Kesehatan Tubuh
Apa itu Hipotiroid? Ini Penyebab, Gejala, & Cara Mengatasinya

Table of Contents
Hipotiroidisme atau hipotiroid adalah gangguan kesehatan yang terjadi karena kurangnya produksi hormon tiroid oleh kelenjar tiroid. Kondisi ini dapat menyebabkan penderitanya mudah lelah dan susah untuk berkonsentrasi.
Hipotiroid dapat dialami oleh siapa saja, namun paling sering terjadi pada wanita lanjut usia. Kondisi ini biasanya tidak menimbulkan gejala secara spesifik di awal, namun gejalanya akan semakin berat seiring berkembangnya penyakit.
Mari ketahui penyebab, gejala, dan cara mengatasi hipotiroid selengkapnya pada ulasan berikut ini.
Apa itu Hipotiroid?
Hipotiroid adalah kondisi ketika kelenjar tiroid tidak memproduksi hormon tiroid dalam jumlah yang cukup. Kelenjar tiroid sendiri berfungsi menghasilkan hormon T4 (tetraiodothyronine) dan T3 (triiodothyronine) untuk metabolisme tubuh dan mengontrol fungsi kerja tubuh lainnya.
Hipotiroidisme adalah kondisi yang dapat terjadi pada siapa saja, namun paling sering dialami oleh wanita lansia di atas 60 tahun dan orang dengan riwayat penyakit tiroid. Meski begitu, kondisi ini masih bisa dicegah atau ditangani dengan mengurangi faktor-faktor risikonya.
Berdasarkan lokasi gangguannya, penyakit hipotiroid terbagi menjadi dua, yaitu:
- Hipotiroidisme sekunder, gangguan terjadi pada kelenjar pituitari otak yang merangsang produksi hormon oleh kelenjar tiroid.
- Hipotiroidisme primer, gangguan yang terjadi pada kelenjar tiroid itu sendiri.
Penyebab Hipotiroid
Pada dasarnya, penyebab hipotiroid adalah gangguan hormon yang memengaruhi kemampuan kelenjar tiroid dalam memproduksi hormon tiroid. Yang mana, gangguan hormon tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa kondisi, seperti:
- Menjalani pengobatan kelenjar tiroid. Pengobatan seperti radioterapi di area leher dapat menyebabkan sel-sel kelenjar tiroid mengalami kerusakan, sehingga sulit memproduksi hormon. Selain radioterapi, operasi tiroid juga dapat menyebabkan hipotiroidisme.
- Penyakit autoimun. Penyakit ini merupakan salah satu penyebab paling umum hipotiroid, terutama penyakit Hashimoto.
- Mengonsumsi obat-obatan tertentu. Penggunaan obat-obatan, seperti lithium, interferon, dan amiodarone, untuk mengatasi gangguan irama jantung (aritmia), kanker, dan gangguan mental juga dapat meningkatkan risiko terjadinya hipotiroid.
- Pola makan rendah yodium. Pasalnya, yodium merupakan mineral penting yang dapat merangsang kelenjar tiroid untuk memproduksi hormon tiroid.
Faktor Risiko Hipotiroid
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit hipotiroid adalah sebagai berikut:
- Wanita berusia di atas 60 tahun.
- Mengalami peradangan kronis.
- Memiliki keluarga dengan riwayat penyakit tiroid.
- Gangguan hormon TSH, hormon yang diproduksi kelenjar pituitari untuk membantu kelenjar tiroid memproduksi dan melepaskan hormon.
- Menderita hipotiroidisme kongenital, di mana bayi lahir dengan kelenjar tiroid yang tidak terbentuk sempurna.
- Sedang hamil atau baru melahirkan.
- Menderita down syndrome, gangguan bipolar, atau sindrom Turner.
Gejala Hipotiroid
Hipotiroid jarang memunculkan gejala yang spesifik dan sering kali muncul secara perlahan dan bertahap. Karena itu, terkadang penderita penyakit ini tidak menyadari kondisinya hingga bertahun-tahun kemudian. Beberapa gejala umum hipotiroid adalah sebagai berikut:
- Mudah kedinginan. Umumnya, proses metabolisme tetap berjalan meski tubuh tidak sedang melakukan aktivitas. Namun, pada kasus hipotiroid, metabolisme akan menurun sehingga tubuh lebih sensitif terhadap suhu dingin.
- Mudah lelah. Orang dengan hipotiroid akan merasa mudah lelah karena hormon tiroid yang bertugas mengatur koordinasi dan keseimbangan energi tubuh sedang tidak dalam kondisi normal.
- Nyeri sendi dan otot. Lambatnya metabolisme akibat menurunnya hormon tiroid menyebabkan tubuh memperoleh energi dari proses katabolisme. Kondisi ini dapat menyebabkan penguraian jaringan tubuh. Akibatnya, massa dan kekuatan otot akan berkurang sehingga muncul rasa nyeri di sendi dan otot.
- Sembelit. Menurunnya kadar hormon tiroid dapat mengganggu kerja otot usus dalam mencerna makanan, sehingga menyebabkan sembelit atau sulit BAB.
Selain beberapa gejala umum di atas, sejumlah gejala lain yang biasanya dialami oleh penderita hipotiroid adalah:
- Wajah membengkak dan suara berubah lebih parau.
- Kulit menjadi kering, kasar, keriput, dan mudah mengelupas.
- Kenaikan berat badan tanpa penyebab yang jelas.
- Rambut rontok dan menipis.
- Denyut jantung melambat.
- Kuku lebih rapuh dan mudah patah.
- Sulit berkonsentrasi dan sering lupa.
Diagnosis Hipotiroid
Sebelum menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan tanya jawab terkait gejala yang dialami oleh pasien. Sayangnya, gejala hipotiroid cukup sulit untuk dideteksi karena hampir mirip dengan gangguan kesehatan lainnya.
Maka dari itu, biasanya dokter akan menyarankan pasien menjalani tes darah untuk mengukur kadar hormon TSH dan T4 di dalam tubuh. Jika kadar hormon TSH tinggi dan kadar hormon T4 rendah, maka kondisi ini dapat menandakan bahwa pasien mengalami hipotiroid.
Jika tes menunjukkan hasil yang tidak normal, dokter biasanya merekomendasikan pasien menjalani tes antibodi antitiroid untuk mendeteksi penyakit Hashimoto, yaitu penyakit yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh melawan kelenjar tiroid.
Komplikasi Hipotiroid
Jika tidak segera ditangani, beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat penyakit hipotiroid adalah sebagai berikut:
- Penyakit gondok.
- Obesitas.
- Kerusakan saraf.
- Nyeri sendi.
- Infertilitas.
- Penyakit jantung.
- Koma miksedema.
Pengobatan Hipotiroid
Tujuan pengobatan hipotiroid adalah untuk mengurangi gejala yang dialami oleh pasien, yaitu dengan memberikan levothyroxine atau obat hormon tiroid buatan. Umumnya, penyakit hipotiroid berlangsung dalam jangka panjang, sehingga obat ini perlu dikonsumsi seumur hidup agar penyakit bisa dikendalikan.
Penderita hipotiroid perlu memeriksakan diri ke dokter secara berkala untuk mengetahui dosis obat yang sesuai dengan perkembangan kondisi kesehatannya. Pasien tidak dianjurkan untuk menghentikan konsumsi obat secara tiba-tiba tanpa saran dari dokter. Selama masa perawatan, pasien juga perlu melakukan tes darah setiap 6–12 bulan untuk melihat efektivitas pengobatan.
Itulah informasi seputar penyakit hipotiroid yang perlu Anda ketahui. Apabila memiliki keluhan yang menyerupai gejala hipotiroidisme, segera kunjungi Siloam Hospitals terdekat untuk mendapatkan diagnosis serta penanganan secara tepat.
Gunakan fitur Telekonsultasi untuk memudahkan Anda berkonsultasi langsung secara virtual dengan dokter terkait. Atau, gunakan juga aplikasi MySiloam untuk memudahkan Anda berkonsultasi langsung dengan dokter secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang dan percayakan kesehatan Anda dan keluarga #BersamaSiloam!
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Kelapa Dua
Tersedia :
Tersedia hari ini







