspesialis asma dan PPOK juga bisa berkoordinasi dengan tim medis lainnya, seperti perawat, ahli patologi, serta terapis pernapasan guna merencanakan dan mengatur metode perawatan yang tepat dan sesuai dengan kondisi pasien. 

 

Subspesialis ini juga dapat berkolaborasi dengan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah untuk memastikan diagnosis dan menentukan pengobatan yang tepat. Sebab, beberapa gangguan pernapasan dan kardiovaskular memiliki gejala yang serupa, seperti sesak napas atau nyeri dada. 

 

Penyakit dan Prosedur Medis

 

Adapun sejumlah masalah kesehatan yang dapat ditangani oleh dokter spesialis pulmonologi dan kedokteran respirasi dengan subspesialis asma dan PPOK adalah sebagai berikut: 

 

  • Asma alergi.

  • Asma.

  • Asma akibat olahraga.

  • Bronkitis kronis.

  • Emfisema.

  • Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

  • Atelektasis.

  • Asma okupasional dan asma terkait pekerjaan.

 

Beberapa tindakan medis yang dapat dilakukan oleh dokter spesialis pulmonologi dan kedokteran respirasi dengan subspesialis asma dan PPOK, yaitu:

 

  • Bronkoskopi.

  • Spirometri.

  • Rontgen thorax.

  • Bronkodilator.

 

Baca Lebih Sedikit

Dokter Kami di

arrow_drop_down2
Tidak Ada Data

Temukan Dokter Terdekat

arrow_right
prof-dr-ratnawati-mch-spp-k-phd

Online & Kunjungi Rumah Sakit

Prof. dr. Ratnawati, MCH, SpP (K), PhD

Pulmonologi (Paru)

Subspesialis Asma dan PPOK


MRCCC Siloam Hospitals Semanggi

Tersedia :

Selasa, 19 Mei 2026

message

coeSpecialistV2