Apa Itu Neuropati, Penyebab, Gejala, Hingga Pencegahannya
Kesehatan Tubuh

Apa Itu Neuropati, Penyebab, Gejala, Hingga Pencegahannya

25 November 2025 5 menit waktu baca
Neuropati adalah

Neuropati adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kerusakan pada saraf tepi, yang merupakan saraf-saraf penghubung sistem saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang) dengan anggota tubuh. Neuropati dapat terjadi sebagai akibat dari berbagai faktor atau kondisi medis, termasuk cedera fisik, diabetes, atau faktor genetik. Kondisi ini biasanya ditandai dengan sejumlah gejala, seperti kesemutan, nyeri, kram, hingga susah buang air kecil.

 

Lantas, bagaimana cara mengobati neuropati? Mari simak penjelasan selengkapnya dalam artikel berikut ini.

 

Apa Itu Neuropati?

 

Neuropati adalah istilah medis yang digunakan untuk menggambarkan nyeri akibat kerusakan saraf tepi, yaitu saraf yang menghubungkan sistem saraf pusat ke seluruh anggota tubuh. Sistem saraf tepi sendiri dibedakan menjadi tiga, yaitu:

 

  • Saraf sensorik: Berperan dalam menerima sensasi, seperti nyeri, suhu, sentuhan, getaran, dan sebagainya.

  • Saraf otonom: Berperan dalam mengendalikan aktivitas tubuh yang tidak disadari (involunter), seperti detak jantung, tekanan darah, pencernaan, dan kandung kemih.

  • Saraf motorik: Berperan dalam pergerakan otot.

 

Neuropati adalah kondisi ketika neuron (sel-sel saraf) mengalami kerusakan. Kondisi ini dapat memengaruhi satu saraf (mononeuropathy), dua saraf atau lebih di area yang berbeda (multiple mononeuropathy), ataupun beberapa saraf (polyneuropathy). Neuropati adalah kondisi yang umum terjadi. Meski bisa menyerang segala usia, kelompok lansia dan penderita diabetes memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi ini. Bahkan neuropati juga bisa terjadi sejak lahir.

 

Penyebab Neuropati

 

Neuropati dapat disebabkan oleh beberapa kondisi medis, seperti diabetes hingga kanker. Namun, selain kondisi tersebut, neuropati juga bisa disebabkan oleh sejumlah faktor lain, seperti:

 

  • Kekurangan asupan vitamin B1, B6, dan B12 yang berperan penting bagi metabolisme sistem saraf.

  • Mengonsumsi alkohol secara berlebihan.

  • Terpapar racun atau mengonsumsi makanan yang beracun, misalnya makanan laut yang mengandung merkuri.

  • Menjalani pengobatan kanker, seperti kemoterapi.

  • Sering melakukan gerakan berulang/repetitif.

 

Gejala Neuropati

 

Gejala neuropati bisa muncul secara tiba-tiba (neuropati akut), namun bisa juga berkembang seiring dengan berjalannya waktu (neuropati kronis). Secara umum, beberapa gejala dari neuropati, antara lain adalah:

 

  • Rasa nyeri pada bagian tubuh tertentu.

  • Kesemutan dan mati rasa.

 

Jika dilihat lebih spesifik, gejala neuropati cukup beragam, tergantung dari jenis, jumlah, dan lokasi saraf yang terdampak. Berikut masing-masing penjelasannya.

 

1. Gejala Motorik

 

Saraf motorik adalah saraf yang berperan dalam mengatur pergerakan tubuh. Beberapa gejala neuropati pada saraf motorik adalah sebagai berikut:

 

  • Kehilangan kendali atas pergerakan otot.

  • Otot melemah dan berkedut.

  • Kram otot.

  • Kejang.

  • Atrofi otot.

  • Tegang (spasme) otot.

  • Kesulitan berjalan.

  • Kesulitan menggerakkan tangan atau kaki.

  • Tidak bisa menggerakkan bagian tubuh tertentu (kelumpuhan).

 

2. Gejala Sensorik

 

Apabila neuropati terjadi pada saraf sensorik (saraf yang bertugas untuk menghantarkan rasa nyeri dan sensasi), maka beberapa gejala yang akan muncul, antara lain:

 

  • Perubahan pada sensor indra perasa.

  • Nyeri.

  • Muncul sensasi terbakar.

  • Kesemutan dan mati rasa, terutama di tangan dan kaki.

  • Muncul sensasi seperti sedang memakai kaos kaki atau sarung tangan (stocking glove neuropathy).

  • Kehilangan refleks tubuh.

  • Kehilangan kemampuan dalam koordinasi tubuh.

 

3. Gejala Otonom

 

Sementara itu, beberapa gejala neuropati yang menyerang saraf otonom (saraf yang mengatur aktivitas tubuh secara tidak disadari) adalah sebagai berikut:

 

  • Ketidakmampuan untuk merasakan nyeri dada.

  • Berkeringat berlebihan (hiperhidrosis).

  • Terlalu sedikit berkeringat (anhidrosis).

  • Mata dan mulut kering.

  • Pusing.

  • Penurunan berat badan.

  • Penurunan kesadaran.

  • Disfungsi seksual.

  • Disfungsi kandung kemih.

  • Mual dan muntah.

  • Gangguan pencernaan, seperti sembelit.

  • Kesulitan buang air kecil.

  • Tekanan darah tidak normal.

 

Diagnosis Neuropati

 

Sebelum menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan wawancara medis (anamnesis) terkait gejala dan riwayat kesehatan pasien beserta keluarga. Kemudian, dilanjutkan dengan pemeriksaan saraf yang meliputi pemeriksaan refleks otot, kekuatan otot, koordinasi tubuh, dan kemampuan indra peraba.

 

Untuk membantu menegakkan diagnosis, beberapa pemeriksaan penunjang untuk kondisi neuropati adalah sebagai berikut:

 

  • Tes darah, untuk mendeteksi kondisi-kondisi seperti diabetes, kekurangan gizi, disfungsi ginjal, gangguan metabolisme tubuh, infeksi, dan aktivitas sistem imun yang abnormal.

  • Tes pemindaian, dengan rontgen, CT scan, atau MRI.

  • Pemeriksaan EMG (elektromiografi), untuk memantau aktivitas listrik pada otot dan saraf yang mengendalikannya.

  • Tes nerve conduction velocity/NVC (kecepatan konduksi saraf), untuk mengukur kecepatan impuls saraf sensorik dan motorik.

  • Biopsi saraf, dilakukan dengan mengambil bagian jaringan saraf, umumnya di saraf sensorik kaki bagian bawah. Meski pemeriksaan ini mempunyai keakuratan tinggi, pemeriksaan ini berpotensi merusak saraf dan menyebabkan nyeri kronis.

  • Tes otonom, salah satunya yaitu Quantitative Sudomotor Axon Reflex Test (untuk mendeteksi adanya saraf yang tidak dapat bekerja dengan normal).

  • Tes pungsi lumbal, untuk mendeteksi neuropati yang ditimbulkan oleh infeksi atau GBS (sindrom Guillain-Barre).

 

Komplikasi Neuropati

 

Komplikasi yang ditimbulkan oleh neuropati dapat berbeda-beda di setiap pasien, tergantung dari penyebabnya. Sebagai contoh, neuropati akibat sindrom Guillain-Barre yang tidak ditangani dengan tepat berisiko mengakibatkan penderitanya mengalami kelumpuhan permanen.

 

Sementara itu, neuropati diabetik bisa menyebabkan penderitanya mati rasa sehingga tidak bisa merasakan jika terdapat luka pada kaki. Akibatnya, jika luka tersebut terabaikan, luka akan berkembang menjadi borok dan berakhir pada kematian jaringan. Apabila hal ini terjadi, maka harus dilakukan amputasi pada bagian tubuh yang terdampak.

 

Pengobatan Neuropati

 

Meskipun sebagian besar kasus neuropati tidak dapat disembuhkan sepenuhnya, pengobatan yang tepat dapat membantu meredakan serta mengendalikan gejala dan mencegah kekambuhan. Beberapa metode pengobatan yang umumnya direkomendasikan oleh dokter untuk mengatasi kondisi neuropati adalah sebagai berikut:

 

  • Pemberian obat-obatan, seperti obat pereda nyeri, antidepresan, antikonvulsan, suplemen vitamin B kompleks, dan obat golongan opioid.

  • Prosedur medis khusus, seperti fisioterapi, terapi okupasi, transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS).

  • Pemberian obat-obatan imunosupresan untuk meredakan respons imun yang berlebihan.

  • Operasi, dilakukan jika penyebab neuropati adalah karena saraf terjepit atau mengalami penekanan.

  • Penerapan pola hidup sehat, seperti rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, menghentikan kebiasaan merokok, dan menjaga kadar gula darah (terutama bagi penderita diabetes).

 

Pencegahan Neuropati

 

Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah neuropati adalah sebagai berikut:

 

  • Berolahraga secara teratur untuk memperkuat otot-otot tubuh, setidaknya 30 menit per hari atau 150 menit per minggu.

  • Mengoptimalkan konsumsi makanan sehat, seperti biji-bijian, sayuran, dan makanan tinggi protein.

  • Menggunakan alat pelindung diri apabila bekerja di tempat yang mengharuskan melakukan gerakan berulang.

 

Penting untuk diingat bahwa artikel ini bertujuan untuk edukasi semata dan tidak dapat menggantikan diagnosis resmi serta saran perawatan dari tenaga medis profesional. Berbagai gejala yang disebutkan pun tidak secara spesifik mewakili kondisi neuropati dan mungkin mengindikasikan kondisi medis lainnya.

 

Apabila Anda mengalami gejala yang merujuk pada kondisi ini, seperti nyeri pada bagian tubuh tertentu hingga mati rasa, segera berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Neurologi di Siloam Hospitals terdekat guna memperoleh diagnosis serta penanganan yang tepat dan cepat.

 

Sebagai informasi, tahapan pemeriksaan dan tindakan medis yang akan dijalani terkait neuropati akan disesuaikan dengan fasilitas kesehatan yang tersedia sehingga mungkin berbeda di setiap rumah sakit. Tenaga medis profesional akan memastikan seluruh tahapan pemeriksaan dan pengobatan telah sesuai dengan kondisi medis spesifik pasien.


Gunakan aplikasi MySiloam untuk mengakses berbagai fitur kesehatan, mulai dari melihat jadwal dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, hingga memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam dan nikmati berbagai fitur untuk mempermudah perjalanan kesehatan Anda.

 

Radiology Digital Booking

Dokter Kami
dr-kelvin-yuwanda-spn

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-jerry-hartawan--sps

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-dorothea-fortuna-meita-caturwulan-sps

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Dorothea Fortuna Meita Caturwulan, M.Kes, Sp.N, F.MIN, CIPS, FIPP

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail