Kesehatan Tubuh
Laparoskopi Usus Buntu untuk Pemulihan Lebih Cepat, Minim Rasa Sakit!

Table of Contents
Penderita apendisitis atau radang usus buntu biasanya membutuhkan penanganan cepat dengan pembedahan terbuka. Namun, pilihan laparoskopi usus buntu lebih banyak diminati karena prosedurnya yang tergolong lebih aman. Laporoskopi usus buntu hanya melibatkan sayatan kecil di perut sehingga waktu pemulihan setelah operasi lebih cepat.
Namun, prosedur laparoskopi usus buntu tidak direkomendasikan untuk semua orang. Di samping itu, terdapat risiko komplikasi yang perlu diantisipasi. Lantas, seperti apa langkah-langkah dalam laparoskopi usus buntu? Untuk mengetahui selengkapnya, simak pembahasan di bawah ini.
Apa Itu Laparoskopi Usus Buntu (Laparoskopi Apendektomi)?
Laparoskopi usus buntu atau laparoskopi apendektomi adalah prosedur bedah invasif minimal yang melibatkan sayatan kecil di perut untuk mengangkat usus buntu. Prosedur bedah ini menggunakan tabung tipis dengan kamera dan cahaya yang disebut sebagai laparoskopi untuk membantu memberikan visualisasi dalam prosedur pengangkatan usus buntu yang meradang atau terinfeksi kepada dokter.
Biasanya, laparoskopi usus buntu direkomendasikan untuk penderita radang usus buntu akut. Pembedahan invasif minimal ini memiliki beberapa keunggulan dibandingkan operasi usus buntu (apendektomi) terbuka. Setelah prosedur laparoskopi, pasien dapat pulih lebih cepat tanpa rasa sakit yang intens.
Siapa yang Dianjurkan Menjalani Laparoskopi Usus Buntu?
Penanganan radang usus buntu akut melalui metode pembedahan dapat dilakukan dengan laparoskopi usus buntu. Namun, tidak semua kondisi peradangan bisa diatasi dengan pengangkatan usus buntu melalui prosedur laparoskopi. Secara umum, pasien yang direkomendasikan untuk menjalani laparoskopi usus buntu memenuhi kriteria berikut:
-
Pasien yang menunjukkan gejala radang usus buntu akut.
-
Pasien anak-anak yang menderita radang usus buntu akut dengan kondisi organ lain yang baik.
-
Pasien yang bisa menerima anestesi umum atau bius total.
Sementara itu, laparoskopi usus buntu perlu dipertimbangkan atau tidak dianjurkan untuk pasien yang memiliki kondisi-kondisi berikut:
-
Ketidakstabilan hemodinamik.
-
Pasien tidak bisa menerima anestesi umum atau bius total.
-
Pasien menderita penyakit paru yang parah.
-
Pasien menderita sepsis parah dengan peritonitis generalisata (generalized peritonitis).
-
Pasien sedang hamil tua (memasuki trimester ketiga) sehingga ruang kerja intraabdomen tidak optimal.
Prosedur Laparoskopi Usus Buntu
Pelaksanaan prosedur laparoskopi usus buntu dibagi menjadi tiga fase, yaitu praoperasi, operasi, dan pascaoperasi. Berikut penjabarannya:
-
Praoperasi:
-
Dokter melakukan anamnesis (wawancara medis), diikuti dengan pemeriksaan fisik, untuk memastikan riwayat/kronologis keluhan dan kondisi pasien.
-
Dokter dapat menyarankan pemeriksaan penunjang, seperti tes darah, tes urine, hingga pencitraan, misalnya CT scan.
-
Setelah dokter memastikan pasien perlu dan dapat menjalani laparoskopi, maka pasien/keluarga akan diminta mengisi persetujuan pelaksanaan prosedur.
-
Pasien kemudian akan segera dipersiapkan untuk menjalani tindakan, misalnya dengan dipasangkan infus dan kateter.
-
Operasi:
-
Pasien diberikan bius total agar tertidur selama tindakan berlangsung.
-
Tindakan dimulai dengan pembuatan sayatan kecil, sebagai jalan masuknya kamera dan alat bedah khusus.
-
Dokter kemudian akan mengevaluasi kondisi dalam perut untuk memastikan tidak ada masalah lain.
-
Usus buntu akan dipisahkan dari jaringan di sekitarnya. Pangkalnya dibersihkan dan diikat agar tidak bocor, kemudian dipotong.
-
Rongga perut kemudian diperiksa ulang untuk memastikan tidak ada perdarahan, maupun kotoran yang tertinggal.
-
Usus buntu kemudian ditempatkan dalam kantong khusus kemudian dikeluarkan melalui lubang pusar.
-
Luka bekas sayatan dibersihkan, lalu ditutup dengan jahitan dan perban/plester bedah.
-
Pascaoperasi:
-
Pasien akan dibawa ke ruang pemulihan untuk dipantau, jika kondisinya stabil dan telah sadar kembali, pasien bisa dipindahkan ke kamar rawat.
-
Jaringan usus buntu yang diangkat akan dikirim ke laboratorium untuk diperiksa lebih lanjut.
-
Pasien akan diberikan obat-obatan melalui infus untuk meredakan nyeri dan mencegah infeksi.
Dokter akan merekomendasikan pasien untuk berjalan setelah benar-benar sadar setelah operasi dan menerima pereda nyeri. Pola makan pun perlu disesuaikan dengan toleransi tubuh pasien. Umumnya, pasien yang telah menjalani laparoskopi usus buntu tanpa komplikasi bisa pulang pada hari pertama setelah operasi. Dokter bisa menjadwalkan pemeriksaan kembali satu minggu setelahnya untuk menentukan tindakan lanjut.
Risiko Komplikasi Laparoskopi Usus Buntu
Meskipun lebih aman daripada operasi terbuka, laparoskopi usus buntu tetap memiliki sejumlah risiko komplikasi. Adapun komplikasi yang paling umum adalah infeksi luka. Untuk mengatasinya, dokter meresepkan antibiotik atau merekomendasikan drainase. Beberapa komplikasi lain yang perlu diperhatikan adalah:
-
Abses intraabdomen.
-
Stump appendicitis (peradangan pada jaringan sisa apendiks).
-
Obstruksi atau sumbatan usus halus akibat perlengketan pascaoperasi.
Pengangkatan usus buntu umumnya direkomendasikan pada kondisi peradangan yang akut. Prosedur ini dianggap lebih aman daripada operasi terbuka. Setiap rumah sakit memiliki tata cara tersendiri dalam pelaksanaan laparoskopi.
Sebagai catatan, informasi di atas bersifat edukatif. Untuk mengetahui apakah kondisi radang usus buntu Anda membutuhkan penanganan laparoskopi, sebaiknya konsultasikan dengan Dokter Spesialis Bedah di Siloam Hospitals terdekat.
Setiap pasien akan menjalani pemeriksaan dan mendapatkan rekomendasi pengobatan dari dokter yang disesuaikan dengan kondisi medisnya. Tahapan pemeriksaan dan pengobatan pun dilakukan sesuai dengan ketersediaan fasilitas kesehatan di masing-masing lokasi sehingga mungkin akan berbeda-beda.
Untuk mengetahui kondisi sistem pencernaan secara lengkap, Anda bisa memesan Skrining Sistem Pencernaan. Keprerluan pemesanan skrining hingga pembuatan janji temu dengan dokter terkait bisa dilakukan melalui aplikasi MySiloam. Mari manfaatkan berbagai fitur MySiloam untuk memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Sumber
Springer Nature Link. Laparoscopic Appendectomy. Diakses pada 2025 | Yale Medicine. Laparoscopic Appendectomy. Diakses pada 2025 | Medscape. Laparoscopic Appendectomy. Diakses pada 2025 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Makassar
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Denpasar
Tersedia :
Tersedia hari ini






