Kesehatan Mental
Mengenal Distimia, Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

Table of Contents
Distimia (persistent depressive disorder) adalah bentuk depresi jangka panjang yang berkelanjutan. Kondisi yang disebut juga dengan gangguan depresi persisten ini dapat menyebabkan penderitanya merasa sedih, hampa, dan kehilangan minat dalam menjalani kegiatan sehari-hari. Lebih jelasnya, mari simak informasi tentang distimia selengkapnya dalam artikel di bawah ini.
Apa itu Distimia?
Seperti yang sudah dijelaskan, gangguan depresi persisten atau distimia adalah jenis depresi yang berlangsung dalam jangka panjang. Kondisi ini umumnya tidak menunjukkan gejala separah depresi berat (depresi mayor), namun gejalanya dapat berlangsung selama bertahun-tahun dan memengaruhi kehidupan sehari-hari penderitanya.
Orang dengan distimia sulit merasa bahagia, bahkan di saat-saat yang sebenarnya menyenangkan. Di samping itu, penderita juga cenderung memiliki kepribadian suram, terus mengeluh, serta kehilangan minat menjalani aktivitas sehari-hari.
Penyebab Distimia
Hingga kini, belum diketahui secara pasti apa penyebab distimia atau gangguan depresi persisten. Namun, tidak jauh berbeda dengan depresi mayor, kondisi ini juga diduga dapat disebabkan oleh perubahan struktur otak dan beberapa faktor lainnya. Berikut pembahasan lengkapnya.
-
Perubahan struktur otak. Orang dengan gangguan depresi persisten mungkin mengalami perubahan struktur pada otak. Belum diketahui secara pasti bagaimana perubahan tersebut memengaruhi terjadinya distimia, namun hal ini bisa menjadi penyebabnya.
-
Perubahan kimiawi otak. Perubahan neurotransmitter pada otak diketahui turut berperan dalam terjadinya distimia.
-
Sifat yang diwariskan. Distimia adalah kondisi yang dapat diwariskan dalam keluarga. Namun, masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai jenis perubahan atau mutasi genetik yang menjadi penyebab depresi.
-
Pengalaman masa lalu. Sama halnya dengan depresi mayor, pengalaman traumatis seperti kehilangan orang terdekat, masalah ekonomi, serta peristiwa lain yang menyebabkan stres berat juga dapat memicu terjadinya distimia.
Gejala Distimia
Gejala distimia biasanya lebih ringan, namun bertahan lebih lama dibandingkan dengan depresi mayor. Intensitas gejalanya bisa berubah-ubah seiring waktu, tetapi tidak akan hilang selama lebih dari dua bulan dalam satu waktu. Adapun beberapa gejala umum distimia adalah sebagai berikut.
-
Perasaan sedih, hampa, dan tidak bersemangat.
-
Kehilangan minat menjalani kegiatan sehari-hari.
-
Mudah lelah dan tidak memiliki banyak energi.
-
Memiliki harga diri rendah (low self-esteem) dan merasa tidak mampu melakukan segala hal.
-
Kesulitan fokus.
-
Kesulitan mengambil keputusan.
-
Kesulitan menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.
-
Mudah merasa jengkel dan tidak sabaran.
-
Menghindari kegiatan sosial.
-
Kehilangan nafsu makan atau sebaliknya, makan berlebihan.
-
Gangguan tidur.
-
Merasa putus asa.
Gejala distimia biasanya muncul sejak dini, bisa dimulai dari anak-anak, remaja, atau dewasa muda dan terus berlanjut seiring bertambahnya usia. Gejala tersebut setidaknya harus bertahan selama 2 tahun (pada orang dewasa) atau 1 tahun (pada anak-anak) hingga bisa dikatakan sebagai distimia.
Gejala gangguan depresi persisten yang dimulai sebelum usia 21 tahun disebut dengan onset dini (early onset). Sementara itu, gejala yang muncul ketika penderita berusia 21 tahun atau lebih disebut dengan onset lambat (late onset).
Diagnosis Distimia
Sebelum menegakkan diagnosis distimia, dokter biasanya akan melakukan wawancara medis (anamnesis) terlebih dahulu untuk mengetahui tentang keluhan yang dialami serta riwayat kesehatan pasien. Jika dokter mencurigai pasien mengalami distimia, maka akan dilakukan pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, dan evaluasi psikologis.
-
Pemeriksaan fisik. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik sembari mengajukan pertanyaan tentang riwayat kesehatan pasien untuk menentukan penyebab distimia. Pada beberapa kasus, distimia dapat disebabkan oleh masalah kesehatan fisik yang diderita pasien.
-
Pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan ini dilakukan untuk menyingkirkan kondisi lain yang dapat menyebabkan gejala menyerupai distimia.
-
Evaluasi psikologis. Pemeriksaan ini akan berfokus dalam membicarakan pikiran, perasaan, dan perilaku pasien. Dokter biasanya akan meminta pasien untuk mengisi kuesioner guna mengetahui apakah pasien menderita distimia atau kondisi medis lainnya yang juga dapat memengaruhi suasana hati, seperti gangguan bipolar.
Pengobatan Distimia
Dua metode utama dalam pengobatan distimia adalah pemberian obat-obatan dan terapi. Dokter akan merekomendasikan pengobatan yang tepat sesuai kondisi pasien dengan mempertimbangkan sejumlah hal berikut:
-
Keparahan gejala.
-
Keinginan atau motivasi diri pasien dalam mengeksplorasi masalah emosional atau masalah lain yang memengaruhi hidupnya.
-
Riwayat pengobatan sebelumnya.
-
Kemampuan pasien dalam menoleransi obat-obatan.
-
Preferensi pasien.
A. Pemberian Obat-obatan
Jenis obat yang umumnya diberikan kepada penderita distimia adalah obat yang juga digunakan untuk mengatasi depresi (antidepresan), seperti selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs), tricyclic antidepressants (TCAs), dan serotonin and norepinephrine reuptake inhibitors (SNRIs).
Biasanya, diperlukan waktu selama 4–6 minggu agar obat antidepresi bisa memberikan efek optimal. Meski pada awalnya terlihat tidak memberikan efek apa pun, namun obat ini tetap perlu dikonsumsi secara rutin agar kondisi pasien membaik. Kendati demikian, beberapa pasien mungkin perlu mengganti obat atau memerlukan kombinasi beberapa obat-obatan agar dapat memperoleh hasil yang maksimal.
B. Terapi
Terapi yang sering dilakukan untuk mengatasi distimia adalah psikoterapi, seperti terapi perilaku kognitif. Dalam hal ini, dokter akan berbicara dengan pasien mengenai pikiran, perasaan, perilaku, hubungan, atau masalah lain yang mengganggu pasien.
Pencegahan Distimia
Tidak ada cara pasti dalam mencegah gangguan depresi persisten. Namun, mengingat bahwa distimia adalah kondisi yang bisa terjadi sejak masa kanak-kanak, maka penting untuk mengidentifikasi anak-anak yang berisiko mengalami kondisi ini agar mereka bisa mendapatkan penanganan lebih dini. Adapun beberapa strategi yang dapat membantu meminimalkan risiko distimia adalah:
-
Meningkatkan self-esteem (harga diri).
-
Mengelola stres dengan baik.
-
Mencari bantuan keluarga atau teman saat melewati masa-masa sulit.
-
Untuk mencegah kekambuhan gejala, orang yang pernah mengalami distimia sebaiknya melakukan pengobatan jangka panjang.
Itulah penjelasan mengenai distimia atau gangguan depresi persisten. Jika Anda merasakan sejumlah gejala yang mengarah pada distimia dan membutuhkan bantuan profesional, segera kunjungi Siloam Hospitals terdekat untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater kami.
Sebagai alternatif lainnya, Anda dapat melakukan konsultasi secara virtual menggunakan layanan Telekonsultasi melalui aplikasi MySiloam yang bisa diunduh secara gratis. Melalui layanan Telekonsultasi, Anda dapat bercerita dengan psikolog atau psikiater Siloam Hospitals secara online. Psikiater pun dapat meresepkan obat-obatan yang dibutuhkan sesuai kondisi Anda. Mari jaga kesehatan mental Anda #BersamaSiloam!
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Lippo Cikarang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Jambi
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
MENTAL - Skrining Mental health (MMPI)
Lainnya
2 Service/Item
Rp880.000
TERPOPULER
Paket Siloam Ruby
Skrining Umum
21 Service/Item
Rp1.000.000
TERPOPULER
Paket Siloam Silver
Skrining Umum
22 Service/Item
Rp1.900.000
TERPOPULER
Paket Siloam Pearl
Skrining Umum
31 Service/Item
Rp4.300.000
TERPOPULER
Brain Check Up
Penawaran Spesial, Skrining Stroke
19 Service/Item
Rp9.000.000







