Keberhasilan Transplantasi Sel Punca Pertama di Siloam Hospitals

Keberhasilan Transplantasi Sel Punca Pertama di Siloam Hospitals

patient img

Cerita Bapak Toto

Toto Prima Yulianto membutuhkan waktu sedikit lebih banyak untuk mencerna, ketika dokter pertama kali menyatakan bahwa dirinya perlu menjalani prosedur hematopoietic stem-cell transplantation (HSCT) atau transplantasi sel punca hematopoietik akibat penyakit kanker multiple myeloma yang diidapnya. Fakta bahwa ia merupakan pasien pertama yang menjalani prosedur ini di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, tentu menimbulkan perasaan yang campur aduk.  

 

Namun, ketegaran dalam menjalani proses demi proses perawatan dan pengobatan berbuah hasil yang memuaskan. Prosedur transplantasi sel punca hematopoietik yang dilakukan oleh multidisciplinary team MRCCC Siloam Hospitals Semanggi menunjukkan hasil yang positif sehingga kondisi kesehatan Toto semakin membaik. Simak kisah selengkapnya melalui artikel berikut ini. 

 

Diagnosis Multiple Myeloma

 

Perjalanan Toto hingga akhirnya divonis mengidap multiple myeloma atau dalam bahasa Indonesia disebut mieloma multipel bisa dibilang memakan waktu yang cukup panjang. Mula-mula, ia merasakan nyeri di area sekitar pinggang yang semakin lama terasa semakin parah. 

 

“Sebenarnya saya sudah merasakan nyeri yang sangat luar biasa. Namun puncaknya terjadi pada tanggal 3 Juli 2023, ketika saya bangun untuk berangkat kerja. Saya ke kamar mandi dengan maksud melakukan ritual pagi. Setelahnya, saya sampai tidak bisa bangun sehingga harus memanggil keluarga untuk memapah saya,” kenang Toto. 

 

Sebagai orang yang berdomisili di kawasan Bogor, Jawa Barat, ia memutuskan untuk melakukan pemeriksaan di rumah sakit terdekat. Dugaan awal dokter, Toto memiliki permasalahan saraf dan otot. Namun setelah diberikan obat, gejala tidak kunjung membaik. 

 

Toto kemudian mendapatkan rekomendasi dari kantornya untuk mengunjungi MRCCC Siloam Hospitals Semanggi dan berkonsultasi dengan dr. Ralph Girson Gunarsa, SpPD-KHOM. Selanjutnya, Dokter Ralph menganjurkan Toto untuk segera menjalani pemeriksaan MRI

 

“Dari hasil MRI ternyata ditemukan adanya lytic lesion atau tulang yang menipis, hal ini terjadi karena adanya aktivitas dari sumsum tulang yang meningkat, yang menjadi salah satu ciri khas dari kanker darah,” jelas Dokter Ralph. 

 

Sebagai informasi, ada sejumlah temuan khas pada kasus multiple myeloma yang dikenal dengan istilah CRAB, yaitu calcium elevation (peningkatan kadar kalsium darah), renal dysfunction (disfungsi ginjal), anemia, dan bone pain with lytic lesion (nyeri tulang dengan adanya lesi kerusakan tulang). 

 

Untuk memperkuat diagnosis, Dokter Ralph meminta Toto untuk menjalani prosedur biopsi sumsum tulang. “Saya minta Pak Toto untuk segera menjalani biopsi sumsum tulang. Puji syukur, berkat kerja keras Dokter Agus [Dr. dr. Agus Susanto Kosasih Sp.PK(K)., MARS] selaku dokter patologi klinik, hasilnya bisa keluar dengan cepat dan akurat, sehingga kami dapat langsung mengonfirmasi bahwa Pak Toto mengidap multiple myeloma,” terang Dokter Ralph lebih lanjut. 

 

Menjalani Terapi Induksi 

 

Pada kondisi yang masih lemah tak berdaya, Toto masuk dalam fase pengobatan. Ia diminta oleh Dokter Ralph untuk menjalani terapi induksi. “Terapi induksi itu semacam kemoterapi, dalam kasus multiple myeloma dilakukan di hari ke-1, hari ke-4, hari ke-8, dan hari ke-11,”  ungkap Dokter Ralph. 

 

Terapi induksi menjadi salah satu hal yang tergolong berat bagi Toto, karena ia harus dirawat di ruang isolasi yang disebut immunocompromised isolation room (ICIR) selama 18 hari penuh. Hal ini sangat diperlukan karena sejatinya ada sejumlah efek samping kemoterapi yang bisa terjadi. Benar saja, selama dirawat di ICIR, Toto mengalami beberapa keluhan, seperti rasa sakit pada area mulut, mual, lemas, hingga kesemutan di ujung-ujung jari. 

 

Untuk informasi tambahan, ICIR adalah ruangan steril bertekanan positif yang dirancang khusus bagi pasien-pasien dengan kekebalan tubuh yang lemah, termasuk pasien yang sedang menjalani terapi kanker. Kelembapan udara di dalam ruangan ini harus dijaga di angka rata-rata 40–60% untuk menghindari pertumbuhan bakteri yang dapat menyerang pasien. 

 

Semangat tetap terjaga. Ungkapan inilah yang dapat mewakilkan Toto selama menjalani perawatan di ICIR. Ia bercerita, “Di dalam ICIR udara dinginnya luar biasa, ditambah saya sendirian dan hanya ditemani oleh suster dan perawat. Ada hiburan sih, bisa nonton drama Korea di Netflix dan mendengarkan lagu jazz favorit. Saya juga selalu menjalin komunikasi melalui video call dengan keluarga setiap jam 8 pagi dan 8 malam agar tidak merasa terlalu kesepian.” 

 

Setelah melewati perjuangan menjalani terapi induksi, tim dokter melihat bahwa kondisi Toto kian membaik. Ia sudah mulai bisa bergerak dan berjalan serta nyeri yang dirasakan juga berkurang. Dokter Ralph bersama tim dokter lainnya melakukan sejumlah pemeriksaan follow up untuk mengetahui perkembangan terkini terkait kondisi Toto. 

 

Dari laboratorium, Dokter Agus menyampaikan sebuah kabar gembira. Ia menyatakan jika Toto sudah masuk pada fase remisi, yang artinya sel-sel plasma sudah menunjukkan pengurangan dengan cukup signifikan, sehingga bisa dilanjutkan ke tahap pengobatan utama, yaitu transplantasi sel punca hematopoietik. 

 

Transplantasi Sel Punca Hematopoietik

 

Ketua tim dokter yang memberikan penanganan pada Toto, DR. dr. Cosphiadi Irawan, SpPD-KHOM, memberikan penjelasan terkait transplantasi sel punca hematopoietik yang baru pertama kali dilakukan di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi. Ia mengatakan, “Dahulu, prosedur transplantasi pada pengobatan kanker darah hanya bersumber pada sumsum tulang belakang saja.” 

 

“Namun saat ini teknologi kedokteran sudah semakin berkembang sehingga lahirlah transplantasi sel punca hematopoietik, yang berarti selain dari sumsum tulang belakang, sel punca juga bisa diambil dari darah perifer serta darah tali pusat atau umbilical cord blood,” tambahnya. 

 

Transplantasi sel punca hematopoietik dibagi menjadi dua metode, yaitu autologous (transplantasi yang bersumber pada sel punca pasien itu sendiri) dan allogeneic (transplantasi yang bersumber pada sel punca orang lain atau pendonor). Dalam kasus Toto, transplantasi dilakukan menggunakan metode autologous dengan bersumber pada darah perifer.

 

Selain Dokter Ralph dan Dokter Cosphiadi, penanganan multiple myeloma pada Toto juga melibatkan campur tangan dr. Nadia Ayu Mulansari, SpPD, KHOM. Ia mengungkapkan jika prosedur transplantasi sel punca hematopoietik terbagi pada dua tahapan. “Prosedur kita bagi ke dalam dua tahap; pertama adalah collecting, yaitu kami melakukan pengambilan stem cell-nya untuk disimpan terlebih dahulu,” kata Dokter Nadia. 

 

Tahap kedua adalah penerimaan kembali stem cell yang telah diambil dan disimpan sebelumnya. Dokter Nadia menambahkan, “Kami melakukan berbagai pemeriksaan dengan maksud memastikan Pak Toto siap untuk menerima kembali stem cell-nya.”


Pada tahap ini, prosedurnya mirip dengan transfusi darah, yaitu dengan menyuntikkan stem cell melalui infus intravena. Sebagai penjelasan, stem cell dapat disimpan di bank stem cell hingga bertahun-tahun. Jika sewaktu-waktu dibutuhkan akibat terjadinya kekambuhan sel kanker pada pasien, dokter tidak perlu melakukan tahapan collecting dan dapat langsung melanjutkan dengan tahapan infus sel punca.   

 

Kembali Beraktivitas, dalam Hidup yang Berkualitas

 

Dokter Nadia sempat mengenang momen canda dan tawa ketika dirinya melakukan penyuntikan stem cell. “Saya bilang ke Pak Toto kalau hari ulang tahunnya dipindahkan, karena apa yang dialami oleh Pak Toto ini seperti terlahir kembali,” ungkap Dokter Nadia. 

 

Guna membantu mengoptimalkan kemampuan gerak tubuh, meringankan nyeri yang sedikit masih terasa, serta memberikan efek relaksasi pada tubuh, Toto juga menjalani fisioterapi secara rutin sesuai arahan tim dokter. 

 

Saat ini, Toto sudah bisa kembali menjalankan aktivitas dan pekerjaan di kantor serta berkumpul bersama keluarga dengan semangat dan harapan yang baru. Jika sebelumnya harus dipapah untuk keluar dari kamar mandi, kini ia sudah bisa melakukan olahraga ringan, yang tidak hanya dilakukan di lingkungan rumah, namun juga di kantornya. 

 

Penting untuk diketahui bahwa prosedur transplantasi sel punca hanya direkomendasikan bagi pasien setelah diagnosis dikonfirmasi. Dokter akan terlebih dahulu mendiskusikan dan mempertimbangkan dengan seluruh tim medis terkait kondisi pasien, untuk memastikan pasien telah memenuhi persyaratan dalam menjalani tindakan ini.

 

Oleh karena itu, jika memiliki gejala atau keluhan kondisi medis yang berkaitan dengan penyakit kanker, Anda dapat langsung mengunjungi Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Siloam Hospitals terdekat untuk mendapatkan evaluasi, diagnosis, serta saran perawatan yang tepat sesuai kondisi Anda.

 

Lebih lanjut, guna mengetahui informasi terkait prosedur transplantasi sel punca secara lebih mendalam, Anda dapat mengunjungi MRCCC Siloam Hospitals Semanggi sebagai pusat unggulan penanganan penyakit kanker di Siloam Hospitals Group. 

 

Sebagai informasi, setiap tahapan pemeriksaan dan metode pengobatan yang Anda jalani terkait kondisi kanker dapat berbeda bergantung pada fasilitas kesehatan masing-masing rumah sakit. Tenaga medis profesional akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi medis setiap pasien. 

 

Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk melihat jadwal praktik dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, serta memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

 

no photo

dr. Ralph Girson Gunarsa, SpPD-KHOM

no photo

DR. dr. Cosphiadi Irawan, SpPD-KHOM

no photo

dr. Nadia Ayu Mulansari, SpPD, KHOM

message

PatientStoryDetail