Dermatitis Kontak Alergi - Penyebab, Gejala, & Pengobatannya
Kesehatan Tubuh

Dermatitis Kontak Alergi - Penyebab, Gejala, & Pengobatannya

07 Mei 2025 5 menit waktu baca
Mengenal dermatitis kontak alergi adalah

Dermatitis kontak alergi adalah salah satu jenis dermatitis yang terjadi ketika kulit terpapar oleh zat-zat yang menyebabkan alergi (alergen), seperti obat-obatan topikal, bahan kosmetik, bahan logam pada perhiasan, dan lain-lain. Kondisi ini disebut juga dengan alergi kontak (contact allergy).

 

Mari pahami lebih lanjut tentang penyebab, gejala, pengobatan, hingga pencegahan dermatitis kontak alergi melalui ulasan di bawah ini.

 

Apa itu Dermatitis Kontak Alergi?

 

Dermatitis kontak adalah kondisi munculnya ruam kemerahan dan gatal pada kulit akibat kontak langsung dengan sebuah benda. Dermatitis kontak terdiri dari dermatitis kontak iritan (DKI) dan dermatitis kontak alergi (DKA). DKI disebabkan oleh paparan terhadap iritan atau zat yang langsung merusak lapisan luar kulit.

 

Sementara itu, DKA terjadi karena adanya paparan kulit terhadap alergen tertentu yang menyebabkan respons sistem kekebalan tubuh pada kulit. Biasanya, kondisi ini memengaruhi area yang langsung terpapar alergen.

 

Sekitar 20% populasi mengalami alergi bila terpapar dengan alergen yang ditemukan di lingkungan sekitar. Sementara pada anak dan remaja (usia <18 tahun), prevalensi DKA mencapai sekitar 16,5%.

 

Adapun beberapa contoh zat alergen di antaranya adalah obat-obatan topikal (krim antibiotik), tanaman, serbuk sari, karet, logam bahan perhiasan, dan bahan kosmetik (misalnya pewarna rambut dan cat kuku). Pada bayi atau anak-anak, paparan akibat popok, tisu bayi, perhiasan (anting), serta pakaian dengan kancing atau pewarna juga dapat memicu terjadinya dermatitis kontak alergi.

 

Penyebab Dermatitis Kontak Alergi

 

DKA terjadi ketika kulit bersentuhan atau terpapar langsung oleh zat alergen yang dapat memicu sistem kekebalan tubuh memberi respons secara berlebihan. Alergen ini biasanya tidak berbahaya bagi orang yang tidak alergi terhadapnya. Adapun beberapa zat yang bisa menjadi pemicu dermatitis kontak alergi adalah sebagai berikut:

 

  • Logam, misalnya nikel, kobalt, emas, dan kromium. Pasalnya, logam-logam ini sering digunakan sebagai bahan pembuatan barang-barang dalam kehidupan sehari-hari, seperti kegiatan industri, alat medis, dan perhiasan.

  • Zat pengawet golongan formaldehida dan nonformaldehida. Zat-zat ini banyak dipakai untuk mencegah pertumbuhan bakteri dan jamur pada produk perawatan kulit dan kosmetik.

  • Zat pengharum, seperti cinnamic alcohol, cinnamic aldehyde, hydroxy citronellal, amyl cinnamaldehyde, geraniol, eugenol, isoeugenol, oakmoss absolute, Lyral, Citral, citronellol, farnesol, coumarin, cinnamic aldehyde, Myroxylon pereirae, Limonene, linalool, melati, dan daun mint.

  • Produk perawatan rambut, seperti P-phenylenediamine, Cocamidopropyl betaine, Oleamidopropyl dimethylamine, Glucosides (lauryl glucoside, decyl glucoside, cetearyl glucoside, coco glucoside), dan Glyceryl thioglycolate.

  • Propylene glycol, merupakan bahan pelarut, pengental, dan pengawet dalam produksi berbagai produk kimia, seperti cat, tinta, dan resin.

  • Obat oles, seperti obat bius (grup benzoic acid ester, yaitu benzocaine, procaine, dan tetracaine), antibiotik (Neomycin, gentamicin, tobramycin, Bacitracin, dan Polymyxin B), steroid oles, serta propolis.

  • Zat yang digunakan dalam industri karet, seperti thiurams, carbamates, mercaptobenzothiazole, Mercaptobenzothiazole, dan Dialkyl thioureas.

  • Zat perekat, seperti Phenol-formaldehyde, Colophony (rosin), dan Epoxy resin.

  • Zat Acrylate, seperti acrylic acid, methyl methacrylate, acrylonitrile, Ethyl acrylate, methyl methacrylate, dan Cyanoacrylates.

  • Zat pewarna dan zat-zat lain yang dipakai dalam industri pakaian, seperti Ethylene urea melamine formaldehyde, dan dimethylol dihydroxyethyleneurea.

  • Pupuk dan insektisida.

 

Gejala Dermatitis Kontak Alergi

 

Gejala umum dermatitis kontak alergi adalah munculnya plak-plak merah, menonjol, bersisik, dan terasa gatal pada kulit yang terkena paparan alergen. Pada kasus yang lebih parah, benjolan yang timbul bisa berisi air. Penderita DKA juga bisa mengalami pembengkakan pada mata, bibir, dan alat kelamin.

 

Paparan alergen dalam jangka panjang dapat menyebabkan DKA berkembang menjadi penyakit kronis yang bisa menimbulkan beberapa gejala, seperti kulit kering dan bersisik yang diikuti penebalan dan kulit pecah. Di samping itu, luka dan infeksi juga bisa terjadi.

 

Adapun beberapa area yang sering terkena dermatitis kontak alergi adalah sebagai berikut:

 

  • Tangan, wajah, dan kelopak mata yang sering terpapar alergen, misalnya riasan di mata.

  • Kulit kepala, misalnya akibat kontak dengan cat rambut dan sampo.

  • Leher, sering dipakaikan kalung dan disemprot parfum.

  • Pinggang, sering kontak dengan produk karet, misalnya celana berkaret.

  • Badan dan lipatan ketiak, sering dipicu oleh cat atau bahan baju.

  • Area mata, sekitar bibir, dan kelamin, biasanya disebabkan oleh parfum, deterjen, atau obat pengawet.

  • Punggung kaki, sering kontak dengan sepatu.

  • Area yang sering terpapar sinar matahari, biasanya terjadi pada orang yang sensitif terhadap paparan cahaya matahari.

 

Diagnosis Dermatitis Kontak Alergi

 

Dalam mendiagnosis DKA, dokter akan melakukan anamnesis (wawancara medis) untuk mengetahui gejala, riwayat kesehatan, serta riwayat obat-obatan oles atau kosmetik yang sedang digunakan oleh pasien. Kemudian, dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik untuk memeriksa seberapa parah gejala yang dialami pasien.

 

Untuk mengonfirmasi diagnosis DKA, dokter dapat melakukan pemeriksaan penunjang dengan tes alergi. Pemeriksaan ini bernama patch test, dilakukan dengan cara menempelkan sedikit zat yang diduga memicu DKA pada kulit pasien selama 2 hari, kemudian dokter akan melihat reaksinya pada kulit.

 

Pengobatan Dermatitis Kontak Alergi

 

Pengobatan utama untuk dermatitis kontak alergi adalah mengenali zat yang menyebabkan alergi dan  menghindarinya. Untuk mengurangi reaksi alergi, dokter biasanya juga memberikan obat steroid, antihistamin, dan obat imunomodulator untuk meredakan reaksi alergi. 

 

Penggunaan pelembap kulit juga disarankan. Pelembap dapat membantu menjaga kelembaban kulit dan melindunginya dengan lapisan pelindung. Dokter mungkin akan meresepkan jenis pelembap tertentu tergantung pada jenis dan kondisi kulit.

 

Di samping itu, pemberian antibiotik juga bisa dipertimbangkan bila terdapat indikasi infeksi bakteri. Setelah menghindari paparan dan menjalani pengobatan, gejala DKA umumnya bisa membaik setelah 2–4 minggu.

 

Selain itu, beberapa penanganan yang dapat dianjurkan atau disarankan oleh dokter kepada pasien di rumah, antara lain: 

 

  • Tidak menggaruk area yang gatal.

  • Mengompres bagian yang gatal dengan menggunakan kompres dingin.

  • Menggunakan alat pelindung diri misalnya sarung tangan jika DKA terjadi pada telapak tangan.

  • Menghindari mandi dengan air hangat yang lebih mengarah ke suhu panas karena dapat membuat kulit menjadi lebih kering dan gatal.

  • Menggunakan sabun bayi atau yang ramah untuk kulit sensitif.

  • Menggunakan pakaian dengan bahan yang menyerap keringat.

  • Mengendalikan stres.

 

Jika tidak diobati, DKA dapat berkembang menjadi kronis. Dermatitis kronis dapat berdampak negatif terhadap kualitas hidup seseorang yang berhubungan dengan kesehatan, khususnya dalam fungsi sosial dan kesejahteraan psikologis.

 

Adapun komplikasi lain DKA adalah terjadinya infeksi sekunder serta adanya perubahan warna kulit seperti hipopigmentasi ataupun hiperpigmentasi pascainflamasi.

 

Pencegahan Dermatitis Kontak Alergi

 

DKA sulit dicegah apabila penderita belum mengetahui jenis zat alergen yang dapat memicu terjadinya kondisi ini. Untuk mengidentifikasi zat-zat yang berpotensi membuat alergi, seseorang dapat melakukan pemeriksaan alergi. Jika sudah mengetahui zat alergen yang menyebabkan DKA, penderita dianjurkan untuk menghindari zat tersebut agar DKA tidak terjadi lagi.

 

Selain itu, pasien juga disarankan untuk menggunakan pelembap. Menjaga kelembapan kulit dapat membantu melindungi lapisan terluar kulit dan mengurangi risiko iritasi.

 

Itulah penjelasan mengenai dermatitis kontak alergi yang perlu Anda ketahui. Jika Anda mengalami sejumlah gejala yang mengarah pada DKA dan memerlukan penanganan sesegera mungkin, jangan ragu untuk mengunjungi Siloam Hospitals terdekat agar mendapatkan penanganan secara tepat. 

 

Jika ingin berkonsultasi dari rumah, manfaatkan layanan Telekonsultasi yang tersedia di aplikasi MySiloam. Layanan tersebut memungkinkan dokter untuk meresepkan obat-obatan sesuai kondisi pasien, dan pasien pun bisa memperoleh obat-obatan tersebut tanpa harus keluar rumah. Namun, untuk beberapa jenis obat, pasien wajib mengambilnya secara langsung atau self pick up. Mari percayakan kesehatan Anda #BersamaSiloam.

 

telechat (1)

Dokter Kami
dr-marsia-rusfianti-spkk

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Marsia Rusfianti, SpKK, M.Kes

Dermatologi (Kulit)

Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika


Siloam Hospitals Lippo Cikarang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-armina-haramaini-spkk

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Armina Haramaini, SpKK

Dermatologi (Kulit)

Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-epi-panjaitan-msc-spkk

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Epi Panjaitan, MSc, SpKK

Dermatologi (Kulit)

Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail