Peritonitis - Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Pencegahannya
Kesehatan Tubuh

Peritonitis - Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Pencegahannya

04 Agustus 2025 4 menit waktu baca
peritonitis adalah

Table of Contents

Peritonitis adalah peradangan yang terjadi pada peritoneum, yaitu lapisan tipis yang terletak di antara dinding perut bagian dalam dan organ-organ perut. Peradangan ini sering kali disebabkan oleh infeksi bakteri atau jamur.

 

Peritonitis juga bisa terjadi akibat adanya perforasi (luka) pada perut atau sebagai komplikasi dari kondisi medis lainnya. Kondisi ini membutuhkan penanganan dengan segera untuk mencegah terjadinya penyebaran infeksi ke seluruh tubuh. Ketahui penjelasan selengkapnya berikut ini.

 

Apa itu Peritonitis?

 

Peritonitis adalah kondisi di mana peritoneum mengalami peradangan. Peritoneum merupakan selaput yang melapisi dinding perut bagian dalam sebagai pembatas dari organ-organ di dalam perut.

 

Peritonitis umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri atau jamur. Namun, kondisi ini juga bisa terjadi akibat adanya perforasi pada abdomen atau komplikasi dari kondisi medis lainnya.

 

Peritonitis memerlukan pengobatan dengan segera guna mencegah penyebaran infeksi ke seluruh tubuh yang dapat menyebabkan komplikasi serius bahkan mengancam nyawa. Penanganan peritonitis biasanya dilakukan dengan pemberian antibiotik atau pembedahan jika diperlukan.

 

Penyebab Peritonitis

 

Berdasarkan penyebabnya, peritonitis terbagi menjadi dua jenis yaitu peritonitis spontan dan sekunder. Berikut masing-masing penjelasannya.

 

Peritonitis Bakteri Spontan

 

Jenis peritonitis ini berasal dari infeksi bakteri. Hal ini dapat terjadi pada seseorang dengan gangguan hati seperti sirosis hati atau gangguan ginjal seperti gagal ginjal. Kondisi ini dapat menyebabkan asites yaitu penumpukan cairan di rongga perut yang kemudian dapat memicu terjadinya infeksi di rongga peritoneum.  Peritonitis bakteri spontan biasanya terjadi tanpa ada luka di dinding perut.

 

Peritonitis Sekunder

 

Peritonitis sekunder terjadi akibat adanya luka pada dinding perut dan menyebabkan bakteri atau jamur dapat menyebar melalui saluran pencernaan dan menginfeksi peritoneum. Peritonitis sekunder juga dapat dipicu oleh beberapa hal berikut ini:

 

  • Sakit maag yang berujung pada perforasi lambung.
  • Kecelakaan yang menyebabkan luka di bagian perut sehingga bakteri dari luar tubuh masuk ke bagian peritoneum.
  • Penyakit hati, seperti sirosis hati.
  • Penyakit Crohn.
  • Penyakit radang panggul.
  • Infeksi kantong empedu, aliran darah, dan usus.
  • Pankreatitis (radang pankreas).
  • Divertikulitis (infeksi kantong kecil yang menonjol di saluran pencernaan).
  • Robekan pada bagian usus yang dapat meningkatkan risiko menyebarnya bakteri ke peritoneum.

 

Selain beberapa hal di atas, sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena peritonitis adalah:

 

  • Tindakan medis yang memerlukan tindakan dengan membuka dinding perut, misalnya penggunaan selang makan ke lambung.
  • Memiliki riwayat peritonitis sebelumnya.

 

Gejala Peritonitis

 

Gejala peritonitis cukup bervariasi tergantung dari penyebab infeksi atau radang. Kehilangan selera makan dan mual adalah gejala yang umum dialami oleh penderita peritonitis. Namun tak hanya itu, beberapa gejala lain dari peritonitis adalah sebagai berikut:

 

  • Diare.
  • Nyeri perut.
  • Demam.
  • Kelelahan.
  • Rasa haus yang ekstrem.
  • Volume urine rendah.
  • Kesulitan buang angin dan buang air besar (sembelit).
  • Perasaan penuh di dalam perut (distensi).

 

Pada kondisi yang lebih serius, peritonitis dapat menyebabkan komplikasi seperti sepsis (masalah kesehatan akibat reaksi tubuh terhadap infeksi yang terjadi pada darah dan menyebar ke seluruh tubuh) hingga mengancam jiwa.

 

Diagnosis Peritonitis

 

Sebelum menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan anamnesis untuk mengetahui riwayat kesehatan pasien atau obat-obatan yang pernah dikonsumsi dan dilanjutkan dengan menjalani pemeriksaan fisik.

 

Apabila pasien diduga mengidap peritonitis, maka dokter akan melakukan beberapa tes penunjang seperti:

 

Tes Darah

 

Tes perhitungan darah lengkap (CBC) bertujuan untuk mengukur jumlah sel darah putih di dalam tubuh. Apabila ditemukan sel darah putih dalam jumlah banyak, maka kemungkinan besar pasien mengalami radang atau infeksi.

 

Analisis Cairan Peritoneal

 

Jika terdapat cairan menumpuk di dalam perut, dokter akan menggunakan jarum untuk mengambil beberapa sampel dan mengirimnya ke laboratorium untuk menganalisa cairan dan membantu mengidentifikasi bakteri.

 

Tes Pencitraan

 

Tujuan tes pencitraan seperti X-ray dan CT Scan pada penderita peritonitis adalah melihat gambaran perforasi atau lubang luka di dalam peritoneum secara lebih jelas.

 

Pengobatan Peritonitis

 

Kondisi peritonitis dapat mengancam nyawa, oleh karena itu penderita peritonitis membutuhkan prosedur rawat inap di rumah sakit. Di mana pengobatan yang dilakukan oleh dokter mencakup:

 

  • Pemberian antibiotik: Dokter akan meresepkan obat antibiotik untuk mengatasi infeksi dan mencegah persebaran bakteri. Jenis antibiotik yang diberikan serta durasi penggunaannya bergantung pada tingkat dan jenis peritonitis yang dialami.
  • Prosedur pembedahan: Prosedur ini dilakukan apabila kondisi peritonitis bakteri spontan tetap memburuk setelah diberikan pengobatan. Tujuan pembedahan pada peritonitis adalah mengangkat jaringan yang terinfeksi, mengurangi tekanan rongga abdomen, dan mencegah penyebaran infeksi. Pembedahan akan dilakukan pada kasus peritonitis sekunder seperti ruptur usus buntu, lambung, atau usus besar.
  • Penanganan lainnya: Perawatan ini tergantung dari gejala yang dialami pasien, bisa dengan pemberian obat anti nyeri, infus, oksigen tambahan, atau transfusi darah jika diperlukan.

 

Pencegahan Peritonitis

 

Pasien gagal ginjal yang menjalani dialisis peritoneal memiliki risiko tinggi terkena peritonitis, sehingga perlu melakukan upaya pencegahan dengan menerapkan beberapa hal berikut ini:

 

  • Rutin mencuci tangan dengan bersih menggunakan sabun serta air mengalir.
  • Menyimpan perlengkapan dialisis di area yang bersih.
  • Membersihkan kulit di sekitar kateter secara rutin menggunakan antiseptik.
  • Sering berkonsultasi dengan tim perawat mengenai cara perawatan kateter dialisis peritoneal yang tepat.

 

Sementara itu, bagi pasien yang pernah menderita peritonitis sebelumnya atau mengalami penumpukan cairan di peritoneum akibat kondisi medis tertentu, dokter akan memberikan antibiotik untuk mencegah kambuhnya kondisi tersebut.

 

Apabila Anda mengalami gejala-gejala yang berkaitan dengan peritonitis, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter Siloam Hospitals untuk mendapatkan pengobatan secara tepat dan mencegah komplikasi yang lebih serius.


Anda dapat menghubungi call center kami di 1-500-911 atau menggunakan fitur yang tersedia di aplikasi MySiloam untuk membuat janji temu dengan dokter. Mari selalu jaga kesehatan Anda dan keluarga #BersamaSiloam!

 

Digital Booking Lab&Rad - KV 2

Dokter Kami
dr-widjoyo-spb

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Widjoyo, SpB

Bedah Umum

Spesialis Bedah


Siloam Hospitals Makassar

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-roland-octavianus-karema-spb

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Roland Octavianus Karema, SpB

Bedah Umum

Spesialis Bedah


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ade-chandra-spb

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ade Chandra, SpB

Bedah Umum

Spesialis Bedah


Siloam Hospitals Denpasar

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail