Cardiac Resynchronization Therapy, Ini Tujuan & Cara Kerjanya
Kesehatan Tubuh

Cardiac Resynchronization Therapy, Ini Tujuan & Cara Kerjanya

17 Maret 2026 5 menit waktu baca
cardiac resynchronization therapy

Gangguan irama dan fungsi jantung sering kali tidak hanya membuat penderitanya mudah lelah, tetapi juga dapat menurunkan kualitas hidup secara keseluruhan. Pada beberapa kasus gagal jantung, bilik jantung kanan dan kiri tidak lagi berkontraksi secara selaras (disinkron) sehingga kemampuan jantung memompa darah menjadi kurang optimal. Di sinilah cardiac resynchronization therapy (CRT) berperan. Mari simak penjelasan lebih lanjut mengenai CRT dalam artikel di bawah ini.

 

Apa Itu Cardiac Resynchronization Therapy?

 

Gagal jantung menjadi salah satu penyakit kardiovaskular dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi, termasuk di Indonesia. Bahkan, pasien gagal jantung di Indonesia cenderung berusia lebih muda dibandingkan dengan negara Eropa dan Amerika, dengan gejala yang cenderung lebih berat. 

 

Pada sebagian pasien gagal jantung dengan fraksi ejeksi (ejection fraction) yang menurun, dapat terjadi gangguan pada sistem hantaran listrik jantung sehingga kontraksi bilik kanan dan kiri tidak terjadi secara bersamaan (cardiac dyssynchrony). Kondisi ini bisa membuat pompa jantung menjadi tidak efisien sehingga aliran darah ke seluruh tubuh tidak optimal. Pada kondisi ini, risiko komplikasi dan kematian bisa meningkat.

 

Cardiac resynchronization therapy (CRT) hadir sebagai salah satu pilihan terapi untuk menangani masalah tersebut. CRT merupakan perangkat implan yang memberikan stimulasi listrik terkoordinasi pada kedua bilik untuk menyelaraskan kembali kontraksi jantung. Terapi ini menjadi salah satu pendekatan yang secara khusus ditujukan untuk menangani gagal jantung dengan disinkroni, tidak hanya sekadar gangguan irama.

 

Efektivitas CRT dalam penanganan gagal jantung telah didukung oleh sebuah penelitian dalam Health Science Reports (2024) yang menyebutkan bahwa CRT adalah terapi yang efektif dalam memperbaiki gejala dan luaran klinis pasien gagal jantung. Kendati begitu, terapi ini tetap memiliki keterbatasan, seperti pasien yang tidak menunjukkan perbaikan signifikan setelah dipasang alat CRT.

 

Untuk meningkatkan efektivitasnya, CRT dapat dikombinasikan dengan perangkat tambahan, seperti defibrillator yang dikenal juga sebagai CRT-D (cardiac resynchronization therapy with defibrillator). Kombinasi terapi ini dapat membantu menurunkan risiko kematian pada pasien gagal jantung tertentu dengan risiko aritmia yang tinggi.

 

Tujuan Cardiac Resynchronization Therapy

 

Cardiac resynchronization therapy umumnya diberikan pada pasien gagal jantung dengan ventricular ejection fraction (EF) yang rendah, artinya jantung tidak mampu memompa darah secara optimal setiap kali berkontraksi. Akibatnya, kemampuan pompa jantungnya menurun dan aliran darah ke seluruh tubuh menjadi tidak maksimal. Tujuan utama CRT meliputi:

 

  • Meningkatkan fungsi pompa ventrikel kiri.

  • Mengembalikan sinkronisasi kontraksi kedua bilik jantung.

  • Memperbaiki kondisi klinis pasien.

  • Mengurangi risiko komplikasi gagal jantung dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

 

Indikasi dan Kontraindikasi Cardiac Resynchronization Therapy

 

Cardiac resynchronization therapy (CRT) umumnya direkomendasikan pada pasien gagal jantung dengan kemampuan pompa jantung yang sangat menurun, misalnya ketika fraksi ejeksi jantung berada di bawah 35%. Terapi ini terutama bermanfaat pada pasien yang mengalami gangguan pada sistem kelistrikan jantung sehingga kontraksi bilik kanan dan kiri tidak terjadi secara bersamaan.

 

Gangguan tersebut sering terlihat pada pemeriksaan rekam jantung (EKG), misalnya berupa pola left bundle branch block (LBBB) yang menyebabkan sinyal listrik jantung terlambat mencapai salah satu bilik jantung.

 

Pada beberapa kondisi lain, CRT juga dapat dipertimbangkan meskipun gangguan kelistrikan jantung tidak terlalu berat, terutama jika pasien masih mengalami gejala gagal jantung meskipun sudah menjalani pengobatan secara optimal.

Pada pasien dengan pola EKG selain LBBB atau yang mengalami atrial fibrilasi, CRT dapat dipertimbangkan dalam kondisi tertentu, misalnya jika fungsi pompa jantung sangat menurun dan pasien diperkirakan membutuhkan stimulasi ventrikel dalam sebagian besar waktunya.

Sementara itu, CRT biasanya tidak disarankan bagi pasien dengan beberapa kondisi medis, seperti:

  • Demensia berat.

  • Kanker stadium lanjut yang memerlukan perawatan paliatif.

  • Gagal jantung akut yang belum stabil.

  • Infeksi aktif atau sepsis.

  • Gangguan pembekuan darah yang belum terkontrol.

  • Memiliki harapan hidup yang sangat terbatas (misalnya kurang dari 1 tahun).

 

Keputusan pemasangan CRT tetap harus dipertimbangkan secara individual oleh dokter berdasarkan kondisi klinis pasien secara menyeluruh.

 

Prosedur Cardiac Resynchronization Therapy

 

Prosedur cardiac resynchronization therapy (CRT) dilakukan dengan memasang perangkat kecil yang berfungsi mengatur kembali irama kontraksi jantung. Perangkat ini bekerja dengan mengirimkan sinyal listrik terkoordinasi ke kedua bilik jantung agar keduanya dapat berkontraksi secara lebih selaras.

 

Tindakan ini biasanya dilakukan melalui prosedur minimal invasif. Dokter akan memasukkan beberapa kabel kecil (lead) melalui pembuluh darah menuju jantung, kemudian menghubungkannya dengan perangkat CRT yang ditempatkan di bawah kulit pada area dada.

 

Setelah perangkat terpasang, alat tersebut akan membantu mengatur waktu kontraksi bilik jantung sehingga kerja pompa jantung menjadi lebih efisien. Dengan kontraksi yang lebih terkoordinasi, aliran darah ke seluruh tubuh dapat meningkat dan gejala gagal jantung dapat berkurang.

 

Risiko Efek Samping dan Komplikasi Cardiac Resynchronization Therapy

 

Secara umum, CRT adalah terapi yang relatif aman dan telah terbukti efektif untuk pasien gagal jantung. Kendati demikian, seperti prosedur medis lain, terapi ini tetap memiliki risiko dan efek samping yang perlu dipertimbangkan. Secara umum, beberapa risiko efek samping CRT adalah sebagai berikut:

 

  • Komplikasi terkait lead, seperti dislokasi atau kerusakan lead.

  • Infeksi pada area implan atau perangkat.

  • Gangguan pada fungsi katup jantung. Kabel CRT dapat mengenai atau mengganggu pergerakan daun katup jantung sehingga memicu penurunan fungsi katup jantung.

  • Hematoma atau memar pada lokasi implan yang bisa meningkatkan risiko infeksi.

  • Pneumotoraks, yaitu penumpukan udara di antara ruang paru-paru dan dinding dada yang menyebabkan paru-paru kolaps.

 

Itulah penjelasan selengkapnya mengenai cardiac resynchronization therapy. Perlu diketahui bahwa pemeriksaan ini biasanya direkomendasikan oleh dokter ketika pasien memiliki indikasi yang sesuai. Oleh karena itu, dokter akan mempertimbangkan kondisi kesehatan pasien secara menyeluruh melalui serangkaian pemeriksaan sebelum menentukan pengobatan yang sesuai.

 

Apabila ingin memperoleh informasi prosedur cardiac resynchronization therapy lebih lanjut, konsultasikan dengan Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Subspesialis Kardiologi Intervensi di Siloam Hospitals terdekat untuk mendapatkan penilaian serta rekomendasi terapi yang sesuai dengan kesehatan Anda.

 

Penanganan penyakit jantung perlu dilakukan secara cepat dan tepat karena keterlambatan terapi dapat meningkatkan risiko kerusakan organ yang lebih luas. Oleh karena itu, penting bagi paien untuk memilih rumah sakit jantung terbaik dengan mempertimbangkan referensi, rekam jejak, serta layanan kesehatan unggulan sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan.

 

Siloam International Hospitals menghadirkan layanan Chest Pain Ready Hospitals, yaitu sistem penanganan kegawatan jantung yang didukung oleh dokter spesialis jantung siaga, fasilitas cath lab, dan perawat bersertifikasi yang siap memberikan penanganan cepat selama 24 jam. Hubungi layanan emergensi 1-500-911 untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang #CepatTepat.

Sumber

Cleveland Clinic. Cardiac Resynchronization Therapy. Diakses pada 2026 | Mayo Clinic. Pacemaker. Diakses pada 2026 | American Heart Association. Cardiac Resynchronization Therapy (CRT). Diakses pada 2026 | StatPearls. Cardiac Resynchronization Therapy. Diakses pada 2026 | Radiopaedia. Cardiac resynchronisation therapy. Diakses pada 2026 | Journal of Medicine. Recent Advances in Cardiac Resynchronization Therapy: Current Treatment and Future Direction. Diakses pada 2026 | European Society of Cardiology (ESC). 2021 ESC Guidelines on cardiac pacing and cardiac resynchronization therapy. Diakses pada 2026 | Health Science Reports. The Role of Cardiac Resynchronization Therapy in Heart Failure: A Narrative Review. Diakses pada 2026 | PNPK 2021. Tata Laksana Gagal Jantung. Diakses 2026 |

Dokter Kami
dr-kadek-satrya-kurnia-suratna-spjp

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Kadek Satrya Kurnia Suratna, SpJP

Kardiologi (Jantung)

Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ronald-a-ulaan

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Rinaldi Agustinus Ulaan, SpJP

Kardiologi (Jantung)

Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah


Rumah Sakit Umum Siloam Lippo Village

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-magma-purnawan-putra-spjp

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Magma Purnawan Putra, SpJP (K), FIHA, FESC

Kardiologi (Jantung)

Subspesialis Kardiologi Intervensi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail