Distrofi Kornea - Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya
Kesehatan Tubuh

Distrofi Kornea - Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

02 Juni 2025 5 menit waktu baca
Distrofi kornea adalah

Distrofi kornea adalah penyakit genetik langka yang menyerang kornea atau lapisan terluar mata. Gangguan mata ini berisiko menyebabkan penderitanya mengalami masalah penglihatan atau bahkan kehilangan penglihatan total. Mari simak sampai tuntas penjelasan mengenai distrofi kornea melalui ulasan di bawah ini.

 

Apa itu Distrofi Kornea (Corneal Dystrophies)?

 

Distrofi kornea (corneal dystrophies) adalah sekelompok penyakit genetik langka yang memengaruhi kornea. Kelainan ini dapat menyebabkan penumpukan zat abnormal di kornea yang dapat memengaruhi satu atau kedua mata. Jika mengalami distrofi kornea, transparansi kornea dan refraksi (kemampuan memfokuskan) kornea mata akan terganggu.

 

Perlu diketahui, karena sebagian besar corneal dystrophies bersifat genetik, maka dari itu, orang yang memiliki riwayat keluarga dengan kondisi serupa memiliki risiko yang lebih besar terkena penyakit ini.

 

Corneal dystrophies dapat dialami oleh semua kalangan usia, namun lebih sering terjadi pada usia 20 tahun ke atas. Selain itu, baik pria maupun wanita memiliki risiko yang sama untuk mengalami kondisi ini, kecuali pada jenis distrofi Fuchs. Pasalnya, distrofi Fuchs diketahui lebih sering menyerang wanita dibandingkan pria.

 

Sebagai informasi, perkembangan distrofi kornea biasanya lambat atau bahkan tidak berkembang lebih lanjut (stasioner).

 

Jenis-Jenis Distrofi Kornea

 

Distrofi kornea terdiri dari beberapa jenis, yang mana dapat dikategorikan menjadi tiga kelompok berdasarkan lapisan kornea yang terdampak. Berikut adalah uraian mengenai jenis-jenis distrofi kornea yang penting untuk diketahui.

 

1. Anterior/Superficial Corneal Dystrophies (Distrofi Kornea Anterior/Superfisial)

 

Anterior/ superficial corneal dystrophies adalah distrofi kornea yang memengaruhi dua lapisan terluar kornea mata, yaitu membran Bowman dan lapisan epitel. Adapun beberapa kondisi yang termasuk dalam jenis superficial corneal dystrophies adalah:

 

  • Epithelial basement membrane dystrophy.

  • Reis-Bucklers corneal dystrophy.

  • Lisch corneal dystrophy.

  • Meesmann corneal dystrophy.

  • Thiel-Behnke corneal dystrophy.

 

Sebagian besar tipe corneal dystrophies tersebut biasanya dimulai sebelum penderitanya berusia 20 tahun, namun membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk berkembang hingga akhirnya menimbulkan gejala, salah satunya penglihatan kabur.

 

Kondisi yang paling umum terjadi di antara jenis anterior corneal dystrophies adalah epithelial basement membrane dystrophy atau distrofi membran basal epitel. Kondisi ini dapat menyebabkan munculnya titik-titik, bentuk sidik jari, atau area abu-abu yang bentuknya mirip dengan peta di kornea mata, sehingga disebut juga dengan distrofi sidik jari. Orang dengan kondisi ini biasanya tidak merasakan gejala apapun.

 

2. Stromal Corneal Dystrophies (Distrofi Kornea Stroma)

 

Stromal corneal dystrophies adalah distrofi kornea yang memengaruhi stroma, yaitu lapisan paling tebal yang berada di tengah-tengah kornea, namun bisa menyebar hingga ke lapisan lainnya. Adapun beberapa gangguan mata yang termasuk dalam stromal corneal dystrophies, di antaranya:

 

  • Gelatinous drop-like corneal dystrophy.

  • Granular corneal dystrophy.

  • Lattice corneal dystrophy.

  • Macular corneal dystrophy.

  • Schnyder crystalline corneal dystrophy.

 

Dari keempat kondisi di atas, lattice corneal dystrophy adalah kondisi yang paling umum terjadi yang biasanya menyerang anak-anak usia 2–7 tahun. Kondisi ini ditandai dengan tumbuhnya pola kisi di atas permukaan stroma akibat endapan protein yang tidak normal.

 

Stromal corneal dystrophies sering kali terjadi saat masa kanak-kanak atau remaja. Beberapa di antaranya dapat menyebabkan gangguan penglihatan yang muncul setelah bertahun-tahun, namun sebagian lainnya mungkin memerlukan waktu hingga puluhan tahun untuk menimbulkan gejala.

 

3. Posterior Corneal Dystrophies (Distrofi Kornea Posterior)

 

Posterior corneal dystrophies adalah jenis distrofi kornea yang memengaruhi bagian terdalam kornea, yaitu lapisan endotel dan membran Descemet. Berikut adalah sejumlah kondisi yang tergolong dalam posterior corneal dystrophies:

 

  • Congenital hereditary endothelial dystrophy.

  • Fuchs’ corneal dystrophy.

  • Posterior polymorphous corneal dystrophy.

 

Kelainan kornea mata di atas umumnya dialami oleh orang berusia muda atau bahkan saat lahir, sedangkan Fuchs’ corneal dystrophy biasanya dialami orang berusia 40–50 tahun. Fuchs’ corneal dystrophy adalah kondisi yang paling banyak ditemukan.

 

Pada kondisi ini, sel-sel yang seharusnya memompa kelembapan berlebih di kornea mulai mati. Akibatnya, Seiring waktu, kondisi ini dapat menyebabkan kelembapan di kornea menumpuk dan membuat penglihatan menjadi buram. Namun, diperlukan waktu hingga bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun sampai akhirnya muncul gejala.

 

Penyebab Distrofi Kornea

 

Secara umum, penyebab distrofi kornea adalah penumpukan material pada salah satu atau beberapa lapisan kornea. Penumpukan material tersebut kemudian menyebabkan kornea kehilangan transparansinya, sehingga penglihatan menjadi buram bahkan hilang sepenuhnya.

 

Gejala Distrofi Kornea

 

Kondisi ini dapat menimbulkan gejala yang berbeda-beda, tergantung dari jenisnya. Beberapa orang bisa saja tidak mengalami gejala apa pun, namun sebagian lainnya mungkin mengeluhkan penglihatannya menjadi buram (tidak jernih). Selain itu, penderita juga bisa mengalami beberapa gejala lainnya berikut ini:

 

  • Mata berair.

  • Mata kering.

  • Mudah merasa silau.

  • Fotofobia.

  • Nyeri pada mata.

  • Merasakan sensasi mengganjal di mata.

 

Pada beberapa kasus, corneal dystrophies juga dapat menyebabkan erosi kornea, yaitu kondisi ketika lapisan sel di permukaan kornea (epitel) mengendur dari lapisan di bawahnya (membran Bowman). Pada kondisi ini, penderita dapat merasakan nyeri ringan hingga berat pada mata dan kelopak mata dapat menempel pada lapisan kornea yang sering kali terjadi saat penderitanya bangun tidur di pagi hari akibat keringnya lapisan mata saat tidur.

 

Diagnosis Distrofi Kornea

 

Dalam proses penegakan diagnosis distrofi kornea, dokter akan terlebih dahulu melakukan anamnesis (wawancara medis) dengan menanyakan tentang gejala dan riwayat kesehatan pasien beserta keluarganya. Dokter juga dapat melakukan pemeriksaan mata menggunakan alat bernama slit lamp microscope untuk menyinari mata. Alat ini dapat membantu dokter memeriksa bagian depan mata secara menyeluruh dan mengamati setiap lapisan mata.

 

Corneal dystrophies juga dapat terdeteksi melalui pemeriksaan mata rutin atau pemeriksaan genetik. Hal ini biasanya terjadi pada pasien yang tidak mengalami gejala.

 

Pengobatan Distrofi Kornea

 

Pengobatan untuk corneal dystrophies akan disesuaikan dengan jenis dan tingkat keparahan gejalanya. Bagi pasien yang tidak menunjukkan gejala, dokter akan melakukan pemantauan berkala untuk mengetahui apakah kelainan ini berkembang lebih lanjut. Jika diperlukan, dokter bisa memberikan resep obat tetes mata, salep, atau melakukan perawatan laser untuk mengatasi kondisi ini.

 

Jika pasien mengalami erosi kornea berulang, beberapa metode perawatan yang dapat diberikan oleh dokter adalah:

 

  • Obat antibiotik.

  • Obat tetes mata pelumas.

  • Salep.

  • Lensa kontak lunak khusus untuk melindungi kornea.

  • Tindakan pembedahan seperti laser/transplantasi kornea jika terjadi erosi kornea berat/corneal scarring (jaringan parut di kornea).

 

Apabila Anda merasakan sejumlah gejala atau tanda yang mengarah pada distrofi kornea, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter Siloam Hospitals terdekat guna mendapatkan diagnosis dan perawatan yang tepat.

 

Siloam Hospitals juga menyediakan layanan Homecare - Kunjungan Dokter Umum dan Perawat bagi Anda yang membutuhkan perawatan dan penanganan medis langsung di rumah. Layanan Homecare - Kunjungan Dokter Umum dan Perawat bisa dipesan secara mudah melalui aplikasi MySiloam. Mari jaga selalu kesehatan Anda #BersamaSiloam!

 

Siloam at Home (1)

Dokter Kami
dr-anastasia-vanny-launardo-spm

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Anastasia Vanny Launardo, M.Kes, SpM

Oftalmologi (Mata)

Spesialis Mata


Siloam Hospitals Makassar

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-boyke-kuhurima-spm

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Boyke Kuhurima, SpM (K)

Oftalmologi (Mata)

Spesialis Mata


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-nursyamsi-spm-m-kes

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Nursyamsi, SpM, M.Kes

Oftalmologi (Mata)

Spesialis Mata


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail