Skizofrenia Residual - Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya
Kesehatan Mental

Skizofrenia Residual - Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

22 Agustus 2024 3 menit waktu baca
skizofrenia residual

Skizofrenia residual adalah suatu gangguan mental ketika seseorang pernah mengalami episode skizofrenia, namun saat ini sudah tidak ada lagi gejala positif psikosis, seperti delusi, halusinasi, maupun bicara atau tingkah laku yang kacau (disorganized), namun gejala negatifnya masih menetap. Sebagai informasi, skizofrenia adalah masalah kesehatan mental yang dapat memengaruhi cara berpikir, emosi, dan perilaku.

 

Mari pahami lebih lanjut mengenai apa itu skizofrenia residual dengan menyimak pembahasan di bawah ini sampai tuntas.

 

Apa itu Skizofrenia Residual?

 

Residual schizophrenia atau skizofrenia residual adalah kondisi ketika seseorang mengalami setidaknya satu episode skizofrenia, namun tidak lagi menunjukkan gejala positif yang signifikan, seperti halusinasi, delusi, atau perilaku yang tidak teratur. 

 

Alih-alih menunjukkan gejala positif psikosis, penderita residual schizophrenia cenderung mengalami gejala negatif, seperti menarik diri dari lingkungan sosial (withdrawal), apatis, afek datar (ekspresi emosi yang sangat terbatas atau tidak ada sama sekali), tidak memiliki motivasi untuk melakukan aktivitas, dan berbicara dengan lambat.

 

Perlu diketahui bahwa skizofrenia residual sudah tidak digunakan untuk diagnosis klinis sejak diterbitkannya buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi ke-5 (DSM-5) pada tahun 2013. Sebelumnya, dalam DSM-4, skizofrenia dapat dibedakan menjadi 5 subtipe, yaitu:

 

  • Paranoid schizophrenia: Kondisi ini membuat penderita mengalami setidaknya satu kali delusi atau halusinasi pendengaran, dengan gejala utama merasa paranoid, yaitu kecurigaan atau ketakutan berlebih pada sesuatu yang tidak nyata.

  • Disorganized schizophrenia: Ditandai dengan perilaku dan cara bicara yang kacau atau tidak teratur, serta menunjukkan ekspresi yang tidak pantas atau bahkan tidak berekspresi sama sekali.

  • Catatonic schizophrenia: Di samping gejala skizofrenia, penderita katatonik schizophrenia juga mengalami gejala katatonia, seperti tubuh kaku atau tidak bergerak sama sekali atau bahkan sebaliknya, menolak untuk berbicara atau mengikuti instruksi, berekspresi yang tidak normal, dan lain-lain.

  • Residual schizophrenia: Menunjukkan gejala skizofrenia yang tidak signifikan dibandingkan dengan subtipe lainnya.

  • Undifferentiated schizophrenia: Kondisi ini dapat menunjukkan beberapa gejala skizofrenia, namun tidak memenuhi kriteria dari subtipe lainnya.

 

Namun, dalam DSM-5, para ahli tidak lagi mengklasifikasikan skizofrenia menjadi 5 subtipe seperti di atas karena melihat skizofrenia sebagai suatu kondisi yang kompleks, sangat bervariasi gejalanya pada setiap orang, dan tidak bisa secara mudah untuk dikelompokkan menjadi subtipe tersebut. Saat ini skizofrenia memiliki terminologi ‘spektrum kelainan skizofrenia’.  

Penyebab Skizofrenia Residual

 

Belum diketahui secara pasti apa penyebab seseorang mengalami skizofrenia, termasuk skizofrenia residual. Kendati demikian, terdapat beberapa faktor yang diduga bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi ini, di antaranya sebagai berikut:

 

  • Faktor genetik. Seseorang lebih berisiko mengalami skizofrenia jika terdapat keluarga dengan riwayat kondisi serupa.

  • Pengaruh lingkungan, seperti trauma di masa lalu, mengalami gizi buruk, atau terpapar infeksi virus tertentu sebelum lahir.

  • Perbedaan struktur dan kadar senyawa kimia di dalam otak.

  • Penyalahgunaan obat-obatan terlarang.

 

Gejala Skizofrenia Residual

 

Skizofrenia residual biasanya menunjukkan gejala yang tidak terlalu parah. Kondisi ini cenderung tidak menimbulkan gejala positif, seperti halusinasi, delusi, serta perilaku yang tidak teratur. Sementara itu, beberapa gejala negatif yang mungkin dialami oleh penderita kondisi ini adalah:

 

  • Alogia (berbicara dengan lambat atau minim berbicara).

  • Anhedonia (sulit merasakan kesenangan).

  • Avolition (ketiadaan motivasi untuk menyelesaikan suatu pekerjaan).

  • Kurang mengekspresikan emosi.

  • Cenderung menarik diri dari lingkungan sosial.

 

Pengobatan Skizofrenia Residual

 

Hingga kini, belum ada metode khusus yang dapat dilakukan untuk mengobati skizofrenia. Namun, kondisi ini dapat ditangani dengan kombinasi terapi dan penggunaan obat-obatan untuk membantu mengelola gejala yang muncul. Adapun beberapa metode yang dapat dilakukan untuk membantu mengelola gejala skizofrenia adalah sebagai berikut:

 

  • Pemberian obat antipsikotik untuk membantu mengelola gejala psikosis.

  • Terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy atau CBT) untuk mengidentifikasi masalah, dan memperbaiki perilaku serta pola pikir pasien dalam menghadapi masalah tersebut.

  • Social skills training. Pasien dapat diarahkan untuk mengikuti kelas pelatihan keterampilan sosial (social skills training), seperti mengelola keuangan, hidup mandiri, menjaga hubungan sosial dengan orang lain, serta mengontrol emosi guna mengoptimalkan kualitas hidup secara keseluruhan.

  • Cognitive remediation. Dilakukan dengan menargetkan keterampilan kognitif pasien, seperti perhatian, memori, dan pemikiran fleksibel untuk meningkatkan kualitas hidup.

  • Dukungan dari keluarga.

 

Perlu diingat, gangguan kesehatan mental, termasuk skizofrenia residual, merupakan hal yang tidak perlu disembunyikan dan dibiarkan begitu saja. Sebaiknya, segera kunjungi Psikiatri dari Siloam Hospitals apabila Anda atau kerabat mengalami gejala yang mengarah pada kondisi tersebut. Dengan begitu, Anda bisa memperoleh diagnosis dan penanganan yang tepat.

 

Untuk memudahkan Anda, manfaatkan juga layanan Telekonsultasi yang tersedia pada aplikasi MySiloam guna mendapatkan saran perawatan dari dokter hingga resep obat-obatan tanpa harus keluar rumah. Namun, apabila diresepkan obat-obatan tertentu, seperti antipsikotik dan antidepresan, pasien diwajibkan untuk mengambilnya secara langsung (self pick up).

 

telechat

 

message

ArticleDetail