Deep Vein Thrombosis (DVT) - Penyebab, Gejala, & Pengobatan
Kesehatan Tubuh

Deep Vein Thrombosis (DVT) - Penyebab, Gejala, & Pengobatan

02 Mei 2025 6 menit waktu baca
deep vein thrombosis adalah (DVT)

Trombosis vena dalam atau deep vein thrombosis adalah kondisi medis ketika terdapat gumpalan darah (trombus) yang menyumbat satu atau lebih pembuluh darah vena dalam. Deep vein thrombosis biasanya terbentuk pada pembuluh darah vena di area paha atau betis. 

 

Lantas, apa penyebab deep vein thrombosis dan bagaimana cara mengobatinya? Mari temukan jawaban selengkapnya melalui artikel berikut ini.

 

Apa itu Deep Vein Thrombosis (Trombosis Vena Dalam)?

 

Trombosis vena dalam atau deep vein thrombosis (DVT) adalah gangguan pada pembuluh darah balik (vena) dalam yang disebabkan oleh pembentukan gumpalan atau bekuan darah. Pada dasarnya, gumpalan darah ini berasal dari perubahan bentuk darah dari yang berwujud cair menjadi gel yang agak padat melalui proses koagulasi.

 

Penyebab Deep Vein Thrombosis

 

Mekanisme terjadinya deep vein thrombosis adalah munculnya trombus, yaitu sebuah gumpalan yang merupakan gabungan dari trombosit (keping darah), protein fibrin, dan kalsium yang mengeras di dalam pembuluh darah. Penyumbatan ini juga bisa disertai dengan melemahnya klep atau katup yang berada di pembuluh darah vena, sehingga menyebabkan darah tidak bisa mengalir dengan baik.

 

Pada dasarnya, terdapat tiga faktor (triad Virchow) yang bisa menghambat aliran dan pembekuan darah, di antaranya sebagai berikut.

 

  • Kerusakan pada dinding pembuluh darah.

  • Gangguan aliran darah pada pembuluh darah.

  • Hiperkoagulabilitas, yaitu kondisi ketika darah cenderung lebih mudah menggumpal.

 

Di sisi lain, sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami deep vein thrombosis adalah sebagai berikut.

 

  • Usia di atas 60 tahun dapat meningkatkan risiko terjadinya DVT.

  • Pernah mengalami DVT atau emboli paru.

  • Memiliki keluarga dengan riwayat kondisi serupa.

  • Kebiasaan merokok.

  • Kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan.

  • Penyalahgunaan NAPZA jenis suntik.

  • Hamil. Kehamilan dapat meningkatkan tekanan pada pembuluh darah di panggul dan kaki. Risiko penggumpalan darah akibat kehamilan bisa berlanjut hingga enam minggu setelah bayi lahir. 

  • Sedang menjalani kemoterapi.

  • Menderita kelainan genetik yang membuat darah lebih mudah menggumpal, seperti sindrom nefrotik, factor V Leiden, atau sindrom antifosfolipid.

  • Sedang dalam perjalanan panjang menggunakan mobil, pesawat, atau kereta sehingga membuat kaki jarang bergerak.

  • Sedang menjalani tirah baring (bed rest) atau menderita kondisi medis tertentu yang menyebabkan kaki tidak bisa bergerak dalam waktu lama. Ketika kaki tidak digerakkan dalam jangka waktu yang lama, otot pada kaki tidak akan berkontraksi. Pasalnya, kontraksi otot dapat membantu aliran darah pada pembuluh darah vena.

  • Menderita obesitas, di mana berat badan yang berlebih dapat meningkatkan tekanan pada pembuluh darah di panggul dan kaki.

  • Radang usus, seperti penyakit Crohn.

  • Gagal jantung. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko DVT dan emboli paru karena jantung dan paru-paru tidak berfungsi dengan baik. 

  • Menderita kanker. Beberapa jenis kanker dapat meningkatkan kadar zat dalam darah yang menyebabkan darah membeku. 

  • Pernah menjalani operasi pada pembuluh darah vena, seperti operasi perut, operasi jantung, atau operasi penggantian lutut dan panggul.

  • Memiliki riwayat cedera pada tubuh bagian bawah, seperti patah tulang panggul, tulang paha, atau tulang kaki.

  • Menderita penyakit yang memengaruhi fungsi pembuluh darah, seperti vaskulitis (peradangan pada pembuluh darah) atau varises.

  • Meningkatnya kadar hormon estrogen di dalam tubuh, seperti pada ibu hamil, ibu yang baru melahirkan, sedang mengonsumsi pil KB, atau sedang menjalani terapi hormon estrogen.

 

Gejala Deep Vein Thrombosis

 

Dalam kasus yang tergolong ringan, deep vein thrombosis bisa tidak menimbulkan gejala tertentu sehingga kerap tidak disadari oleh penderitanya. Namun, pada kasus yang lebih parah, DVT dapat menyebabkan aliran darah dari bagian tubuh tertentu sulit untuk bergerak kembali ke jantung.

 

Beberapa gejala yang muncul pada penderita DVT adalah sebagai berikut:

 

  • Bengkak pada salah satu kaki yang mengalami DVT, terutama di bagian betis.

  • Permukaan kulit kaki yang terdampak akan membentuk cekungan saat disentuh atau ditekan dan membutuhkan waktu lama untuk hilang (pitting edema).

  • Perubahan warna kaki menjadi kemerahan, keunguan, atau lebih gelap.

  • Kaki yang terdampak DVT terasa hangat saat disentuh.

  • Kaki terasa kram, kebas, atau mati rasa.

  • Nyeri yang semakin memburuk saat menekuk kaki.

 

Komplikasi Deep Vein Thrombosis

 

Deep vein thrombosis adalah kondisi yang perlu diwaspadai dan harus segera ditangani dengan tepat. Sebab, jika dibiarkan begitu saja, trombosis vena dalam dapat berisiko menimbulkan sejumlah komplikasi serius, berikut uraian selengkapnya.

 

  • Emboli paru, yaitu penyumbatan pada pembuluh darah arteri di paru-paru karena adanya gumpalan darah yang lepas dari pembuluh darah pada tungkai kaki dan mengalir ke pembuluh darah paru-paru.

  • Sindrom pascatrombosis (post-thrombotic syndrome atau PTS), sekitar sepertiga hingga setengah penderita DVT dapat mengalami komplikasi PTS akibat kerusakan pada katup vena yang disebabkan oleh gumpalan darah. Penderita PTS memiliki gejala seperti bengkak, nyeri, perubahan warna, dan ulkus atau luka pada kulit di bagian tubuh yang terdampak.

 

Diagnosis Deep Vein Thrombosis

 

Dalam menegakkan diagnosis deep vein thrombosis, dokter terlebih dahulu akan melakukan wawancara medis (anamnesis) terkait dengan keluhan dan riwayat kesehatan pasien. Lalu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk memeriksa gejala DVT pada bagian tubuh yang terdampak.

 

Selanjutnya, sejumlah pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan dokter untuk membantu mengonfirmasi diagnosis deep vein thrombosis adalah:.

 

  • D-dimer blood test. D-dimer merupakan sejenis protein yang terbentuk ketika bekuan atau gumpalan darah terpecah atau terurai. 

  • USG doppler.

  • Venography. Tes yang menggunakan sinar-X untuk menggambarkan aliran darah pada vena.

  • MRI.

 

Pengobatan Deep Vein Thrombosis

 

Pada dasarnya, pengobatan DVT dilakukan sesuai dengan ukuran gumpalan darah dan potensi sisa dari pembuluh darah venanya. Tujuan utama pengobatan DVT adalah mencegah gumpalan agar tidak semakin besar, mencegah agar gumpalan darah tersebut tidak lepas dan berpindah ke paru-paru, serta mengurangi kemungkinan DVT lainnya. 

 

Salah satu  pengobatan deep vein thrombosis adalah stocking kompresi, yaitu kaus kaki tipis yang dibuat khusus untuk memberikan tekanan pada pembuluh darah vena kaki dan mendorong darah agar bisa mengalir dengan baik, sehingga dapat mengurangi risiko terbentuknya gumpalan darah baru.

 

Namun, perlu diketahui bahwa pengobatan ini tidak bisa mengobati atau menghilangkan sumbatan yang sudah ada. Di samping itu, sejumlah metode yang dapat dilakukan dokter untuk mengobati deep vein thrombosis adalah:

 

  • Pemberian obat antikoagulan untuk mencegah membesarnya gumpalan darah serta mengurangi risiko terbentuknya gumpalan darah baru.

  • Pemasangan filter pada pembuluh darah vena yang besar (vena cava) untuk mencegah masuknya gumpalan darah ke dalam paru-paru.

  • Trombektomi, yaitu prosedur pembedahan untuk mengangkat gumpalan darah pada pembuluh darah yang tersumbat.

 

Pencegahan Deep Vein Thrombosis

 

Jika disebabkan oleh faktor genetik, DVT cenderung sulit untuk dicegah. Namun, apabila dipicu oleh kondisi medis atau penyakit lain, DVT dapat dicegah dengan menerapkan sejumlah cara, seperti tidak merokok dan menjaga berat badan ideal. Berikut adalah uraian selengkapnya.

 

  • Jika menjalani tirah baring (bed rest) dalam jangka waktu lama, disarankan untuk menggerakkan kaki atau berjalan sesekali guna menjaga aliran darah agar tetap lancar.

  • Rutin melakukan peregangan (stretching) kaki, berdiri, atau berjalan (jika memungkinkan) saat sedang dalam perjalanan panjang atau melakukan pekerjaan yang mengharuskan duduk dalam waktu lama.

  • Mengonsumsi obat antikoagulan sesuai dengan anjuran dokter.

  • Tidak merokok.

  • Menjaga berat badan ideal dengan rutin berolahraga serta mengonsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang untuk mencegah obesitas yang menjadi faktor risiko DVT.

 

Dapat disimpulkan, deep vein thrombosis adalah kondisi yang perlu segera ditangani dengan tepat untuk menghindari risiko komplikasi serius yang bisa memengaruhi kualitas hidup penderitanya. Oleh karenanya, segera konsultasikan kondisi Anda dengan dokter melalui layanan Telekonsultasi apabila Anda mengalami gejala-gejala yang mengarah pada DVT.

 

Melalui layanan Telekonsultasi, Anda dapat berkonsultasi dan memperoleh saran perawatan dari dokter berpengalaman secara virtual. Pasien pun bisa mendapatkan resep obat-obatan dari dokter tanpa harus keluar rumah.

 

Agar lebih praktis, manfaatkan juga aplikasi MySiloam yang menyediakan fitur-fitur untuk memudahkan Anda dalam mengakses layanan kesehatan, mulai dari buat janji temu dengan dokter Siloam Hospitals terdekat, check in mandiri, hingga antre secara online. Mari percayakan kesehatan Anda #BersamaSiloam!

 

telechat

Dokter Kami
dr-kadek-satrya-kurnia-suratna-spjp

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Kadek Satrya Kurnia Suratna, SpJP

Kardiologi (Jantung)

Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ronald-a-ulaan

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Rinaldi Agustinus Ulaan, SpJP

Kardiologi (Jantung)

Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah


Rumah Sakit Umum Siloam Lippo Village

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-magma-purnawan-putra-spjp

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Magma Purnawan Putra, SpJP (K), FIHA, FESC

Kardiologi (Jantung)

Subspesialis Kardiologi Intervensi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail