Ejakulasi Retrograde - Penyebab, Gejala, & Cara Mengatasinya
Kesehatan Tubuh

Ejakulasi Retrograde - Penyebab, Gejala, & Cara Mengatasinya

02 Juni 2025 4 menit waktu baca
ejakulasi retrograde

Normalnya, saat ejakulasi, sperma akan dikeluarkan melalui uretra atau saluran kencing. Namun, pada beberapa kondisi, sperma justru tidak keluar melainkan masuk ke dalam kandung kemih. Kondisi inilah yang dikenal dengan ejakulasi retrograde. Sebenarnya, ejakulasi retrograde umumnya tidak berbahaya, namun berisiko menyebabkan masalah kesuburan bila tidak segera ditangani.

 

Lantas, apa penyebab ejakulasi retrograde? Bagaimana cara mengatasi masalah ini agar tidak berujung pada masalah kesuburan? Mari simak penjelasan selengkapnya melalui ulasan di bawah ini. 

 

Apa itu Ejakulasi Retrograde?

 

Ejakulasi retrograde adalah kondisi di mana sperma yang seharusnya dikeluarkan melalui uretra saat ejakulasi, justru masuk ke dalam kandung kemih. Kendati demikian, pria yang menderita retrograde ejaculation tetap bisa merasakan klimaks saat berhubungan seksual, namun hanya mengeluarkan sperma dalam jumlah sedikit atau tidak ada sama sekali (orgasme kering).

 

Bila seorang pria hanya mengeluarkan sperma dalam jumlah yang sangat sedikit, hal ini akan berpengaruh terhadap kesuburan karena kemungkinan sperma untuk bisa membuahi sel telur berada dalam jumlah yang erlalu rendah.

 

Penyebab Ejakulasi Retrograde

 

Ejakulasi retrograde adalah kondisi yang bisa terjadi ketika otot leher kandung kemih (sfingter kandung kemih) tidak menutup dengan baik. Akibatnya, alih-alih dikeluarkan melalui penis, sperma justru masuk ke dalam kandung kemih. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan gangguan otot pada kandung kemih hingga memicu terjadinya ejakulasi retrograde adalah:

 

  • Riwayat operasi, misalnya operasi leher kandung kemih, operasi kelenjar getah bening retroperitoneal untuk kanker testis, operasi panggul ekstensif, atau operasi prostat.

  • Efek samping dari konsumsi obat-obatan tertentu, seperti obat untuk mengatasi pembesaran prostat (tamsulosin, terazosin), obat antidepresi (golongan SSRI, seperti fluoxetine dan sertraline), serta obat antipsikotik (chlorpromazine dan risperidone).

  • Kerusakan saraf akibat kondisi medis tertentu, seperti penyakit Parkinson, multiple sclerosis, dan diabetes yang tidak terkontrol.

  • Operasi pengangkatan prostat (prostatektomi) dan pengangkatan kandung kemih (kistektomi).

  • Terapi radiasi untuk mengobati kanker di daerah panggul.

 

Gejala Ejakulasi Retrograde

 

Ejakulasi retrograde umumnya tidak menimbulkan rasa nyeri maupun memengaruhi ereksi dan orgasme pria, sehingga jarang langsung disadari oleh penderitanya. Gejala utama ejakulasi retrograde adalah tidak adanya sperma yang keluar dari penis setelah pria ejakulasi atau hanya keluar dalam jumlah sedikit (kurang dari 1–2 ml). Adapun beberapa gejala lainnya adalah:

 

  • Perubahan warna urine menjadi keruh karena bercampur dengan air mani.

  • Menurunnya tingkat kesuburan (infertilitas pada pria).

 

Diagnosis Ejakulasi Retrograde

 

Dalam mendiagnosis ejakulasi retrograde, dokter akan terlebih dahulu melakukan wawancara medis (anamnesis) untuk mengetahui tentang gejala, riwayat kesehatan, dan riwayat operasi pasien. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik, termasuk pemeriksaan penis, testis, dan rektum.

 

Kemudian, dokter akan melakukan pemeriksaan dengan mengambil sejumlah sampel, di antaranya:

 

  • Sampel air mani. Pada pemeriksaan ini, dokter akan meminta pasien untuk melakukan dua kali ejakulasi di waktu yang berbeda. Apabila keduanya menghasilkan jumlah sperma yang sedikit atau tidak ada sama sekali, maka pasien mungkin mengalami ejakulasi retrograde.

  • Sampel urine. Bila pasien mengalami ejakulasi retrograde, dalam urinenya akan terkandung fruktosa dan sel sperma.

 

Pengobatan Ejakulasi Retrograde

 

Ejakulasi retrograde biasanya tidak memerlukan pengobatan, kecuali jika sudah mengganggu kesuburan pria. Bila telah memengaruhi kesuburan, dokter umumnya akan meresepkan obat-obatan dan memberikan terapi infertilitas. Obat-obatan yang diberikan akan disesuaikan dengan penyebab yang mendasari ejakulasi retrograde.

 

A. Obat-obatan

 

Obat-obatan dapat membantu mengatasi ejakulasi retrograde yang disebabkan oleh kerusakan saraf, misalnya pada penderita multiple sclerosis. Beberapa jenis obat-obatan yang umumnya diberikan adalah imipramine, chlorpheniramine, dan efedrin. Obat-obatan tersebut dapat membantu menjaga sfingter kandung kemih agar tetap tertutup sehingga sperma tidak masuk ke kandung kemih. Jika penyebab ejakulasi retrograde adalah efek samping dari penggunaan obat-obatan tertentu, dokter akan menggantinyaa dengan jenis obat lain.

 

Namun, obat-obatan tidak dapat membantu mengatasi masalah ini apabila penyebab ejakulasi retrograde adalah pembedahan yang menimbulkan perubahan permanen, misalnya akibat operasi leher kandung kemih.

 

B. Terapi Infertilitas

 

Penderita ejakulasi retrograde biasanya baru melakukan pemeriksaan saat merencanakan program kehamilan. Kondisi ini perlu diobati agar pasangan wanita bisa hamil. Di mana, agar bisa mencapai kehamilan, diperlukan jumlah air mani yang cukup untuk membawa sperma melalui vagina pasangan dan mencapai rahim.

 

Bila pemberian obat-obatan tidak bisa membantu penderita mengeluarkan jumlah air mani yang cukup, dokter akan merekomendasikan prosedur infertilitas dengan mengambil sperma dari kandung kemih, kemudian diproses di laboratorium, lalu digunakan untuk membuahi sel telur pasangan (inseminasi intrauterin).

 

Meski cenderung tidak berbahaya ataupun terasa menyakitkan, namun kondisi ejakulasi retrograde pada pria sebaiknya segera ditangani agar tidak memicu terjadinya gangguan kesuburan. Untuk itu, segera konsultasikan dengan Dokter Spesialis Urologi bila Anda mengalami sejumlah gejala yang mengarah pada kondisi ini.


Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk mengakses berbagai fitur kesehatan yang memudahkan kebutuhan kesehatan Anda, salah satunya dalam membuat janji temu dengan dokter spesialis urologi yang Anda pilih.

 

Aplikasi My Siloam (1)

message

ArticleDetail