Basic Life Support untuk Situasi Darurat, Apa Saja?
Kesehatan Tubuh

Basic Life Support untuk Situasi Darurat, Apa Saja?

28 Agustus 2025 6 menit waktu baca
basic life support

 

Basic life support (BLS) atau bantuan hidup dasar (BHD) adalah serangkaian tindakan pertolongan pertama yang bertujuan untuk mempertahankan fungsi pernapasan dan sirkulasi darah pada individu yang mengalami kegawatdaruratan medis, seperti henti jantung. Langkah-langkah BLS bersifat sederhana namun sangat krusial untuk menyelamatkan nyawa. Mari simak ulasan selengkapnya mengenai basic life support dalam artikel berikut ini.

 

Apa Itu Basic Life Support (BLS)?

 

Basic life support (BLS) adalah langkah penanganan awal terhadap penyakit atau cedera yang biasanya dilakukan oleh orang awam sebelum intervensi medis bisa dilakukan. BLS dapat membantu menyelamatkan seseorang yang sedang dalam kegawatdaruratan medis hingga mendapatkan perawatan lebih lanjut dari tenaga medis profesional.

 

Sebagai informasi, salah satu gangguan kardiovaskular yang paling sering menjadi penyebab kematian adalah henti jantung, yaitu kondisi ketika fungsi jantung berhenti secara mendadak. Memberikan basic life support adalah salah satu upaya untuk menyelamatkan pasien henti jantung mendadak.

 

Dilansir dari Basic Life Support (BLS) Knowledge Among General Population; a Multinational Study in Nine Arab Countries (2023), peluang pasien untuk bertahan hidup sangat bergantung pada tiga hal utama, yaitu deteksi dini gejala, akses ke layanan medis darurat, dan pemberian BLS sedini mungkin oleh orang di sekitarnya.

 

Jenis Basic Life Support yang Perlu Dikuasai

 

Terdapat beberapa jenis kemampuan basic life support yang perlu dikuasai oleh semua kalangan, terutama seseorang yang berdampingan dengan individu yang berisiko tinggi mengalami henti napas atau henti jantung mendadak. Berikut masing-masing penjelasannya.

 

1. Cardiopulmonary Resuscitation (CPR)

 

Cardiopulmonary resuscitation (CPR) atau resusitasi jantung paru (RJP) adalah teknik penyelamatan nyawa yang dilakukan ketika seseorang mengalami henti jantung dan henti napas. Hal ini bertujuan untuk menjaga aliran darah dan oksigen tetap mengalir ke seluruh tubuh hingga bantuan medis datang.

 

CPR dapat dilakukan pada pasien yang mengalami henti jantung. Tindakan ini dapat meningkatkan kemungkinan pasien selamat 2–3 kali lipat. Urutan standar dalam CPR dikenal dengan singkatan DRSABCD (danger, response, send for help, airway, breathing, CPR, dan defibrillator).

 

Terdapat dua jenis CPR yang biasanya digunakan, berikut masing-masing penjelasannya:

 

  • Hands-only CPR (CPR hanya dengan tangan): Teknik ini melibatkan tekanan dada tanpa napas buatan. Cocok bagi orang yang belum terlatih atau merasa ragu melakukan metode CPR tradisional.

  • Traditional CPR dengan napas buatan: Teknik ini dilakukan dengan 30 kali kompresi dada yang diikuti dengan 2 napas buatan untuk menjaga suplai oksigen ke tubuh. Berikut langkah-langkah melakukan CPR dengan napas buatan:

    • Lakukan 30 kompresi dada.

    • Buka jalan napas dengan cara menengadahkan kepala dan mengangkat dagu.

    • Beri 2 napas buatan menggunakan masker CPR atau langsung dari mulut ke mulut jika tidak tersedia alat.

    • Ulangi 30 kompresi dan 2 napas buatan hingga korban bernapas kembali atau bantuan medis tiba.

 

Untuk melakukan kompresi dada yang efektif atau berkualitas (high quality CPR), perhatikan langkah-langkah berikut ini:

 

  1. Lakukan 100–120 kompresi per menit.

  2. Kedalaman kompresi dada adalah 5–6 cm. Pada bayi dan anak, kedalaman minimal adalah sepertiga diameter dinding anteroposterior dada, yaitu 4 cm pada bayi dan sekitar 5 cm pada anak.

  3. Rasio pemberian kompresi dada dan pemberian bantuan napas adalah 30:2. Hindari pemberian napas bantuan yang berlebihan.

  4. Minimal interupsi saat melakukan RJP.

  5. Berikan kesempatan untuk dada mengembang kembali secara sempurna setelah setiap kompresi.

 

2. Pemakaian Automated External Defibrillator (AED)

 

AED adalah jenis defibrillator fleksibel yang bisa dibawa ke mana saja untuk membantu menangani henti jantung mendadak secara tak terduga dengan mengembalikan irama jantung. AED juga biasanya tersedia di beberapa tempat umum, seperti pusat perbelanjaan, stasiun, dan bandara. Tidak hanya tenaga medis, AED juga bisa digunakan oleh petugas kebakaran, polisi, pramugari, bahkan orang awam yang telah menjalani pelatihan.

 

Adapun langkah-langkah penggunaan automated external defibrillator (AED) untuk pasien henti jantung mendadak adalah sebagai berikut:

 

  1. Aktifkan AED dan ikuti instruksi suara yang tersedia.

  2. Tempelkan elektroda AED di dada pasien sesuai dengan petunjuk yang diberikan.

  3. Hentikan sementara tindakan CPR agar AED dapat menganalisis irama jantung.

  4. Pastikan tidak ada kontak fisik dengan tubuh pasien selama proses analisis guna menghindari kesalahan deteksi.

  5. Jika irama jantung terdeteksi sebagai shockable, hentikan CPR, pastikan seluruh orang menjauh dari pasien, lalu tekan tombol kejut listrik (shock).

  6. Setelah kejutan diberikan, lanjutkan CPR selama kurang lebih dua menit.

  7. Jika irama jantung dinyatakan nonshockable, segera lanjutkan CPR tanpa memberikan kejutan listrik.

  8. Setelah dua menit, periksa kembali denyut nadi dan pernapasan pasien.

  9. Biarkan AED melakukan analisis ulang terhadap irama jantung, lalu ikuti instruksi yang diberikan.

  10. Ulangi seluruh proses sesuai panduan AED hingga tenaga medis profesional tiba dan mengambil alih penanganan.

 

3. Penanganan Tersedak

 

Tersedak (choking) adalah kondisi darurat medis ketika terdapat benda asing yang tersangkut di tenggorokan sehingga menyumbat pernapasan. Kondisi ini menyebabkan oksigen tidak bisa masuk ke paru-paru dan otak. Jika tidak segera ditangani, tersedak dapat berakibat fatal. Aturan pertolongan pertama pada pasien tersedak dikenal sebagai “5 rule 5”. Berikut uraian selengkapnya:

 

  • 5 pukulan punggung (back blows):

    • Memiringkan tubuh penderita ke depan.

    • Topang dada dengan satu tangan.

    • Gunakan bagian bawah telapak tangan untuk memberikan 5 pukulan tegas di antara tulang belikat.

    • Bila gagal, lakukan tindakan lanjutan, yaitu chest thrust pada bayi dan abdominal thrust pada anak berusia di atas 1 tahun.

  • 5 dorongan perut (abdominal thrust):

    • Tindakan ini dilakukan hanya untuk anak yang berumur di atas 1 tahun.

    • Penolong berdiri di belakang pasien lalu melingkarkan tangannya di sekitar pinggang pasien.

    • Letakkan satu tangan menggenggam di atas pusar, di bawah tulang rusuk.

    • Pegang tangan tersebut dengan tangan lainnya dan dorong ke atas secara cepat sebanyak 5 kali.

  • 5 dorongan dada (chest thrust):

    • Posisikan kepala bayi di bawah dan posisi telentang. Tindakan ini akan lebih aman bila penolong meletakkan punggung bayi di lengan yang bebas serta menopang ubun-ubun dengan tangan.

    • Topang peletakkan bayi pada lengan dengan menggunakan bantuan paha.

    • Lakukan dorongan dada di bagian bawah tulang dada (sternum). 

    • Tindakan ini mirip dengan kompresi dada pada BLS, namun lebih lambat dan lebih menghentak.

    • Lakukan sebanyak sebanyak 5 kali. 

    • Bila benda asing belum keluar, tindakan diulang kembali dari awal.

 

Siklus 5 rule 5 dapat diulangi dan segera hentikan ketika:

 

  • Benda penyumbat keluar.

  • Pasien tidak sadarkan diri. Segera berikan kompresi sebanyak 30 kali (tidak diperlukan untuk memeriksa nadi) yang kemudian dilanjutkan dengan pemberian 2 napas bantuan. Usahakan untuk memeriksa posisi benda asing setiap kali mulut penderita terbuka saat dilakukan kompresi. Bila memungkinkan untuk dikeluarkan, sebaiknya dikeluarkan.

  • Bantuan medis tiba.

 

Demikian penjelasan mengenai basic life support yang penting untuk dipahami. Meski tampak sederhana, mengenali langkah-langkah dasar, seperti memastikan respons korban, melakukan kompresi dada, dan memberikan bantuan napas, dapat membantu meningkatkan peluang hidup pasien dengan kegawatdaruratan medis.

 

Apabila membutuhkan bantuan medis sesegera mungkin untuk kerabat yang mengalami kegawatdaruratan medis, jangan tunda untuk melakukan pemeriksaan ke dokter. Anda dapat langsung datang ke IGD Siloam Hospitals terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan menyeluruh dan penanganan medis yang tepat.

 

Namun, tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang Anda jalani terkait kondisi ini mungkin berbeda di satu fasilitas kesehatan dengan yang lain. Tenaga medis akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat sesuai dengan kondisi medis setiap pasien. Oleh karena itu, dalam memilih rumah sakit jantung terbaik, penting untuk mempertimbangkan referensi layanan kesehatan unggulan sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan.

 

Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk menemukan Siloam Hospitals terdekat. Melalui aplikasi ini, Anda juga dapat membuat janji temu dengan dokter terkait serta memeriksa riwayat kesehatan secara virtual. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

Sumber

Resuscitation Journal. European Resuscitation Council Guidelines 2021: Basic Life Support. Diakses pada 2025 | Qonita Imma Irfani. Bantuan Hidup Dasar. Diakses pada 2025 | Archives of Academic Emergency Medicine. Basic Life Support (BLS) Knowledge Among General Population; a Multinational Study in Nine Arab Countries. Diakses pada 2025 |

Dokter Kami
dr-kadek-satrya-kurnia-suratna-spjp

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Kadek Satrya Kurnia Suratna, SpJP

Kardiologi (Jantung)

Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ronald-a-ulaan

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Rinaldi Agustinus Ulaan, SpJP

Kardiologi (Jantung)

Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah


Rumah Sakit Umum Siloam Lippo Village

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-magma-purnawan-putra-spjp

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Magma Purnawan Putra, SpJP (K), FIHA, FESC

Kardiologi (Jantung)

Subspesialis Kardiologi Intervensi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail