Kecantikan
Keratosis Seboroik - Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

Table of Contents
Keratosis seboroik atau seborrheic keratosis adalah masalah kulit yang sering dialami oleh lansia. Kondisi ini biasanya ditandai dengan munculnya jaringan kulit berwarna cokelat hingga kehitaman. Keratosis seboroik umumnya muncul di bagian wajah, dada, bahu, punggung, dan lipatan kulit.
Masalah kulit ini cukup umum terjadi dan tidak berbahaya, kecuali disertai dengan gejala-gejala tertentu. Ingin tahu lebih lanjut terkait kondisi ini? Mari simak penjelasan selengkapnya melalui ulasan berikut.
Apa itu Keratosis Seboroik?
Keratosis seboroik adalah benjolan di kulit atau lesi yang bersifat jinak (benign) dan berwarna kecokelatan hingga kehitaman, biasanya muncul pada kulit orang tua atau lansia. Masalah kulit ini dapat muncul di bagian tubuh mana pun, kecuali telapak tangan dan kaki.
Seperti yang telah disebutkan di atas, seborrheic keratosis bersifat jinak sehingga umumnya tidak akan berkembang menjadi kanker. Kondisi ini juga tidak menimbulkan rasa nyeri ataupun menular seperti halnya penyakit kulit lainnya.
Penyebab Keratosis Seboroik
Hingga kini, belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan masalah kulit ini muncul. Namun, bisa dipastikan bahwa seborrheic keratosis terjadi ketika ada pertumbuhan sel-sel di kulit secara abnormal. Selain itu, pembentukan keratinosit yang tidak sempurna (imatur) diketahui menjadi penyebab pertumbuhan lesi makula berbentuk bulat atau oval.
Faktor Risiko Keratosis Seboroik
Adapun beberapa faktor yang dapat menyebabkan munculnya keratosis seboroik adalah sebagai berikut:
1. Faktor Genetik
Faktor risiko keratosis seboroik yang pertama adalah genetik. Meski tidak menular, risiko seseorang mengalami permasalahan kulit ini diketahui dapat meningkat apabila memiliki anggota keluarga dengan riwayat kondisi serupa.
2. Paparan Sinar Matahari
Paparan sinar matahari secara berlebihan juga diduga menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya masalah kulit ini. Meski begitu, ada juga bagian kulit yang tertutup dan tidak terkena paparan sinar UV matahari namun tetap mengalami seborrheic keratosis, misalnya pada bagian dada.
3. Usia
Keratosis seboroik merupakan masalah kulit yang kerap dialami oleh orang dewasa hingga lansia, dan jarang terjadi pada anak-anak. Kondisi ini biasanya muncul pada orang berusia 40–50 tahun ke atas. Seiring bertambahnya usia, lesi atau benjolan kecokelatan atau kehitaman tersebut bisa semakin bertambah jumlahnya.
Gejala Keratosis Seboroik
Gejala utama seborrheic keratosis berupa munculnya benjolan menyerupai kutil di permukaan kulit, berwarna kecokelatan atau kehitaman. Gejala ini disertai dengan beberapa karakteristik dari lesi lainnya, seperti:
-
Tidak menimbulkan rasa nyeri, namun terkadang terasa gatal.
-
Bentuknya bulat atau lonjong.
-
Bertekstur kasar.
-
Muncul secara berkelompok.
-
Tampak seperti lilin yang menempel pada permukaan kulit.
-
Ukurannya bervariasi, bisa sangat kecil hingga lebih dari 2,5 cm.
Ketika sedang mengalami rasa gatal, sebaiknya benjolan tersebut tidak digaruk karena dapat menyebabkan perdarahan, infeksi, dan pembengkakan. Segera konsultasikan kondisi tersebut dengan dokter apabila muncul gejala lainnya, seperti:
-
Lesi yang muncul terlalu banyak dan tumbuh besar dalam waktu singkat.
-
Bagian kulit yang didapati keratosis seboroik mudah mengalami iritasi atau berdarah saat bergesekan dengan kain atau baju.
-
Batas atau margin lesi tampak tidak teratur atau kabur.
-
Terdapat luka di area kulit yang terdapat keratosis seboroik dan tidak kunjung sembuh.
-
Lesi berwarna tidak biasa, misalnya kemerahan atau biru.
Diagnosis Keratosis Seboroik
Pada awal pemeriksaan, dokter akan melakukan anamnesis (wawancara medis) dengan pasien untuk mengetahui gejala dan riwayat kesehatan pasien serta keluarga secara keseluruhan. Kemudian, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik terhadap benjolan atau lesi yang muncul di kulit.
Mengingat bahwa benjolan keratosis seboroik sekilas terlihat hampir mirip dengan kanker kulit melanoma, terkadang dua kondisi ini bisa bersifat membingungkan. Namun ada beberapa hal yang dapat membedakannya. Biasanya benjolan seborrheic keratosis muncul lebih dari satu (berkelompok), mempunyai tampilan seperti lilin dan bersisik, dan memiliki tekstur kasar. Sementara itu, melanoma mempunyai batas lesi yang tidak beraturan atau asimetris.
Apabila diperlukan, dokter dapat melakukan biopsi dengan mengambil sampel jaringan dari benjolan yang tumbuh untuk diperiksa di laboratorium. Pemeriksaan ini akan menentukan apakah benjolan tersebut merupakan kanker kulit atau keratosis seboroik.
Pengobatan Keratosis Seboroik
Masalah kulit ini umumnya tidak memerlukan pengobatan khusus. Namun, jika penderita merasa kondisi tersebut mengganggu atau bahkan menimbulkan iritasi atau infeksi kulit, dokter perlu melakukan prosedur pengangkatan.
Adapun beberapa pilihan metode pengangkatan keratosis seboroik adalah sebagai berikut:
-
Krioterapi, dilakukan dengan membekukan benjolan menggunakan nitrogen cair untuk menghilangkannya.
-
Terapi laser, bertujuan untuk membakar benjolan, membersihkan luka, dan menutup jaringan.
-
Bedah konvensional, pada prosedur ini dokter akan memberikan anestesi (bius), kemudian mengangkat benjolan dengan cara disayat, kemudian dilanjutkan dengan menutup luka sayatan.
-
Kuret, dilakukan dengan mengerik benjolan menggunakan alat khusus.
-
Electrocautery, prosedur menghilangkan benjolan dengan menggunakan arus listrik. Prosedur ini umumnya tidak meninggalkan bekas luka selama dilakukan secara hati-hati.
-
Ablasi, dilakukan untuk mengangkat lapisan jaringan kulit guna memperbaiki tekstur kulit, mengatasi perubahan warna pada kulit, dan menghilangkan benjolan dari permukaan kulit.
Setelah melalui proses pengangkatan, umumnya kulit di area tersebut akan tampak lebih cerah dibandingkan dengan kulit di sekitarnya. Namun hal ini tidak perlu dikhawatirkan, karena seiring berjalannya waktu, warna kulit akan kembali merata.
Pencegahan Keratosis Seboroik
Adapun beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk menurunkan risiko pertumbuhan keratosis seboroik adalah sebagai berikut:
-
Menggunakan sunscreen (tabir surya) yang memiliki SPF minimal 30.
-
Menghindari berlama-lama berada di bawah sinar matahari langsung.
-
Mengenakan pakaian tertutup saat berkegiatan di luar ruangan.
-
Mengonsumsi makanan sehat bergizi seimbang, terutama makanan kaya antioksidan.
Itulah penjelasan mengenai keratosis seboroik yang perlu dipahami. Apabila Anda memiliki keluhan yang berhubungan dengan kondisi ini, Anda dapat langsung mengunjungi Klinik Dermatologi by Siloam Hospitals yang berlokasi di Siloam Hospitals TB Simatupang. Klinik Dermatologi merupakan pilihan yang tepat bagi Anda dalam mendapatkan perawatan kulit yang premium dan modern.
Selain itu, gunakan juga aplikasi MySiloam yang memberikan berbagai kemudahan untuk mengakses layanan kesehatan, mulai dari membuat janji temu dengan dokter hingga melihat hasil pemeriksaan. Unduh MySiloam sekarang dan jaga selalu kesehatan Anda #BersamaSiloam!
Artikel Terkait
Dokter Kami
MRCCC Siloam Hospitals Semanggi
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Denpasar
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals TB Simatupang
Tersedia :
Tersedia hari ini







