Autisme (Autism Spectrum Disorder), Ini Penyebab & Gejalanya
Ibu dan Anak

Autisme (Autism Spectrum Disorder), Ini Penyebab & Gejalanya

01 September 2025 5 menit waktu baca
autisme adalah

 

Autism spectrum disorder (ASD) atau autisme adalah kelainan perkembangan saraf yang memengaruhi bagaimana seseorang berkomunikasi dan berinteraksi dengan hal-hal di sekitarnya. Seseorang dengan autisme harus bekerja lebih keras untuk beradaptasi dengan lingkungannya, mengingat kondisi ini diidap seumur hidup.

 

Lantas, apa sebenarnya yang menjadi penyebab autisme dan bagaimana cara mendiagnosisnya? Mari simak informasi selengkapnya pada artikel berikut ini.

 

Apa Itu Autisme (Autis)?

 

Autisme adalah kelainan fungsi otak dan saraf yang cukup kompleks sehingga memengaruhi perilaku serta proses berpikir. Autisme atau gangguan spektrum autis mencakup gangguan dalam segala aspek, mulai dari sosial, bahasa, serta komunikasi secara verbal maupun nonverbal.

 

Autisme merupakan kondisi yang dapat terdeteksi semasa kanak-kanak dan berlangsung selama seumur hidup. Meski begitu, autisme bukanlah suatu penyakit, melainkan kondisi ketika otak bekerja dengan cara yang berbeda dari orang lain.

 

Perlu diketahui, mengidap autisme bukan berarti tidak bisa memiliki kualitas hidup selayaknya orang normal. Kondisi ini tetap memungkinkan bagi pengidapnya untuk berteman, berhubungan dengan orang lain, atau mendapatkan pekerjaan, meski terkadang mereka membutuhkan bantuan ekstra dalam hal tersebut.

 

Adapun beberapa jenis autisme adalah sindrom Asperger, gangguan autistik, gangguan perkembangan pervasif (PDD-NOS), dan childhood disintegrative disorder (sindrom Heller). Kondisi tersebut juga kerap kali dikaitkan dengan sindrom Savant (Savant syndrome).

 

Perbedaan Autisme dan Down Syndrome

 

Sebagian orang mungkin masih bingung mengenai perbedaan autisme dan down syndrome. Kedua kondisi ini jauh berbeda, kondisi autis adalah gangguan pada perkembangan dan tidak dipengaruhi kromosom. Sementara itu, down syndrome merupakan gangguan intelektual yang dipengaruhi oleh kelainan jumlah kromosom.

 

Penyebab Autisme

 

Masih belum diketahui secara pasti apa penyebab autisme. Namun, suatu penelitian menunjukkan bahwa kondisi ini erat kaitannya dengan faktor genetik dan lingkungan. Pada tes pencitraan juga ditemukan bahwa pengidap autisme memiliki perkembangan yang berbeda di beberapa area otak. Gangguan perkembangan otak tersebut menyebabkan adanya masalah pada kinerja sel otak satu dan yang lainnya.

 

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami autisme adalah:

 

  • Mutasi gen, seperti sindrom Rett atau fragile X syndrome.

  • Berjenis kelamin laki-laki.

  • Faktor lingkungan, seperti komplikasi semasa kehamilan, polusi udara, atau penggunaan obat-obatan.

  • Faktor genetik. Seseorang yang memiliki anak dengan kondisi autisme berisiko lebih tinggi untuk mengandung kembali anak dengan autisme.

  • Bayi lahir prematur.

  • Memiliki anak di usia tua.

 

Selain itu, terdapat pula beberapa mitos autisme yang beredar di masyarakat. Perlu diketahui bahwa kondisi-kondisi berikut ini bukan penyebab autisme:

 

  • Diet.

  • Infeksi yang menular.

  • Bad parenting (perlakuan buruk dari orang tua).

  • Vaksinasi, misalnya vaksin MMR (vaksin untuk campak, rubella, dan gondong).

 

Gejala Autisme

 

Pada beberapa kasus, anak dengan autisme menunjukkan perkembangan normal di tahun pertamanya. Kemudian, tanda-tanda autisme dapat mulai muncul ketika anak memasuki usia 2 atau 3 tahun. Meski begitu, gejala autisme juga dapat terlihat lebih awal, seperti menurunnya kemampuan kontak mata atau tidak merespons saat dipanggil.

 

Dalam kasus tersebut, autisme dapat didiagnosis sedini mungkin mulai usia 18 bulan. Penelitian menunjukkan bahwa deteksi dini memiliki pengaruh yang positif bagi penderita autisme di kemudian hari. Namun, perlu dipahami bahwa gejala autisme dapat berbeda-beda antara satu orang dengan orang lainnya, tergantung dari tingkat keparahannya. Adapun beberapa gejala yang umum dialami oleh pengidap autisme adalah:

 

  • Kesulitan berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain.

  • Sulit memahami pikiran dan perasaan orang lain.

  • Merasa tidak nyaman bahkan stres karena beberapa hal, misalnya lampu yang terlalu terang atau suara yang keras.

  • Membutuhkan waktu lebih lama untuk menerima dan memahami suatu informasi.

  • Melakukan hal yang sama berulang kali, misalnya membuka pintu berulang kali. Mereka melakukan itu untuk meredakan rasa cemas atau sekadar merasa nyaman dengan hal tersebut.

  • Merasa kesal dan cemas ketika menghadapi situasi yang masih asing, misalnya saat berada di keramaian atau bertemu orang baru.

 

Sebagian besar pengidap autisme tidak tertarik untuk berinteraksi dengan orang lain. Ketika sedang berbicara, mereka akan menatap lawan bicaranya sebentar lalu menghindari tatapan tersebut. Sering kali mereka lebih nyaman untuk bermain sendiri.

 

Meski kesulitan memahami hal-hal tertentu, tidak semua pengidap autisme memiliki kecerdasan di bawah rata-rata. Bahkan, bukan tak mungkin mereka mempunyai tingkat kecerdasan rata-rata atau bahkan di atas rata-rata. Selain itu, beberapa kondisi yang kerap menyertai pengidap autisme adalah sebagai berikut:

 

 

Diagnosis Autisme

 

Autisme sulit untuk dideteksi karena tidak ada pemeriksaan medis khusus yang dapat mendiagnosis kondisi ini. Dalam menegakkan diagnosis, dokter akan memantau perilaku dan perkembangan anak, serta menanyakan gejala yang berkaitan kepada keluarganya.

 

Selain itu, dokter akan menggunakan kriteria dari DSM-5 untuk membantu menegakkan diagnosis autisme. Berdasarkan DSM-5 (diagnostic and statistical manual of mental disorders edisi kelima), ciri-ciri autisme adalah:

 

  • Kurang dalam berkomunikasi dan interaksi sosial.

  • Memiliki perilaku, minat, serta menjalani aktivitas yang berulang-ulang dan terbatas atau RRBs (restricted repetitive behaviors).

 

Seperti yang telah disebutkan di awal bahwa autisme biasanya dapat didiagnosis sejak anak berusia 18 bulan, namun tak jarang pula terdeteksi ketika anak berusia 2–3 tahun. Meski begitu, kondisi autisme pada beberapa anak terkadang tidak terdiagnosis hingga mereka menginjak remaja atau dewasa. Akibatnya, mereka tidak bisa mendapatkan penanganan lebih dini.

 

Penanganan Autisme

 

Apakah autisme bisa sembuh? Perlu diketahui bahwa autisme adalah kondisi yang tidak dapat disembuhkan. Meski begitu, terdapat beberapa metode yang bisa dilakukan untuk membantu pengidapnya lebih mudah dalam menyesuaikan diri, misalnya dengan melakukan terapi perilaku dan komunikasi serta mengonsumsi obat-obatan sesuai anjuran dokter untuk mengatasi gangguan perilaku.

 

Di samping itu, beberapa gaya hidup yang dapat diterapkan untuk membantu menangani autisme adalah:

 

  • Membuat rutinitas yang bermanfaat dan teratur di rumah.

  • Mengonsumsi obat sesuai dengan anjuran dokter.

  • Memenuhi kebutuhan pasien sesuai dengan kondisinya.

  • Mengikuti komunitas autis.

 

Penting untuk diketahui bahwa informasi di atas bertujuan untuk edukasi semata dan tidak dapat menggantikan diagnosis resmi serta saran perawatan dari tenaga medis profesional. Tidak menutup kemungkinan apabila gejala-gejala yang disebutkan merujuk pada kondisi medis lainnya.

 

Oleh karena itu, apabila Anda mencurigai adanya gejala autisme pada anak, seperti jarang merespons saat dipanggil dan sulit untuk diajak berinteraksi, segera kunjungi Dokter Spesialis Neurologi Subspesialis Neuropediatri di Siloam Hospitals terdekat untuk memperoleh diagnosis yang akurat serta penanganan yang tepat.

 

Sebagai informasi, tahapan pemeriksaan dan tindakan medis yang dijalani terkait kondisi ini akan disesuaikan dengan ketersediaan fasilitas kesehatan sehingga bisa saja berbeda di setiap rumah sakit. Tenaga medis profesional akan memastikan seluruh tahapan pemeriksaan dan pengobatan telah sesuai dengan kondisi medis pasien.

 

Gunakan aplikasi MySiloam untuk mengakses berbagai fitur kesehatan dengan mudah, mulai dari melihat jadwal dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, hingga memantau hasil pemeriksaan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam dan nikmati berbagai fitur untuk mempermudah perjalanan kesehatan Anda.

 

Digital Booking Lab&Rad - KV 1

Dokter Kami
dr-leman-spkj-mkes

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Leman, SpKJ, MKes

Psikiatri

Spesialis Psikiatri


Siloam Sriwijaya Palembang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-jimmy-sebastian-ollich-spkj

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Jimmy Sebastian Ollich, SpKJ

Psikiatri

Spesialis Psikiatri


Siloam Hospitals Makassar

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-pricella-maria-ismail-spkj

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Pricella Maria Ismail, SpKJ

Psikiatri

Spesialis Psikiatri


Siloam Hospitals Sentosa

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail