Tic Disorder - Penyebab, Gejala, dan Penanganannya
Kesehatan Tubuh

Tic Disorder - Penyebab, Gejala, dan Penanganannya

14 Agustus 2025 5 menit waktu baca
Tic disorder adalah

Gangguan tic (tic disorder) adalah kelompok gangguan neurologis yang ditandai oleh kemunculan tic. Tic ditandai dengan adanya gerakan, kedutan, atau suara secara tiba-tiba yang dilakukan oleh seseorang secara berulang-ulang dan tidak terkendali. Mari simak penjelasan selengkapnya tentang gangguan tic di bawah ini.

 

Apa itu Tic Disorder (Gangguan Tic)?

 

Gangguan tic atau tic disorder adalah gerakan di luar kendali yang terjadi secara tiba-tiba, cepat, dan berulang. Tic tidak selalu menandakan adanya penyakit serius atau menyebabkan suatu komplikasi, namun kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari penderitanya.

 

Tic umumnya tidak muncul ketika penderitanya sedang tertidur. Munculnya tic bisa berupa gerakan tubuh, kedutan, atau suara. Pada beberapa kasus, kemunculan tic dapat ditahan oleh penderitanya, akan tetapi kendali tersebut sering kali hanya bertahan sementara.

 

Tic disorder umumnya dimulai pada masa kanak-kanak antara usia 5–10 tahun, namun tak menutup kemungkinan kondisi ini baru dialami ketika dewasa. Tic disorder umumnya bersifat sementara (biasanya tidak lebih dari tiga bulan). Namun, apabila tic disorder terus berlangsung hingga lebih dari satu tahun, maka kondisi ini bisa dicurigai sebagai gejala dari sindrom Tourette.

 

Jenis-Jenis Tic Disorder

 

Berdasarkan lamanya gejala berlangsung, tic disorder terbagi menjadi tiga jenis. Berikut penjelasannya.

 

  • Transient tic disorder atau provisional tic disorder, merupakan jenis tic yang paling umum terjadi pada anak-anak dan biasanya dapat hilang sendiri dalam waktu kurang dari satu tahun. Gejala transient tic disorder berupa gerakan (motor tics) dan ucapan (vocal tics).
  • Tic kronis (jangka panjang), merupakan jenis tic yang gejalanya dapat berlangsung selama satu tahun atau bahkan lebih dan dapat dialami oleh seseorang di bawah usia 18 tahun. Gejala tic ini dapat berupa gerakan atau ucapan, namun tidak terjadi secara bersamaan. Selain itu, penderita dapat mengalami tic hampir setiap hari dan dapat terjadi berkali-kali dalam sehari. Diketahui bahwa penderita tic kronis memiliki peluang yang cukup tinggi untuk sembuh dalam waktu 6 tahun.
  • Sindrom Tourette, terjadi apabila gejala tic sudah berlangsung lebih dari satu tahun. Adapun tic yang muncul berupa complex vocal (suara keras) dan motor tic yang terjadi secara bersamaan. Kondisi ini biasanya juga disertai dengan OCD (Obsessive Compulsive Disorder) dan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Selain itu, penderita juga cenderung bertindak impulsif.

 

Penyebab Tic Disorder

 

Belum diketahui secara pasti apa penyebab tic disorder. Namun, terdapat dugaan bahwa kondisi ini dapat dipicu oleh gangguan pada bagian otak yang mengontrol gerakan anggota tubuh. Gejala tic cenderung lebih sering terjadi pada orang dengan beberapa kondisi berikut:

 

  • OCD (Obsessive Compulsive Disorder).
  • Autisme.
  • Gangguan proses belajar (disleksia).
  • ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder).
  • Penyakit Huntington.
  • Penyakit Creutzfeldt-Jakob.
  • Cerebral palsy.
  • Penyalahgunaan obat terlarang seperti amfetamin dan kokain.
  • Perubahan senyawa kimia dalam otak, seperti serotonin, glutamat, dan dopamin.

 

Faktor Risiko Tic Disorder

 

Beberapa faktor yang diketahui dapat meningkatkan risiko tic disorder adalah sebagai berikut:

 

  • Berjenis kelamin pria.
  • Anak-anak berusia 5–10 tahun.
  • Trauma akibat cedera kepala, infeksi, keracunan, dan operasi.
  • Memiliki keluarga dengan riwayat tic disorder (mutasi genetika).

 

Gejala Tic Disorder

 

Gejala tic disorder terbagi menjadi dua kategori, yaitu motor tics dan vocal tics. Berikut masing-masing penjelasannya.

 

Motor Tics

 

Motor tics adalah gejala yang muncul berupa gerakan berulang dan di luar kendali penderitanya. Gerakan tersebut bisa melibatkan satu (simple motor tics) atau beberapa kelompok otot (complex motor tics).

 

Gerakan yang termasuk dalam simple motor tics adalah sebagai berikut:

 

  • Menggerakkan kepala dan bahu.
  • Mengerutkan hidung.
  • Menggigit dan menggerakkan bibir.
  • Mengedip.
  • Menggeleng atau mengangguk.

 

Sementara itu, gerakan yang masuk dalam kategori complex motor tics adalah:

 

  • Menirukan gerakan orang lain.
  • Melompat atau menendang objek tertentu.
  • Mencium suatu objek tertentu.

 

Vocal Tics

 

Jenis gejala gangguan tic yang kedua adalah vocal tics (munculnya suara-suara berulang tanpa kendali). Vocal tics bisa dibagi menjadi dua, yaitu simple vocal tics (hanya menimbulkan satu suara) atau complex vocal tics (melibatkan pengucapan kata-kata, frasa, atau kalimat).

 

Beberapa gejala simple vocal tics adalah:

 

  • Menggonggong.
  • Mendesis.
  • Mendengkur.
  • Mengendus.

 

Adapun sejumlah gejala complex vocal tics, di antaranya:

 

  • Mengumpat dengan kata-kata yang kasar.
  • Mengulang kata-kata orang lain.
  • Menirukan suara binatang.
  • Mengulang-ulang ucapan sendiri.

 

Meski begitu, gejala tic disorder bisa berbeda-beda pada setiap penderita. Beberapa penderita mungkin hanya mengalami salah satu gejala, namun pada beberapa penderita lainnya bisa saja mengalami kedua gejala tersebut (motor dan vocal tics).

 

Diagnosis Tic Disorder

 

Dalam proses diagnosis, dokter akan melakukan anamnesis atau wawancara medis mengenai gejala dan riwayat kesehatan pasien beserta keluarga, dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik termasuk pemeriksaan saraf pada pasien.

 

Adapun pemeriksaan tambahan lainnya yang biasanya dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis tic disorder adalah:

 

  • Tes darah, dilakukan dengan mengambil darah menggunakan jarum suntik kecil, kemudian ditampung dalam tabung untuk diperiksa di laboratorium. Tujuannya adalah  mengetahui penyebab munculnya gangguan tic.
  • MRI otak, untuk melihat gambaran otak secara lebih jelas dan mendeteksi kerusakan pada otak yang dapat menyebabkan gangguan tic.

 

Komplikasi Tic Disorder

 

Apabila tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat, tic disorder dapat menimbulkan beberapa kondisi yang mengganggu kehidupan sehari-hari penderitanya, berupa:

 

  • Merasa malu dan tidak percaya diri.
  • Depresi.
  • Cemas.
  • Kesulitan berkomunikasi.
  • Kesulitan belajar.
  • Gangguan tidur.
  • Berisiko mengalami bullying, serta mendapatkan hukuman dari orang tua dan ditegur oleh guru sekolah.
  • Masalah dalam kehidupan sosial.

 

Pengobatan Tic Disorder

 

Pada sebagian besar kasus, tic disorder dapat sembuh dengan sendirinya, namun penderita tentu akan merasa terganggu ketika gejala muncul saat sedang menjalani aktivitas sehari-hari. Ada beberapa metode pengobatan yang bertujuan untuk meringankan gejala tic disorder dan meningkatkan kualitas hidup penderitanya, di antaranya:

 

  • Terapi ERP (exposure response prevention) untuk membantu penderita menjadi terbiasa dengan munculnya gejala dari gangguan tic yang mengganggu.
  • Terapi pembalikan kebiasaan untuk mengendalikan gerakan penderita saat gejala kambuh.
  • Pemberian obat-obatan, seperti obat antikejang, antipsikotik, pelemas otot, antidepresan, suntik botoks, dan lain-lain.
  • DBS (deep brain stimulation), dilakukan jika pasien tidak merespons terhadap pengobatan lainnya. DBS merupakan prosedur berupa pemasangan elektroda di dalam otak yang terhubung dengan perangkat stimulasi atau pacemaker (terletak di bawah kulit dada bagian atas) menggunakan kawat (wire) halus. Tujuannya adalah untuk mengatur impuls listrik di dalam otak untuk mengontrol  gejala gangguan tic.

 

Pencegahan Tic Disorder

 

Tic disorder belum bisa dicegah sepenuhnya. Namun, terdapat beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menurunkan risiko kambuhnya tic disorder, yaitu:

 

  • Tidak berusaha menahan atau menghentikan gejala karena hanya akan memperparah tic disorder.
  • Menghindari aktivitas fisik yang terlalu berat atau melelahkan.
  • Tidur dengan waktu yang cukup.
  • Mengelola stres dan kecemasan dengan baik.
  • Mengonsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang.
  • Menggunakan pelindung diri saat berkendara.
  • Menghindari penyalahgunaan NAPZA.

 

Apabila Anda atau kerabat terdekat mengalami gejala tic, baik berupa gerakan ataupun suara, sebaiknya segera konsultasikan kondisi tersebut dengan dokter. Kunjungi Siloam Hospitals terdekat di kota Anda untuk berkonsultasi secara langsung dengan dokter dan mendapatkan diagnosis serta penanganan yang tepat.


Anda pun dapat membuat janji temu secara praktis melalui aplikasi MySiloam atau fitur Cari Dokter. Kedua platform tersebut juga telah dilengkapi dengan informasi mengenai jadwal dokter, jadi bisa lebih mudah dalam menyesuaikan waktu Anda. Mari jaga selalu kesehatan Anda dan keluarga #BersamaSiloam!

 

Laboratory Digital Booking

Dokter Kami
dr-kelvin-yuwanda-spn

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-jerry-hartawan--sps

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-dorothea-fortuna-meita-caturwulan-sps

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Dorothea Fortuna Meita Caturwulan, M.Kes, Sp.N, F.MIN, CIPS, FIPP

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail