Intoleransi Gluten - Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya
Kesehatan Tubuh

Intoleransi Gluten - Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

15 Mei 2025 4 menit waktu baca
intoleransi gluten

 

Gluten intolerance atau intoleransi gluten adalah kondisi ketika tubuh tidak mampu mencerna gluten dengan baik. Kondisi ini dapat memicu terjadinya berbagai gangguan pencernaan yang ditandai dengan mual, perut kembung, diare, dan sebagainya. Untuk mengetahui apa itu gluten intolerance selengkapnya, mari simak artikel berikut ini sampai tuntas.

Apa itu Intoleransi Gluten?

Intoleransi gluten adalah masalah kesehatan yang membuat tubuh tidak mampu mencerna gluten, yaitu protein yang terkandung di dalam biji-bijian dan serealia, seperti gandum. Selain itu, gluten juga dapat ditemukan dalam produk lain seperti obat-obatan, vitamin, dan suplemen. Jika mengonsumsi makanan yang mengandung gluten, penderita kondisi ini dapat mengalami berbagai gejala gangguan pencernaan, seperti sakit perut, mual, perut kembung, dan lain-lain.

 

Intoleransi gluten sering dihubungkan dengan penyakit celiac, karena dua kondisi tersebut sama-sama berkaitan dengan ketidakmampuan tubuh dalam mencerna gluten. Meski demikian, perlu diketahui bahwa gluten intolerance dan penyakit celiac adalah dua kondisi yang berbeda.

 

Penyakit celiac disebabkan oleh reaksi autoimun, yaitu kondisi ketika sistem imun tubuh yang secara keliru berusaha melawan gluten, seolah-olah senyawa tersebut merupakan zat yang berbahaya. Reaksi ini bisa menyebabkan peradangan dan kerusakan pada saluran pencernaan. Kondisi ini kerap dikaitkan dengan perubahan (mutasi) pada genetik tertentu.

 

Di sisi lain, gluten intolerance disebabkan oleh ketidakmampuan sistem pencernaan untuk mencerna protein gluten dengan baik. Hal ini tidak berkaitan dengan sistem imun tubuh. Karena itulah, gluten intolerance juga kerap disebut sebagai non-celiac gluten sensitivity (NCGS).

 

Gluten intolerance dan penyakit celiac dapat menyebabkan beberapa gejala yang sama, seperti nyeri perut dan kelelahan. Namun, penyakit celiac dapat menyebabkan kerusakan pada usus halus. Sedangkan gluten intolerance tidak menyebabkan kerusakan usus halus.

 

Selain itu, intoleransi gluten juga berbeda dengan alergi gandum atau biji-bijian (wheat allergy) yang termasuk dalam alergi makanan. Pada dasarnya, alergi terjadi karena sistem imun tubuh bereaksi secara berlebihan terhadap gluten yang terkandung di dalam makanan yang dikonsumsi. Hal ini bisa menimbulkan gejala berupa gatal-gatal pada kulit, muntah, dan sesak napas.

Penyebab Intoleransi Gluten

Pada dasarnya, intoleransi gluten terjadi ketika tubuh tidak dapat menyerap dan mencerna gluten dengan baik. Hal ini menyebabkan gluten tetap berada di usus dan mengalami proses fermentasi, sehingga dapat memicu terjadinya gangguan pencernaan. Sayangnya, sampai saat ini, masih belum diketahui secara pasti apa penyebab seseorang mengalami gluten intolerance.

Gejala Intoleransi Gluten

Gejala intoleransi gluten dapat muncul ketika penderitanya mengonsumsi makanan yang mengandung gluten, seperti roti, kue, sereal, pasta, dan sebagainya. Adapun beberapa gejala yang kerap dialami oleh penderita gluten intolerance adalah sebagai berikut:

 

Diagnosis Intoleransi Gluten

Dalam menegakkan diagnosis gluten intolerance, dokter akan terlebih dahulu melakukan wawancara medis (anamnesis) terkait dengan keluhan, jenis makanan yang baru dikonsumsi, serta riwayat kesehatan pasien dan keluarga secara keseluruhan. Lalu, untuk membantu menegakkan diagnosis gluten intolerance, dokter dapat melakukan langkah-langkah berikut ini:

 

  • Langkah 1: Mengarahkan pasien untuk mengonsumsi makanan yang mengandung gluten selama sekitar 6 minggu. Selama waktu tersebut, dokter akan melakukan tes darah dan tes kulit secara berkala untuk menyingkirkan kemungkinan alergi gandum atau penyakit celiac.

  • Langkah 2: Apabila dokter tidak menemukan indikasi alergi gandum atau penyakit celiac, dokter akan meminta pasien untuk menghindari konsumsi makanan yang mengandung gluten setidaknya selama 6 minggu. Pasien juga diarahkan untuk mencatat gejala-gejala yang dialami oleh pasien selama periode ini.

  • Langkah 3: Jika gejala cenderung membaik selama menjalani diet bebas gluten, pasien diarahkan untuk memasukkan kembali makanan yang mengandung gluten secara bertahap. Apabila gejalanya muncul kembali, kemungkinan besar pasien mengalami intoleransi gluten.

 

Diagnosis non-celiac gluten sensitivity merupakan diagnosis klinis dengan menggunakan eksklusi dari temuan normal pada pemeriksaan laboratorium dan endoskopi dan adanya perbaikan gejala dengan penghentian konsumsi produk yang mengandung gluten. 

Pengobatan Intoleransi Gluten

Secara umum, tidak ada metode khusus yang dapat menyembuhkan intoleransi gluten. Penanganan intoleransi gluten mengikuti pedoman penyakit celiac. Penderita kondisi ini disarankan untuk menjalani program diet bebas gluten guna membantu meredakan gejala. Namun, dalam kondisi tertentu, diet bebas gluten mungkin dapat memicu terjadinya hiperglikemia, diabetes tipe 2, dan malnutrisi.

 

Pasalnya, diet bebas gluten sering kali rendah serat. Produk bebas gluten yang diolah kadang justru mengandung lebih banyak gula agar bisa memberikan sensasi mirip seperti produk gluten di lidah. Karena itu, penting untuk merencanakan program diet bebas gluten bersama dengan dokter spesialis gizi klinik.

 

Dokter juga dapat menyarankan pasien untuk mengonsumsi makanan yang mengandung probiotik namun bebas dari gluten, seperti yogurt, keju, acar, dan lain-lain. Pasalnya, probiotik dapat membantu meningkatkan jumlah bakteri baik di usus dan meredakan gejala-gejala gangguan pencernaan yang kerap dialami oleh penderita intoleransi gluten, seperti perut kembung dan sembelit.

 

Perlu diingat, tanda dan gejala yang disebutkan di atas tidak dapat memastikan seseorang benar-benar menderita intoleransi. Pasalnya, gejala-gejala tersebut juga bisa terjadi pada kondisi medis lainnya, sehingga tidak dapat digunakan untuk menggantikan diagnosis maupun tindakan medis dari dokter.

 

Apabila Anda memiliki keluhan yang berhubungan dengan gangguan pencernaan, ada baiknya untuk segera mengunjungi Dokter Spesialis Penyakit Dalam berpengalaman di Siloam Hospitals terdekat guna memperoleh diagnosis dan penanganan medis yang tepat.

 

Sebagai informasi, tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang dijalani oleh pasien akan disesuaikan dengan fasilitas medis yang tersedia, sehingga mungkin saja berbeda di setiap rumah sakit. Namun, tenaga medis profesional akan merencanakan seluruh prosedur medis secara tepat dan sesuai dengan kondisi kesehatan pasien.

 

Lebih lanjut, jika direkomendasikan oleh dokter, Anda juga dapat memesan paket Skrining Sistem Pencernaan untuk deteksi dini berbagai masalah pencernaan. Praktis, pemesanan paket skrining tersebut dapat dilakukan secara online melalui aplikasi MySiloam.

Sumber

Cleveland Clinic. Gluten Intolerance. Diakses pada 2024 | Healthline. The Most Common Signs of Gluten Intolerance. Diakses pada 2024 | Beyond Celiac. Non-Celiac Gluten Sensitivity. Diakses pada 2024 | MedlinePlus. Gluten Sensitivity. Diakses pada 2024 | American Diabetes Association. Should People with Diabetes Follow a Gluten-Free Diet?. Diakses pada 2024 | National Center for Biotechnology Information (NCBI). Article on Breast Cancer Treatment. Diakses pada 2024 |

Dokter Kami
dr-albertus-daniel-sppd

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Albertus Daniel, SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ra-aditya-adhi-puruhita-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ra Aditya Adhi Puruhita, M.M.R., SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-juliyanti-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Juliyanti, SpPD, FINASIM

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Kelapa Dua

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail