Atresia Duodenum, Kelainan Usus yang Perlu Cepat Ditangani!
Kesehatan Tubuh

Atresia Duodenum, Kelainan Usus yang Perlu Cepat Ditangani!

19 Mei 2025 6 menit waktu baca
 atresia duodenum

 

Atresia duodenum merupakan salah satu kelainan bawaan yang jarang terjadi, namun dapat menyebabkan dampak serius yang signifikan terhadap kesehatan bayi baru lahir jika tidak segera ditangani setelah kelahiran. 

 

Penyakit ini ditandai dengan adanya penyumbatan atau obstruksi pada duodenum bayi sehingga mencegah makanan dan cairan melewati sistem pencernaan. Simak lebih lanjut untuk mengetahui penyebab, gejala, hingga pengobatan atresia duodenum melalui ulasan di bawah ini.

 

Apa itu Atresia Duodenum?

 

Atresia duodenum adalah kondisi langka yang muncul sejak lahir. Kondisi ini merupakan malformasi duodenum, yaitu kondisi di mana duodenum tidak berkembang dengan baik. Duodenum atau usus dua belas jari adalah bagian awal dari usus halus yang pertama kali menerima makanan langsung dari lambung. 

 

Pada atresia duodenum, usus dua belas jari bayi tersumbat karena duodenum yang tidak berkembang dengan baik sehingga mencegah masuknya susu dan cairan pencernaan dari lambung bayi ke usus halusnya untuk melanjutkan proses pencernaan.

 

Atresia duodenum mungkin dapat didiagnosis melalui beberapa tanda yang terjadi selama kehamilan, seperti banyaknya cairan ketuban di sekitar janin yang tidak normal di dalam kandungan. Dalam keadaan normal, janin menelan cairan ketuban. Namun bila terjadi atresia duodenum, janin akan kesulitan menelan, sehingga mengakibatkan penumpukan cairan ketuban ekstra.

 

Sedangkan pada bayi, atresia duodenum dapat menyebabkan muntah hebat pada 24–38 jam pertama setelah bayi lahir. Bayi dengan atresia duodenum mungkin juga memiliki masalah lainnya saat lahir, seperti penyakit jantung bawaan atau Down syndrome.

 

Jenis-Jenis Atresia Duodenum

 

Atresia duodenum terbagi menjadi tiga jenis utama, berikut masing-masing penjelasannya:

 

  • Atresia tipe 1: Tipe ini ditandai dengan selaput tipis mukosa yang menyumbat duodenum, tetapi lapisan ototnya utuh. Kondisi ini disebut juga dengan diafragma duodenum.

  • Atresia tipe 2: Tipe ini ditandai dengan ujung-ujung duodenum yang terpisah, tetapi dihubungkan oleh sebuah jaringan fibrosa pendek yang berbentuk seperti tali. Kondisi ini disebut juga atresia duodenum komplit.

  • Atresia tipe 3: Tipe ini ditandai dengan ujung-ujung duodenum yang terpisah, namun tidak ada jaringan yang berada di antara keduanya.

 

Penyebab Atresia Duodenum

 

Pada minggu kelima hingga keenam perkembangan janin, struktur duodenum biasanya terbentuk menyerupai tali yang padat. Selanjutnya, sel-sel di bagian tengah struktur tersebut mengalami proses apoptosis, yaitu kematian sel yang terprogram, sehingga terbentuk tabung berongga (lumen) duodenum. Namun, apabila proses apoptosis ini tidak terjadi, rekanalisasi lumen duodenum pun gagal, yang akhirnya menyebabkan atresia duodenum.

Jika proses rekanalisasi hanya terjadi sebagian, maka dapat terjadi stenosis duodenum, yaitu penyempitan lumen yang mengakibatkan penyumbatan sebagian (incomplete). Kondisi ini lebih sering ditemukan pada bayi dengan kelainan genetik tertentu, seperti Down syndrome. Hingga saat ini, belum ada bukti yang mengaitkan paparan lingkungan dengan terjadinya atresia atau stenosis duodenum.

 

Gejala Atresia Duodenum

 

Gejala atresia duodenum bisa terlihat saat sebelum atau setelah bayi dilahirkan. Berikut masing-masing penjelasannya:

 

A. Gejala Prenatal (Sebelum Lahir)

 

Jika janin yang dikandung mengalami atresia duodenum, ibu mungkin akan mengalami polihidramnion, yaitu kelebihan air ketuban yang terakumulasi di sekitar janin secara abnormal. Hal ini dikarenakan janin kesulitan menelan air ketuban sehingga terjadi penumpukan cairan ketuban ekstra. Lebih lanjut, polihidramnion dapat menimbulkan risiko komplikasi yang lebih tinggi selama kehamilan, seperti kelahiran prematur.

 

Selain polihidramnion, pada pemeriksaan USG kehamilan, dapat ditemukan adanya tanda klasik dari atresia duodenum berupa gelembung ganda pada janin. Satu gelembung merupakan gambaran lambung janin yang berisi cairan dan gelembung lainnya adalah duodenum yang berisi cairan. Hal ini terjadi ketika ada cairan di lambung dan sebagian duodenum, tetapi tidak ada cairan di bagian bawah saluran usus.

 

B. Gejala setelah Bayi Lahir

 

Atresia duodenum pada bayi baru lahir dapat menimbulkan beberapa gejala. Gejala tersebut, di antaranya:

 

  • Pembengkakan pada perut bagian atas, dan mungkin disertai dengan tidak terdengar adanya suara pergerakan usus saat dilakukan pemeriksaan fisik.

  • Muntah dalam jumlah banyak, bisa berupa muntah proyektil atau muntah menyembur. Pada beberapa kasus, muntah dapat disertai cairan empedu berwarna kehijauan.

  • Muntah terus berlanjut meskipun susu formula atau ASI tidak diberikan selama berjam-jam.

  • Tidak buang air besar setelah  tinja mekonium pertama keluar. Tinja mekonium adalah tinja pertama yang dikeluarkan bayi baru lahir, berwarna hijau tua atau hitam kehijauan dengan tekstur kental dan lengket. 

  • Bayi juga dapat mengalami berat badan lahir rendah dan jaundice (kulit dan bagian putih mata bayi berwarna kekuningan).

 

Diagnosis Atresia Duodenum

 

Sebelum bayi lahir, dokter dapat mendeteksi atresia duodenum melalui beberapa pemeriksaan berikut ini:

 

  • USG janin: Pemeriksaan ini dapat memeriksa saluran pencernaan janin dan dapat menunjukkan adanya dua gelembung (gelembung ganda) dan polihidramnion yang berpotensi menandakan atresia duodenum.

  • Magnetic resonance imaging (MRI) janin: Pemeriksaan ini dapat menunjukkan beberapa temuan yang mirip dengan USG, namun bisa lebih membantu dalam menentukan tingkat atresia jika tidak terlihat jelas pada pemeriksaan USG. 

 

Jika dokter mencurigai atau mendiagnosis atresia duodenum selama perkembangan janin dalam kandungan, maka penting untuk mencari kelainan kromosom, seperti yang terkait dengan Down syndrome. Kelainan pada kromosom dapat dideteksi melalui pemeriksaan amniocentesis or chorionic villus sampling.

 

Namun, perlu diketahui bahwa meskipun dokter telah mencurigai adanya atresia duodenum sebelum kelahiran melalui pemeriksaan kehamilan, diagnosis atresia duodenum tetap tidak dapat ditegakkan sepenuhnya sampai bayi lahir. Setelah bayi dilahirkan, dokter akan mengonfirmasi diagnosis melalui beberapa pemeriksaan penunjang, di antaranya:

 

  • Rontgen abdomen: Pemeriksaan ini dapat mencari udara atau cairan di lambung dan duodenum bayi. Jika bayi mengalami atresia duodenum, maka dokter biasanya akan melihat lambung dan duodenum yang membesar (melebar) tanpa udara di bagian usus bayi yang disebut juga gelembung ganda.

  • Tes menelan barium: Pemeriksaan ini menggunakan zat kontras dan fluoroskopi untuk memeriksa saluran pencernaan bagian atas. Bayi biasanya menerima cairan kontras melalui selang nasogastrik. Pemeriksaan ini berguna untuk menunjukkan bagian duodenum yang mengalami penyumbatan atau obstruksi dan untuk mencari penyebab lainnya dari keluhan bayi jika diagnosis atresia duodenum tidak jelas.

 

Pengobatan Atresia Duodenum

 

Atresia duodenum dapat ditangani melalui prosedur operasi. Sebelum operasi, dokter akan melakukan evaluasi terhadap kondisi kesehatan bayi secara menyeluruh. Biasanya, bayi yang terlahir dengan atresia duodenum perlu menjalani operasi dalam waktu 2–3 hari setelah lahir. Namun, beberapa di antaranya mungkin memerlukan perawatan untuk kondisi lainnya terlebih dahulu sebelum dilakukan operasi untuk atresia duodenum.

 

Sebelum operasi, bayi dengan kondisi ini tidak diperbolehkan untuk menyusu. Sebagai gantinya, dokter akan memberikan nutrisi melalui infus. Dokter juga dapat memasukkan selang ke dalam perut bayi melalui hidung atau mulut untuk mengeluarkan udara dan cairan yang menumpuk akibat penyumbatan.

 

Perlu dipahami bahwa penyebab dan gejala terkait atresia duodenum di atas tidak bisa dijadikan sebagai acuan utama yang mewakili kondisi tersebut. Bukan tidak mungkin, beberapa gejala atau tanda yang disebutkan di atas juga dapat terjadi pada kondisi medis lainnya. Kemudian, informasi dalam artikel ini hanya bertujuan sebagai edukasi dan tidak dapat menggantikan diagnosis atau saran perawatan dari dokter. 

 

Bila mendapati si kecil mengalami gejala atau tanda yang mungkin mengindikasikan atresia duodenum, seperti pembengkakan di bagian perut atau muntah terus menerus dalam jumlah banyak, segera konsultasikan kondisi tersebut dengan Dokter Spesialis Pediatri (Anak) di Siloam Hospitals terdekat.

 

Setiap rumah sakit mungkin memiliki tahapan pemeriksaan dan penanganan yang berbeda-beda, tergantung dari fasilitas kesehatan yang tersedia. Namun, tenaga medis profesional akan mempertimbangkan kondisi kesehatan pasien terlebih dahulu guna menentukan langkah pemeriksaan dan penanganan yang tepat.


Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk menemukan Siloam Hospitals terdekat. Melalui aplikasi ini, Anda juga dapat membuat janji temu dengan dokter terkait serta memeriksa riwayat kesehatan secara virtual. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

Sumber

Cleveland Clinic. Duodenal Atresia. Diakses pada 2024 | StatPearls Publishing. Duodenal Atresia and Stenosis. Diakses pada 2024 | Very Well Health. An Overview of Duodenal Atresia. Diakses pada 2024 |

Dokter Kami
dr-liem-eremius-arifin-spa

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Liem Eremius Arifin, SpA

Pediatrik (Anak)

Spesialis Ilmu Kesehatan Anak


Siloam Sriwijaya Palembang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ifo-faujiah-sihite-mked-ped-spa

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ifo Faujiah Sihite, M.Ked (Ped), SpA

Pediatrik (Anak)

Spesialis Ilmu Kesehatan Anak


Siloam Hospitals Jambi

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-anggun-kusumasari-spa-msc

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Anggun Kusumasari, SpA, MSc, AIFO-K

Pediatrik (Anak)

Spesialis Ilmu Kesehatan Anak


Siloam Hospitals Balikpapan

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail