Tuli Sensorineural - Penyebab, Gejala, & Pengobatannya
Kesehatan Tubuh

Tuli Sensorineural - Penyebab, Gejala, & Pengobatannya

05 Juni 2025 5 menit waktu baca
Tuli sensorineural adalah

Tuli sensorineural adalah salah satu jenis gangguan pendengaran yang menyerang bagian telinga dalam, tepatnya pada koklea, yang membuat penderitanya kesulitan mendengarkan suara pelan maupun keras. Kondisi ini perlu diwaspadai karena tidak hanya menimbulkan gejala ringan namun juga dapat menyebabkan hilangnya fungsi pendengaran secara permanen.

 

Mari pahami lebih lanjut tentang penyebab, gejala, hingga pencegahan tuli sensorineural melalui artikel berikut. 

 

Apa itu Tuli Sensorineural?

 

Tuli sensorineural (sensorineural hearing loss) adalah gangguan pendengaran yang terjadi akibat adanya masalah pada koklea, yakni bagian telinga dalam yang memiliki saraf sensorik. Koklea (rumah siput) terdiri dari serabut saraf pendengaran yang berfungsi untuk mengantarkan informasi suara ke otak melalui saraf auditori.

 

Sensorineural hearing loss dapat terjadi pada siapa saja, baik itu pria atau wanita maupun orang dewasa atau anak-anak, bahkan bayi yang baru lahir. Namun, kondisi ini sering kali dialami oleh bayi, anak-anak, dan orang lanjut usia.

 

Penyebab Tuli Sensorineural

 

Seperti yang sudah dijelaskan, sensorineural hearing loss disebabkan oleh adanya gangguan pada telinga bagian dalam yang berisi koklea. Kondisi ini dapat terjadi secara tiba-tiba (sudden) maupun bertahap (gradual). Adapun sejumlah faktor yang menjadi penyebab tuli sensorineural adalah sebagai berikut:

 

  • Usia.Pada orang lanjut usia, penurunan kemampuan mendengar biasanya terjadi secara bertahap atau dikenal sebagai presbikusis.

  • Trauma.Kerusakan pada telinga juga dapat terjadi karena adanya trauma kepala, seperti kecelakaan atau benturan kepala. Kerusakan ini dapat menyebabkan gangguan pada telinga yang bersifat sementara atau permanen.

  • Penggunaan obat-obatan tertentu.Sejumlah pengobatan medis, seperti kemoterapi untuk penyakit kanker, obat antibiotik, dan obat loop diuretics memiliki efek samping yang dapat memicu gangguan pendengaran (ototoksik).

 

Gejala Tuli Sensorineural

 

Sensorineural hearing loss dapat terjadi pada satu telinga (unilateral) atau kedua telinga (bilateral). Selain itu, tingkat keparahan penurunan pendengaran pada setiap penderita juga bisa berbeda antara telinga satu dan yang lainnya (asimetris). Gejala tuli sensorineural pada orang dewasa dan lansia berbeda dengan anak-anak dan bayi.

 

Secara umum, beberapa gejala yang dialami oleh orang dewasa dan lansia adalah:

 

  • Kesulitan memahami percakapan dengan suara normal.

  • Merasa lebih nyaman mendengarkan dengan salah satu telinga saja.

  • Telinga yang dapat mendengar lebih jelas akan lebih didekatkan dengan sumber suara.

  • Muncul suara berdenging di telinga (tinitus).

  • Sering meminta lawan bicara untuk mengulang perkataan sebelumnya karena tidak bisa mendengarnya dengan jelas.

  • Suara seperti teredam.

  • Cenderung membesarkan suara televisi atau telepon genggam.

  • Sering merasa pusing dan kehilangan keseimbangan tubuh.

  • Kesulitan memahami suara anak-anak dan wanita.

  • Merasa seperti mendengar suara tetapi tidak dapat memahaminya.

 

Sementara itu, sejumlah gejala tuli sensorineural yang sering dialami oleh anak-anak atau bayi baru lahir adalah sebagai berikut:

 

  • Anak tidak menoleh ketika ada orang yang memanggil namanya.

  • Belum bisa mengucapkan kata sederhana seperti “papa” meski sudah menginjak usia 1 tahun atau lebih.

  • Bayi (di bawah usia 1 tahun) tidak kaget ketika mendengar suara keras di dekatnya.

 

Diagnosis Tuli Sensorineural

 

Sebelum menegakkan diagnosis tuli sensorineural, dokter akan terlebih dahulu melakukan wawancara medis (anamnesis) untuk mengetahui tentang gejala dan riwayat kesehatan pasien secara keseluruhan. Setelah itu, dilanjutkan dengan melakukan pemeriksaan fisik untuk mencari tahu dan memastikan gejala yang saat ini dialami pasien.

 

Lebih lanjut lagi, dokter juga akan melakukan pemeriksaan secara spesifik di bagian telinga pasien untuk memastikan apakah gangguan pendengaran pasien berasal dari telinga bagian dalam, tengah, atau luar. Guna mengonfirmasi diagnosis tuli sensorineural, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang untuk memeriksa kemampuan pendengaran pasien. 

 

Adapun beberapa pemeriksaan pendengaran yang biasa digunakan adalah:

 

  • Pemeriksaan audiometri nada murni (pure tone audiometry).Pemeriksaan ini dilakukan untuk menilai kemampuan mendengar pasien terhadap nada berfrekuensi rendah, menengah, dan tinggi. Hasil pemeriksaan akan tergambar dalam bentuk grafik.

  • Pemeriksaan audiometri ucapan (speech audiometry).Terdapat tiga prosedur yang dilakukan dalam pemeriksaan ini, di antaranya speech reception threshold (mengetahui nada terendah yang dapat didengar pasien), speech discrimination (dilakukan dengan mengulang kata-kata yang diucapkan dokter untuk mengetahui apakah pasien memahaminya), dan speech in noise (mengetahui apakah pasien memahami perkataan pemeriksa dalam keadaan yang berisik).

 

Pengobatan Tuli Sensorineural

 

Pengobatan tuli sensorineural bertujuan untuk mengembalikan kualitas pendengaran pasien. Namun, jika pasien telah mengalami tuli total (deafness), maka tujuan pengobatannya adalah membantu pasien agar lebih mudah berkomunikasi dengan cara lain meski tidak bisa mendengar. Dengan begitu, kualitas hidup pasien akan meningkat.

 

Adapun beberapa penanganan medis yang biasanya disarankan dokter untuk pengobatan tuli sensorineural adalah sebagai berikut:

 

  • Penggunaan alat bantu dengar agar pasien bisa mendengar dengan lebih jelas.

  • Tindakan operasi pemasangan implan koklea. Pemasangan implan koklea bertujuan untuk menggantikan peran koklea dalam proses mendengar dengan implan agar pasien bisa mendengarkan suara lebih jelas.

  • Mengendalikan penyakit yang menjadi penyebab tuli sensorineural.

 

Sementara itu, sejumlah perawatan mandiri di rumah yang biasanya disarankan oleh dokter adalah:

 

  • Melakukan perawatan dan menjaga kebersihan alat bantu dengar yang digunakan.

  • Penderita tuli total bisa menyarankan keluarga dan orang-orang terdekatnya untuk mempelajari bahasa isyarat agar komunikasi tetap bisa terjalin dengan baik.

  • Menggunakan Assistive Listening Devices (ALDs) yang terhubung dengan alat bantu dengar melalui teknologi nirkabel, seperti bluetooth untuk memudahkan penderita dalam berkomunikasi atau mendengarkan suara di telepon genggam dan televisi.

 

Pencegahan Tuli Sensorineural

 

Sensorineural hearing loss dapat dicegah dengan menghindari penggunaan alat atau benda yang menghasilkan suara bising dalam waktu lama. Jika diperlukan, gunakan alat penutup telinga (earmuff) ketika sedang bekerja di tempat yang meningkatkan risiko seseorang terkena paparan suara bising, seperti tempat penambangan, pabrik, atau konstruksi bangunan.

 

Bagi penderita penyakit yang berisiko menyebabkan tuli sensorineural, seperti diabetes melitus disarankan untuk mengontrol kadar gula darah secara rutin. Bagi ibu hamil, sebaiknya lakukan pemeriksaan antenatal secara rutin dan menjalani vaksinasi TORCH (Toxoplasmosis, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes simplex) untuk mencegah infeksi Cytomegalovirus yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran pada bayi. 

 

Itulah penjelasan mengenai tuli sensorineural yang perlu Anda pahami. Apabila Anda mengalami gangguan pendengaran, seperti menurunnya kemampuan pendengaran, jangan ragu untuk berkonsultasi secara virtual dengan dokter Siloam Hospitals melalui Layanan Telekonsultasi yang tersedia di aplikasi MySiloam.

 

Layanan Telekonsultasi memungkinkan dokter untuk meresepkan obat-obatan sesuai kondisi pasien, dan pasien pun bisa memperoleh obat-obatan tersebut tanpa harus keluar rumah. Namun, terdapat beberapa obat-obatan tertentu yang memerlukan pasien untuk datang berkonsultasi secara langsung dengan dokter. Mari jaga selalu kesehatan Anda #BersamaSiloam.

 

telechat

message

ArticleDetail