Gangguan Kognitif pada Anak: Penyebab dan Cara Mengendalikannya
Kesehatan Mental

Gangguan Kognitif pada Anak: Penyebab dan Cara Mengendalikannya

02 Oktober 2025 4 menit waktu baca
mengenal gangguan kognitif pada anak

Gangguan kognitif adalah kondisi yang ditandai dengan keterbatasan kemampuan seseorang untuk berpikir, mengingat, dan menafsirkan informasi dari panca indra. Kondisi ini dapat dialami oleh siapa saja, tidak terkecuali anak-anak.

 

Pada anak-anak, gangguan kognitif tentu dapat memengaruhi proses tumbuh kembang sehingga berisiko menurunkan kualitas hidupnya saat beranjak dewasa. Agar dapat mengenali gangguan kognitif pada anak secara lengkap, mari pahami lebih lanjut melalui ulasan di bawah ini.

 

Apa itu Gangguan Kognitif?

 

Seperti yang telah disebutkan di atas, gangguan kognitif adalah kondisi yang dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam berpikir, mengingat, dan menafsirkan informasi dari panca indra. Kondisi ini biasanya mulai berkembang di masa kanak-kanak yang membuat anak kesulitan untuk belajar, sehingga prestasi akademiknya terganggu.

 

Menurut buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders 4th Edition (DSM-4), gangguan kognitif adalah kondisi yang dapat dikategorikan ke dalam 4 kelompok, yaitu:

 

  • Ringan (mild).

  • Sedang (moderate).

  • Berat (severe).

  • Sangat berat (profound).

 

Sementara itu, American Association on Mental Retardation (AAMR) mengklasifikasikan gangguan kognitif ke dalam beberapa jenis, di antaranya sebagai berikut:

 

  • Tidak tetap (intermittent).

  • Terbatas (limited).

  • Ekstensif (extensive).

  • Pervasif (pervasive).

 

Penyebab Gangguan Kognitif pada Anak

 

Pada dasarnya, gangguan kognitif adalah kondisi yang dapat terjadi karena adanya kelainan atau gangguan pada struktur otak. Selain itu, sejumlah faktor lainnya yang dapat memicu anak mengalami gangguan kognitif adalah sebagai berikut.

 

  • Faktor prenatal (kondisi yang terjadi sebelum kelahiran), seperti kelainan genetik, penyakit infeksi yang diturunkan, paparan zat toksik selama berada di dalam kandungan, dan gangguan perkembangan sistem saraf pusat. Adapun beberapa kondisi yang termasuk faktor prenatal dan dapat menyebabkan anak mengalami gangguan kognitif adalah down syndrome dan fragile X syndrome.

  • Faktor perinatal (kondisi yang terjadi selama proses persalinan), seperti kelahiran prematur, gangguan suplai oksigen ke otak saat proses persalinan, atau malnutrisi pada janin.

  • Faktor postnatal (kondisi yang terjadi setelah bayi dilahirkan), seperti trauma, cedera otak, efek samping pengobatan, tumor otak pada bayi baru lahir seperti misalnya hemangioma, kanker otak pada bayi baru lahir seperti misalnya neuroblastoma, atau pengaruh lingkungan.

 

Ciri-Ciri Gangguan Kognitif pada Anak

 

Secara umum, terdapat sejumlah ciri-ciri yang dapat ditemukan pada anak yang mengalami gangguan kognitif, di antaranya sebagai berikut.

 

  • Keterlambatan perkembangan kognitif dan motorik yang tidak sesuai dengan anak seusianya, termasuk kemampuan persepsi, berjalan, mengingat, berpikir, membaca, dan sebagainya.

  • Kesulitan untuk memusatkan fokus dan konsentrasi saat sedang belajar.

  • Memiliki emosi yang cenderung meledak-ledak (tantrum).

  • Bertindak agresif, menentang, atau bahkan sampai merugikan orang lain.

  • Gangguan tidur.

  • Tidak bisa duduk dengan tenang.

  • Mudah lupa.

  • Tidak dapat mengikuti dan melakukan hal-hal yang diinstruksikan oleh orang tua ataupun guru di sekolah dengan baik.

  • Kesulitan untuk membuat jadwal dan merencanakan suatu hal.

 

Diagnosis Gangguan Kognitif pada Anak

 

Jika si kecil telah berusia 3 tahun namun masih mengalami keterlambatan perkembangan kognitif dan motorik, sebaiknya segera periksakan kondisi anak ke dokter untuk memperoleh diagnosis dan penanganan yang tepat.

 

Dokter dapat melakukan wawancara medis (anamnesis) dengan pasien atau keluarga pasien, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang lainnya, seperti tes laboratorium, tes genetik, dan tes pencitraan MRI atau CT scan kepala, untuk mengetahui penyebab yang mendasari gangguan kognitif pada anak.

 

Selanjutnya, dokter juga dapat melakukan tes intelektual untuk mengetahui tingkat keparahan gangguan kognitif pada anak. Adapun beberapa jenis tes intelektual yang dapat dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis gangguan kognitif pada anak adalah:

 

  • Tes IQ (intelligence quotient test): Tes ini tidak hanya untuk menilai kemampuan intelektual anak, namun juga dapat digunakan untuk mengevaluasi fungsi kognitif anak yang meliputi daya ingat, kemampuan berbahasa, pemecahan masalah, koordinasi visual motorik, dan penalaran atau logika.

  • Bayley scales of infant development: Untuk mengevaluasi perkembangan kognitif pada bayi usia 0–2 tahun.

  • Stanford-binet intelligence scale atau the revised wechsler preschool and primary scale of intelligence (WPPSI-R): Untuk mengevaluasi perkembangan kognitif pada anak usia 3–5 tahun (preschooler).

  • Wechsler intelligence scale for children (WISC-IV): Untuk mengevaluasi perkembangan kognitif pada anak usia sekolah.

 

Cara Mengendalikan Gangguan Kognitif pada Anak

 

Jika masih tergolong ringan, gangguan kognitif pada anak dapat dikendalikan dengan melakukan perawatan mandiri di rumah. Misalnya, orang tua dapat memberikan dukungan dan melatih anak untuk mengembangkan kemampuan kognitifnya secara perlahan.

 

Namun, apabila disebabkan oleh kondisi yang serius, dokter dapat menyarankan anak dengan gangguan kognitif untuk menjalani sejumlah prosedur penanganan guna membantu mengendalikan gejala serta mencegah perburukan kondisi. Beberapa prosedur penanganan tersebut di antaranya sebagai berikut.

 

  • Menerapkan diet khusus, terutama jika gangguan kognitif juga disertai dengan kondisi medis lainnya, seperti fenilketonuria, malnutrisi, atau galaktosemia.

  • Pemberian obat-obatan, seperti penstabil suasana hati, obat penenang, antipsikotik, dan sebagainya.

  • Terapi, seperti terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy/CBT), terapi okupasi, terapi keluarga, terapi wicara, dan lain-lain.

 

Cara Mencegah Gangguan Kognitif pada Anak

 

Secara umum, gangguan kognitif adalah kondisi yang dapat dicegah dengan menghindari sejumlah faktor pemicunya. Misalnya, jika memiliki keluarga dengan riwayat gangguan kognitif atau penyakit genetik lainnya, disarankan untuk segera melakukan konseling dan pemeriksaan genetik sebelum menjalankan program hamil agar meminimalkan risiko menurunnya kondisi tersebut pada anak.

 

Selain itu, penting pula untuk menjaga kesehatan serta melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin guna meminimalkan risiko gangguan kognitif pada anak. Apabila si kecil mengalami kondisi yang berhubungan dengan gangguan kognitif, sebaiknya segera konsultasikan hal tersebut dengan dokter Siloam Hospitals terdekat untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat dari dokter berpengalaman.

 

Agar lebih praktis, gunakan fitur Cari Dokter atau aplikasi MySiloam yang memungkinkan Anda untuk mencari informasi jadwal praktik, membuat janji temu dengan dokter, hingga antre secara online.


Atau, manfaatkan juga layanan Telekonsultasi yang dapat memudahkan Anda untuk berkonsultasi dengan dokter pilihan dari mana saja dan kapan saja. Mari jaga selalu kesehatan Anda dan buah hati #BersamaSiloam!

 

telechat

message

ArticleDetail