Kesehatan Tubuh
Demensia Lewy Body - Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

Table of Contents
Demensia Lewy body adalah kondisi medis yang berhubungan dengan terbentuknya endapan abnormal protein alpha-synuclein pada otak. Endapan protein tersebut, yang dikenal sebagai Lewy body, dapat memengaruhi kadar senyawa kimia di dalam otak sehingga menyebabkan terjadinya gangguan dalam berpikir, bergerak, hingga berperilaku. Mari kenali apa itu demensia Lewy body selengkapnya dalam artikel berikut ini.
Apa itu Demensia Lewy Body?
Lewy body dementia (LBD) atau demensia Lewy body adalah salah satu jenis demensia yang paling sering terjadi setelah penyakit Alzheimer. LBD mewakili 20–30% dari seluruh kasus demensia. Sebagai informasi, demensia adalah kondisi ketika terdapat masalah mental yang disebabkan oleh perubahan dan kerusakan di otak secara bertahap. Kondisi ini umumnya terjadi pada usia 65 tahun ke atas.
Demensia Lewy Body terjadi ketika terdapat protein yang menumpuk dan mengendap pada sel saraf di otak. Endapan protein tersebut (Lewy body) dapat memengaruhi area otak yang mengatur cara berpikir, daya ingat, dan fungsi motorik (gerakan tubuh).
LBD mencakup dua entitas klinis, yaitu demensia Lewy body dan demensia penyakit Parkinson. Kondisi ini terjadi karena adanya kelainan otak degeneratif progresif yang ditandai dengan demensia, psikosis, dan ciri-ciri parkinsonisme (istilah luas yang mengacu pada berbagai penyakit neurodegeneratif dengan gejala motorik seperti kekakuan, tremor, dan bradikinesia).
Penyebab Demensia Lewy Body
Secara umum, belum diketahui secara pasti bagaimana endapan protein tersebut bisa terjadi. Namun, diketahui bahwa protein ini juga berkaitan dengan penyakit Parkinson. Di dalam otak penderita DLB juga ditemukan adanya plak amyloid (amyloid plaques) dan serat tersimpul yang tidak larut serta terbentuk di dalam neuron (neurofibrillary tangles). Kondisi tersebut berhubungan dengan penyakit Alzheimer.
Di samping itu, sejumlah faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami Lewy body dementia adalah sebagai berikut:
-
Berusia di atas 60 tahun.
-
Berjenis kelamin pria.
-
Memiliki keluarga dengan riwayat Lewy body dementia atau penyakit Parkinson.
-
Terdapat perubahan (mutasi) pada gen APOE, SNCA, dan GBA.
-
Mengalami depresi.
Gejala Demensia Lewy Body
Orang dengan Lewy body dementia mungkin tidak mengalami seluruh gejala yang berkaitan dengan penyakit ini. Namun, kondisi ini dapat menimbulkan gejala yang memengaruhi fungsi kognitif, motorik, gangguan tidur, hingga perilaku dan suasana hati seseorang.
Perlu diketahui, gejala LBD berfluktuasi seiring waktu dan bervariasi antar individu. Berikut adalah penjelasan selengkapnya.
Gejala LBD yang berkaitan dengan fungsi kognitif:
-
Halusinasi visual, yaitu kondisi ketika seseorang melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Kondisi ini terjadi pada 80% penderita LBD. Selain halusinasi visual, penderita juga bisa mengalami halusinasi nonvisual, seperti mendengar atau mencium sesuatu yang sebenarnya tidak ada, namun cenderung jarang terjadi.
-
Gangguan dalam berkonsentrasi, memusatkan perhatian, dan kewaspadaan.
-
Gangguan kemampuan berpikir.
Berbeda dengan penyakit Alzheimer, gangguan daya ingat biasanya tidak muncul pada tahap awal LBD, namun bisa terjadi seiring dengan berkembangnya penyakit ini.
Gejala LBD yang berkaitan dengan fungsi motorik:
Beberapa penderita LBD mungkin tidak mengalami gangguan fungsi motorik (gejala penyakit Parkinson atau dikenal sebagai parkinsonian signs) yang signifikan selama beberapa tahun pertama. Adapun beberapa gejala LBD yang berkaitan dengan fungsi motorik, di antaranya:
-
Kekakuan otot.
-
Menyeret kaki saat berjalan.
-
Gerakan yang lambat.
-
Tremor atau gemetar yang biasanya terjadi saat istirahat.
-
Gangguan keseimbangan.
-
Kesulitan menelan.
-
Ekspresi wajah berkurang.
-
Tulisan tangan terlihat lebih kecil daripada biasanya.
Gejala LBD yang berkaitan dengan gangguan tidur:
-
REM sleep behavior disorder.
-
Rasa kantuk di siang hari yang berlebihan (tidur siang selama lebih dari dua jam).
-
Sindrom kaki gelisah atau keinginan tidak terkontrol untuk menggerakkan kaki (restless leg syndrome).
Gejala LBD yang berkaitan dengan perilaku dan suasana hati:
-
Menurunnya minat untuk melakukan aktivitas sehari-hari (anhedonia).
-
Cenderung menutup diri dan enggan melakukan interaksi sosial.
-
Cemas berlebihan.
Gejala LBD lainnya:
-
Perubahan suhu tubuh.
-
Penurunan tekanan darah.
-
Pusing.
-
Sering terjatuh.
-
Sensitif terhadap suhu panas maupun dingin.
-
Disfungsi seksual.
-
Gangguan indra penciuman.
Diagnosis Demensia Lewy Body
Diagnosis LBD memerlukan pemeriksaan klinis menyeluruh karena banyak gejala dari penyakit ini yang tumpang tindih dengan gangguan demensia lainnya. Secara umum, demensia Lewy body bisa mengacu pada dua kondisi yang serupa, yaitu demensia dengan Lewy body atau Parkinson’s disease dementia.
Kedua diagnosis tersebut didasari dengan perubahan yang sama di otak. Selain itu, orang yang didiagnosis menderita dua kondisi ini juga bisa mengalami gejala yang serupa. Karena itu, diagnosis demensia Lewy body cenderung sulit dilakukan.
Meski demikian, terdapat perbedaan antara dua kondisi tersebut jika dilihat dari waktu timbulnya gangguan kognitif dan fungsi motorik. Pada kasus DLB, gangguan kognitif dapat berkembang dalam jangka waktu satu tahun setelah munculnya gangguan fungsi motorik.
Orang dengan DLB dapat mengalami penurunan kemampuan berpikir yang mungkin terlihat seperti penyakit Alzheimer. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka juga bisa mengalami gangguan pergerakan dan gejala khas LBD lainnya.
Sementara itu, dalam kasus Parkinson’s disease dementia, gejala kognitif dapat berkembang selama lebih dari satu tahun setelah munculnya gangguan fungsi motorik. Selanjutnya, orang dengan Parkinson’s disease dementia juga dapat mengalami perubahan suasana hati dan perilaku.
Dalam menegakkan diagnosis demensia Lewy body, dokter akan menanyakan tentang keluhan, riwayat penyakit, dan perjalanan penyakit pasien. Jika pasien sudah tidak bisa berkomunikasi dengan baik, dokter akan melakukan tanya jawab medis (anamnesis) kepada keluarga. Setelah itu, dokter dapat melakukan sejumlah prosedur pemeriksaan, di antaranya:
-
Pemeriksaan fisik dan saraf, yang meliputi:
-
Pemeriksaan refleks tendon.
-
Pemeriksaan kekuatan motorik.
-
Pemeriksaan saat pasien sedang berjalan.
-
Pemeriksaan bentuk otot.
-
Pemeriksaan gerakan mata.
-
Pemeriksaan keseimbangan.
-
Pemeriksaan indra perasa dan penciuman.
-
Evaluasi kondisi mental.
-
Tes darah, untuk menyingkirkan kemungkinan defisiensi vitamin B12 atau hipotiroidisme.
-
Tes pencitraan, seperti MRI, CT scan, fluorodeoxyglucose PET brain scan, serta single-photon emission computerized tomography (SPECT).
-
Overnight sleep study (polysomnogram), untuk memeriksa REM sleep behavior disorder.
-
Myocardial scintigraphy (pemeriksaan pencitraan untuk jantung yang dipergunakan di cabang kedokteran nuklir).
Pengobatan Demensia Lewy Body
Secara umum, belum ada metode pengobatan khusus yang bisa menyembuhkan demensia Lewy body. Namun, dokter dapat melakukan tindakan medis tertentu untuk membantu mengelola gejala yang dialami oleh penderitanya. Beberapa tindakan medis tertentu, di antaranya:
-
Pemberian obat-obatan, seperti:
-
Cholinesterase inhibitors.
-
Obat-obatan untuk penyakit Parkinson, seperti carbidopa-levodopa untuk mengurangi kekakuan pada otot dan gerakan yang melambat.
-
Obat-obatan untuk mengurangi gejala halusinasi, kebingungan, masalah pergerakan, dan gangguan tidur.
-
Terapi perilaku.
-
Fisioterapi, terapi okupasi, dan terapi wicara untuk melatih pasien agar dapat mandiri dalam melakukan kegiatan sehari-hari.
-
Terapi psikologis, misalnya stimulasi kognitif untuk meningkatkan memori, problem solving skill (kemampuan memecahkan masalah), dan kemampuan berbahasa.
Selain itu, dokter juga dapat menyarankan keluarga atau pendamping pasien dengan DLB untuk mengurangi kebisingan di lingkungan sekitar pasien guna menghindari perburukan kondisi. Pendamping juga bisa mengarahkan pasien untuk melakukan pekerjaan rumah yang sederhana, seperti melipat pakaian, merapikan tempat tidur, dan lain sebagainya.
Komplikasi Demensia Lewy Body
Lewy body dementia adalah kondisi yang bersifat progresif. Artinya, kondisi ini bisa memburuk secara bertahap seiring dengan berjalannya waktu. Ketika gejalanya semakin memburuk, Lewy body dementia berisiko menimbulkan beberapa komplikasi, di antaranya:
-
Demensia parah.
-
Perilaku agresif.
-
Depresi.
-
Peningkatan risiko terjatuh dan cedera.
-
Memburuknya gejala penyakit Parkinson, seperti tremor.
-
Kematian.
Agar terhindar dari risiko komplikasi tersebut, penting untuk segera menangani Lewy body dementia dengan tepat. Dalam hal ini, Anda bisa berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Neurologi (Otak dan Saraf) berpengalaman dari Siloam Hospitals jika mengalami gejala-gejala yang mengarah pada kondisi tersebut.
Selain itu, gunakan juga aplikasi MySiloam untuk mengakses berbagai layanan kesehatan secara virtual. Melalui aplikasi ini, Anda bisa menemukan informasi jadwal praktik, membuat janji temu dengan dokter, hingga antre secara online. Jadi, Anda tidak perlu berlama-lama menunggu di rumah sakit.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Dorothea Fortuna Meita Caturwulan, M.Kes, Sp.N, F.MIN, CIPS, FIPP
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini
Skrining Kesehatan Otak
2 Service/Item
Rp3.000.000
TERPOPULER
CT Head Non-CNTRS / CT Scan Kepala
CT Scan
Rp1.664.000
TERPOPULER
MRI Head Non-CNTRS / MRI Kepala
MRI / MRA
Rp2.870.000
TERPOPULER
MRI 3T Head Non Contrast / MRI 3T Kepala
MRI / MRA
Rp5.282.000
TERPOPULER
Complete Blood Count + Diff / Pemeriksaan Darah Lengkap
1 Service/Item
Rp123.300







