Contoh Menu Diet Penderita Sindrom Nefrotik, Optimalkan Pemulihan
Kesehatan Tubuh

Contoh Menu Diet Penderita Sindrom Nefrotik, Optimalkan Pemulihan

22 Januari 2026 5 menit waktu baca
contoh menu diet sindrom nefrotik

 

Sindrom nefrotik merupakan gangguan pada ginjal yang ditandai dengan tingginya kadar protein dalam urine (proteinuria). Kondisi ini terjadi karena adanya kerusakan pada glomerulus (bagian ginjal yang berfungsi menyaring darah), sehingga menyebabkan protein tidak tersaring dan bocor ke urine.

 

Penanganan sindrom nefrotik dapat dilakukan melalui berbagai upaya, salah satunya adalah perubahan gaya hidup sehat. Dalam hal ini, dokter dapat menyarankan pasien untuk mengatur pola makannya agar tidak berdampak pada organ ginjal yang sedang bermasalah. Lantas, bagaimana contoh menu diet bagi penderita sindrom nefrotik? Mari simak pembahasan selengkapnya di bawah ini.

 

Pengaruh Pola Makan Terhadap Sindrom Nefrotik

 

Sindrom nefrotik adalah kondisi medis yang ditandai dengan sejumlah gejala khas, yaitu proteinuria (jumlah protein dalam urine ≥40 mg/m2/jam, ≥300 mg/dL, atau 3+ pada pemeriksaan urine dipstick; atau rasio protein-kreatinin urine ≥2000 mg/g atau ≥200 mg/mmol), hipoalbuminemia (rendahnya kadar albumin di dalam darah), edema (pembengkakan), dan hiperlipidemia (kadar lemak darah yang tinggi).

 

Pola makan pada dasarnya memiliki peran penting dalam proses pemulihan sindrom nefrotik, mengingat kondisi ini berkaitan erat dengan gangguan keseimbangan protein, garam, dan cairan tubuh. Asupan nutrisi yang tidak terkontrol bisa memperberat kerja organ ginjal dan memperparah gejala sindrom nefrotik.

 

Contohnya, ketika penderita sindrom nefrotik mengonsumsi makanan yang mengandung natrium (garam dapur) secara berlebihan, hal tersebut dapat memperburuk retensi cairan dan edema. Selain itu, kebutuhan protein juga harus tetap terpenuhi agar tidak memperburuk hipoalbuminemia (kondisi ketika kadar albumin dalam darah terlalu rendah).

 

Di samping itu, pengobatan utama untuk sindrom nefrotik adalah terapi kortikosteroid. Menurut jurnal berjudul Nutrition in Children with Nephrotic Syndrome, pengaturan asupan energi, protein, natrium, cairan, kalsium, dan vitamin D sangat penting untuk mengelola penyakit serta mencegah efek samping dari terapi kortikosteroid jangka panjang.

 

Namun, penting pula untuk tidak mengonsumsi protein secara berlebihan karena berisiko meningkatkan beban kerja ginjal serta mempercepat kerusakan nefron atau unit fungsional terkecil dari ginjal. Selain itu, penderita sindrom nefrotik biasanya juga mengalami dislipidemia, yaitu kondisi ketika kadar lipid dalam darah terlalu berlebihan. Karena itu, penting untuk mengontrol asupan lemak, terutama lemak jenuh dan kolesterol guna meminimalkan risiko komplikasi.

 

Contoh Menu Diet Sindrom Nefrotik



Penderita sindrom nefrotik dianjurkan untuk menyusun menu diet berdasarkan kebutuhan energi dan protein individu, namun penting untuk tetap memperhatikan kondisi klinisnya. Secara umum, berikut adalah contoh menu diet sindrom nefrotik yang dianjurkan:

 

  • Karbohidrat: Oatmeal, roti gandum, kentang, dan nasi merah.

  • Serat: Sayuran, seperti bayam, brokoli, dan wortel.

  • Protein: Tahu, putih telur, dada ayam tanpa kulit, ikan tanpa lemak (salmon, tuna, dan makarel), kacang-kacangan, dan biji-bijian.

  • Lemak dan omega-3: Ikan sarden, salmon, biji chia, serta minyak nabati, seperti minyak zaitun, minyak canola, dan lain-lain.

  • Buah-buahan: Apel, buah beri, pepaya, dan pir.

  • Produk susu: Greek yoghurt dan susu rendah lemak.

 

Pantangan Makanan pada Diet Sindrom Nefrotik

 

Di samping itu, penderita sindrom nefrotik juga harus mewaspadai beberapa jenis makanan yang bisa memperburuk gejala atau mempercepat kerusakan ginjal, terutama jika dikonsumsi secara berlebihan. Adapun beberapa pantangan yang perlu diperhatikan oleh penderita sindrom nefrotik adalah sebagai berikut:

 

  • Makanan tinggi natrium, seperti makanan cepat saji, makanan kaleng, snack kemasan, dan sebagainya. Diet rendah garam membantu membatasi retensi cairan dan edema.

  • Makanan tinggi protein, terutama dari sumber hewani berlemak tinggi, seperti daging merah berlemak, jeroan, dan produk olahan daging lainnya.

  • Lemak jenuh dan trans yang banyak ditemukan pada gorengan, margarin padat, dan makanan siap saji. Jenis lemak ini dikhawatirkan bisa memperburuk gejala hiperlipidemia pada penderita sindrom nefrotik.

  • Suplemen herbal atau vitamin tanpa pengawasan dokter. Sebab, ada beberapa bahan suplemen yang dikhawatirkan akan membebani kerja ginjal.

  • Cokelat, kopi, dan teh. Jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan, hal ini bisa memengaruhi keseimbangan elektrolit tubuh.

 

Tips Diet untuk Sindrom Nefrotik

 

Bagi sebagian penderita sindrom nefrotik, memantau pola makan sehari-hari mungkin akan menjadi tantangan tersendiri. Namun, hal ini penting untuk tetap diperhatikan karena bisa membantu meringankan gejala sekaligus mengoptimalkan proses pemulihan. 

 

Salah satu tips diet untuk penderita sindrom nefrotik adalah mempertimbangkan protein nabati. Menurut jurnal berjudul Nutrition in Children with Nephrotic Syndrome, beberapa penelitian menunjukkan bahwa di antara protein nabati, protein kedelai diketahui dapat meningkatkan permeabilitas glomerulus dan profil lipid serum dengan menurunkan serum total kolesterol, low-density lipoprotein (LDL), dan trigliserida. 

 

Sifat protektif ginjal dari protein kedelai juga dipercaya dapat memperlambat penurunan filtrasi glomerulus dan membantu mengontrol kondisi proteinuria pada pasien nefropati. Selain itu, beberapa tips diet yang bisa dilakukan penderita sindrom nefrotik adalah sebagai berikut:

 

  • Perhatikan asupan protein. Asupan protein yang direkomendasikan untuk penderita sindrom nefrotik adalah 1 gram per kilogram berat badan per hari. Jumlah ini mungkin bisa bervariasi berdasarkan kesehatan ginjal pasien. 

  • Batasi asupan natrium maksimal 400 miligram per makanan. Dalam hal ini, pastikan untuk membaca label gizi pada kemasan makanan olahan.

  • Batasi penggunaan bumbu yang mengandung natrium atau garam tinggi.

  • Lebih dianjurkan untuk membuat makanan sendiri di rumah. Dengan begitu, penderita sindrom nefrotik bisa lebih memperhatikan jenis-jenis bahan dan bumbu yang digunakan saat mengolah makanan.

  • Menggoreng makanan dengan minyak sehat, seperti minyak zaitun atau minyak kelapa.

  • Pilih sayuran segar alih-alih sayuran kaleng dengan tambahan natrium dan bahan pengawet.

 

Perlu dipahami bahwa informasi yang disebutkan di atas hanya bertujuan edukasi dan tidak dapat menggantikan saran medis profesional, terlebih bagi penderita sindrom nefrotik berat. Maka dari itu, jika ingin memulai program diet sindrom nefrotik yang tepat, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Gizi Klinik di Siloam Hospitals terdekat.

 

Dokter akan menyesuaikan prosedur pemeriksaan dan memberikan rekomendasi diet sesuai dengan kondisi medis setiap pasien. Prosedur diagnosis dan penanganan pun akan disesuaikan dengan fasilitas kesehatan yang tersedia, yang membuat tahapannya bisa berbeda-beda di setiap rumah sakit.

 

Anda juga dapat menggunakan aplikasi MySiloam untuk mengetahui jadwal praktik dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, hingga memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Unduh aplikasi MySiloam sekarang dan nikmati berbagai fiturnya untuk memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

Sumber

Medical News Today. What Is The Diet For Nephrotic Syndrome?. Diakses pada 2025 | Healthline. Nephrotic Syndrome Diet. Diakses pada 2025 | Healthgrades. Nephrotic Syndrome Diet: What to Know. Diakses pada 2025 | NCBI. Nutritional Management of Idiopathic Nephrotic Syndrome in Pediatric Age. Diakses pada 2025 | Research and Reviews in Pediatrics. Nutrition in Children with Nephrotic Syndrome. Diakses pada 2025 |

Dokter Kami
dr-albertus-daniel-sppd

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Albertus Daniel, SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ra-aditya-adhi-puruhita-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ra Aditya Adhi Puruhita, M.M.R., SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-juliyanti-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Juliyanti, SpPD, FINASIM

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Kelapa Dua

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail