Apa itu Esofagitis? Ini Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya
Kesehatan Tubuh

Apa itu Esofagitis? Ini Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

20 Mei 2025 6 menit waktu baca
esofagitis adalah

Esofagitis adalah peradangan pada lapisan esofagus (kerongkongan). Kondisi ini dapat membuat penderitanya mengeluhkan rasa nyeri di kerongkongan, kesulitan menelan, serta sensasi perih di dada. Mari simak informasi selengkapnya mengenai esofagitis, mulai dari penyebab, gejala, hingga pengobatannya, dalam artikel berikut ini.

 

Apa itu Esofagitis?

 

Seperti yang telah dijelaskan, esofagitis adalah peradangan yang terjadi pada lapisan esofagus (kerongkongan). Esofagus sendiri merupakan salah satu organ dari sistem pencernaan yang berfungsi untuk menyalurkan makanan dari mulut ke lambung. Kondisi ini dapat disebabkan oleh beberapa hal, seperti asam lambung yang naik ke kerongkongan, infeksi, alergi, hingga efek samping obat-obatan.

 

Penyebab Esofagitis

 

Berdasarkan penyebab yang mendasarinya, esofagitis dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu reflux esophagitis, eosinophilic esophagitis, lymphocytic esophagitis, drug-induced esophagitis, radiation-induced esophagitis, serta infectious esophagitis. Berikut masing-masing penjelasannya.

 

1. Reflux Esophagitis

 

Reflux esophagitis atau yang dikenal sebagai erosive esophagitis merupakan kondisi yang terjadi ketika cairan asam atau zat lainnya dari lambung mengalir kembali ke kerongkongan. Hal tersebut bisa mengiritasi dan mengikis lapisan mukosa pada kerongkongan sehingga menyebabkan terjadinya peradangan. Perlu diinformasikan, reflux esophagitis adalah jenis esofagitis yang paling sering terjadi.

 

Adapun beberapa kondisi yang kerap menyebabkan terjadinya reflux esophagitis adalah:

 




2. Eosinophilic Esophagitis

 

Eosinophilic esophagitis adalah reaksi autoimun kronis yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh mengirimkan terlalu banyak eosinofil (salah satu jenis sel darah putih) untuk menyerang zat asing yang dianggap mengancam kesehatan tubuh, seperti infeksi atau alergi.

 

Sel darah putih ini bisa menumpuk di kerongkongan dan menyebabkan peradangan kronis. Kondisi ini cenderung jarang terjadi dan sebagian besar menyerang orang-orang dengan riwayat alergi.

 

3. Lymphocytic Esophagitis

 

Lymphocytic esophagitis adalah jenis esofagitis yang ditandai dengan peningkatan kadar limfosit (salah satu jenis sel darah putih) pada lapisan esofagus. Kondisi ini juga bisa berkaitan dengan eosinophilic esophagitis serta esofagitis akibat GERD. Serupa dengan eosinophilic esophagitis, kondisi ini juga jarang terjadi.

 

4. Drug-Induced Esophagitis

 

Drug-induced esophagitis atau juga disebut pill esophagitis adalah jenis esofagitis yang terjadi ketika obat-obatan mengikis lapisan mukosa kerongkongan akibat terlalu lama berada di kerongkongan. Selain itu, kebiasaan suka minum obat tanpa air juga dapat meningkatkan risiko peradangan pada esofagus. Beberapa jenis obat yang kerap menyebabkan esofagitis adalah sebagai berikut:

 

  • Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS).

  • Parasetamol.

  • Aspirin.

  • Antibiotik, seperti tetracycline, doxycycline, dan clindamycin.

  • Ferrous sulfat (zat besi penambah darah).

  • Potasium klorida.

  • Quinidine

  • Bifosfonat.

  • Obat kemoterapi.

 

5. Radiation-Induced esophagitis

 

Radiation-induced esophagitis dikaitkan dengan toksisitas akibat radioterapi dan dapat muncul dalam bentuk akut maupun kronis. Kondisi ini biasanya terjadi pada orang dengan riwayat keganasan (kanker) pada organ yang lokasinya berada di dekat esofagus, misalnya kanker paru, kanker mediastinum, atau kanker lain di area leher, seperti di dekat tulang belakang servikal.

 

Radiation-induced esophagitis akut umumnya terjadi pada 2–4 minggu setelah memulai radioterapi atau 1 hingga ≤3 bulan setelah radioterapi selesai. Sedangkan, esofagitis kronis terjadi pada >3 bulan setelah selesai menjalani perawatan radioterapi.

 

6. Infectious Esophagitis

 

Infectious esophagitis merupakan peradangan pada kerongkongan yang disebabkan oleh infeksi. Sebetulnya, infeksi pada kerongkongan cenderung jarang terjadi. Namun, kondisi ini lebih berisiko dialami seseorang yang memiliki daya tahan tubuh lemah, seperti pada individu dengan kondisi berikut ini:

 

  • HIV/AIDS.

  • Primary immunodeficiency disorders (PIDD).

  • Diabetes.

  • Penderita penyakit autoimun atau pasien yang baru menjalani transplantasi organ, sehingga perlu menggunakan obat imunosupresan.

  • Kanker sistemik, seperti limfoma atau leukemia.

  • Pasien yang menjalani kemoterapi.

 

Adapun beberapa jenis patogen yang bisa menginfeksi kerongkongan dan menyebabkan terjadinya esofagitis adalah sebagai berikut:

 

  • Jamur Candida albicans.

  • Cytomegalovirus (CMV).

  • Oral human papillomavirus (HPV).

  • Oral herpes simplex virus 1 (HSV-1).

 

Selain itu, sejumlah kondisi lainnya yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami esofagitis adalah sebagai berikut:

 

  • Lanjut usia.

  • Menderita penyakit autoimun, seperti Behcet’s disease atau inflammatory bowel disease.

  • Pernah menjalani terapi radiasi di area leher.

  • Memiliki anggota keluarga dengan riwayat esofagitis.

  • Memiliki riwayat alergi, seperti asma atau rinitis alergi.

  • Memiliki kebiasaan merokok.

  • Mengonsumsi makanan yang dapat menyebabkan asam lambung naik secara berlebihan, seperti kopi, minuman beralkohol, makanan dengan rasa mint, cokelat, serta makanan pedas, asam, dan berminyak.

  • Memiliki kebiasaan tidur setelah makan.

  • Memiliki berat badan berlebih (obesitas).

 

Gejala Esofagitis

 

Gejala esofagitis biasanya berkaitan dengan gangguan sistem pencernaan, mengingat kondisi tersebut menyebabkan terjadinya peradangan pada salah satu bagian dari sistem pencernaan. Beberapa gejala yang kerap dialami oleh penderita esofagitis adalah sebagai berikut:

 

  • Nyeri saat menelan.

  • Kesulitan menelan.

  • Sensasi perih di dada.

  • Mual dan muntah.

  • Nyeri dan sensasi panas di ulu hati (heartburn).

  • Regurgitasi asam lambung.

 

Sementara itu, jika terjadi pada bayi dan anak-anak, esofagitis ditandai dengan kesulitan menelan makanan atau ASI, nyeri perut atau dada, hingga gangguan pertumbuhan.

 

Diagnosis Esofagitis

 

Dalam menegakkan diagnosis esofagitis, dokter akan terlebih dahulu melakukan wawancara medis (anamnesis) untuk mengetahui tentang keluhan, riwayat kesehatan, serta jenis obat-obatan yang sedang dikonsumsi pasien. Jika pasien dicurigai mengalami esofagitis, dokter dapat melakukan beberapa pemeriksaan penunjang, seperti:

 

  • Endoskopi, untuk melihat kondisi esofagus dengan memasukkan selang tipis yang dilengkapi kamera melalui mulut.

  • Barium X-ray.

  • Esophageal sponge. Melalui tes ini, dokter akan mengarahkan pasien untuk mengonsumsi kapsul yang sudah diikatkan pada tali. Lalu, kapsul tersebut akan larut di lambung pasien dan melepaskan spons yang dapat ditarik oleh dokter menggunakan tali yang sudah terhubung. Ketika ditarik keluar, spons ini dapat mengambil sampel jaringan esofagus yang kemudian akan diperiksa di laboratorium.

  • Tes laboratorium, seperti tes darah untuk memeriksa kemungkinan infeksi atau reaksi alergi yang menyebabkan terjadinya esofagitis.

 

Pengobatan Esofagitis

 

Pengobatan esofagitis bertujuan untuk mengurangi gejala, mencegah komplikasi, serta mengobati penyebab yang mendasarinya. Secara umum, beberapa metode yang kerap dilakukan untuk menangani esofagitis adalah sebagai berikut:

 

  • Penggunaan obat asam lambung, seperti omeprazole, lansoprazole, ranitidine, atau antasida.

  • Penggunaan obat kortikosteroid, seperti budesonide dan fluticasone.

  • Penggunaan obat antibiotik, antijamur, atau antivirus, tergantung pada jenis patogen yang menginfeksi kerongkongan.

  • Penggunaan obat antialergi serta berusaha menghindari pemicu alergi.

  • Tindakan pembedahan, untuk memperkuat katup kerongkongan bawah (lower esophageal sphincter) antara lambung dan esofagus.

 

Komplikasi Esofagitis

 

Apabila tidak segera ditangani dengan tepat, esofagitis dapat menyebabkan perubahan struktur esofagus atau kerongkongan. Di samping itu, beberapa risiko komplikasi yang bisa muncul akibat tidak segera menangani esofagitis adalah sebagai berikut:

 

  • Striktur esofagus (penyempitan kerongkongan akibat terbentuknya jaringan parut).

  • Luka pada lapisan esofagus (ulkus) yang terjadi karena refluks asam lambung, infeksi, pengaruh dari obat-obatan, dan lain-lain dan tidak kunjung sembuh dapat menyebabkan komplikasi seperti perdarahan dan perforasi.

  • Barrett’s esophagus, yaitu kondisi ketika sel-sel yang melapisi esofagus mengalami kerusakan akibat refluks asam lambung. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko kanker esofagus di kemudian hari.

 

Pencegahan Esofagitis

 

Pada dasarnya, pencegahan esofagitis dapat dilakukan dengan menerapkan pola makan serta gaya hidup sehat sebaik mungkin. Lebih jelasnya, beberapa upaya yang perlu dilakukan untuk mencegah risiko terjadinya esofagitis adalah sebagai berikut:

 

  • Berhenti merokok.

  • Tidak mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan.

  • Membatasi konsumsi makanan atau minuman yang bisa memicu naiknya asam lambung, seperti makanan pedas, asam, serta berminyak, kopi, cokelat, dan lain sebagainya.

  • Menghindari kebiasaan tiduran setelah makan.

  • Tidur dengan posisi kepala sedikit lebih tinggi.

  • Menurunkan berat badan apabila mengalami obesitas.

  • Mengonsumsi makanan dengan porsi sedikit namun sering.

 

Esofagitis adalah kondisi yang perlu segera ditangani dengan tepat agar tidak berdampak pada kesehatan tubuh secara keseluruhan. Maka dari itu, segera konsultasikan kondisi Anda dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari Siloam Hospitals jika mengalami gejala-gejala yang mengarah pada esofagitis.

 

Di samping itu, Anda juga dapat memanfaatkan aplikasi MySiloam yang dilengkapi dengan fitur-fitur untuk mengakses layanan kesehatan lebih cepat. Bahkan, aplikasi ini juga memungkinkan pasien untuk self check in hingga antre secara online. Dengan begitu, Anda tidak perlu menunggu terlalu lama di rumah sakit.

 

Aplikasi My Siloam

 

Dokter Kami
dr-albertus-daniel-sppd

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Albertus Daniel, SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ra-aditya-adhi-puruhita-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ra Aditya Adhi Puruhita, M.M.R., SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-juliyanti-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Juliyanti, SpPD, FINASIM

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Kelapa Dua

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail