Kesehatan Mental
Gangguan Somatisasi - Penyebab, Gejala, dan Penanganannya

Table of Contents
Gangguan somatisasi atau somatic symptom disorder (SSD) adalah kondisi yang terjadi ketika seseorang mengeluhkan gejala-gejala fisik namun tidak ditemukan adanya penyakit tertentu saat dilakukan pemeriksaan fisik maupun penunjang. Pada dasarnya, gangguan somatisasi adalah kondisi medis yang dipicu oleh gangguan kesehatan mental.
Mari kenali penyebab, gejala, hingga penanganan SSD selengkapnya melalui ulasan di bawah ini.
Apa itu Gangguan Somatisasi?
Gangguan somatisasi atau somatic symptom disorder (SSD) merupakan suatu kondisi medis berupa sekumpulan gejala fisik yang muncul akibat masalah psikologis yang dialami penderitanya. Kondisi ini kerap menyebabkan penderitanya merasa cemas berlebihan dengan kondisi tubuhnya. Namun saat dilakukan pemeriksaan fisik, dokter tidak dapat menemukan kelainan atau masalah tertentu pada tubuh penderita SSD.
SSD merupakan kondisi psikologis yang dapat dialami oleh berbagai kalangan usia, namun lebih sering terjadi pada wanita berusia di bawah 30 tahun. Meski tidak berbahaya, SSD tetap memerlukan penanganan yang tepat agar tidak memengaruhi kualitas hidup penderitanya.
Penyebab Gangguan Somatisasi
Penyebab gangguan somatisasi belum diketahui secara pasti. Namun dipikirkan bahwa gangguan ini muncul akibat kewaspadaan berlebihan terhadap sensasi-sensasi fisik di tubuh yang salah diinterpretasikan penderitanya sebagai sebuah penyakit.
Sejumlah faktor lain juga diduga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami SSD yaitu:
- Faktor genetik
- Mengalami kejadian traumatis, seperti menjadi korban pelecehan seksual atau kekerasan fisik
- Riwayat keluarga yang sering menderita penyakit
- Stres atau depresi
- Penyalahgunaan NAPZA
- Memiliki riwayat gangguan cemas
Gejala Gangguan Somatisasi
Berdasarkan gejalanya, gangguan somatisasi dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu hipokondriasis, gangguan konversi, gangguan dismorfik tubuh, dan gangguan nyeri psikogenik. Berikut ulasannya.
1. Hipokondriasis
Hipokondriasis adalah jenis SSD yang ditandai oleh rasa takut dan cemas berlebihan bahwa keluhan fisik yang dirasanya merupakan gejala dari satu penyakit tertentu. Misalnya, ketika merasa sakit perut ringan, pengidap SSD akan merasa cemas berlebih bahwa ia mengidap kanker lambung.
2. Gangguan Konversi
Gangguan konversi merupakan kondisi ketika seseorang mengeluhkan gejala yang memengaruhi sistem saraf, seperti kejang, gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, mati rasa, hingga lumpuh. Namun, saat dilakukan pemeriksaan fisik lebih lanjut, dokter tidak menemukan penyebab medis dari kondisi tersebut.
3. Gangguan Dismorfik Tubuh
Gangguan dismorfik tubuh adalah kondisi psikologis ketika seseorang merasa sangat khawatir dengan penampilan fisiknya. Misalnya, pengidap kondisi ini akan merasa bentuk wajahnya tidak normal dan berbeda dengan orang lain.
4. Gangguan Nyeri Psikogenik
Gangguan nyeri psikogenik merupakan jenis SSD yang ditandai dengan keluhan rasa sakit atau nyeri pada tubuhnya secara terus-menerus namun tidak ditemukan penyebab rasa sakit yang dikeluhkan penderita pada saat pemeriksaan medis.
Diagnosis Gangguan Somatisasi
Sebelum mendiagnosis SSD, dokter akan melakukan anamnesis atau wawancara medis dengan menanyakan keluhan dan riwayat penyakit yang pernah diderita oleh pasien. Pemeriksaan fisik juga tetap diperlukan untuk memastikan kondisi tubuh pasien.
Jika tidak ditemukan kelainan dari pemeriksaan fisik dan penunjang, dokter akan melanjutkan diagnosis dengan pemeriksaan psikologis untuk memastikan gangguan somatisasi yang dialami oleh pasien. Sejumlah tes psikologis tersebut di antaranya:
- Wawancara dan pemeriksaan psikologik dengan menanyakan beban pikiran, rasa khawatir, dan permasalahan yang sedang dihadapi.
- Kuesioner psikologik
- Pemeriksaan riwayat penggunaan NAPZA atau alkohol
Penanganan Gangguan Somatisasi
Penanganan SSD bertujuan untuk meredakan gejala serta meningkatkan kualitas hidup penderitanya. Adapun sejumlah tindakan medis yang dilakukan untuk menangani SSD adalah sebagai berikut:
1. Konsumsi Obat-Obatan
Jika SSD dipicu oleh gangguan cemas atau depresi, dokter akan meresepkan obat antidepresan guna mengendalikan gejala. Agar pengobatan lebih optimal, dokter juga menganjurkan pasien untuk melakukan terapi perilaku kognitif atau jenis psikoterapi lainnya.
2. Terapi Perilaku Kognitif
Terapi perilaku kognitif atau cognitive behavioral therapy (CBT) merupakan tindakan medis untuk memperbaiki perilaku dan pola pikir pasien. Terapi ini dilakukan dengan mengurangi fokus dan perhatian pasien terhadap keluhan fisik yang dialaminya.
3. Hipnosis
Hipnosis merupakan terapi psikologis dengan membuat pasien menjadi lebih rileks dan fokus terhadap hal-hal positif guna mengalihkan perhatiannya dari gejala fisik yang dialaminya.
Apabila Anda mengalami keluhan fisik tanpa penyebab seperti ulasan di atas, segera kunjungi Siloam Hospitals terdekat untuk mendapatkan diagnosis serta penanganan medis yang tepat dari psikolog atau psikiater kami.
Anda dapat menggunakan fitur Cari Dokter untuk menemukan jadwal dokter, booking, hingga buat janji temu dengan dokter terkait. Atau, gunakan juga aplikasi MySiloam yang dapat memudahkan Anda untuk berkonsultasi langsung dengan dokter secara virtual. Mari unduh aplikasinya sekarang dan jaga kesehatan Anda #BersamaSiloam!
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Lippo Cikarang
Tersedia :
Tersedia hari ini






