Waspadai Sindrom Nefrotik, Kencing Berbusa yang Berujung Penyakit Ginjal
Kesehatan Tubuh

Waspadai Sindrom Nefrotik, Kencing Berbusa yang Berujung Penyakit Ginjal

04 September 2025 4 menit waktu baca
Sindrom nefrotik

 

Sindrom nefrotik adalah kondisi ketika ginjal mengeluarkan terlalu banyak protein dalam urine. Kondisi ini disebabkan kerusakan pada glomerulus (penyaring) di dalam ginjal yang mengalami kebocoran. Kondisi yang menyerang sistem urinaria ini dapat diobati dengan mengonsumsi obat-obatan. Untuk lebih memahami apa itu sindrom nefrotik dan bagaimana langkah pengobatannya, simak ulasan berikut ini.

 

Apa Itu Sindrom Nefrotik?

 

Sindrom nefrotik adalah kondisi klinis yang ditandai dengan kehilangan protein dalam jumlah besar melalui urine (proteinuria), yang menyebabkan rendahnya kadar albumin dalam darah (hipoalbuminemia). Akibatnya, dapat terjadi peningkatan kadar lemak darah (hiperlipidemia), pembengkakan (edema), dan berbagai komplikasi lainnya.

 

Kondisi ini terjadi ketika bagian penyaring ginjal, yang disebut glomerulus, mengalami kerusakan dan tidak dapat menyaring dengan baik. Akibatnya, protein yang seharusnya tetap berada dalam darah justru bocor ke dalam urine.

 

Sindrom nefrotik dapat menyerang siapa saja, termasuk anak-anak dan orang dewasa. Sindrom ini termasuk kondisi yang serius, sehingga jika tidak ditangani, kondisi ini dapat memengaruhi kualitas hidup penderitanya akibat komplikasi sekunder.

 

Dalam beberapa kasus, sindrom nefrotik juga bisa terjadi bersama dengan sindrom nefritik, yaitu kondisi yang ditandai dengan peradangan pada ginjal yang menyebabkan adanya darah dalam urine (hematuria) dan gangguan fungsi ginjal.

 

Gejala Sindrom Nefrotik

 

Seperti yang sudah disebutkan, sindrom nefrotik dapat menyerang anak-anak dan orang dewasa. Pada anak-anak, gejala sindrom nefrotik yang paling umum adalah pembengkakan di wajah, yang kemudian menyebar ke seluruh tubuh.

 

Sementara itu, gejala yang lebih sering muncul pada orang dewasa adalah sebagai berikut:

 

  • Pembengkakan (edema) di area kaki, pergelangan kaki, dan sekitar mata.

  • Kehilangan nafsu makan.

  • Kelelahan.

  • Nyeri perut.

  • Penambahan berat badan.

  • Kencing berbusa akibat kelebihan protein dalam urine.

 

Gejala lain yang dapat muncul dari sindrom nefrotik adalah hilangnya mineral dan vitamin termasuk kalsium dan vitamin D. Pada anak-anak dengan sindrom nefrotik, kekurangan mineral dan vitamin dapat memengaruhi tumbuh kembang pada anak. Pada orang dewasa, penderita sindrom nefrotik mungkin dapat mengalami osteoporosis yang akan melemahkan rambut dan kuku.

 

Sindrom Nefrotik

 

Penyebab Sindrom Nefrotik

 

Sindrom nefrotik disebabkan oleh kerusakan pada kelompok pembuluh darah kecil (glomeruli) di ginjal. Glomeruli akan menyaring darah saat melewati ginjal, memisahkan hal-hal yang dibutuhkan tubuh dari yang tidak dibutuhkan.

 

Glomerulus yang sehat akan mencegah protein darah, terutama albumin, yang dibutuhkan untuk mempertahankan jumlah cairan yang tepat di dalam tubuh. Ketika glomerulus rusak, glomeruli akan membiarkan terlalu banyak protein darah keluar dari tubuh sehingga dapat menyebabkan sindrom nefrotik.

 

Kebocoran albumin dapat diukur dengan menilai kadar protein dalam urine. Glomerulus yang rusak dapat mengeluarkan albumin 20 kali lebih banyak dari normalnya, yakni 3 gram atau lebih per hari, atau setara dengan 2 gram protein per gram kreatinin dalam sampel urine.

 

Beberapa penyakit dan kondisi yang dapat menyebabkan kerusakan glomerulus dan menyebabkan sindrom nefrotik, meliputi:

 

  1. Penyebab primer: Penyakit yang secara langsung dapat memengaruhi glomerulus, seperti: 

  • Minimal change disease (MCD), salah satu penyebab paling umum sindrom nefrotik idiopatik pada anak-anak yang dapat menyebabkan fungsi ginjal abnormal. Pada MCD, saat jaringan ginjal diperiksa di bawah mikroskop, hasilnya akan tampak normal atau hampir normal. 

  • Glomerulosklerosis segmental fokal (focal segmental glomerulosclerosis /FSGS), yaitu kondisi yang ditandai dengan adanya jaringan parut segmental pada sebagian glomeruli.

  • Nefropati membranosa. Gangguan ginjal ini disebabkan oleh adanya penebalan membran dalam glomerulus akibat adanya endapan sistem imun. Kondisi ini dapat dikaitkan dengan kondisi medis lain, seperti lupus, hepatitis B, malaria, dan kanker, atau dapat terjadi tanpa alasan yang diketahui.​

  1. Penyebab sekunder: Kondisi atau penyakit sistemik yang dapat memengaruhi ginjal, seperti:

 

Komplikasi Sindrom Nefrotik

 

Jika tidak ditangani dengan segera, terdapat berbagai komplikasi yang dapat timbul dari sindrom nefrotik, di antaranya:

 

  • Pembekuan darah.

  • Kadar kolesterol dan trigliserida dalam darah meningkat.

  • Malnutrisi.

  • Hipertensi (tekanan darah tinggi).

  • Penyakit ginjal akut.

  • Penyakit ginjal kronis.

  • Rentan terkena infeksi.

  • Anemia.

  • Penyakit arteri koroner.

  • Hipotiroidisme.

Diagnosis Sindrom Nefrotik

 

Pada pemeriksaan awal, dokter akan melakukan wawancara medis (anamnesis) untuk mengetahui gejala dan riwayat kesehatan pasien. Kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan kondisi fisik pasien secara menyeluruh.

 

Selanjutnya, untuk menunjang penegakkan diagnosis, pasien dapat diminta melakukan pemeriksaan lanjutan, seperti:

 

  • Tes urine: Untuk mendeteksi proteinuria.​ 

  • Tes darah: Untuk mengukur kadar albumin, kolesterol, dan fungsi ginjal.​

  • Biopsi ginjal: Prosedur pengambilan sampel jaringan ginjal untuk diperiksa secara lebih lanjut di bawah mikroskop. Biopsi ginjal dapat dilakukan jika penyebab sindrom nefrotik tidak diketahui secara pasti atau pasien tidak merespons pengobatan awal secara maksimal. ​

Pengobatan Sindrom Nefrotik

 

Pengobatan atau terapi sindrom nefrotik dapat dilakukan dengan menggunakan obat-obatan dan melalui perubahan pola makan untuk membantu mengendalikan tanda dan gejala atau mengobati komplikasi sindrom nefrotik. Obat-obatan yang umumnya disarankan oleh dokter antara lain:

 

  • Obat tekananan darah. Beberapa obat tekanan darah dapat memperlambat penyakit ginjal yang menyebabkan sindrom nefrotik adalah angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitors dan angiotensin II receptor blockers (ARB).

  • Diuretik.

  • Obat penurun kolesterol.

  • Obat pengencer darah (antikoagulan).

  • Obat penekan sistem kekebalan tubuh (kortikosteroid). Obat-obatan ini dapat mengurangi peradangan yang menyertai beberapa kondisi yang menyebabkan sindrom nefrotik.

  • Diet rendah garam dan protein seimbang.

 

Sebagai informasi, berbagai penyebab sindrom nefrotik yang disebutkan tidak dapat menggantikan konfirmasi diagnosis dari tenaga medis profesional. Artinya, masih ada sejumlah pemicu lain yang bisa menjadi penyebab sindrom nefrotik.

 

Oleh karenanya, sangat penting untuk memperoleh diagnosis yang tepat dan akurat dengan mengunjungi Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal dan Hipertensi di Siloam Hospitals terdekat. Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk melihat jadwal praktik dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, serta memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online.

 

Sebagai informasi, tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang direkomendasikan untuk mengatasi sindrom nefrotik dapat berbeda bergantung pada fasilitas kesehatan dan kondisi medis setiap pasien. Tenaga medis profesional akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang sesuai untuk pasien.

Sumber

Ncbi. Nephrotic Syndrome. Diakses pada 2025 | Cleveland Clinic. Nephrotic Syndrome. Diakses pada 2025 | Mayoclinic. Nephrotic Syndrome. Diakses pada 2025 | NHS. Nephrotic syndrome in children. Diakses pada 2025 | NCBI. Focal Segmental Glomerulosclerosis. Diakses pada 2025 | NCBI. Membranous Nephropathy. Diakses pada 2025 | NCBI. Minimal Change Disease. Diakses pada 2025 |

Dokter Kami
dr-albertus-daniel-sppd

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Albertus Daniel, SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ra-aditya-adhi-puruhita-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ra Aditya Adhi Puruhita, M.M.R., SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-juliyanti-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Juliyanti, SpPD, FINASIM

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Kelapa Dua

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail