Apa itu Asfiksia? Ini Penyebab, Gejala, dan Penanganannya
Kesehatan Tubuh

Apa itu Asfiksia? Ini Penyebab, Gejala, dan Penanganannya

17 November 2025 3 menit waktu baca
asfiksia adalah

Table of Contents

Asfiksia adalah masalah sistem pernapasan yang diakibatkan oleh rendahnya kadar oksigen di dalam tubuh. Asfiksia umumnya terjadi karena adanya gangguan pada sistem pernapasan. Asfiksia dapat berakibat fatal apabila tidak ditangani dengan segera.

 

Gejala utama yang muncul ketika seseorang mengalami asfiksia adalah sesak napas. Kadar oksigen yang kurang di dalam tubuh membuat sistem pernapasan, seperti paru-paru dan diafragma, perlu bekerja ekstra sehingga mengakibatkan tubuh terasa sesak dan tidak nyaman.

 

Lantas, apa penyebab dan bagaimana penanganan asfiksia yang tepat? Mari temukan jawabannya melalui ulasan berikut ini.

 

Apa itu Asfiksia?

 

Asfiksia adalah suatu kondisi medis saat kadar oksigen yang terdapat di dalam tubuh berkurang. Kondisi ini bisa berakibat fatal bila terjadi secara terus-menerus dalam kurun waktu yang lama. Beberapa komplikasi yang dapat timbul karena kondisi asfiksia adalah hilang kesadaran, kerusakan organ jantung dan paru-paru, kelumpuhan otak, bahkan berujung kematian.

 

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dari Amerika Serikat, asfiksia atau lebih dikenal dengan suffocation adalah cedera yang mengakibatkan kematian terbanyak kedua setelah keracunan pada tahun 2016, yaitu sebanyak 18.924 kasus.

 

Asfiksia juga sering terjadi pada bayi saat sebelum, selama proses, ataupun setelah persalinan. Kondisi ini disebut dengan asfiksia perinatal atau asfiksia neonatorum. Asfiksia neonatorum terjadi karena janin tidak mendapatkan oksigen serta aliran darah yang cukup.

 

Penyebab Asfiksia

 

Karena termasuk ke dalam kategori cedera dalam tubuh, terdapat sejumlah hal yang bisa memicu terjadinya asfiksia pada seseorang. Berikut penjelasannya:

 

1. Tercekik

 

Faktor pemicu umum asfiksia adalah penyebab mekanik, yaitu leher tercekik. Leher yang tercekik, baik oleh tangan atau alat pengikat lain, dapat menutup jalur udara sehingga membuat seseorang kesulitan untuk bernapas dan mendapatkan oksigen yang cukup.

 

2. Paparan Zat Kimia

 

Zat kimia berbahaya, seperti karbon monoksida, sianida, dan hidrogen sulfida, yang terhirup ke dalam tubuh juga dapat menyebabkan asfiksia. Zat kimia tersebut bisa mengganggu masuknya oksigen ke dalam darah untuk dipompakan ke seluruh tubuh.

 

3. Tersedak

 

Tersedak oleh makanan atau benda asing dapat menyumbat tenggorokan yang menjadi jalur masuknya udara. Bila tidak segera ditangani, kondisi ini bisa memicu terjadinya asfiksia.

 

Asfiksia akibat tersedak sering dialami oleh bayi dan balita lantaran refleks menelannya masih belum sempurna. Orang tua lanjut usia juga berisiko akan hal ini karena refleks menelannya telah menurun.

 

4. Alergi Makanan atau Obat Tertentu

 

Alergi makanan atau obat-obatan tertentu bisa menimbulkan reaksi berupa pembengkakan saluran napas bagian atas, sehingga berisiko mengakibatkan asfiksia. Kondisi ini biasa disebut dengan anafilaksis.

 

5. Asma

 

Salah satu penyakit yang bisa menyebabkan asfiksia adalah asma. Asma yang cukup parah menyebabkan saluran udara membengkak dan menyempit sehingga jalur masuk oksigen ke dalam tubuh menjadi terbatas.

 

6. Kondisi Tertentu pada Bayi Baru Lahir

 

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, asfiksia juga dapat terjadi pada bayi baru lahir. Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir, yaitu:

 

  • Ibu memiliki kadar oksigen dalam darah yang rendah.
  • Ibu menderita tekanan darah rendah atau hipotensi.
  • Janin tercekik tali pusar saat di dalam kandungan.
  • Solusio plasenta.

 

Gejala Asfiksia

 

Asfiksia memiliki gejala utama berupa sesak napas. Selain itu, ada beberapa gejala asfiksia lainnya yang bisa dideteksi secara dini, yaitu:

 

  • Hiperventilasi (tempo napas yang cepat).
  • Nyeri tenggorokan.
  • Sakit kepala.
  • Penglihatan kabur.
  • Penurunan kesadaran.
  • Kesulitan untuk menelan.

 

Sedangkan, gejala asfiksia yang terjadi pada bayi di antaranya:

 

  • Detak jantung lemah.
  • Kulit berubah warna menjadi kebiruan.
  • Napas terengah-engah.
  • Refleks yang lemah.

 

Penanganan Asfiksia

 

Penanganan asfiksia umumnya dilakukan berdasarkan penyebabnya. Berikut beberapa tindakan medis yang biasa dilakukan untuk menangani asfiksia:

 

  • Cardiopulmonary resuscitation (CPR), yaitu prosedur yang dilakukan dengan melakukan kompresi pada dada untuk membantu meningkatkan sirkulasi darah serta oksigen di dalam tubuh. Ini biasanya dilakukan untuk menangani asfiksia dengan kondisi henti jantung.
  • Terapi oksigen, yaitu pemberian oksigen melalui alat bantu, seperti ventilator, tabung hidung, atau tabung pernapasan.
  • Pengobatan sesuai dengan kondisi medis jika asfiksia disebabkan oleh asma, alergi, atau paparan zat kimia berbahaya.

 

Penanganan asfiksia perlu dilakukan secara tepat dan sesegera mungkin untuk menghindari kondisi fatal, seperti penurunan kesadaran, gangguan otak, atau bahkan kematian. Oleh karena itu, segera kunjungi Siloam Hospitals terdekat bila Anda merasakan gejala asfiksia seperti yang telah disebutkan di atas.


Anda dapat membuat janji temu dengan dokter menggunakan fitur yang tersedia di aplikasi MySiloam atau menghubungi call center kami di 1-500-181. Jika kondisi cukup serius dan darurat, Anda dapat langsung menghubungi emergency call Siloam Hospitals di 1-500-911. Mari jaga selalu kesehatan tubuh Anda dan keluarga #BersamaSiloam!

 

 

Digital Booking Lab&Rad - KV 1

 

message

ArticleDetail