Kesehatan Tubuh
Apa Itu Sindrom Tourette? Ini Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

Table of Contents
Sindrom Tourette adalah gangguan neurologis yang ditandai dengan gerakan motorik atau vokal berulang yang tidak dapat dikendalikan atau tics. Sindrom Tourette biasanya mulai muncul pada masa kanak-kanak atau remaja awal, dan gejalanya dapat bervariasi dalam frekuensi, intensitas, dan tipe tics yang muncul.
Beberapa individu dengan sindrom Tourette juga dapat mengalami gejala tambahan seperti gangguan tumbuh kembang, gangguan atensi, hiperaktivitas, gangguan tidur, dan kecemasan. Mari pahami selengkapnya tentang penyebab, gejala, dan penanganan sindrom Tourette di bawah ini.
Apa Itu Sindrom Tourette?
Tourette syndrome atau sindrom Tourette adalah suatu kelainan atau gangguan saraf yang merupakan bawaan sejak lahir. Kondisi ini ditandai dengan ketidakmampuan penderita dalam mengendalikan gerak-gerik tubuh serta ucapan yang terlontar dari mulut (tics).
“Gejala sindrom Tourette yang muncul dapat berupa kedipan berulang, wajah berkedut, hentakan di bahu atau lengan dan kaki, serta suara seperti berdehem dan latah. Pada kasus yang lebih berat, gejala yang muncul dapat berupa melompat tiba-tiba hingga terjatuh, tubuh melintir, atau mengucapkan kata-kata kasar dan berteriak secara tidak terkendali.”
Dr. dr. Rocksy Fransisca V Situmeang, Sp.N
Penyakit tik maupun sindrom Tourette pada seseorang akan memengaruhi kualitas hidup penderita dan orang di sekitarnya, sehingga perlu ditangani dengan serius. Pria memiliki kemungkinan risiko tiga kali lebih tinggi daripada wanita. Tanda-tanda sindrom Tourette biasanya terlihat sebelum penderitanya berusia 18 tahun.
Penyebab Sindrom Tourette
Hingga kini, belum diketahui secara pasti apa penyebab sindrom Tourette. Namun, terdapat dugaan bahwa sindrom ini berkaitan dengan beberapa kondisi, seperti:
-
Gangguan kehamilan, misalnya ibu yang mengalami stres selama kehamilan, proses kelahiran yang memakan waktu lebih lama (persalinan memanjang), atau kondisi BBLR (berat badan lahir rendah).
-
Adanya kelainan pada gen.
-
Kelainan pada zat kimia otak dan fungsi basal ganglia (bagian otak yang mengendalikan gerak tubuh).
Sementara itu, beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya sindrom Tourette adalah sebagai berikut:
-
Memiliki keluarga dengan riwayat sindrom Tourette atau gangguan tics lainnya.
-
Berjenis kelamin laki-laki.
Gejala Sindrom Tourette
Umumnya gejala sindrom Tourette ditandai dengan munculnya gerakan berulang yang tidak terkendali (tics). Penyakit tik sendiri terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu:
Vocal Tics
Vocal tics merupakan gejala ketika penderita secara tidak sadar mengeluarkan suara atau kata-kata tidak normal secara berulang. Terdapat dua jenis vocal tics, yaitu simple tics dan complex tics. Beberapa contoh simple vocal tics di antaranya:
-
Berdeham.
-
Batuk.
-
Bersuara mirip hewan, misalnya menggonggong seperti anjing.
Sementara itu, tanda-tanda yang muncul pada complex vocal tics adalah sebagai berikut:
-
Echophenomena, yaitu mengulang perkataan orang lain.
-
Palilalia, yaitu mengulang perkataan diri sendiri.
-
Koprolalia, yaitu mengucapkan kata-kata kasar dan vulgar.
Penderita sindrom Tourette mungkin akan mengalami sensasi tertentu di tubuh, seperti tegang otot, kesemutan, atau gatal-gatal sebelum gejala vocal tics muncul, hal ini bisa disebut dengan aura. Namun, sensasi tersebut akan menghilang dengan sendirinya saat gejala tics sudah muncul.
Motor Tics
Sama halnya dengan vocal tics, motor tics juga terbagi menjadi dua jenis, yaitu simple tics dan complex tics. Simple motor tics ditandai dengan gerakan berulang pada otot-otot tertentu. Sedangkan complex motor tics melibatkan beberapa otot sekaligus.
Adapun beberapa gerakan yang tergolong dalam simple motor tics antara lain:
-
Mengangkat bahu.
-
Menggerak-gerakkan mulut.
-
Mengedipkan mata.
-
Menggelengkan dan menganggukkan kepala.
Sementara itu, complex motor tics biasanya memunculkan beberapa gerakan berulang, seperti:
-
Melompat.
-
Menekuk atau memutar badan.
-
Menyentuh bahkan mencium suatu benda.
-
Melangkah dengan pola tertentu.
-
Meniru gerakan orang atau objek lain.
Diagnosis Sindrom Tourette
Sebelum menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan anamnesis terkait gejala yang dialami pasien. Meski tidak ada pemeriksaan khusus, namun beberapa kriteria berikut ini dapat membantu dokter untuk mendiagnosis sindrom Tourette:
-
Tics muncul ketika pasien belum berusia 18 tahun.
-
Tics tidak terjadi karena konsumsi obat-obatan, zat tertentu, atau kondisi medis lainnya.
-
Tics bisa terjadi beberapa kali dalam sehari, bahkan hampir setiap hari atau selang-seling dan sudah berlangsung selama lebih dari satu tahun.
-
Penderita mengalami gejala vocal dan motor tics, meski tidak selalu muncul keduanya atau tidak terjadi secara bersamaan.
Pengobatan Sindrom Tourette
Apakah sindrom Tourette bisa sembuh? Tidak ada cara menyembuhkan sindrom Tourette. Pengobatan yang dilakukan bertujuan untuk mengendalikan gejala dan membantu pasien untuk melakukan aktivitas sehari-hari dengan lebih mudah.
Apabila pasien mengalami gejala yang tergolong parah hingga mengganggu aktivitas dan membahayakan pasien maupun orang-orang di sekitarnya, beberapa metode penanganan yang bisa dilakukan adalah:
1. Psikoterapi
Psikoterapi adalah pilihan terapi sindrom Tourette yang bertujuan untuk melatih kesadaran pasien sehingga ia bisa mengendalikan munculnya tics. Dalam sesi psikoterapi, seorang terapis juga dapat menggunakan beberapa metode bantuan yang sesuai, seperti meditasi, hipnoterapi, atau relaksasi.
2. Pemberian Obat-obatan
Beberapa jenis obat yang biasa diberikan untuk meredakan gejala sindrom Tourette adalah:
-
Obat antidepresan.
-
Obat antipsikotik.
-
Obat antikonvulsan.
-
Suntik botox (botulinum toxin).
3. Metode Deep Brain Stimulation (DBS)
Deep brain stimulation dilakukan dengan menanamkan implan ke dalam otak untuk merangsang saraf di otak dengan aliran listrik. Metode ini biasanya direkomendasikan untuk penderita sindrom Tourette yang tidak dapat ditangani dengan metode lain.
Pada beberapa kasus, metode DBS dapat menyebabkan efek samping, seperti mati rasa, gangguan bicara, hingga perdarahan. Itulah sebabnya, penggunaan metode ini perlu dipertimbangkan dan didiskusikan dengan dokter terlebih dahulu mengenai manfaat dan risikonya.
Komplikasi Sindrom Tourette
Sejumlah komplikasi yang bisa terjadi akibat sindrom Tourette adalah:
-
Gangguan perilaku.
-
Gangguan OCD (Obsessive-compulsive disorder).
-
Gangguan dalam menerima dan mengikuti pelajaran.
-
Gangguan mood, misalnya depresi atau gangguan cemas.
Pencegahan Sindrom Tourette
Tidak ada cara khusus untuk mencegah sindrom Tourette. Meski begitu, diagnosis dan penanganan sejak dini dapat membantu mengurangi risiko atau komplikasi dari sindrom tersebut.
Penting untuk diketahui bahwa penyebab serta gejala yang disebutkan di atas tidak spesifik mewakili kondisi Tourette syndrome. Artinya, penyebab atau gejala tersebut bisa serupa dengan kondisi medis atau penyakit lainnya.
Oleh karenanya, apabila terdapat gejala yang mengarah pada kondisi sindrom Tourette pada anak, jangan ragu untuk mengonsultasikannya dengan Dokter Spesialis Neurologi (Otak dan Saraf) di Siloam Hospitals terdekat agar dokter bisa memberikan evaluasi, diagnosis, dan rencana perawatan yang tepat sesuai dengan kondisi pasien.
Sebagai informasi, tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang Anda jalani terkait kondisi Tourette syndrome dapat berbeda bergantung pada fasilitas kesehatan masing-masing rumah sakit. Tenaga medis profesional akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi medis setiap pasien.
Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk melihat jadwal praktik dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, serta memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Online & Kunjungi Rumah Sakit
Dr. dr. Rocksy Fransisca V Situmeang, Sp.N
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Lippo Village
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini





