Kesehatan Tubuh
Bedah Minimal Invasif: Prosedur Cepat dengan Pemulihan Lebih Singkat!

Table of Contents
Bedah minimal invasif merupakan prosedur pembedahan yang melibatkan sayatan kecil. Dibandingkan dengan operasi konvensional yang mengharuskan dokter membuat sayatan besar, bedah minimal invasif memungkinkan kerusakan atau trauma yang seminimal mungkin pada tubuh selama pelaksanaan prosedur. Namun, adakah risiko komplikasi yang perlu diperhatikan dari prosedur bedah ini? Mari simak pembahasannya di bawah ini.
Apa itu Bedah Minimal Invasif?
Bedah minimal invasif adalah pendekatan pembedahan yang melibatkan pemotongan kulit dan jaringan seminimal mungkin. Dokter spesialis bedah membuat sayatan kecil yang berfungsi sebagai port atau akses untuk memasukkan berbagai instrumen khusus selama prosedur.
Dengan ukuran sayatan yang kecil, rasa sakit dan risiko komplikasi setelah pembedahan dapat berkurang. Pasien pun mungkin dapat pulih dalam waktu yang lebih cepat daripada setelah menjalani operasi konvensional.
Jenis Bedah Minimal Invasif
Terdapat empat jenis bedah minimal invasif yang umumnya dilakukan dalam pemeriksaan dan/atau penanganan penyakit. Berikut jenis-jenis dan contohnya:
-
Keyhole surgery
Prosedur yang melibatkan penggunaan sayatan kecil seperti lubang kunci untuk memasukkan instrumen khusus selama pembedahan. Keyhole surgery umumnya mencakup berbagai jenis prosedur, seperti:
-
Laparoskopi untuk rongga perut.
-
Torakoskopi untuk rongga dada.
-
Artroskopi untuk persendian.
-
Pembedahan endoskopi
Endoskopi merupakan prosedur yang dilakukan dengan memasukkan alat berbentuk seperti tabung yang panjang, kecil, dan fleksibel, yang dilengkapi dengan lampu dan kamera di ujungnya, melalui lubang yang ada di tubuh (misalnya hidung dan mulut). Endoskopi umumnya terbagi menjadi dua jenis, yaitu:
-
Endoluminal, yang dilakukan di dalam dinding organ.
-
Transluminal, misalnya percutaneous transluminal angiography, yang dilakukan dengan membuka pembuluh darah yang menyempit atau tersumbat.
-
Pembedahan endovaskular
Pemasangan kateter kecil melalui pembuluh darah. Prosedur ini hanya memerlukan satu sayatan kecil atau penusukan kulit dengan jarum untuk mengakses pembuluh darah. Dokter memasang kateter di atas guidewire, lalu melepaskan guidewire tersebut, dan memasukkan instrumen bedah melalui kateter untuk melakukan operasi.
-
Pembedahan robotik
Prosedur bedah minimal invasif yang melibatkan lengan robotik untuk melakukan operasi melalui sayatan kecil. Pembedahan robotik memiliki presisi dan kontrol yang lebih tinggi sehingga lebih sering dilakukan pada prosedur kompleks yang melibatkan area operasi yang lebih kecil, seperti bedah urologi atau bedah kardiotoraks.
Selain jenis-jenis di atas, terdapat beberapa contoh prosedur bedah minimal invasif yang dapat dilakukan di berbagai bagian tubuh, seperti:
-
Pembedahan kantung empedu.
-
Pengangkatan kelenjar adrenal (adrenalektomi).
-
Bedah otak.
-
Bedah tulang belakang.
-
Bedah sinus endoskopi fungsional.
-
Operasi jantung minimal invasif.
-
Perbaikan hernia hiatus.
-
Pengangkatan usus besar (kolektomi).
-
Pengangkatan ginjal (nefrektomi).
-
Pengangkatan limpa (splenektomi).
-
Operasi epilepsi.
-
Bedah bariatrik.
-
Video-assisted thoracoscopic surgery (VATS).
Tujuan Bedah Minimal Invasif
Prosedur bedah minimal invasif dapat mempersingkat durasi perawatan di rumah sakit pascaoperasi dibandingkan dengan pembedahan terbuka atau operasi konvensional yang melibatkan sayatan besar. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bedah minimal invasif melibatkan penggunaan sayatan yang kecil sehingga dapat mengurangi risiko komplikasi dan rasa sakit pascaoperasi.
Di samping itu, bedah minimal invasif juga bisa lebih ditoleransi oleh pasien dengan masalah nyeri kronis yang memerlukan lebih banyak obat untuk mengelola nyeri dan orang lanjut usia. Sayatan yang kecil cenderung lebih cepat sembuh sehingga dapat membantu mengurangi kebutuhan konsumsi obat pereda nyeri. Pasien lanjut usia pun bisa lebih cepat pulih tanpa perlu berbaring lama di tempat tidur dan dapat terhindar dari risiko komplikasi seperti pembekuan darah di kaki.
Bedah minimal invasif juga memiliki keuntungan bagi pasien obesitas. Hal ini dikarenakan operasi yang melibatkan sayatan panjang pada sejumlah besar jaringan subkutan lebih mungkin menyebabkan infeksi atau komplikasi lainnya.
Prosedur Bedah Minimal Invasif
Dokter spesialis bedah akan memulai prosedur pembedahan dengan membuat satu atau beberapa sayatan kecil. Kemudian, dokter akan memasukkan alat berbentuk tabung pendek dan sempit (trocar) ke dalam bagian tubuh yang akan dilakukan operasi.
Instrumen bedah yang dilengkapi dengan kamera video kecil di ujungnya akan dimasukkan melalui lubang dari sayatan kecil yang sudah dibuat. Sembari melihat gambar dari bagian dalam tubuh yang ditampilkan pada layar monitor, dokter akan mengarahkan instrumen lainnya untuk melakukan prosedur pembedahan.
Setiap prosedur bedah minimal invasif tentunya memiliki tahapan dan durasi yang berbeda tergantung pada jenis operasi apa yang dilakukan. Contohnya, pembedahan perut akan memerlukan penyaluran gas karbon dioksida ke dalam rongga perut untuk memperluas area visualisasi operasi. Apabila prosedur yang dilakukan kompleks, pembedahan mungkin dapat berlangsung dalam waktu yang lebih lama.
Risiko Komplikasi Bedah Minimal Invasif
Sama halnya seperti prosedur pembedahan lainnya, bedah minimal invasif tentu memiliki sejumlah risiko komplikasi. Pasien masih mungkin mengalami komplikasi perdarahan, infeksi, dan cedera pada organ selama prosedur operasi atau pascaoperasi.
Selain itu, bedah minimal invasif juga memiliki sejumlah keterbatasan seperti:
-
Memerlukan pelatihan dan peralatan khusus untuk melakukannya.
-
Tidak semua rumah sakit memiliki fasilitas untuk melakukan pembedahan ini.
-
Biaya operasi yang mungkin lebih mahal.
-
Operasi mungkin memerlukan waktu lebih lama.
-
Mungkin tidak terlalu efektif dilakukan dalam keadaan darurat.
-
Insuflasi gas mungkin dapat menimbulkan risiko kardiopulmoner bagi sebagian orang.
Sebagai catatan, tidak semua masalah medis bisa ditangani dengan bedah minimal invasif. Beberapa kasus mungkin membutuhkan atau lebih baik ditangani dengan operasi konvensional. Misalnya, operasi konvensional mungkin diperlukan ketika dokter bedah perlu membuat sayatan besar untuk mengekspos jaringan dan struktur terdampak yang memerlukan penanganan segera.
Oleh karenanya, konsultasikan kondisi Anda dengan Dokter Spesialis Bedah di Siloam Hospitals terdekat agar mendapatkan rekomendasi penanganan yang tepat. Prosedur bedah pun akan dilakukan dan disesuaikan dengan fasilitas kesehatan yang tersedia di masing-masing rumah sakit sehingga tahapannya mungkin berbeda di satu lokasi dan lainnya.
Perlu diketahui bahwa informasi dalam artikel ini hanya bertujuan untuk edukasi dan tidak dapat digunakan untuk menggantikan diagnosis maupun saran penanganan dari dokter. Dokter akan melakukan pemeriksaan untuk mengetahui kondisi setiap pasien dan merencanakan penanganan bedah sesuai dengan kondisi pasien.
Agar konsultasi dengan dokter menjadi lebih praktis, Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam. Aplikasi ini memungkinkan Anda untuk mengecek jadwal dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, hingga memeriksa hasil tes kesehatan secara online. Mari unduh MySiloam untuk memanfaatkan fitur-fiturnya yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Sumber
Cleveland Clinic. Minimally Invasive Surgery. Diakses pada 2025 | Mayo Clinic. Minimally Invasive Surgery. Diakses pada 2025 | Yale Medicine. Minimally Invasive Surgery. Diakses pada 2025 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Makassar
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Denpasar
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
Skrining Hidup Sehat Mini
Skrining Lite
7 Service/Item
Rp449.000
TERPOPULER
Paket Screening Pro Operasi - Homecare
Tes Laboratorium & Medical Check Up Homecare
Rp1.200.500
TERPOPULER
Paket Check-Up Persiapan Operasi (Pre-Op Clinic) - Homecare
Tes Laboratorium & Medical Check Up Homecare
7 Service/Item
Rp436.615






