4 Dampak Broken Home saat Dewasa yang Perlu Diwaspadai
Kesehatan Mental

4 Dampak Broken Home saat Dewasa yang Perlu Diwaspadai

22 Oktober 2025 4 menit waktu baca
dampak broken home saat dewasa

Broken home adalah istilah yang merujuk pada keluarga yang tidak lagi hidup bersama akibat berbagai alasan seperti perceraian orang tua, kematian salah satu atau kedua orang tua, atau perpisahan lainnya. 

 

Selain menimbulkan masalah pada orang tua, kondisi ini juga bisa memengaruhi kondisi psikologis anak. Bahkan, jika tidak segera ditangani dengan tepat, dampak broken home pada anak bisa berlanjut hingga ia beranjak dewasa. Lantas, apa saja dampak broken home saat dewasa?

 

Mari kenali dampak broken home saat dewasa selengkapnya dengan menyimak artikel berikut ini hingga tuntas.

 

Apa itu Broken Home?

 

Seperti yang telah disebutkan di atas, broken home adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sebuah keluarga yang sudah berpisah dan tidak hidup bersama lagi atau hubungan keluarga yang tidak harmonis. Selain perceraian orang tua, broken home juga bisa disebabkan oleh beberapa hal lain, seperti kematian salah satu atau kedua orang tua, masalah finansial, perbedaan pendapat, hingga kekerasan dalam rumah tangga.

 

Berbagai Dampak Broken Home saat Dewasa

 

Broken home adalah keadaan yang berisiko memberikan pengaruh buruk bagi kondisi psikologis setiap anggota keluarga, tidak terkecuali pada anak. Bahkan, kondisi ini juga dapat menimbulkan dampak jangka panjang hingga anak beranjak dewasa.

 

Adapun sejumlah dampak broken home terhadap kondisi psikologis anak hingga beranjak dewasa adalah sebagai berikut.

 

1. Gangguan Perilaku

 

Dampak broken home saat dewasa yang pertama adalah dapat memicu terjadinya gangguan perilaku. Memiliki keluarga yang tidak harmonis dapat membuat anak kehilangan sosok orang tua yang bisa menjadi sandaran atau tempat untuk berkeluh kesah. Karena itu, sebagian anak broken home kerap mengalami perubahan suasana hati yang tidak menentu (mood swing).

 

Jika dibiarkan begitu saja, kondisi tersebut dapat memicu munculnya berbagai gangguan perilaku saat anak memasuki usia dewasa, seperti gangguan kepribadian antisosial atau gangguan kepribadian narsistik.

 

2. Menurunkan Prestasi Akademik dan Performa Kerja

 

Anak broken home cenderung lebih rentan mengalami gangguan belajar karena kondisi tersebut kerap membuat mereka kesulitan untuk memusatkan fokus dan konsentrasi. Akibatnya, anak broken home lebih berisiko mengalami penurunan prestasi akademik. Bahkan, jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi ini juga turut memengaruhi performa kerja anak setelah mereka beranjak dewasa.

 

3. Rendah Diri

 

Kehilangan figur orang tua menjadi salah satu faktor yang memiliki pengaruh besar terhadap kondisi psikologis anak broken home. Bahkan, kondisi tersebut juga dapat membuat anak merasa marah atau justru menyalahkan diri sendiri karena menganggap merekalah yang menjadi penyebab perceraian orang tua.

 

Jika pola pikir tersebut terus berlangsung hingga anak beranjak dewasa, hal tersebut bisa menurunkan self esteem (harga diri) anak yang membuat mereka merasa tidak percaya diri, malu, dan cenderung menarik diri dari lingkungan sosial.

 

4. Depresi

 

Salah satu dampak broken home saat dewasa yang perlu diwaspadai adalah dapat memicu terjadinya depresi. Pasalnya, broken home yang disebabkan oleh perpisahan orang tua, baik karena perceraian ataupun kematian dapat menimbulkan efek traumatis yang mendalam pada anak.

 

Kondisi ini juga dapat menyebabkan anak merasa frustrasi dengan keadaan yang dialaminya sehingga membuat mereka merasa sangat sedih atau bahkan kehilangan minat untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Bahkan, apabila tidak segera ditangani dengan tepat, depresi akibat broken home cenderung berisiko menimbulkan munculnya keinginan untuk melukai diri sendiri (self harm) atau bunuh diri.

 

5. Kesulitan untuk Menentukan Tujuan Hidup

 

Dampak broken home saat dewasa selanjutnya adalah dapat membuat seseorang merasa kesulitan untuk menentukan tujuan hidup. Sebab, broken home menjadi salah satu kejadian traumatis yang dapat mengubah pola pikir dan perilaku seseorang hingga ia beranjak dewasa.

 

Selain itu, kondisi ini juga membuat korban broken home merasa khawatir dan takut untuk menjalani hidup. Hal inilah yang mengakibatkan anak broken home sangat berhati-hati atau bahkan tidak bisa menentukan tujuan hidupnya dengan baik karena khawatir akan mengalami kejadian yang serupa.

 

6. Kesulitan untuk Menjalin Hubungan Serius

 

Kegagalan hubungan yang terjadi pada kedua orang tua kerap membuat anak broken home merasa enggan untuk berkomitmen atau menjalin hubungan yang serius saat mereka sudah memasuki usia dewasa. Selain itu, trauma masa lalu ini juga sering kali membuat anak merasa takut, malu, dan menganggap dirinya tidak layak untuk dicintai.

 

Itu dia sejumlah dampak broken home saat dewasa yang penting untuk diwaspadai. Jika Anda ataupun orang terdekat Anda memiliki keluhan terkait masalah kesehatan mental yang kerap mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu untuk menggunakan fitur Telekonsultasi yang memungkinkan Anda untuk berkonsultasi langsung dengan psikolog atau psikiater secara virtual.

 

Melalui fitur ini, dokter spesialis kejiwaan juga dapat meresepkan obat-obatan yang bisa diterima oleh pasien tanpa perlu keluar rumah. Kendati demikian, ada beberapa jenis obat, seperti obat antipsikotik dan antidepresan, yang perlu diambil oleh pasien secara langsung (self pick up).

 

Atau, manfaatkan juga aplikasi MySiloam yang dapat memudahkan Anda untuk memesan paket kesehatan, mencari informasi jadwal, serta membuat appointment dengan dokter Siloam Hospitals terdekat secara praktis dari mana saja dan kapan saja. Mari jaga kesehatan fisik dan mental #BersamaSiloam!

 

telechat

message

ArticleDetail