Sindrom Piriformis - Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya
Kesehatan Tubuh

Sindrom Piriformis - Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya

14 Agustus 2025 4 menit waktu baca
mengenal sindrom piriformis

Sindrom piriformis adalah kondisi di mana otot piriformis menekan saraf skiatik dan menyebabkan peradangan. Otot piriformis terletak di panggul dan memiliki peran penting dalam mengontrol gerakan tubuh bagian bawah serta menjaga stabilitas panggul.

 

Gangguan pada otot ini dapat menyebabkan rasa nyeri yang memengaruhi kualitas hidup penderitanya. Mari pahami lebih lanjut tentang sindrom piriformis, termasuk gejala, penyebab, dan pengobatannya melalui artikel di bawah ini.

 

Apa itu Sindrom Piriformis?

 

Sindrom piriformis adalah sekumpulan gejala yang muncul karena otot piriformis, yang terletak di area bokong dekat sendi panggul, menekan saraf skiatik (ischiadicus nerve). Saraf ini membentang dari tulang punggung bagian bawah, melalui bagian dalam otot piriformis, hingga ke paha dan betis kedua kaki.

 

Otot piriformis berperan penting dalam menjaga stabilitas panggul dan membantu gerakan tubuh bagian bawah. Sindrom piriformis sering kali ditandai dengan nyeri dan mati rasa di bokong dan sepanjang bagian belakang paha.

 

Kondisi ini umumnya dialami oleh kelompok usia dewasa dan sering berhubungan dengan kebiasaan duduk yang salah atau aktivitas olahraga berlebihan. 

 

Gejala Sindrom Piriformis

 

Sindrom piriformis dapat menimbulkan beberapa gejala yang umumnya terjadi pada satu sisi tubuh bagian bawah. Meski begitu, ada kemungkinan gejala ini juga dapat memengaruhi kedua sisi tubuh. Adapun sejumlah gejala yang bisa dikenali, antara lain

 

  • Nyeri di area kelamin.

  • Kesulitan untuk duduk dalam waktu yang lama.

  • Nyeri saat berhubungan seksual (dispareunia), terutama pada wanita.

  • Nyeri hebat saat memutar kaki dan melangkah ke samping.

  • Nyeri ketika bangun dari tempat tidur atau saat buang air besar.

  • Kesemutan dan mati rasa yang dimulai dari bokong hingga belakang tungkai.

 

Penyebab Sindrom Piriformis

 

Peradangan pada otot piriformis dapat menjadi penyebab ketidaknyamanan dan sering kali dipicu oleh sejumlah kondisi tertentu. Adapun beberapa kondisi yang dapat memicu peradangan tersebut adalah:

 

  • Cedera pada otot piriformis yang diakibatkan aktivitas fisik.

  • Terjatuh.

  • Kecelakaan.

  • Luka tusuk pada otot piriformis.

 

Faktor Risiko Sindrom Piriformis

 

Seseorang dapat dianggap berisiko tinggi mengalami gangguan pada otot piriformis jika mengalami kondisi tertentu yang memengaruhi kestabilan dan keseimbangan otot tersebut. Adapun beberapa faktor risiko tersebut, di antaranya yaitu:

 

  • Memiliki kebiasaan duduk terlalu lama.

  • Mengangkat beban yang berat.

  • Melakukan pergerakan tiba-tiba pada area pinggul.

  • Olahraga secara berlebihan.

  • Melakukan aktivitas berulang, seperti berjalan, berlari, atau menaiki tangga dengan otot piriformis yang lemah.

 

Diagnosis Sindrom Piriformis

 

Proses diagnosis sindrom piriformis dimulai dengan wawancara dokter terhadap pasien untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang gejala dan riwayat penyakitnya. Dokter akan menyelidiki apakah pasien pernah mengalami kecelakaan, cedera olahraga, atau kejadian tertentu yang dapat berkaitan dengan sindrom piriformis.

 

Selain itu, dokter juga akan menanyakan tentang kebiasaan pasien, termasuk lamanya waktu duduk dan aktivitas berulang yang mungkin dilakukan. Pertanyaan ini bertujuan untuk memahami faktor risiko yang mungkin terkait dengan kondisi peradangan otot ini. 

 

Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dengan mengevaluasi gerakan tubuh pasien. Langkah ini bertujuan untuk mengidentifikasi gerakan mana yang menyebabkan nyeri atau ketidaknyamanan. 

 

Kemudian, untuk menegakkan diagnosis, dokter mungkin akan merujuk pasien untuk menjalani pemeriksaan penunjang, seperti CT scan atau MRI. Hal ini bertujuan untuk mengesampingkan kemungkinan bahwa gejala yang muncul disebabkan oleh kondisi lain, seperti hernia nucleus pulposus (HNP) atau radang sendi (arthritis).



Komplikasi Sindrom Piriformis

 

Tanpa penanganan yang tepat, sindrom piriformis dapat mengakibatkan kerusakan pada saraf skiatik/skiatika. Dampaknya sendiri dapat berupa cedera permanen pada saraf dan mengakibatkan sejumlah komplikasi serius, termasuk:

 

  • Nyeri yang berlanjut secara berkepanjangan (kronis).

  • Mati rasa permanen.

  • Kelumpuhan.

 

Pengobatan Sindrom Piriformis

 

Pengobatan sindrom piriformis dapat melibatkan beberapa pendekatan, tergantung pada tingkat keparahan dan gejala yang dialami oleh penderita. Berikut adalah beberapa opsi pengobatan yang umumnya direkomendasikan oleh dokter.

 

1. Obat-obatan

 

Pemberian obat-obatan, seperti analgesik, pelemas otot, atau injeksi kortikosteroid, dapat menjadi solusi yang efektif untuk mengurangi rasa sakit pada pasien. Penggunaan jenis obat-obatan ini akan disesuaikan dengan kebutuhan setiap pasien.

 

2. Fisioterapi

 

Fisioterapi merupakan pendekatan yang umumnya direkomendasikan untuk menangani peradangan otot piriformis. Fisioterapis akan membantu pasien menjalani serangkaian latihan dan peregangan yang difokuskan pada otot piriformis. Tindakan ini bertujuan untuk mengurangi tekanan pada saraf skiatik.

 

3. Operasi

 

Jika upaya nonbedah tidak memberikan hasil, tindakan operasi dapat diambil sebagai opsi terakhir. Dalam kasus sindrom piriformis, operasi dilakukan untuk mengurangi tekanan pada saraf skiatik.

 

Pencegahan Sindrom Piriformis

 

Untuk mencegah atau meminimalkan risiko peradangan pada otot piriformis, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan, salah satunya dengan rutin berolahraga dengan intensitas sewajarnya. Berikut adalah cara mencegah atau meminimalkan risiko sindrom piriformis secara lengkap.

 

  • Menghindari duduk atau berbaring dalam jangka waktu yang lama.

  • Rutin berolahraga, namun tidak berlebihan.

  • Pilihlah permukaan yang datar dan stabil saat berlari.

  • Selalu lakukan pemanasan dan peregangan sebelum dan setelah sesi olahraga.

  • Mengangkat beban dengan postur tubuh yang benar dan hindari membungkuk berlebihan.

  • Pertahankan postur tubuh yang baik ketika melakukan kegiatan seperti berlari, berjalan, atau berolahraga.

  • Tingkatkan intensitas latihan secara bertahap, dan jika timbul rasa nyeri, hentikan aktivitas dan beristirahat hingga nyeri hilang.

 

Apabila Anda atau orang di sekitar Anda mengalami nyeri yang sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, segera kunjungi Siloam Hospitals Mampang untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut terkait dengan gangguan tulang, jaringan ikat, dan sendi. 

 

Sebagai pusat unggulan ortopedi, Siloam Hospitals Mampang dilengkapi dengan fasilitas medis mutakhir dan tim ahli ortopedi berpengalaman yang mampu memberikan diagnosis, perawatan, hingga terapi rehabilitasi gangguan ortopedi secara lebih optimal.

 

Siloam Hospitals juga menyediakan paket Fisioterapi yang bisa diakses dari rumah Anda melalui layanan Siloam at Home. Fisioterapi adalah tindakan rehabilitasi untuk menghindari atau meminimalkan keterbatasan fisik akibat cedera atau penyakit. Paket Fisioterapi di rumah tersedia untuk semua kalangan usia, mulai dari bayi hingga lanjut usia. Mari jaga selalu kesehatan Anda #BersamaSiloam! 

 

Siloam at Home

Dokter Kami
dr-kelvin-yuwanda-spn

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-jerry-hartawan--sps

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-dorothea-fortuna-meita-caturwulan-sps

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Dorothea Fortuna Meita Caturwulan, M.Kes, Sp.N, F.MIN, CIPS, FIPP

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail