Dermatitis Kontak Iritan - Penyebab, Gejala, & Pengobatannya
Kesehatan Tubuh

Dermatitis Kontak Iritan - Penyebab, Gejala, & Pengobatannya

22 Agustus 2024 • 5 menit waktu baca
Mengenal dermatitis kontak iritan

Dermatitis kontak iritan (DKI) adalah reaksi peradangan kulit yang disebabkan oleh paparan zat iritan, seperti bahan kimia, fisik, atau biologis yang dapat mengiritasi kulit. Kondisi ini bukan merupakan reaksi alergi dan bisa bersifat akut (jangka pendek) maupun kronis (jangka panjang). Mari simak penjelasan selengkapnya mengenai dermatitis kontak iritan melalui ulasan di bawah ini.

 

Apa itu Dermatitis Kontak Iritan?

 

Seperti yang sudah dijelaskan bahwa dermatitis kontak iritan (DKI) adalah peradangan pada kulit yang terjadi akibat adanya kontak langsung antara kulit dengan zat atau faktor lingkungan yang dapat melukai kulit dan merusak skin barrier (pelindung kulit). DKI merupakan jenis dermatitis yang paling sering terjadi.

 

Perbedaan Dermatitis Kontak Alergi dan Dermatitis Kontak Iritan

 

Baik dermatitis kontak alergi (DKA) maupun dermatitis kontak iritan (DKI) merupakan peradangan kulit yang disebabkan oleh zat tertentu. Lantas apa bedanya? Hal yang membedakan kedua kondisi tersebut adalah zat pemicunya. DKA disebabkan oleh paparan zat alergen (pemicu alergi), sedangkan DKI dipicu oleh bahan kimia iritan yang tidak menyebabkan alergi.

 

Dermatitis kontak iritan terjadi pada 80% dari seluruh kejadian dermatitis kontak dan sebagian besar berhubungan dengan pekerjaan (disebut juga dengan dermatitis akibat kerja).

 

Penyebab Dermatitis Kontak Iritan

 

DKI terjadi karena paparan langsung zat iritan terhadap kulit yang merusak permukaan kulit lebih cepat daripada yang dapat diperbaiki oleh kulit. Zat iritan tersebut dapat menghilangkan minyak dan faktor pelembap alami dari lapisan kulit terluar, sehingga memungkinkan bahan kimia iritan menembus skin barrier dan memicu peradangan.

 

Inflamasi dapat terjadi setelah paparan satu kali (disebabkan oleh bahan iritan kuat, seperti asam atau basa kuat) atau berkali-kali (disebabkan oleh bahan iritan lemah). Dermatitis karena paparan berulang ini disebut DKI kronis. 

 

Adapun beberapa zat atau faktor yang sering memicu terjadinya DKI adalah sabun, deterjen, antiseptik, antibakteri, parfum, kosmetik, bahan pengawet, bahan pelarut, disinfektan, minyak yang digunakan dalam mesin, semen, bubuk, debu, tanah, dan air (terutama air keras, berkapur, atau terklorinasi).

 

Faktor biologis juga dapat menyebabkan DKI, yaitu produk hewan yang berasal dari hasil sekresi (zat buangan) dari hewan laut, ulat, kumbang, serangga, ataupun ngengat. Selain itu, DKI juga dapat dipicu oleh udara kering maupun perubahan suhu. Pasalnya, udara kering dan perubahan suhu dapat membuat kulit rentan mengalami iritasi. Faktor fisik lainnya yang bisa menyebabkan DKI adalah gesekan dan kelembapan yang rendah.

 

Faktor Risiko Dermatitis kontak Iritan

 

DKI dapat terjadi pada siapa saja yang terpapar bahan iritan, namun orang yang sudah mengalami dermatitis atopik (eksim) sebelumnya lebih rentan terkena DKI. Selain itu, beberapa orang yang juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami DKI adalah penata rambut, petugas kebersihan, dan petugas kesehatan.

 

Faktor dari iritan tersebut, seperti bahan, kekuatan penetrasi (penembusan) kulit, durasi, serta frekuensi paparan juga dapat memengaruhi tingkat keparahan DKI.

 

Gejala Dermatitis Kontak Iritan

 

Gejala DKI bisa muncul di bagian tubuh mana pun yang terkena kontak dengan zat atau bahan kimia iritan. Gejala tersebut biasanya muncul secara cepat dalam hitungan menit atau jam setelah kulit terpapar. Adapun beberapa gejala umum dermatitis kontak iritan adalah sebagai berikut:

 

  • Kemerahan ringan dan pembengkakan pada kulit.

  • Gatal.

  • Kulit kering, pecah-pecah, bersisik, dan menebal.

  • Nyeri dengan sensasi terbakar atau menyengat.

  • Bercak kasar yang berwarna lebih gelap daripada kulit di sekitarnya (hiperpigmentasi).

  • Benjolan dan lecet, kadang-kadang terisi dengan cairan dan disertai pengerasan kulit.

  • Terbentuknya vesikel (lepuhan kecil berbentuk bulat berisi cairan pada kulit).

 

Diagnosis Dermatitis Kontak Iritan

 

Dalam mendiagnosis DKI, dokter akan terlebih dahulu melakukan anamnesis (wawancara medis) untuk mengetahui gejala dan riwayat kesehatan pasien, terutama riwayat penyakit kulit terdahulu dan riwayat atopi (kecenderungan seseorang untuk mengembangkan reaksi alergi). 

 

Dokter juga akan menanyakan terkait pekerjaan dan kegiatan untuk mengidentifikasi penyebab atau pemicu DKI, durasi paparan, serta melakukan pemeriksaan fisik pada kulit.

 

Untuk mengonfirmasi diagnosis DKI, dokter dapat melakukan pemeriksaan penunjang dengan tes iritasi atau ROAT test. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara mengoleskan zat yang diduga memicu DKI ke area kulit yang sama setiap 2 hari sekali selama 7 hari, kemudian dokter akan melihat reaksinya pada kulit.

 

Skin patch test (tes tempel) juga dapat dilakukan untuk membedakan DKI dan DKA. Apabila tes tempel positif, maka akan terbentuk reaksi eritematosa (kemerahan) pada lokasi tes tempel dengan batas tepi yang jelas. 

 

Cara Mengobati Dermatitis Kontak Iritan

 

Tujuan pengobatan dermatitis kontak iritan adalah mengurangi rasa gatal dan menenangkan kulit yang meradang. Hal ini bisa dilakukan dengan perawatan mandiri, seperti menghindari bahan iritan, memberikan kompres dingin pada kulit yang terdapat ruam, tidak menggaruk kulit yang terdapat ruam, berendam di air dingin, menggunakan sabun atau deterjen yang mengandung bahan lembut, menjaga kebersihan tangan, serta menghindari menggunakan barang pribadi secara bergantian dengan orang lain.

 

Jika perawatan mandiri tidak dapat meredakan gejala, maka dokter akan memberikan resep obat-obatan, seperti:

 

  • Krim atau salep steroid untuk meredakan ruam dermatitis kontak.

  • Krim atau salep khusus untuk mengurangi rasa gatal.

  • Sabun atau losion khusus untuk membantu menjaga kelembapan kulit agar tidak kering.

  • Obat-obatan oral, misalnya memberikan obat antihistamin untuk meredakan rasa gatal atau meresepkan obat antibiotik bila terdapat indikasi infeksi.

 

Cara Mencegah Dermatitis Kontak Iritan

 

Dermatitis kontak iritan dapat dicegah dengan cara menghindari zat iritan, memilih pelembap kulit bebas pewangi, menggunakan sabun yang bebas pewangi atau pewarna, serta menggunakan pelindung atau sarung tangan untuk melindungi kulit dari zat yang dapat mengiritasi.

 

Itulah penjelasan mengenai dermatitis kontak iritan yang perlu Anda ketahui. Jika Anda mengalami sejumlah gejala yang mengarah pada DKI dan memerlukan penanganan sesegera mungkin, jangan ragu untuk mengunjungi Siloam Hospitals terdekat agar mendapatkan penanganan secara tepat. 

 

Jika ingin berkonsultasi dari rumah, manfaatkan layanan Telekonsultasi yang tersedia di aplikasi MySiloam. Layanan tersebut memungkinkan dokter untuk meresepkan obat-obatan sesuai kondisi pasien, dan pasien pun bisa memperoleh obat-obatan tersebut tanpa harus keluar rumah. Namun, untuk beberapa jenis obat, pasien wajib mengambilnya secara langsung atau self pick up. Mari percayakan kesehatan Anda #BersamaSiloam.

 

telechat

Dokter Kami
dr-marsia-rusfianti-spkk

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Marsia Rusfianti, SpKK, M.Kes

Dermatologi (Kulit)

Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika


Siloam Hospitals Lippo Cikarang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-armina-haramaini-spkk

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Armina Haramaini, SpKK

Dermatologi (Kulit)

Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-epi-panjaitan-msc-spkk

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Epi Panjaitan, MSc, SpKK

Dermatologi (Kulit)

Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail