Kesehatan Mental
Apa itu Anhedonia? Ini Penyebab, Gejala, & Cara Mengatasinya

Table of Contents
Anhedonia adalah kondisi yang membuat hidup penderitanya terasa hampa, tidak menyenangkan, dan membosankan. Penderita kondisi ini cenderung kehilangan minat untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang sebelumnya disukai atau menghabiskan waktu bersama orang-orang yang sebelumnya membuat hidupnya bahagia.
Perlu diketahui, anhedonia adalah kondisi yang berbeda dengan rasa bosan biasa. Pada dasarnya, rasa bosan dapat mereda dengan sendirinya, terutama jika sudah melakukan hal-hal yang baru dan menyenangkan. Namun, anhedonia cenderung terjadi secara terus-menerus dan sulit membaik apabila tidak ditangani dengan tepat.
Mari kenali penyebab, gejala, hingga cara mengatasi anhedonia selengkapnya melalui artikel berikut ini.
Apa itu Anhedonia?
Anhedonia adalah kondisi yang membuat seseorang tidak dapat menikmati dan merasakan kesenangan dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang mengalami anhedonia kerap menganggap hidupnya cenderung membosankan, bahkan bisa sampai membuatnya merasa tertekan.
Secara umum, anhedonia dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu anhedonia sosial dan anhedonia fisik. Berikut penjelasannya.
-
Anhedonia sosial: Jenis anhedonia yang ditandai dengan ketidakmampuan seseorang dalam merasakan kesenangan atau menikmati momen saat berada di lingkungan sosial dan merasa kesulitan dalam menyesuaikan diri. Kondisi ini membuat penderitanya merasa kurang nyaman untuk bergaul dengan orang lain.
-
Anhedonia fisik: Kondisi yang membuat seseorang tidak dapat merasakan kesenangan terhadap sentuhan fisik, rasa makanan, atau suara musik yang sebelumnya dianggap menyenangkan. Misalnya, penderita anhedonia fisik cenderung merasa tidak puas saat melakukan hubungan intim, padahal sebelumnya ia tidak bermasalah dengan hal tersebut.
Penyebab Anhedonia
Belum diketahui secara pasti apa penyebab seseorang mengalami anhedonia. Namun, terdapat dugaan bahwa kondisi ini berhubungan dengan perubahan aktivitas sel-sel saraf di dalam otak serta gangguan produksi senyawa kimia di dalam otak, seperti hormon dopamin dan serotonin yang berfungsi untuk mengendalikan suasana hati.
Anhedonia juga kerap menjadi salah satu gejala dari berbagai gangguan kesehatan mental, seperti depresi, gangguan cemas, skizofrenia, gangguan kepribadian, dan post traumatic stress disorder (PTSD). Kendati demikian, anhedonia juga bisa dialami oleh seseorang yang tidak menderita gangguan kesehatan mental sebelumnya.
Selain itu, sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami anhedonia adalah sebagai berikut.
-
Pernah mengalami kejadian traumatis, seperti bullying atau pelecehan seksual.
-
Mengalami cedera otak traumatik.
-
Mengidap penyakit kronis tertentu, seperti diabetes, penyakit Parkinson, atau demensia.
-
Efek samping dari penggunaan obat-obatan.
-
Mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan.
Gejala Anhedonia
Adapun sejumlah gejala yang umum dialami oleh penderita anhedonia adalah:
-
Memiliki pandangan negatif dan kurang peka terhadap berbagai hal.
-
Mengeluhkan gejala fisik terus menerus, seperti sering sakit.
-
Merasa putus asa.
-
Menarik diri dari lingkungan sosial.
-
Penurunan kemampuan fungsi sosial dan emosional. Penderita anhedonia cenderung tidak bisa menunjukkan ekspresi, baik secara verbal maupun nonverbal.
-
Penurunan hasrat seksual.
-
Memiliki kecenderungan untuk menunjukkan emosi palsu, seperti berpura-pura bahagia saat sedang liburan bersama kerabat.
Komplikasi Anhedonia
Jika tidak segera ditangani dengan tepat, anhedonia dapat menimbulkan sejumlah komplikasi, di antaranya sebagai berikut.
-
Terisolasi dari dunia luar.
-
Kesulitan dalam mempertahankan suatu hubungan.
-
Gangguan suasana hati.
-
Memiliki keinginan untuk menyakiti diri sendiri (self harm) atau melakukan percobaan bunuh diri.
Diagnosis Anhedonia
Pertama-tama, dokter dapat melakukan wawancara medis (anamnesis) dengan pasien terlebih dahulu untuk mengetahui keluhan, riwayat kesehatan, serta mengevaluasi kondisi psikis pasien. Kemudian, dilanjutkan dengan melakukan pemeriksaan fisik untuk mempertegas dan menyingkirkan kemungkinan adanya masalah kesehatan fisik yang dapat menyebabkan gejala anhedonia.
Karena anhedonia dapat berkaitan dengan depresi, maka dokter juga dapat merekomendasikan tes darah untuk mengetahui kondisi yang dapat menyebabkan depresi dan memicu terjadinya anhedonia, seperti kekurangan vitamin D atau hipotiroidisme.
Cara Mengatasi Anhedonia
Tidak ada penanganan khusus untuk anhedonia. Penanganan anhedonia bertujuan untuk meredakan gejala serta mencegah terjadinya komplikasi yang dapat menurunkan kualitas hidup penderitanya. Adapun sejumlah metode pengobatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi anhedonia adalah sebagai berikut:
1. Pemberian Obat-obatan
Apabila anhedonia disebabkan oleh depresi, dokter dapat meresepkan obat antidepresan jenis selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI) untuk membantu mengendalikan gejalanya. Di sisi lain, dokter juga dapat memberikan obat penenang atau pereda cemas jika anhedonia dipicu oleh gangguan kecemasan.
Selain itu, pemberian obat-obatan ini juga dapat dilakukan untuk mengatasi gejala lainnya yang kerap menyertai anhedonia, seperti susah tidur dan sakit kepala.
2. Psikoterapi
Di samping pemberian obat-obatan, penderita anhedonia juga memerlukan terapi psikologis (psikoterapi) dan konseling dengan psikolog atau psikiater. Salah satu jenis terapi psikologis yang umum dilakukan untuk menangani anhedonia adalah terapi perilaku kognitif atau cognitive behavioral therapy (CBT). Pada dasarnya, terapi ini bertujuan untuk mengubah pola pikir dan perilaku pasien yang negatif.
Cara Mencegah Anhedonia
Anhedonia adalah kondisi yang cenderung sulit untuk dicegah. Kendati demikian, setiap individu dianjurkan untuk menerapkan pola hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang, rutin berolahraga, istirahat yang cukup, dan mengelola stres sebaik mungkin guna meminimalkan risiko terjadinya anhedonia.
Dapat disimpulkan, anhedonia adalah kondisi yang bisa dipicu oleh berbagai gangguan kesehatan mental. Oleh karena itu, ada baiknya untuk melakukan konseling dengan psikolog atau psikiater melalui layanan Telekonsultasi apabila menemukan gejala-gejala tidak biasa yang mungkin terkait dengan gangguan mental.
Melalui layanan Telekonsultasi, dokter dapat meresepkan obat-obatan sesuai dengan kondisi pasien, dan pasien juga bisa mendapatkan obat tersebut tanpa harus keluar rumah. Kendati demikian, untuk menghindari terjadinya penyalahgunaan obat, ada beberapa jenis obat, seperti antidepresan dan antipsikotik yang jika diresepkan oleh dokter, perlu diambil secara langsung oleh pasien (self pick up).
Agar lebih praktis, gunakan juga aplikasi MySiloam yang dilengkapi dengan fitur Patient Portal untuk memudahkan pasien dalam memantau hasil pemeriksaan, check in mandiri, antre secara online, serta menjadwalkan pertemuan dengan dokter Siloam Hospitals terdekat. Mari jaga selalu kesehatan fisik dan mental Anda #BersamaSiloam!
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Lippo Cikarang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Jambi
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
MENTAL - Skrining Mental health (MMPI)
Lainnya
2 Service/Item
Rp880.000
TERPOPULER
Paket Siloam Ruby
Skrining Umum
21 Service/Item
Rp1.000.000
TERPOPULER
Paket Siloam Silver
Skrining Umum
22 Service/Item
Rp1.900.000
TERPOPULER
Paket Siloam Pearl
Skrining Umum
31 Service/Item
Rp4.300.000
TERPOPULER
Brain Check Up
Penawaran Spesial, Skrining Stroke
19 Service/Item
Rp9.000.000







