Kesehatan Tubuh
Mengenal TENS, Terapi untuk Membantu Menangani Nyeri

Table of Contents
Transcutaneous electrical nerve stimulation atau TENS adalah terapi yang memanfaatkan arus listrik untuk menangani nyeri akibat kondisi medis tertentu. Terapi ini menggunakan perangkat kecil yang disebut TENS unit untuk menghantarkan arus listrik bertegangan rendah ke area saraf guna memblokir atau mengubah persepsi pasien mengenai rasa sakit. Simak informasi selengkapnya mengenai terapi TENS melalui artikel di bawah ini.
Apa itu TENS (Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation)?
Seperti yang telah dijelaskan, TENS adalah terapi yang menggunakan arus listrik bertegangan rendah untuk membantu meredakan nyeri. Prosedur terapi ini melibatkan mesin TENS yang dioperasikan dengan baterai dan dihubungkan ke bantalan lengket yang disebut elektroda.
Saat melakukan terapi TENS, elektroda akan ditempelkan pada permukaan kulit pasien, lalu mesin TENS dinyalakan untuk menghantarkan impuls listrik ke saraf di area tubuh tersebut yang akan Anda rasakan sebagai sensasi seperti kesemutan.
Indikasi dan Kontraindikasi TENS
Manfaat utama TENS adalah untuk membantu mengurangi rasa nyeri yang disebabkan oleh kondisi medis tertentu. Impuls listrik dari mesin TENS dapat mengurangi sinyal rasa sakit menuju tulang belakang dan otak, sehingga bisa membantu meredakan nyeri serta membuat otot lebih rileks. Terapi ini juga dapat merangsang produksi hormon endorfin yang bisa membantu meredakan nyeri secara alami di tubuh.
Secara umum, TENS dapat digunakan untuk meredakan rasa nyeri dan kejang otot akibat beberapa kondisi berikut ini:
-
Artritis (radang sendi).
-
Nyeri haid.
-
Nyeri panggul akibat endometriosis.
-
Nyeri lutut.
-
Back pain.
-
Neuropati akibat diabetes (kerusakan saraf tepi akibat penyakit diabetes).
-
Peripheral artery disease (PAD), yaitu penyakit yang disebabkan oleh tersumbatnya pembuluh darah arteri perifer yang berfungsi membawa darah dari jantung menuju tungkai atau kaki.
-
Luka setelah operasi.
Namun, perlu diingat bahwa TENS adalah terapi yang dapat digunakan untuk membantu meredakan gejala nyeri, bukan menyembuhkan penyakit yang mendasari munculnya rasa nyeri tersebut. Sementara itu, beberapa kondisi yang membuat seseorang tidak disarankan untuk melakukan terapi TENS adalah:
-
Sedang hamil.
-
Menggunakan perangkat implan, seperti alat pacu jantung (pacemaker).
-
Kanker.
-
Epilepsi.
-
Deep vein thrombosis (DVT).
-
Gangguan perdarahan.
-
Penyakit jantung.
Di sisi lain, seseorang juga perlu menghindari menempelkan elektroda TENS di beberapa area berikut ini:
-
Jaringan yang sedang terinfeksi.
-
Kulit yang rusak, seperti pecah-pecah atau terluka.
-
Bagian tubuh yang terdapat varises.
-
Mata atau daerah dahi sebelah mata.
-
Mulut.
-
Leher (depan maupun samping).
-
Kepala.
-
Area kelamin.
-
Dada, terutama jika dipasang bersamaan dengan bagian punggung.
-
Bagian tubuh yang mengalami mati rasa.
-
Area tubuh yang baru saja mendapatkan terapi radiasi.
Prosedur Terapi TENS
Sebelum menjalani terapi TENS, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter atau fisioterapis terlebih dahulu agar terapi tersebut dapat dilakukan dengan tepat serta sesuai kondisi tubuh. Adapun langkah-langkah dari prosedur terapi TENS adalah sebagai berikut:
-
Menempelkan elektroda TENS pada permukaan kulit di area tubuh yang terasa nyeri.
-
Menyalakan mesin TENS untuk menghantarkan aliran listrik bertegangan rendah. Pasien mungkin akan merasakan sensasi kesemutan selama menggunakan TENS.
-
Mengatur intensitas, frekuensi, serta durasi aliran listrik melalui mesin TENS.
-
Hindari penggunaan TENS saat sedang mengemudi, mengoperasikan mesin tertentu, berendam, dan mandi.
Efek Samping TENS
Transcutaneous electrical nerve stimulation atau TENS adalah metode terapi yang tergolong aman dilakukan. Namun, terdapat beberapa efek samping yang bisa terjadi setelah menjalani terapi ini. Beberapa risiko efek samping tersebut, di antaranya sebagai berikut:
-
Reaksi alergi dan iritasi pada area kulit yang ditempelkan elektroda.
-
Beberapa orang mungkin akan merasa tidak nyaman dengan sensasi kesemutan yang terjadi selama terapi TENS berlangsung.
-
Luka bakar pada area kulit yang ditempelkan elektroda (jarang terjadi).
Pada intinya, TENS adalah metode terapi yang dapat membantu meredakan nyeri akibat kondisi tertentu. Sebelum menjalani TENS, dokter akan terlebih dahulu mendiskusikan dan mempertimbangkan dengan seluruh tim medis terkait kondisi pasien, untuk memastikan pasien telah memenuhi persyaratan dalam menjalani terapi ini.
Oleh karena itu, jika memiliki gejala atau keluhan kondisi medis yang berkaitan dengan artritis, cedera otot, nyeri lutut, nyeri panggul, dan lain sebagainya, Anda dapat langsung mengunjungi Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik di Siloam Hospitals terdekat untuk mendapatkan evaluasi, diagnosis, serta saran perawatan yang tepat sesuai kondisi Anda.
Sebagai informasi, setiap tahapan pemeriksaan dan metode pengobatan yang Anda jalani terkait rasa nyeri dapat berbeda bergantung pada fasilitas kesehatan masing-masing rumah sakit. Tenaga medis profesional akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi medis setiap pasien.
Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk melihat jadwal praktik dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, serta memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Dorothea Fortuna Meita Caturwulan, M.Kes, Sp.N, F.MIN, CIPS, FIPP
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini







