Gangguan Siklotimik - Penyebab, Gejala, dan Penanganannya
Kesehatan Mental

Gangguan Siklotimik - Penyebab, Gejala, dan Penanganannya

14 Oktober 2025 4 menit waktu baca
mengenal gangguan siklotimik (gangguan siklotimia)

Cyclothymic disorder atau gangguan siklotimik adalah salah satu jenis gangguan mental yang ditandai dengan perubahan suasana hati secara drastis. Namun, perubahan suasana hati tersebut cenderung lebih ringan jika dibandingkan dengan gangguan bipolar.

 

Penderita gangguan suasana hati ini sering kali tidak menyadari atau tidak memeriksakan kondisinya karena menganggap gejala yang ditimbulkan masih tergolong ringan dan tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Meski menimbulkan gejala yang cenderung ringan, cyclothymic disorder yang tidak segera ditangani dengan tepat justru bisa berkembang menjadi gangguan bipolar tipe I atau tipe II.

 

Untuk mengenal apa itu gangguan siklotimik selengkapnya, mari simak ulasan di bawah ini hingga tuntas.

 

Apa itu Gangguan Siklotimik?

 

Cyclothymic disorder, gangguan siklotimik, atau gangguan siklotimia adalah versi ringan dari gangguan bipolar, di mana gangguan ini juga ditandai dengan perubahan suasana hati secara drastis. Namun, pada penderita gangguan siklotimia, gejala yang  ditunjukkan cenderung lebih ringan daripada gangguan bipolar tipe I dan tipe II. 

 

Gangguan siklotimia adalah jenis gangguan mental yang tergolong langka. Kendati demikian, kondisi ini bisa terjadi pada siapa saja, namun lebih sering dialami oleh remaja yang baru mau memasuki masa dewasa awal.

 

Penyebab Gangguan Siklotimik

 

Hingga saat ini, belum diketahui secara pasti apa penyebab gangguan siklotimik. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa gangguan suasana hati ini dapat terjadi akibat kombinasi dari faktor genetik, perubahan cara kerja sistem saraf (neurobiologi), serta pengaruh lingkungan, seperti trauma psikologis atau stres berkepanjangan.

 

Gejala Gangguan Siklotimik

 

Gejala utama gangguan siklotimia adalah perubahan suasana hati secara signifikan, yang dapat terjadi secara spontan, dalam waktu singkat, dan bahkan pada hari yang sama. Perubahan suasana hati ini dapat dibedakan menjadi dua fase, yaitu fase mania ringan (hipomania) dan fase depresi ringan. Berikut penjelasan lengkapnya.

 

1. Fase Hipomania

 

Fase hipomania adalah periode ketika penderita gangguan siklotimia merasa sangat bersemangat dan lebih aktif daripada biasanya. Namun, fase hipomania ini mempunyai gejala yang lebih ringan daripada fase mania pada penderita gangguan bipolar.

 

Adapun sejumlah gejala yang umum dialami oleh penderita gangguan siklotimia saat berada pada fase hipomania adalah sebagai berikut.

 

  • Bertindak secara impulsif atau melakukan sesuatu tanpa pertimbangan yang matang. Misalnya, belanja besar-besaran, melakukan hubungan seksual tanpa berhati-hati atau sembarangan, dan membuat keputusan dalam berbisnis secara impulsif. 

  • Merasa sangat optimis, bertenaga, dan bahagia.

  • Melakukan aktivitas fisik, seperti berolahraga secara berlebihan.

  • Memiliki rasa percaya diri yang tinggi.

  • Peningkatan hasrat seksual.

  • Cenderung lebih banyak berbicara dibandingkan biasanya.

  • Berbicara dengan cepat dan mempunyai pikiran yang berpacu dengan cepat.

  • Perhatian mudah teralihkan.

 

2. Fase Depresi Ringan

 

Umumnya, setelah fase hipomania mereda, penderita gangguan siklotimia akan mengalami fase depresi ringan yang ditandai dengan sejumlah gejala seperti berikut ini.

 

  • Merasa bersalah, tidak berharga, terisolasi dari lingkup sosial, dan putus asa.

  • Mudah tersinggung.

  • Merasa gelisah dan mudah menangis.

  • Kehilangan minat terhadap hal-hal yang sebelumnya disukainya.

  • Menurunnya kemampuan dalam berkonsentrasi.

  • Mudah lelah dan merasa kehilangan energi.

  • Memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri (self harm) atau bahkan melakukan percobaan bunuh diri.

  • Perubahan dalam pola makan (makan lebih banyak atau sedikit dari biasanya).

  • Kesulitan untuk tidur (insomnia) atau bangun tidur (hipersomnia).

 

Setiap fase dari gangguan siklotimik cenderung dapat bertahan selama beberapa hari, namun fase depresi biasanya bisa berlangsung dalam jangka waktu yang lebih lama, yaitu lebih dari 2 minggu. Perlu diketahui, seseorang dapat didiagnosis mengidap gangguan siklotimia apabila menunjukkan gejala-gejala di atas setidaknya selama 2 tahun pada orang dewasa atau 1 tahun pada anak-anak dan remaja.

 

Komplikasi Gangguan Siklotimik

 

Apabila tidak segera ditangani dengan tepat, gangguan siklotimia berisiko berkembang menjadi gangguan bipolar tipe I dan II yang dapat menimbulkan gejala lebih parah. Selain itu, sejumlah komplikasi yang dapat terjadi jika gangguan siklotimik tidak segera ditangani adalah:

 

  • Permasalahan emosional yang dapat memengaruhi seluruh aspek kehidupan.

  • Berisiko berkembang menjadi gangguan kecemasan menyeluruh.

  • Penyalahgunaan NAPZA dan kecanduan minuman beralkohol.

  • Melakukan pelecehan seksual.

  • Melakukan percobaan bunuh diri.

 

Penanganan Gangguan Siklotimik

 

Pada dasarnya, penanganan gangguan siklotimik bertujuan untuk mengendalikan gejala serta mencegah terjadinya komplikasi. Umumnya, psikiater dapat menangani pasien gangguan siklotimik dengan memberikan obat-obatan, seperti:

 

  • Obat penenang, seperti benzodiazepine.

  • Obat penstabil suasana hati, seperti asam valproate.

  • Obat antidepresan. Obat ini harus dikonsumsi bersamaan dengan obat penstabil suasana hati guna mengendalikan gejala fase depresi.

  • Obat antipsikotik, seperti risperidone, quetiapine, dan olanzapine.

 

Selain pemberian obat-obatan, pasien dengan gangguan siklotimik juga memerlukan terapi psikologis (psikoterapi), seperti terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy/CBT) guna membantu mengubah pola pikir dan perilaku yang tidak baik.

 

Apabila memiliki keluhan yang berhubungan dengan gejala gangguan siklotimia seperti ulasan di atas, jangan ragu untuk melakukan konseling psikolog atau psikiater melalui layanan Telekonsultasi di aplikasi MySiloam.

 

Melalui layanan ini, pasien dapat berkonsultasi dengan dokter secara virtual serta mendapatkan obat-obatan yang diresepkan oleh dokter tanpa perlu keluar rumah. Meski demikian, ada beberapa jenis obat, seperti antipsikotik dan antidepresan yang perlu diambil oleh pasien secara langsung (self pick up) untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan obat.

 

Selain itu, Anda juga dapat memanfaatkan aplikasi MySiloam yang menghadirkan fitur Patient Portal untuk memeriksa dan memantau hasil pemeriksaan, check in mandiri, hingga melakukan appointment dengan dokter sebelum mengunjungi Siloam Hospitals terdekat. Unduh MySiloam sekarang, jaga selalu kesehatan fisik dan mental Anda #BersamaSiloam!

 

telechat

message

ArticleDetail