Mungkinkah Bayi Alergi ASI? Ini Penjelasan Selengkapnya
Ibu dan Anak

Mungkinkah Bayi Alergi ASI? Ini Penjelasan Selengkapnya

22 Agustus 2025 3 menit waktu baca
bayi alergi asi

Air susu ibu atau ASI adalah asupan nutrisi utama untuk bayi, terutama pada 6 bulan pertama kehidupannya. Namun, dalam beberapa kondisi, bayi mungkin mengalami reaksi alergi, seperti gatal-gatal, rewel, hingga diare setelah menyusu ASI. Hal tersebut kerap membuat sebagian ibu menganggap si kecil mengalami alergi ASI. Sebetulnya, mungkinkah bayi alergi ASI? Mari temukan jawaban selengkapnya dalam artikel berikut ini.

 

Bisakah Bayi Alergi ASI (Air Susu Ibu)?

 

Perlu diketahui bahwa ASI tidak menimbulkan reaksi alergi pada bayi. Namun, dalam beberapa kondisi, bayi bisa mengalami reaksi alergi tertentu setelah menyusu ASI. Alergi adalah reaksi ketika sistem kekebalan tubuh menganggap zat tertentu berbahaya, padahal sebetulnya tidak demikian. Pada dasarnya, hal tersebut dapat terjadi karena adanya zat tertentu di dalam ASI yang berasal dari makanan yang dikonsumsi oleh ibu menyusui.

 

Misalnya, jika ibu baru saja mengonsumsi susu sapi, si kecil mungkin bisa mengalami reaksi alergi setelah menyusu karena adanya kandungan protein kasein dan protein whey dari susu sapi yang masuk ke dalam ASI, terlebih jika ia sensitif terhadap dua protein tersebut.

 

Penelitian menunjukkan bahwa hanya 2–3 dari setiap 100 bayi yang mendapat ASI eksklusif menunjukkan reaksi alergi. Meskipun jarang terjadi, alergi dan sensitivitas makanan pada bayi merupakan masalah yang harus ditanggapi dengan serius. 

 

Secara umum, gejala tidak biasa yang dialami bayi setelah mengonsumsi ASI bisa terjadi akibat alergi maupun intoleransi makanan tertentu. Sebagai informasi, alergi merupakan kondisi yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh, sehingga memicu pelepasan senyawa histamin. Senyawa histamin inilah yang bisa menimbulkan reaksi alergi. 

 

Jika bayi menderita alergi makanan, beberapa gejala yang dapat muncul yaitu:

 

  • Tidak mau menyusu.

  • Rewel.

  • Munculnya ruam atau gatal-gatal pada kulit.

  • Wajah membengkak, terutama pada bagian bibir, lidah, atau tenggorokan.

  • Sesak napas.

  • Gangguan pencernaan, seperti mual, muntah, sakit perut, diare, BAB berdarah, dan lain-lain.

  • Batuk atau mengi (wheezing). 

 

Jika bayi menunjukkan tanda-tanda di atas setelah menyusui, segera kunjungi dokter umum atau dokter spesialis anak, terutama jika si kecil mengalami sesak napas, bengkak pada wajah, dan BAB berdarah.

 

Sementara itu, intoleransi makanan adalah kondisi ketika sistem pencernaan tidak mampu mencerna zat gizi tertentu yang terkandung di dalam makanan. Karena itu, intoleransi makanan biasanya menimbulkan gejala berupa gangguan pencernaan, seperti:

 

  • Mual.

  • Muntah.

  • Sakit perut.

  • Perut kram atau kembung.

  • Rewel.

  • Diare.

 

Jenis Makanan & Minuman Pemicu Alergi yang Perlu Diperhatikan Ibu Menyusui

 

Sebetulnya, ibu menyusui diperkenankan untuk mengonsumsi makanan apa pun. Namun, apabila si kecil menunjukkan berbagai gejala tidak biasa setelah ibu mengonsumsi makanan atau minuman tertentu, disarankan untuk menghindari asupannya terlebih dahulu agar tidak mengganggu kandungan ASI yang dikonsumsi bayi.

 

Adapun beberapa jenis makanan yang bisa menimbulkan reaksi alergi pada bayi dan mungkin perlu dibatasi asupannya oleh ibu menyusui adalah:

 

  • Susu sapi.

  • Telur.

  • Kacang-kacangan, seperti kacang almond, kacang mete, kacang tanah, atau kacang kenari.

  • Gandum.

  • Ikan dan makanan laut lainnya, seperti udang, kerang, kepiting, dan lain-lain.

  • Biji wijen.

 

Selain itu, ibu juga perlu menghindari atau membatasi konsumsi kafein dan alkohol terlebih dahulu selama sedang menyusui bayi. Sebab, dua zat tersebut bisa terserap ke dalam ASI dan dapat menimbulkan reaksi tertentu ketika dikonsumsi oleh bayi.

 

AAP (American Academy of Paediatrician) merekomendasikan untuk  memperkenalkan beberapa alergen makanan yang umum pada si kecil, seperti kacang tanah, telur, kedelai, dan gandum, susu sapi serta olahannya (yoghurt dan keju) saat bayi berusia sekitar 6 bulan. 

 

Ketika si kecil sudah bisa mencoba makanan sendiri, orang tua sebaiknya memantau tanda-tanda reaksi alergi yang muncul setelahnya, seperti bengkak, gatal-gatal, serta tanda-tanda lainya seperti yang telah disebutkan di atas.

 

Melalui ulasan di atas dapat disimpulkan bahwa reaksi alergi yang dialami bayi saat menyusu bukan berasal dari kandungan ASI itu sendiri, melainkan dari zat tertentu dalam makanan yang dikonsumsi ibu. Jika si kecil menunjukkan reaksi alergi setelah menyusu ASI, disarankan untuk segera mengunjungi Dokter Spesialis Pediatri (Anak) dari Siloam Hospitals terdekat guna memperoleh diagnosis dan penanganan yang tepat.

 

Sebagai informasi, tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang si kecil jalani terkait alergi ASI dapat berbeda bergantung pada fasilitas kesehatan masing-masing rumah sakit. Tenaga medis profesional akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi medis setiap pasien. 


Di samping itu, Anda juga dapat menggunakan aplikasi MySiloam guna memudahkan akses layanan kesehatan untuk keluarga. Melalui aplikasi MySiloam, Anda bisa menemukan informasi jadwal praktik, membuat janji temu, check in mandiri, atau bahkan konsultasi langsung dengan dokter secara virtual.

 

Aplikasi My Siloam

Dokter Kami
dr-liem-eremius-arifin-spa

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Liem Eremius Arifin, SpA

Pediatrik (Anak)

Spesialis Ilmu Kesehatan Anak


Siloam Sriwijaya Palembang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ifo-faujiah-sihite-mked-ped-spa

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ifo Faujiah Sihite, M.Ked (Ped), SpA

Pediatrik (Anak)

Spesialis Ilmu Kesehatan Anak


Siloam Hospitals Jambi

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-anggun-kusumasari-spa-msc

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Anggun Kusumasari, SpA, MSc, AIFO-K

Pediatrik (Anak)

Spesialis Ilmu Kesehatan Anak


Siloam Hospitals Balikpapan

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail