Kesehatan Tubuh
Nyeri Pinggul hingga Sulit Berdiri? Ini Gejala Diabetic Amyotrophy yang Sering Tak Disadari

Table of Contents
Diabetic amyotrophy adalah salah satu bentuk komplikasi diabetes yang jarang terjadi. Penyakit ini dapat memengaruhi area tubuh yang lebih luas dan menyebabkan hilangnya massa otot akibat kerusakan saraf motorik yang mengaktifkan otot-otot tersebut. Mari simak selengkapnya melalui ulasan di bawah ini.
Apa itu Diabetic Amyotrophy?
Diabetic amyotrophy adalah salah satu bentuk komplikasi diabetes yang menyebabkan hilangnya massa otot akibat kerusakan saraf motorik yang mengaktifkan otot-otot tersebut. Kondisi ini utamanya memengaruhi paha, pinggul, bokong, dan kaki. Diabetic amyotrophy disebut juga sebagai lumbosacral radiculoplexus neuropathy (DLRN).
DLRN cukup jarang terjadi, tidak seperti diabetic neuropathy yang terjadi pada hampir sebagian pengidap diabetes. Selain itu, DLRN juga bisa dialami oleh penderita diabetes yang kadar gulanya terkontrol, berbeda dengan komplikasi diabetes lainnya yang cenderung terjadi saat kadar gula darah tinggi dalam jangka panjang dan tidak terkontrol.
Penyebab Diabetic Amyotrophy
Hingga kini, belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan diabetic amyotrophy. Komplikasi diabetes umumnya terjadi ketika kadar gula darah tinggi tidak terkontrol. Namun, pada kasus diabetic amyotrophy, penderita diabetes yang terkontrol tetap bisa mengalami kondisi ini.
Diabetic amyotrophy lebih sering terjadi pada penderita diabetes tipe 2, terutama pada pria yang rata-rata berusia 65 tahun. Adapun waktu rata-rata yang dibutuhkan penderita untuk mengalami diabetic amyotrophy adalah sekitar 4 tahun setelah terdiagnosis diabetes.
Gejala Diabetic Amyotrophy
Tidak hanya sekedar mati rasa dan nyeri di area tubuh yang terkena, seperti gejala khas diabetic neuropathy, diabetic amyotrophy biasanya disertai dengan gejala lain, seperti:
-
Nyeri hebat pada pinggul, paha, atau bokong.
-
Kelemahan otot.
-
Kesulitan untuk berdiri.
-
Sering merasa kebas atau kesemutan.
-
Nyeri perut.
-
Sembelit atau diare.
Penderita diabetic amyotrophy juga dapat mengalami foot drop, suatu kondisi ketika bagian depan kaki sulit diangkat sehingga kaki terseret saat berjalan. Hal ini disebabkan karena kerusakan pada saraf yang mengatur fungsi gerak otot-otot kaki. Keluhan ini bisa terjadi pada salah satu atau kedua kaki. Gejalanya mungkin cukup parah sehingga beberapa orang perlu menggunakan kursi roda.
Diagnosis Diabetic Amyotrophy
Untuk menegakkan diagnosis kondisi ini, dokter akan melakukan anamnesis (wawancara medis) mengenai gejala dan riwayat medis pasien. Kemudian, dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik secara menyeluruh, terutama pemeriksaan otot dan saraf yang terdampak. Dokter dapat melakukan pemeriksaan otot untuk mengetahui adanya kelemahan dan pengecilan dengan perhatian khusus pada refleks kaki.
Jika diduga mengalami DLRN, pasien biasanya diminta untuk menjalani pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan tersebut meliputi:
-
Tes darah untuk memeriksa darah lengkap, kadar gula darah, kadar HbA1C, kadar folat, vitamin B12, tiamin, dan tembaga untuk menyingkirkan penyebab neuropati lain yang bisa menyerupai diabetic amyotrophy.
-
Studi konduksi saraf untuk memeriksa fungsi saraf tungkai bawah.
-
Tes pencitraan MRI pada punggung bawah untuk menyingkirkan kompresi saraf di sekitar tulang belakang.
-
Pemeriksaan pungsi lumbal untuk menyingkirkan kecurigaan penyakit infeksi saraf atau penyakit autoimun yang gejalanya dapat menyerupai diabetic amyotrophy.
Pengobatan Diabetic Amyotrophy
Meskipun diabetic amyotrophy biasanya tidak memerlukan pengobatan, beberapa intervensi dapat membantu meringankan gejala-gejala yang menyakitkan dan tidak nyaman. Intervensi ini mencakup:
-
Mengontrol gula darah dan memantau manajemen diabetes secara ketat.
-
Mengonsumsi obat, seperti gabapentin dan pregabalin, untuk meredakan nyeri saraf yang berlangsung lama. Obat pereda nyeri lain, seperti ibuprofen dan asetaminofen, juga bisa menjadi pilihan.
-
Bergantian mengompres dengan es atau bantal pemanas untuk meredakan nyeri sementara.
Dokter mungkin juga merekomendasikan pasien menjalani prosedur medis, seperti transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS) dan spinal cord stimulation, jika diperlukan. Berikut masing-masing penjelasannya.
-
TENS: Teknologi neurostimulasi yang menggunakan arus listrik ringan untuk meredakan rasa nyeri. Terapi ini bertujuan untuk mengganggu sinyal nyeri ke otak sehingga rasa nyeri dapat berkurang.
-
Spinal cord stimulation: Teknologi yang terdiri dari perangkat implan yang mengirimkan sinyal listrik langsung ke sumsum tulang belakang ini dapat membantu mengurangi nyeri yang dirasakan oleh pasien secara terus-menerus.
Selain itu, pasien mungkin juga membutuhkan terapi fisik untuk memperkuat otot-otot yang terdampak, atau terapi okupasi untuk membantu mempermudah aktivitas sehari-hari dan mengurangi rasa nyeri. Pemulihan kondisi ini dapat memakan waktu bertahun-tahun, tetapi dalam banyak kasus, mungkin tidak dapat pulih sepenuhnya.
Perlu dipahami bahwa penyebab serta gejala yang disebutkan di atas tidak spesifik mewakili kondisi diabetic amyotrophy. Dengan kata lain, tanda dan gejala yang disebutkan mungkin terjadi pada kondisi medis lainnya sehingga penting untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Siloam Hospitals terdekat agar mendapatkan diagnosis yang akurat.
Penting pula untuk dicatat bahwa proses pemeriksaan dan pengobatan di setiap rumah sakit bisa berbeda-beda, tergantung dari fasilitas kesehatan yang disediakan. Namun, tenaga medis tentu akan memastikan bahwa tahapan pemeriksaan dan pengobatan sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.
Manfaatkan aplikasi MySiloam untuk mengakses berbagai fitur kesehatan yang memudahkan Anda, mulai dari melihat jadwal dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, hingga memantau hasil pemeriksaan. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Sumber
Healthline. What to Know About Diabetic Amyotrophy. Diakses pada 2024 | WebMD. Diabetic Amyotrophy. Diakses pada 2024 | StatPearls [Internet]. Diabetic Amyotrophy. Diakses pada 2024 | Patient Info. Diabetic amyotrophy. Diakses pada 2024 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Dorothea Fortuna Meita Caturwulan, M.Kes, Sp.N, F.MIN, CIPS, FIPP
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini






