Kesehatan Mental
Gejala Putus Alkohol dan Cara Mengatasinya

Table of Contents
Seseorang yang terbiasa mengonsumsi alkohol dalam jumlah berlebih akan merasa kesulitan untuk menghentikan kebiasaan tersebut. Bahkan, dalam beberapa kasus, berhenti konsumsi alkohol bisa menyebabkan terjadinya sindrom putus alkohol (alcohol withdrawal syndrome). Terdapat beberapa gejala putus alkohol yang perlu diwaspadai, mulai dari sakit kepala hingga halusinasi. Lebih jelasnya, mari kenali apa saja gejala putus alkohol di bawah ini.
Apa itu Sindrom Putus Alkohol (Alcohol Withdrawal Syndrome)?
Alcohol withdrawal syndrome atau sindrom putus alkohol adalah sekumpulan gejala yang dialami oleh pecandu alkohol saat mulai berhenti atau mengurangi konsumsi minuman beralkohol secara signifikan. Kondisi ini biasanya diawali dengan gejala ringan, seperti sakit kepala dan mual, lalu dapat membaik atau bahkan memburuk seiring berjalannya waktu.
Jika seorang pecandu alkohol berhasil melewati gejala-gejala yang muncul karena alcohol withdrawal, hal tersebut menandakan bahwa tubuh sudah bisa kembali berfungsi dengan normal tanpa pengaruh alkohol.
Penyebab Sindrom Putus Alkohol
Sindrom putus alkohol dapat terjadi karena berubahnya mekanisme tubuh serta respons otak ketika seseorang berhenti mengonsumsi minuman beralkohol secara tiba-tiba. Pasalnya, konsumsi minuman beralkohol dapat berdampak pada cara kerja saraf dan otak.
Ketika tubuh sudah kecanduan alkohol, sistem saraf akan terbiasa berfungsi di bawah pengaruh alkohol. Sehingga, ketika asupan alkohol tiba-tiba menurun, sistem saraf perlu beradaptasi untuk dapat berfungsi normal tanpa pengaruh alkohol. Jika sistem saraf sulit atau tidak mampu beradaptasi, sindrom putus alkohol mungkin terjadi. Meski demikian, perlu diketahui bahwa tidak semua pecandu alkohol pasti mengalami sindrom ini.
Gejala Putus Alkohol
Pada dasarnya, gejala putus alkohol pada setiap orang bisa bervariasi, dapat bersifat ringan maupun berat hingga menyebabkan komplikasi. Hal ini tergantung pada seberapa lama dan banyaknya alkohol yang dikonsumsi seseorang. Secara umum, gejala putus alkohol bisa dibedakan sesuai dengan jangka waktunya. Berikut masing-masing penjelasannya.
A. Gejala putus alkohol pada 6 jam setelah berhenti mengonsumsinya:
Pada 6 jam setelah terakhir mengonsumsi minuman alkohol, seseorang mungkin dapat mengalami gejala putus alkohol yang tergolong ringan. Beberapa gejala tersebut, di antaranya sebagai berikut:
-
Mual dan muntah.
-
Berkeringat.
-
Jantung berdebar (palpitasi).
-
Tangan gemetar.
-
Cemas.
-
Sakit kepala.
B. Gejala putus alkohol pada 12–48 jam setelah berhenti mengonsumsinya:
Memasuki 12–48 jam setelah berhenti mengonsumsi minuman beralkohol, pecandu alkohol dapat mengalami gejala yang lebih serius, termasuk halusinasi. Pada kondisi ini, pecandu alkohol dapat melihat, merasakan, atau bahkan mendengar sesuatu yang sebenarnya tidak ada.
C. Gejala putus alkohol pada 48–72 jam setelah berhenti mengonsumsinya:
Pada tahap yang paling parah, gejala putus alkohol bisa berupa delirium tremens, yaitu kebingungan yang dialami oleh sistem dan organ tubuh ketika seseorang berhenti mengonsumsi alkohol. Hal ini menandakan bahwa sindrom putus alkohol mengurangi aliran darah ke otak sehingga mengganggu kinerja berbagai organ vital, termasuk jantung dan paru-paru. Berikut adalah beberapa gejala delirium tremens yang mungkin dialami:
-
Kebingungan.
-
Jantung berdebar.
-
Tekanan darah meningkat.
-
Berkeringat berlebihan.
-
Demam.
Delirium tremens merupakan kondisi yang membutuhkan penanganan medis sesegera mungkin. Pasalnya, jika dibiarkan, kondisi ini bisa menyebabkan gangguan irama jantung, stroke, hingga kematian.
Cara Mengatasi Putus Alkohol
Tujuan utama pengobatan alcohol withdrawal syndrome adalah untuk meredakan gejala yang muncul, serta mencegah terjadinya delirium tremens. Secara umum, sindrom putus alkohol pada tahap ringan dapat ditangani dengan menciptakan lingkungan yang mendukung proses pemulihan, seperti:
-
Menyediakan tempat yang tenang.
-
Memastikan ruangan yang ditempati penderita sindrom putus alkohol menggunakan pencahayaan yang tidak terlalu terang.
-
Memperbanyak asupan cairan tubuh.
-
Menyediakan asupan makanan sehat dengan gizi seimbang.
Di samping itu, dokter juga dapat memberikan obat-obatan untuk menangani gejala putus alkohol. Jenis obat yang diberikan tergantung pada ringan atau beratnya gejala yang dialami penderita. Pada kasus yang lebih serius, terutama ketika pasien mengalami perubahan tekanan darah, peningkatan suhu tubuh, serta halusinasi, dokter dapat menyarankan pasien untuk menjalani rawat inap di rumah sakit.
Apabila Anda atau orang terdekat mengalami ketergantungan alkohol dan merasa kesulitan untuk menghentikannya, jangan ragu untuk melakukan konseling dengan Psikiatri berpengalaman di Siloam Hospitals terdekat.
Selain itu, Siloam Hospitals juga menyediakan layanan Telekonsultasi yang dapat digunakan untuk berkonsultasi langsung dengan dokter secara virtual. Layanan ini juga memungkinkan dokter meresepkan obat-obatan tertentu, dan pasien pun bisa memperoleh resep tersebut tanpa perlu keluar rumah. Namun, apabila diresepkan obat golongan antipsikotik atau antidepresan, pasien perlu mengambilnya secara langsung.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Lippo Cikarang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Jambi
Tersedia :
Tersedia hari ini







