Presbikusis - Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Pencegahanya
Kesehatan Tubuh

Presbikusis - Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Pencegahanya

19 November 2025 4 menit waktu baca
Presbikusis adalah

Presbikusis atau dikenal juga dengan sebutan age related hearing impairment adalah gangguan pendengaran pada lansia yang biasanya terjadi di atas 60 tahun. Kondisi ini terjadi ketika fungsi tubuh mengalami penurunan akibat proses alamiah penuaan. 

 

Gejala khas pasien presbikusis adalah terjadinya gangguan pendengaran pada kedua telinga yang semakin memburuk seiring waktu dan kesulitan dalam memahami komponen wicara terutama dalam frekuensi tinggi dan voiceless consonants.

 

Jika tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat, presbikusis dapat mengganggu aktivitas sehari-hari penderitanya sehingga memengaruhi kualitas hidup di hari tua. Mari ketahui lebih jauh informasi seputar presbikusis dalam artikel berikut ini.

 

Apa itu Presbikusis?

 

Presbikusis adalah kondisi ketika kedua telinga secara perlahan-lahan kehilangan kemampuannya dalam mendengar. Sebagian besar penderita presbikusis tidak menyadari gejalanya, dan baru terasa saat kemampuannya dalam mendengar semakin menurun.

 

Pada umumnya, jenis suara yang sulit didengar oleh penderita presbikusis adalah suara bernada tinggi, seperti bunyi teko air atau nada dering telepon. Sedangkan, kemampuan mendengar suara nada rendah tidak berubah.

 

Presbikusis adalah kondisi yang tidak berbahaya, dan cukup umum terjadi pada lansia berusia 60 tahun ke atas seiring dengan menurunnya fungsi pendengaran akibat proses penuaan secara alamiah. Meski begitu, kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari serta memengaruhi kepercayaan diri dan kemampuan dalam berkomunikasi.

 

Penyebab Presbikusis

 

Presbikusis adalah gangguan pendengaran yang dapat disebabkan oleh beberapa kondisi, seperti:

 

  • Gangguan pada telinga, seperti gangguan saraf, gangguan peredaran darah di telinga, perubahan struktur telinga, dan kerusakan rambut getar di telinga.
  • Masalah kesehatan tertentu, seperti tekanan darah tinggi (hipertensi), penyakit jantung, atau masalah pada pembuluh darah lainnya.
  • Kelainan pada telinga, seperti menurunnya fungsi gendang telinga atau menurunnya fungsi tiga tulang pendengaran di telinga bagian tengah, yang berfungsi mengirimkan gelombang suara dari gendang telinga ke telinga bagian dalam.
  • Kondisi lainnya, seperti penumpukan kotoran telinga (serumen prop), infeksi telinga, hingga tumor telinga.

 

Faktor Risiko Presbikusis

 

Presbikusis adalah gangguan pendengaran yang bersifat multifaktorial. Selain proses degenerasi yang menyebabkan terjadinya perubahan fisiologis dan anatomi pendengaran, faktor risiko lain yang berkontribusi dalam perkembangan kondisi ini di antaranya:

 

  • Faktor konsumsi obat-obat yang ototoksik (obat yang bersifat toksik bagi telinga).
  • Faktor kebiasaan merokok.
  • Faktor genetik atau riwayat keluarga.
  • Faktor hormonal.
  • Faktor lingkungan, seperti sering berada di lingkungan yang bising dan terpapar suara dengan volume yang keras dan berlangsung lama.

 

Gejala Presbikusis

 

Gejala utama presbikusis adalah penurunan pendengaran pada kedua telinga. Pada tahap awal, kondisi ini jarang dikeluhkan oleh pasien. Namun, sering kali anggota keluarga dan teman justru menyadari adanya gangguan ini terlebih dahulu daripada penderitanya.

 

Gejala awal yang umum lainnya adalah pasien kesulitan dalam mendengarkan atau memahami percakapan dalam situasi tertentu, seperti ketika berada pada ruangan yang bising. Selain itu, beberapa gejala lain yang umumnya dialami pasien presbikusis adalah:

 

  • Sulit memahami komponen wicara terutama dalam frekuensi tinggi dan voiceless consonants (dalam bahasa Indonesia contohnya bunyi konsonan p, t, c, k, f, Š, x, dan h).
  • Telinga berdenging.
  • Sulit menentukan arah sumber suara.
  • Sering meminta orang lain untuk mengulang perkataan.
  • Sering meningkatkan volume suara radio ataupun televisi.

 

Diagnosis Presbikusis

 

Guna menegakkan diagnosis, pertama-tama dokter akan melakukan pemeriksaan fisik pada telinga untuk melihat apakah terdapat kotoran telinga atau peradangan yang berpotensi menyebabkan gangguan pendengaran pasien.

 

Selanjutnya, dokter akan melakukan tes pendengaran jika diperlukan untuk memastikan jenis gangguan pendengaran dan seberapa parah kerusakan pendengaran yang dialami pasien. Tes pendengaran yang biasanya dilakukan untuk mendiagnosis presbikusis adalah tes garpu tala dan audiometri.

 

Tes garpu tala yang terdiri dari tes Rinne, Weber, dan Swabach berfungsi untuk membantu dokter menentukan jenis gangguan pendengaran penderita apakah tuli konduktif, tuli sensorineural, atau gabungan keduanya. Sementara itu, tes audiometri digunakan untuk mengetes kemampuan telinga dalam mendengar berbagai frekuensi dan volume suara.

 

Komplikasi Presbikusis

 

Meski termasuk dalam kondisi yang cukup umum terjadi dan tidak berbahaya, namun sebaiknya kondisi presbikusis segera ditangani. Pasalnya, terganggunya pendengaran juga dapat mengakibatkan menurunnya kemampuan fungsi kognitif, seperti memiliki memori jangka pendek dan kesulitan dalam memecahkan masalah.

 

Selain itu, terganggunya pendengaran seseorang terkadang membuat mereka sulit melakukan interaksi dengan orang lain, sehingga penderita cenderung memilih untuk menyendiri dan merasa depresi.

 

Pengobatan Presbikusis

 

Hingga saat ini, belum ada penanganan definitif untuk presbikusis dikarenakan kondisi ini bersifat ireversibel akibat perubahan struktur dan proses degenerasi dari organ pendengaran. 

 

Tentunya, pengobatan presbikusis akan disesuaikan dengan penyebab, kondisi kesehatan, dan tingkat keparahan fungsi pendengaran yang dialami oleh pasien. Adapun beberapa pilihan pengobatan presbikusis adalah sebagai berikut:

 

  • Menggunakan alat bantu dengar, yang dapat memperkuat suara.
  • Rehabilitasi pendengaran atau rehabilitasi audiologi, yaitu proses rehabilitasi yang berfokus pada penyesuaian diri dengan kondisi pendengaran yang menurun, mengajarkan pasien menggunakan alat bantu dengar dengan benar, bagaimana beradaptasi dengan alat bantu dengar, serta terapi komunikasi.
  • Implan koklea, yaitu prosedur yang dilakukan dengan menanamkan sebuah alat untuk membantu kerja koklea (membawa getaran suara ke otak lewat saraf pendengaran). Prosedur ini dilakukan jika terapi suportif seperti penggunaan alat bantu dengar dan rehabilitasi audiologi tidak efektif. 

 

Pencegahan Presbikusis

 

Beberapa gaya hidup yang bisa diterapkan untuk mencegah terjadinya presbikusis adalah sebagai berikut:

 

  • Menghindari paparan terhadap suara bising atau menggunakan pelindung telinga saat berada di tempat yang ramai dan bising.
  • Menghentikan kebiasaan merokok dan mengonsumsi alkohol.
  • Mengonsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang.
  • Rutin berolahraga.
  • Istirahat yang cukup.
  • Menjaga kebersihan telinga.
  • Rutin melakukan pemeriksaan telinga dan fungsi pendengaran ke dokter.


Itulah penjelasan seputar kondisi presbikusis yang perlu Anda ketahui. Jika ingin mewujudkan kualitas hidup yang baik di masa tua, Anda dapat melakukan pemeriksaan telinga serta fungsi pendengaran bersama dokter secara rutin di Siloam Hospitals terdekat. Sebelum itu, buat janji temu terlebih dahulu dengan dokter melalui aplikasi MySiloam atau fitur Cari Dokter. Mari jaga selalu kesehatan Anda #BersamaSiloam!

 

Digital Booking Laboratorium

Dokter Kami
dr-agustinus-sony-yudianto-sptht-kl

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Agustinus Sony Yudianto, SpTHT-KL

Otorinolaringologi (THTBKL)

Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorok-Kepala-Leher


Siloam Hospitals Balikpapan

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ropi-affandi-sptht-kl

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ropi Affandi, SpTHT-KL

Otorinolaringologi (THTBKL)

Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorok-Kepala-Leher


Siloam Sriwijaya Palembang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-emanuel-q-sptht-kl

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Emanuel Quadarusman, SpTHT-KL

Otorinolaringologi (THTBKL)

Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorok-Kepala-Leher


Siloam Hospitals Makassar

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail