Kesehatan Tubuh
Bukan Depresi, Waspadai Abulia! Apatisme Akibat Penyakit Otak

Table of Contents
Abulia adalah kondisi yang ditandai dengan kehilangan semangat atau inisiatif untuk melakukan aktivitas sehari-hari walaupun tidak memiliki kendala fisik. Kondisi ini dapat berkembang akibat penyakit yang menyerang otak. Beberapa penderitanya tidak sadar akan perubahan dalam perilakunya, namun orang di sekelilingnya dapat merasakan efek dari tindakan penderita. Mari kenali kondisi ini lebih jauh melalui pembahasan di bawah ini.
Apa itu Abulia?
Abulia adalah kondisi apatisme atau berkurangnya kemauan akibat penyakit yang memengaruhi otak. Istilah abulia berasal dari bahasa Yunani, aboulia, yang berarti tidak berkemauan. Kondisi ini berbeda dengan ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas karena penurunan kemampuan kognitif atau fisik.
Umumnya, seseorang yang menderita abulia menunjukkan gejala yang sesuai dengan tingkat keparahannya. Abulia sering kali dikaitkan dengan gangguan neurologis atau kejiwaan. Diketahui sekitar 20–25% penderita stroke dapat mengalami apatisme atau abulia.
Kondisi abulia pada penderita stroke sendiri bisa muncul selama stroke atau setelah pemulihan. Sementara itu, abulia yang disebabkan oleh penyakit progresif, seperti penyakit Alzheimer atau penyakit Parkinson, bisa memburuk secara bertahap.
Terdapat dua klasifikasi abulia yang didasarkan oleh tingkat keparahannya. Berikut penjabarannya:
-
Abulia minor (apatis)
Penderitanya masih bisa memenuhi permintaan orang lain dan berpartisipasi dalam kegiatan, tetapi tidak berkeinginan untuk menyusun rencana atau menjalankan aktivitas atas kemauan sendiri. Kondisi ini ditandai dengan karakteristik berikut:
-
Tidak banyak bicara secara spontan.
-
Hanya memberikan tanggapan secara singkat.
-
Memberi tahu sejumlah rencana, tetapi tidak menindaklanjutinya.
-
Inisiatif berbeda dengan kemauan.
-
Abulia mayor (mutisme akinetik)
Penderitanya tidak melakukan apa pun, termasuk makan dan berbicara, sehingga membutuhkan perawatan total. Berikut beberapa karakteristiknya:
-
Respons verbal dan motorik terbatas meskipun tidak mengalami kelumpuhan akibat koma.
-
Mungkin hanya bisa membuka mata dan menggerakkan anggota tubuh tertentu secara singkat.
-
Dapat terjadi gangguan bicara dan agitasi (mudah tersinggung) apabila kondisinya berkaitan dengan lesi yang melibatkan lobus anteromedial.
-
Mata terbuka dan mengikuti objek.
-
Bisa memberikan jawaban singkat, biasanya hanya bersuku kata satu, yang dapat menjawab pertanyaan.
Penyebab Abulia
Pada awalnya, abulia dianggap sebagai gangguan kemauan yang membuat penderitanya tidak bisa mengambil keputusan atau bertindak secara mandiri. Namun, abulia diduga berkaitan dengan kerusakan sirkuit yang bergantung pada dopamin di otak (sistem dopaminergik). Adapun lesi di sirkuit frontal-subkortikal otak diketahui dapat menyebabkan abulia.
Sebagai catatan, sistem dopaminergik adalah sistem yang menampung produksi bahan kimia di otak yang memberikan perasaan bahagia atau rasa puas secara positif. Apabila umpan balik positif dari sistem ini terganggu, kemauan seseorang untuk mencapai kebahagiaan atau kepuasan pun dapat menurun.
Selain penyakit Alzheimer dan penyakit Parkinson, abulia muncul akibat beberapa kondisi medis lain, seperti:
-
Cedera otak akibat infeksi, cedera, atau kanker.
-
Demensia frontotemporal.
-
Demensia vaskular.
-
Stroke.
-
Penyakit Huntington, yaitu penyakit langka akibat kelainan genetik yang dapat menyebabkan kerusakan otak secara progresif.
Gejala Abulia
Terdapat sejumlah gejala abulia. Berikut adalah beberapa indikasi klinis dari abulia yang perlu diperhatikan:
-
Pasif.
-
Kerap kali diam atau tidak bersuara.
-
Ketidakpedulian dan tidak adanya kemauan berpartisipasi dalam kegiatan.
-
Kurangnya motivasi atau kemauan dalam memulai atau menyelesaikan proyek.
-
Berkurangnya interaksi dengan orang lain.
-
Membatasi komunikasi.
-
Tidak peduli atau acuh terhadap orang lain.
-
Gerakan fisik lambat.
-
Kurang spontan.
-
Cenderung mengucilkan diri.
-
Sulit atau ragu membuat keputusan.
-
Mengunyah makanan dalam jangka waktu lama tanpa menelannya.
Diagnosis Abulia
Meskipun terlihat seperti depresi, abulia tidak bisa diobati dengan antidepresan. Pasalnya, abulia berbeda dengan depresi yang sering disertai dengan perasaan sedih atau putus asa. Abulia merujuk pada hilangnya inisiatif dan motivasi tanpa perasaan emosional yang kuat.
Dokter perlu memeriksa gejala dan mengevaluasinya untuk memberikan rekomendasi pengobatan yang tepat. Pemeriksaan akan dimulai dengan anamnesis (wawancara medis) guna mengetahui gejala dan riwayat medis pasien. Selain itu, dokter akan melakukan wawancara dengan orang-orang terdekat pasien untuk mengevaluasi perilaku pasien.
Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh pada pasien, terutama melakukan pemeriksaan neurologis atau fungsi saraf. Apabila memerlukan pemeriksaan lanjutan, dokter dapat merekomendasikan beberapa tes pencitraan, seperti CT scan atau MRI. Dengan tes pencitraan ini, dokter bisa mendapatkan hasil pemindaian otak dan mengidentifikasi lesi yang berpotensi menyebabkan abulia.
Pengobatan Abulia
Dokter akan memberikan rekomendasi pengobatan untuk menangani abulia. Obat-obat yang diberikan bertujuan untuk meningkatkan dopamin di sistem dopaminergik. Beberapa di antaranya adalah:
-
Amantadine.
-
Carbidopa/levodopa.
-
Bupropion.
-
Bromocriptine.
-
Agomelatine.
-
Nefiracetam.
-
Olanzapine.
Di samping penggunaan obat-obatan di atas, dokter mungkin akan merekomendasikan sejumlah terapi, yaitu:
-
Terapi fisik atau fisioterapi untuk membantu pasien beraktivitas fisik sehingga bisa meningkatkan motivasinya.
-
Terapi kognitif untuk membantu mengoptimalkan kemampuan berpikir.
-
Konseling pribadi dan keluarga untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi pasien.
Abulia merupakan kondisi yang dipengaruhi oleh gangguan pada sistem dopaminergik dan berkaitan dengan neurologis. Hal ini membuatnya berbeda dengan gangguan psikologis, seperti depresi. Namun, beberapa gejala yang disebutkan tidak selalu mengindikasikan abulia. Agar mendapatkan diagnosis yang tepat, Anda bisa mengonsultasikan berkurangnya kemauan untuk berkomunikasi setelah stroke dengan Dokter Spesialis Neurologi di Siloam Hospitals terdekat.
Setiap pasien akan menjalani prosedur pemeriksaan dan mendapatkan penanganan sesuai dengan kondisi medisnya. Selain itu, dokter akan menyesuaikan serangkaian tes dan pengobatan sesuai dengan ketersediaan fasilitas kesehatan di masing-masing rumah sakit sehingga tahapannya mungkin berbeda di satu lokasi dan lainnya.
Apabila ingin membuat janji temu dengan dokter, Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam. Melalui aplikasi ini, Anda juga bisa membuat janji temu dengan dokter secara langsung hingga mengecek hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam segera dan gunakan berbagai fiturnya untuk memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Sumber
National Library of Medicine. Abulia. Diakses pada 2024 | Verywell Health. The Neurological Disorder Abulia. Diakses pada 2024 | Global Science Research Journals. Symptoms, Causes, Diagnosis and Treatment of Abulia. Diakses pada 2024 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Dorothea Fortuna Meita Caturwulan, M.Kes, Sp.N, F.MIN, CIPS, FIPP
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
Brain Check Up Plus+ Package
Penawaran Spesial, Skrining Stroke
34 Service/Item
Rp12.500.000
Skrining Kesehatan Otak Basic
Skrining Pria & Wanita
14 Service/Item
Rp1.500.000
Skrining Kesehatan Otak Advanced
Skrining Pria & Wanita
16 Service/Item
Rp4.100.000
Skrining Kesehatan Otak
2 Service/Item
Rp3.000.000
TERPOPULER
Brain Check Up
Penawaran Spesial, Skrining Stroke
19 Service/Item
Rp9.000.000






