Kesehatan Tubuh
Deteksi Dini Atrial Fibrilasi untuk Cegah Risiko Kematian

Table of Contents
Atrial fibrilasi adalah suatu gangguan irama jantung yang ditandai dengan irama jantung yang tidak teratur. Pada dasarnya, jantung terdiri dari empat ruangan, dengan dua ruangan di bagian atas (atrium) dan dua ruangan di bagian bawah (ventrikel). Atrial fibrilasi disebabkan karena adanya gangguan irama listrik yang berasal dari ruang jantung bagian atas.
Dari banyak kasus gangguan irama jantung, atrial fibrilasi termasuk yang paling sering ditemukan dan angka kejadiannya semakin meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Saat ini, diperkirakan sekitar 2-4% populasi dewasa memiliki atrial fibrilasi, sementara di Eropa sekitar 1/3 populasi usia di atas 55 tahun memiliki risiko mengalami atrial fibrilasi.
Atrial fibrilasi merupakan penyakit yang sangat berbahaya karena dapat meningkatkan risiko kematian 1,5-3,5 kali lipat dan meningkatkan risiko terjadinya stroke lima kali lipat. Selain itu, terdapat pula bukti bahwa lebih dari 60% pasien dengan atrial fibrilasi memiliki penurunan kualitas hidup, penurunan fungsi kognitif, peningkatan risiko depresi, dan angka kejadian perawatan di rumah sakit. Maka itu, masyarakat perlu lebih waspada terhadap salah satu jenis penyakit jantung ini.
Faktor Risiko Atrial Fibrilasi
Bertambahnya usia merupakan salah satu faktor risiko utama terjadinya atrial fibrilasi. Selain itu, terdapat juga beberapa faktor risiko atrial fibrilasi yang cukup penting antara lain:
- Hipertensi
- Diabetes melitus
- Gagal jantung
- Penyakit jantung koroner
- Obesitas (kegemukan)
- Penyakit paru kronis
- Merokok dan konsumsi alkohol secara berlebihan
- Obstructive Sleep Apnea (OSA)
Pentingnya Deteksi Dini Atrial Fibrilasi
Deteksi dini atrial fibrilasi sangatlah penting, terutama dalam mencegah kerusakan jantung dan terjadinya stroke. Rekam jantung atau elektrokardiografi (EKG) menjadi pemeriksaan utama dalam mendeteksi atrial fibrilasi.
Akan tetapi pada sebagian kasus, atrial fibrilasi tidak terjadi setiap waktu (intermittent), sehingga jika pemeriksaan EKG dilakukan saat irama jantung normal, maka atrial fibrilasi bisa tidak terdiagnosis. Oleh karena itu, pada beberapa pasien monitor EKG selama 24 jam atau lebih (pemeriksaan holter monitoring) kadang diperlukan untuk mendiagnosis atrial fibrilasi.
Selain skrining jantung, masyarakat juga dapat mengikuti Program MEraba NAdi sendiRI (“MENARI”). MENARI merupakan suatu program yang dicanangkan oleh Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS) yang mengajak masyarakat untuk mendeteksi gangguan irama jantung lebih baik. Lewat MENARI, setiap orang didorong untuk meraba dan menghitung nadi sendiri. Nadi yang normal berkisar antara 60-100 kali/menit saat istirahat dan teratur. Jika saat meraba nadi sendiri terdapat irama yang tidak teratur, terlalu pelan atau terlalu cepat, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter.
Terapi Atrial Fibrilasi
Terapi atrial fibrilasi terdiri dari tiga hal utama, antara lain:
1. Pemberian Pengencer Darah
Pemberian pengencer darah untuk mencegah terjadinya stroke perlu dilakukan, hal ini dikarenakan atrial fibrilasi dapat meningkatkan risiko terjadinya stroke hingga lima kali lipat. Stroke yang terjadi karena atrial fibrilasi juga memiliki risiko tinggi menyebabkan kecacatan dan kematian, sehingga pencegahan stroke merupakan elemen yang penting dalam penanganan terhadap pasien atrial fibrilasi.
2. Kontrol Ritme Jantung
Kontrol ritme perlu dilakukan untuk berusaha mengembalikan irama jantung ke irama yang normal. Terdapat dua cara yang dapat dilakukan untuk berusaha mengembalikan irama jantung ke normal, termasuk dengan pemberian obat-obatan atau dengan tindakan ablasi.
3. Kontrol Rate Jantung
Kontrol rate perlu dilakukan untuk berusaha mengendalikan irama jantung agar tidak terlalu cepat. Pilihan terapi ini terutama dilakukan pada pasien yang sudah sulit untuk dikembalikan ke irama jantung normal.
Dari semua tindakan penanganan yang tersedia, langkah penting untuk terhindar dari risiko atrial fibrilasi adalah melakukan langkah pencegahan dengan menerapkan pola hidup sehat dan deteksi dini. Dengan melakukan gaya hidup sehat seperti mengurangi lemak, memperbanyak konsumsi sayur dan buah-buahan, berhenti merokok, mengurangi konsumsi alkohol, dan mengontrol faktor risiko atrial fibrilasi adalah cara untuk menurunkan risiko terjadinya atrial fibrilasi.
Untuk orang-orang yang sudah memiliki faktor risiko, deteksi dini dengan MENARI dan pemeriksaan termasuk EKG dan Holter Monitoring dapat membantu mendiagnosis atrial fibrilasi dengan cepat, sehingga penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat sebelum terjadinya komplikasi yang lebih berbahaya.
Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter dokter Siloam Hospital terdekat untuk memperoleh diagnosis dan penanganan medis secara tepat.
Anda dapat menggunakan fitur Cari Dokter untuk menemukan jadwal dokter, booking, dan buat janji dengan dokter terkait. Atau, gunakan juga aplikasi MySiloam untuk memudahkan Anda berkonsultasi langsung dengan dokter secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam dan percayakan kesehatan Anda dan keluarga #BersamaSiloam!
Artikel Terkait
Dokter Kami
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Benny Mulyanto Setiadi, SpJP(K), FIHA
Kardiologi (Jantung)
Subspesialis Aritmia
Siloam Hospitals Manado
Tersedia :
Tersedia hari ini
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Kadek Satrya Kurnia Suratna, SpJP
Kardiologi (Jantung)
Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah
Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya
Tersedia :
Tersedia hari ini
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Rinaldi Agustinus Ulaan, SpJP
Kardiologi (Jantung)
Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah
Rumah Sakit Umum Siloam Lippo Village
Tersedia :
Tersedia hari ini






