9 Gangguan Pencernaan, Penyebab, dan Cara Mengatasinya
Kesehatan Tubuh

9 Gangguan Pencernaan, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

03 Februari 2026 7 menit waktu baca
gangguan pencernaan

Gangguan pencernaan adalah gangguan yang terjadi pada saluran pencernaan (saluran gastrointestinal), yaitu kerongkongan, hati, lambung, usus halus, usus besar, kantong empedu, dan pankreas. Beberapa jenis gangguan pada saluran pencernaan dapat berlangsung singkat dan sembuh dengan perawatan mandiri di rumah. Namun, beberapa kondisi lainnya dapat berlangsung lebih lama dan membutuhkan penanganan lanjutan dari dokter.

 

Mari waspadai macam-macam gangguan pencernaan yang umum terjadi, penyebab, hingga cara mengatasinya melalui artikel berikut ini.

 

Apa Saja Gangguan Pencernaan yang Umum Terjadi?

 

Sistem pencernaan manusia berperan dalam memecah makanan menjadi nutrisi yang diserap tubuh untuk menghasilkan energi, pertumbuhan, dan perbaikan sel. Selain itu, sistem pencernaan juga berfungsi memilah dan membuang sisa makanan yang tidak dapat dicerna oleh tubuh. 

 

Karena perannya yang kompleks, sistem pencernaan rentan mengalami berbagai gangguan, mulai dari kondisi ringan akibat pola makan hingga peradangan kronis yang memerlukan penanganan medis. Berikut berbagai gangguan pencernaan yang umum terjadi dan perlu diwaspadai:

 

1. GERD

 

GERD atau gastroesophageal reflux disease adalah jenis gangguan pencernaan yang terjadi saat asam lambung naik menuju kerongkongan. Hal tersebut disebabkan oleh melemahnya katup atau sfingter bagian bawah kerongkongan. Normalnya, katup ini akan menutup setelah makanan masuk ke lambung. Namun, pada penderita GERD, katup tersebut tidak bisa menutup dengan sempurna sehingga menyebabkan asam lambung naik ke kerongkongan.

 

GERD dapat menyebabkan penderitanya mengalami sensasi terbakar di dada, nyeri dada, kesulitan menelan, mual, muntah, dan batuk. Diagnosis penyakit GERD dapat dilakukan melalui pemeriksaan esofagogastroduodenoskopi. Untuk mengatasi gangguan pencernaan ini, penderita perlu mengubah gaya hidup dan pola makan yang lebih sehat, termasuk:

 

  • Makan dengan porsi secukupnya (tidak berlebihan).

  • Tidak langsung berbaring setelah makan.

  • Menghindari makanan pedas, berlemak, asam, dan kafein.

  • Memosisikan kepala lebih tinggi saat tidur.

  • Berkonsultasi dengan dokter terkait penggunaan antasida atau obat penghambat asam.

 

2. Tukak Lambung

 

Tukak lambung merupakan luka yang terjadi pada dinding lambung. Jenis gangguan pencernaan ini disebabkan oleh infeksi bakteri Helicobacter pylori atau efek samping penggunaan obat pereda nyeri dalam jangka panjang. Gejala tukak lambung meliputi perut kembung, mual dan muntah, feses berwarna gelap, penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas, serta hilangnya nafsu makan. Tukak lambung dapat didiagnosis melalui pemeriksaan esofagogastroduodenoskopi.

 

3. Batu Empedu

 

Batu empedu merupakan contoh gangguan pada sistem pencernaan yang terjadi akibat cairan empedu mengandung kolesterol dan limbah sisa metabolisme secara berlebihan. Gangguan ini juga dapat terjadi jika pelepasan empedu mengalami hambatan. Batu yang terdapat di dalam kantung empedu bisa menyebabkan nyeri hebat di bagian perut kanan atas. Kondisi ini dapat diatasi dengan pemberian obat-obatan dari dokter hingga operasi.

 

Sejumlah gejala yang kerap dialami oleh penderita batu empedu meliputi:

 

  • Nyeri kolik.

  • Radang kantung dan saluran empedu.

  • Ikterus atau jaundice (penyakit kuning).

 

Adapun beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya batu empedu adalah sebagai berikut:

 

  • Memiliki berat badan berlebih.

  • Berusia di atas 40 tahun.

  • Perempuan.

  • Usia subur.

  • Tidak mampu memecah dan menyerap makanan berlemak.

  • Sering buang angin.

 

4. IBS (Irritable Bowel Syndrome)

 

IBS atau irritable bowel syndrome adalah sekumpulan gejala gangguan pencernaan, termasuk sakit perut dan perubahan buang air besar yang setidaknya terjadi tiga kali per bulan selama tiga bulan berturut-turut. Gejala lainnya ialah perut kembung, diare, sembelit, dan adanya lendir pada feses.

 

Belum diketahui secara pasti apa penyebab IBS. Namun, faktor-faktor tertentu, seperti infeksi bakteri pada saluran cerna, kondisi kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, stres, serta konsumsi makanan tertentu diduga berkaitan dengan terjadinya IBS. Penanganan IBS dapat dilakukan dengan beberapa cara di bawah ini:

 

  • Menghindari makanan yang memicu gejala.

  • Mengurangi stres.

  • Makan dalam porsi kecil, mengonsumsi lebih banyak serat.

  • Olahraga secara teratur dan istirahat dengan cukup.

 

5. IBD (Inflammatory Bowel Disease)

 

Inflammatory bowel disease atau IBD adalah kondisi peradangan yang berlangsung lama di saluran pencernaan. Dua jenis paling umum dari IBD yaitu penyakit Crohn dan kolitis ulseratif. Jenis gangguan pencernaan berikut dapat menyebabkan iritasi dan pembengkakan, diare, sakit perut, kehilangan nafsu makan, demam, serta penurunan berat badan.

 

Adapun penyebab IBD sendiri belum diketahui secara pasti. Namun, respons sistem kekebalan yang tidak biasa diduga menjadi pemicunya. Selain itu, respons virus, bakteri, dan alergi kemungkinan juga memicu terjadinya peradangan. IBD dapat didiagnosis melalui pemeriksaan kolonoskopi dan pemeriksaan laboratorium fecal calprotectin.

 

Sementara itu, penanganannya akan disesuaikan dengan jenis IBD yang diderita pasien. Perawatan khusus seperti obat-obatan dari dokter diperlukan untuk:

 

  • Mengurangi peradangan.

  • Memblokir respons kekebalan.

  • Mengobati atau mencegah infeksi.

  • Mengobati diare yang parah.

  • Mengelola nyeri ringan tanpa obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID).

 

Dokter mungkin akan menyarankan pasien untuk menerapkan diet rendah serat apabila rentan terhadap diare, atau menghindari produk susu jika memiliki intoleran terhadap laktosa. Namun, adakalanya tindakan pembedahan juga diperlukan untuk mengobati komplikasi seperti obstruksi usus atau abses.

 

6. Diare

 

Jenis gangguan pencernaan berikutnya adalah diare. Seseorang dikatakan menderita diare apabila mengalami peningkatan frekuensi buang air besar lebih dari tiga kali dalam sehari disertai tekstur feses yang lebih cair. Adapun penyebab gangguan pencernaan ini bermacam-macam, seperti infeksi rotavirus atau bakteri, efek samping obat, serta perubahan pola makan.

 

Selain peningkatan frekuensi BAB, beberapa gejala diare lainnya yang dapat dialami oleh penderita yaitu kram perut, demam, mual, kembung, hingga adanya darah pada feses. Diare dapat dialami oleh siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa.

 

Diare tetap tidak boleh disepelekan. Pasalnya, kasus diare parah yang tidak ditangani dengan segera bisa berakibat fatal, khususnya pada anak-anak. Penderita diare membutuhkan obat yang bermanfaat untuk menggantikan cairan dan elektrolit tubuh yang hilang.

 

7. Konstipasi (Sembelit)

 

Konstipasi atau sembelit adalah kondisi saat seseorang sulit atau jarang buang air besar. Apabila seseorang buang air besar kurang dari tiga kali dalam seminggu, kondisi tersebut dapat dicurigai sebagai sembelit. Adapun gejala utamanya adalah feses memiliki tekstur keras. Selain itu, ciri-ciri sembelit adalah sebagai berikut:

 

  • Mengejan saat buang air besar.

  • Merasa seperti ada penyumbatan di rektum sehingga feses sulit dikeluarkan.

  • Merasa tidak tuntas setelah buang air besar.

  • Memerlukan bantuan untuk mengeluarkan feses, misalnya menggunakan jari tangan atau menekan perut.

 

Sembelit dapat disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari kurangnya konsumsi makanan berserat, kurang minum air, hingga pengaruh obat-obatan seperti antasida atau obat antiinflamasi nonsteroid. Memperbanyak asupan serat dan cairan serta rutin berolahraga akan membantu mengatasi kondisi ini. Penderita juga dapat mengonsumsi obat pencahar atau pelunak feses sesuai resep dari dokter.

 

8. Wasir (Hemoroid)

 

Wasir atau hemoroid merupakan gangguan pencernaan yang lebih sering dialami oleh seseorang di atas usia 50 tahun. Wasir dapat menyebabkan rasa nyeri hebat dikarenakan pembuluh darah di saluran anus mengalami pembengkakan. Sejumlah gejala yang ditimbulkan dapat berupa nyeri dan gatal pada anus serta keluarnya darah saat BAB.

 

Kondisi ini juga tak jarang menyebabkan penderitanya sulit duduk. Penyebab utama wasir yaitu sembelit kronis dan kehamilan. Faktor-faktor lain yang diketahui dapat memicu wasir adalah mengejan saat BAB, duduk di toilet dalam waktu lama, dan diare kronis.

 

Cara mengatasi wasir untuk derajat awal bisa dilakukan dengan perubahan gaya hidup seperti mengonsumsi banyak cairan dan makanan berserat serta obat-obatan dari dokter. Namun, jika sudah memasuki stadium lanjut, dokter biasanya akan merekomendasikan pasien untuk menjalani tindakan operasi.

 

9. Penyakit Divertikular

 

Penyakit divertikular, seperti divertikulosis (terbentuknya kantung kecil di dinding usus besar) dan divertikulitis (ketika kantung tersebut mengalami peradangan), dapat menyebabkan penderitanya mengalami perut kembung, diare, dan nyeri pada perut bagian bawah.

 

Penyebab gangguan pencernaan ini masih belum diketahui secara pasti. Namun, diduga penyakit divertikular berkaitan dengan gen. Faktor lain yang dapat meningkatkan risiko ini meliputi kurangnya aktivitas fisik, penggunaan NSAID dan steroid, serta memiliki kondisi yang berkaitan dengan sistem imun.

 

Penting untuk diketahui bahwa informasi dalam artikel ini bertujuan untuk edukasi semata dan tidak dapat menggantikan diagnosis resmi serta saran perawatan dari tenaga medis profesional. Tidak menutup kemungkinan apabila gangguan pencernaan yang Anda alami tidak tercantum dalam artikel ini dan membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter.

 

Dalam hal ini, Anda dapat mengunjungi Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Siloam Hospitals terdekat, terutama jika mengalami keluhan yang mengarah pada gangguan pencernaan, seperti sakit perut yang tak kunjung membaik disertai perubahan frekuensi BAB dan tekstur feses.

 

Sebagai informasi, tahapan pemeriksaan dan tindakan medis yang dijalani akan disesuaikan dengan ketersediaan fasilitas kesehatan sehingga mungkin berbeda di setiap rumah sakit. Tenaga medis profesional akan memastikan seluruh tahapan pemeriksaan dan pengobatan telah sesuai dengan kondisi medis spesifik pasien.

 

Gunakan aplikasi MySiloam untuk mengakses berbagai fitur kesehatan dengan mudah, mulai dari melihat jadwal dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, hingga memantau hasil pemeriksaan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam dan nikmati berbagai fitur untuk mempermudah perjalanan kesehatan Anda.

 

Digital Booking Lab&Rad - KV 5

Dokter Kami
dr-albertus-daniel-sppd

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Albertus Daniel, SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ra-aditya-adhi-puruhita-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ra Aditya Adhi Puruhita, M.M.R., SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-juliyanti-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Juliyanti, SpPD, FINASIM

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Kelapa Dua

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail