Kesehatan Tubuh
Awas Hernia Insisional! Komplikasi Pascaoperasi yang jarang Disadari

Table of Contents
Hernia insisional adalah jenis hernia yang dapat terjadi setelah operasi perut yang melibatkan sayatan bedah. Terdapat faktor-faktor tertentu yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami hernia insisional. Lebih lanjut, simak ulasan selengkapnya mengenai hernia insisional melalui ulasan di bawah ini.
Apa Itu Hernia Insisional?
Hernia insisional adalah hernia yang terjadi di dinding perut pada bagian yang terdapat bekas luka sayatan operasi sebelumnya atau pada bagian yang dekat dengan bekas luka sayatan operasi tersebut. Kondisi ini termasuk ke dalam jenis hernia ventral dan lebih sering terjadi pada bekas sayatan operasi di bagian tengah perut dibandingkan lokasi sayatan lainnya. Hernia insisional adalah komplikasi pascaoperasi laparotomi yang umum terjadi.
Incisional Hernia Paper (2023) menyebutkan bahwa hernia ini terjadi pada 15–20% kasus operasi perut yang melibatkan sayatan bedah. Hernia insisional bisa memiliki bagian-bagian yang jelas mencakup lubang, kantung, dan isinya. Namun, pada beberapa kasus, bisa juga hanya berupa kelemahan pada dinding perut dengan kantung yang dangkal dan tonjolan yang muncul sesekali.
Penyebab Hernia Insisional
Hernia insisional disebabkan oleh melemahnya otot perut akibat sayatan bedah di dinding perut yang tidak menutup dengan baik setelah operasi. Biasanya, hernia terjadi pada waktu 3–6 bulan setelah operasi. Namun tidak menutup kemungkinan untuk dapat terjadi kapan saja. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya hernia insisional adalah:
-
Memberikan tekanan yang terlalu banyak pada bagian perut sebelum luka sayatan bedah pulih sepenuhnya.
-
Pasien melakukan aktivitas fisik yang berlebihan atau terlalu dini setelah operasi.
-
Mengalami kenaikan berat badan yang cukup besar.
-
Hamil sebelum luka operasi sebelumnya pulih sepenuhnya.
-
Memiliki faktor-faktor yang dapat memengaruhi proses penyembuhan luka dan kekuatan jaringan baru untuk menyokong dinding perut seperti diabetes, gagal ginjal, obesitas, merokok, kekurangan gizi, atau mengonsumsi obat-obatan tertentu dalam jangka panjang seperti obat steroid dan imunosupresan.
-
Infeksi pada luka operasi.
Gejala Hernia Insisional
Gejala utama hernia insisional adalah timbulnya tonjolan pada lokasi sayatan bedah atau di sekitarnya. Tonjolan ini sering kali terlihat ketika penderita sedang meregangkan otot, misalnya saat berdiri, mengangkat sesuatu, atau batuk. Selain tonjolan, gejala lain yang biasanya menyertai hernia insisional adalah sebagai berikut:
-
Nyeri dan rasa tidak nyaman di perut, terutama di area sekitar hernia.
-
Rasa terbakar atau sakit di dekat hernia.
-
Mual dan muntah.
-
Demam.
-
Tinja yang berukuran kecil dan berbentuk seperti pensil.
Diagnosis Hernia Insisional
Dalam upaya menegakkan diagnosis hernia insisional, dokter akan terlebih dahulu melakukan anamnesis (wawancara medis) untuk mengetahui tentang gejala dan riwayat medis pasien, serta melakukan pemeriksaan fisik. Biasanya, dokter akan mencoba mengidentifikasi:
-
Tonjolan pada perut di area atau di dekat lokasi sayatan bedah. Pasien mungkin diminta untuk berdiri dan batuk agar hernia terlihat lebih jelas.
-
Ukuran dari hernia.
-
Lokasi hernia dan hasil pembedahan sebelumnya.
Apabila terdapat bagian usus yang menonjol dan terperangkap di dalam dinding perut, maka suplai darah ke usus bisa terputus sehingga berpotensi menyebabkan komplikasi, seperti nekrosis (kematian jaringan). Jika dokter mencurigai hal ini, maka pasien mungkin akan diminta untuk menjalani pemeriksaan penunjang, seperti:
-
Tes darah untuk mengetahui jika terjadi infeksi yang disebabkan oleh penyumbatan atau nekrosis usus.
-
USG, MRI, CT scan, atau tes pencitraan lainnya untuk mencari penyumbatan atau lokasi tonjolan usus secara pasti.
Pengobatan Hernia Insisional
Secara umum, hernia tidak bisa hilang dengan sendirinya dan memerlukan tindakan operasi. Adapun beberapa pilihan pengobatan untuk hernia insisional adalah sebagai berikut:
Hernia kecil atau yang dapat direduksi
Pasien dengan jenis hernia ini mungkin bisa menunda operasi. Namun, dokter tentunya akan mempertimbangkan riwayat medis pasien serta faktor-faktor lainnya. Apabila hernia berukuran kecil dan tidak menimbulkan gejala, operasi mungkin bisa ditunda sambil tetap memonitor perkembangan kondisi hernia.
Namun, perlu dicatat bahwa semakin besar ukuran hernia, maka operasinya pun akan semakin sulit. Jika pasien belum menjalani operasi, dokter mungkin akan menyarankan pemakaian sabuk khusus yang dapat membantu menjaga tekanan pada hernia agar tidak menonjol ke luar.
Hernia besar atau tidak dapat direduksi
Jika hernia membesar atau tidak dapat direduksi (tonjolan hernia yang tidak dapat didorong kembali ke dalam perut meski sudah coba ditekan secara perlahan), operasi mungkin akan diperlukan. Pilihan operasi tersebut adalah sebagai berikut:
-
Operasi terbuka pada perut (laparotomi): Dokter akan membuat sayatan di perut pada lokasi hernia atau di sekitar hernia, kemudian memindahkan jaringan, usus, dan organ lain yang membentuk hernia kembali ke dalam perut, lalu menutup lubang tersebut.
-
Laparoskopi: Prosedur ini melibatkan beberapa sayatan kecil. Dokter spesialis bedah akan memasukkan laparoskop dan instrumen-instrumen lainnya yang diperlukan melalui sayatan tersebut untuk memperbaiki hernia dari dalam.
-
Bedah robotik hernia (robotic hernia surgery): Prosedur ini menggunakan bantuan sistem robotik canggih yang dikendalikan langsung oleh dokter bedah. Dengan teknologi ini, dokter dapat melakukan operasi secara lebih presisi melalui sayatan kecil, sehingga meminimalkan nyeri, mempercepat pemulihan, serta mengurangi risiko komplikasi.
Prosedur operasi dengan sistem bedah robotik kini tersedia di Siloam Hospitals. Teknologi bedah robotik generasi terbaru Da Vinci Xi digunakan dalam berbagai jenis operasi, termasuk tindakan untuk hernia insisional dan prosedur bedah lainnya. Dengan dukungan kamera 3D HD yang mampu memperbesar objek hingga 10x, visualisasi area operasi menjadi lebih jelas, detail, dan akurat.
Teknologi bedah robotik memungkinkan tindakan bedah minimal invasif dengan hasil yang lebih presisi. Didukung dokter berpengalaman, pasien akan mendapatkan manfaat berupa waktu pemulihan yang lebih cepat, bekas luka yang lebih kecil, dan tingkat kenyamanan yang lebih tinggi selama proses perawatan.
Perlu diketahui, tanda dan gejala yang disebutkan sebelumnya tidak secara khusus mewakili hernia insisional saja. Gejala tersebut juga dapat muncul pada kondisi medis lainnya. Oleh karena itu, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Bedah di Siloam Hospitals terdekat bila mengalami munculnya tonjolan pada perut, nyeri perut, gangguan pencernaan, atau keluhan-keluhan lainnya yang mungkin mengindikasikan hernia insisional.
Lebih lanjut, jika Anda membutuhkan informasi lebih lanjut mengenai Da Vinci Xi Robotic Surgery, Anda dapat mengunjungi Siloam Hospitals Kebon Jeruk sebagai rumah sakit pertama di Siloam Hospitals Group yang menyediakan teknologi bedah robotik dengan Da Vinci Xi.
Manfaatkan aplikasi MySiloam untuk mengakses berbagai fitur kesehatan yang memudahkan Anda, mulai dari melihat jadwal dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, hingga memantau hasil pemeriksaan. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Sumber
StatPearls Publishing. Incisional Hernia. Diakses pada 2024 | Johns Hopkins Medicine. Incisional Hernia. Diakses pada 2024 | Healthline. Everything You Need to Know About Incisional Hernias. Diakses pada 2024 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Makassar
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Denpasar
Tersedia :
Tersedia hari ini
Skrining Sistem Pencernaan Basic
Skrining Lite
6 Service/Item
Rp1.250.000
TERPOPULER
Skrining Sistem Pencernaan Lengkap
Skrining Lite
13 Service/Item
Rp2.000.000
TERPOPULER
CT Whole ABD Non-CNTRS / CT Scan Perut
CT Scan
Rp2.495.000
TERPOPULER
CT Lower ABD Non-CNTRS / CT Scan Perut Bawah
CT Scan
Rp2.079.000
TERPOPULER
Complete Abdomen USG / USG Perut
USG
Rp676.000






