Kesehatan Tubuh
Mengenal Chorea, Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

Table of Contents
Chorea adalah suatu kondisi yang menyebabkan timbulnya gerakan otot yang tidak terkendali. Kondisi ini merupakan suatu gejala yang bisa disebabkan oleh berbagai kondisi medis, seperti penyakit Huntington atau penyakit neurologis lainnya. Mari simak penjelasan selengkapnya mengenai apa itu chorea melalui ulasan di bawah ini.
Apa itu Chorea?
Chorea adalah kelainan yang menyebabkan gerakan tubuh yang tidak terkendali dan tidak bisa diprediksi. Kondisi ini biasa ditandai dengan kegelisahan hingga gerakan lengan dan tungkai yang tidak terkendali. Chorea juga bisa menyebabkan gangguan pada kemampuan berbicara, menelan, berjalan, serta postur tubuh. Kondisi ini dapat terjadi dengan sendirinya, namun paling sering dikaitkan dengan penyakit Huntington atau kondisi neurologis lainnya.
Penyebab Chorea
Chorea berasal dari gangguan pada ganglia basal (bagian otak yang mengontrol gerakan). Para ahli meyakini bahwa chorea terjadi ketika ganglia basal menerima terlalu banyak dopamin sehingga terjadi gangguan pada proses kontrol gerakan.
Kondisi medis yang paling sering dikaitkan sebagai penyebab chorea adalah penyakit Huntington. Penyakit Huntington adalah penyakit langka akibat kelainan genetik yang menyebabkan kerusakan otak secara progresif. Kondisi ini akan memengaruhi kemampuan fisik penderitanya dalam bergerak dan menurunkan kemampuan berpikir (kognitif).
Selain penyakit Huntington, terdapat berbagai penyebab chorea lainnya walaupun cukup jarang terjadi. Pada beberapa kasus, seorang anak yang mengalami demam rematik setelah infeksi radang tenggorokan juga dapat menunjukkan gejala chorea sementara. Selain itu, orang dengan penyakit autoimun (seperti lupus) atau cedera otak (seperti tumor otak atau stroke) juga bisa mengalami chorea.
Di samping itu, beberapa gangguan endokrin dan metabolisme, seperti hipertiroidisme, juga bisa memicu chorea. Bahkan, obat-obatan yang digunakan untuk mengatasi penyakit Parkinson juga bisa menimbulkan efek samping berupa chorea.
Gejala Chorea
Gejala umum chorea adalah gerakan tubuh yang tidak dapat dikendalikan. Beberapa orang dengan gejala chorea ringan mungkin bisa menutupi gerakannya sebagai kegelisahan. Namun, pada kasus yang lebih parah, chorea dapat berupa gerakan keras yang menjalar dari satu bagian tubuh ke bagian lainnya. Hal ini termasuk gerakan otot yang tidak disengaja, seperti:
-
Gerakan otot yang tidak terkendali: Penderitanya mungkin gelisah, memelintir atau menyentakkan lengan, kaki, dan otot-otot di wajah. Hal ini juga bisa memengaruhi cara seseorang berjalan, menelan, serta berbicara.
-
Perubahan genggaman: Ketika sedang mengulurkan tangan atau menjabat tangan seseorang, penderita mungkin akan menggenggam dan melepaskan jari-jarinya berulang kali.
-
Gerakan lidah: Lidah dapat bergerak masuk dan keluar dari mulut. Hal ini dikenal dengan jack-in-the-box tongue. Gerakan lidah juga bisa terjadi ke arah lain.
Gerakan spesifik yang berkaitan dengan chorea juga bisa mengindikasikan kondisi neurologis lain, seperti:
-
Athetosis: Kondisi ini melibatkan gerakan yang lambat, yang mana gerakannya cenderung memutar dan menggeliat.
-
Choreoathetosis: Kondisi ini merupakan perpaduan antara chorea dan athetosis yang ditandai dengan gerakan dengan kecepatan dan intensitas sedang.
-
Ballismus: Kondisi ini melibatkan gerakan yang lebih intens, seperti mengayunkan satu lengan atau kaki dengan keras. Biasanya, gerakan ini hanya memengaruhi salah satu sisi tubuh (hemiballism).
Gejala chorea bisa semakin memburuk ketika penderitanya sedang mengalami stres, cemas, atau sakit karena kondisi lain dan mengalami efek samping dari obat-obatan tertentu, seperti obat antidepresan dan obat antikejang.
Diagnosis Chorea
Untuk mendiagnosis chorea, dokter akan memulainya dengan melakukan anamnesis (wawancara medis) terlebih dahulu mengenai gejala dan riwayat kesehatan pasien secara menyeluruh. Adapun beberapa hal yang umumnya akan ditanyakan oleh dokter adalah:
-
Kapan gejala pertama kali muncul?
-
Apa yang membuat gejala memburuk atau membaik?
-
Apakah gejala cenderung memburuk saat stres?
-
Apakah pasien memiliki keluarga dengan riwayat penyakit Huntington?
-
Obat apa yang sedang dikonsumsi?
Dokter juga akan melakuan pemeriksaan fisik secara menyeluruh pada pasien. Selain itu, dokter juga akan melakukan beberapa pemeriksaan penunjang, seperti:
-
Tes laboratorium, misalnya mengukur kadar tembaga di dalam tubuh. Pasalnya, kadar tembaga yang tidak normal dapat mengindikasikan penyakit Wilson yang menjadi penyebab chorea. Selain itu, pemeriksaan laboratorium juga dapat dilakukan untuk mengukur kadar hormon tiroid dan/atau gula darah.
-
Pemeriksaan penunjang lainnya tergantung dari penyebab chorea yang dicurigai.
Pengobatan Chorea
Pengobatan chorea akan disesuaikan dengan jenis chorea yang diderita oleh pasien. Adapun tujuan utama pengobatannya adalah mengatasi penyebab yang mendasarinya guna meredakan gejalanya. Pada chorea yang disebabkan oleh penyakit Huntington akan diobati dengan antipsikotik, serta obat-obatan lainnya. Sementara itu, chorea akibat penyakit Parkinson tidak bisa disembuhkan, namun gejalanya dapat dikendalikan.
Secara umum, obat-obatan yang digunakan untuk mengatasi chorea memengaruhi dopamin, yaitu neurotransmitter atau bahan kimia otak yang mengontrol gerakan, pemikiran, dan kesenangan di otak. Obat-obatan tersebut, di antaranya:
-
Fluphenazine.
-
Haloperidol.
-
Olanzapine.
-
Quetiapine.
-
Risperidone.
Di samping itu, obat antikonvulsan yang mengurangi gerakan spontan juga bisa digunakan untuk mengurangi gejala chorea. Apabila pasien tidak merespons obat-obatan, dokter mungkin akan merekomendasikan pendekatan bedah, yaitu deep brain stimulation. Prosedur ini melibatkan penanaman elektroda di otak untuk mengatur impuls saraf. Namun, deep brain stimulation tidak dapat menyembuhkan, melainkan sekadar mengurangi gejala.
Itulah informasi seputar penyakit chorea yang perlu Anda ketahui. Penting untuk dipahami bahwa penyebab serta gejala yang disebutkan di atas tidak spesifik mewakili kondisi chorea. Dengan kata lain, penyebab gejala tersebut bisa serupa dengan kondisi medis lainnya, sehingga penting untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Neurologi di Siloam Hospitals terdekat agar mendapatkan diagnosis yang akurat.
Namun, tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang Anda jalani terkait kondisi ini mungkin berbeda di satu fasilitas kesehatan dengan yang lain. Tenaga medis akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat sesuai dengan kondisi medis setiap pasien.
Manfaatkan aplikasi MySiloam untuk mengakses berbagai fitur kesehatan yang memudahkan Anda, mulai dari melihat jadwal dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, hingga memantau hasil pemeriksaan. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Dorothea Fortuna Meita Caturwulan, M.Kes, Sp.N, F.MIN, CIPS, FIPP
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini







