Kesehatan Tubuh
Mengenal SPECT Scan, Prosedur dan Risiko Efek Sampingnya

Table of Contents
SPECT scan adalah metode pencitraan yang dapat memperlihatkan aktivitas jaringan tubuh secara lebih detail. Pemeriksaan ini sering dimanfaatkan untuk mengevaluasi berbagai kondisi organ, seperti jantung dan pembuluh darah, otak, dan tulang. Agar lebih memahami kegunaan dan prosedur pemeriksaannya, simak penjelasan selengkapnya pada artikel berikut.
Apa Itu SPECT Scan (Single-Photon Emission Computed Tomography)?
SPECT scan atau single-photon emission computed tomography merupakan teknik pencitraan dalam bidang kedokteran nuklir yang digunakan untuk melihat aktivitas organ dan jaringan di dalam tubuh. Pemeriksaan ini dilakukan dengan memberikan sejumlah kecil zat radioaktif yang disebut tracer ke dalam pembuluh darah. Zat tracer tersebut akan tersebar mengikuti aliran darah dan terkumpul pada jaringan tertentu.
Dari distribusi tracer ini, dokter dapat menilai bagaimana suatu organ bekerja, termasuk aliran darah dan aktivitas metaboliknya. Distribusi tracer pada seluruh tubuh akan diolah menjadi gambaran tiga dimensi (3D), sehingga memberikan gambaran distribusi aktivitas di dalam organ yang diperiksa.
Fungsi SPECT Scan dalam Berbagai Bidang Medis
SPECT scan dimanfaatkan dalam berbagai cabang kedokteran karena mampu menampilkan aktivitas biologis yang terjadi di dalam jaringan tubuh. Melalui gambaran distribusi tracer dan pola aliran darah, pemeriksaan ini membantu dokter memahami bagaimana suatu organ bekerja serta mendeteksi gangguan fungsi sejak tahap awal. Beberapa pemanfaatan SPECT scan dalam praktik medis meliputi:
1. Bidang Kardiologi
Dalam pemeriksaan jantung, SPECT scan sering digunakan untuk melihat perfusi miokard, yaitu aliran darah menuju otot jantung. Dari hasil SPECT scan, dokter dapat menilai apakah ada bagian jantung yang kekurangan suplai darah. Informasi ini berguna untuk membantu mendeteksi penyakit arteri koroner, menilai tingkat penyumbatan pembuluh darah jantung, serta memantau keberhasilan terapi yang telah diberikan.
2. Bidang Neurologi
Pada sistem saraf, SPECT scan menilai pola aliran darah (perfusi) di otak serta aktivitas jaringan saraf yang dapat berubah pada berbagai gangguan saraf. Melalui pemeriksaan ini, dokter dapat melihat bagian otak yang menerima aliran darah normal maupun yang mengalami penurunan aliran darah.
Pemeriksaan ini membantu dokter mengidentifikasi area otak yang mengalami penurunan atau peningkatan aktivitas. Gambaran ini dapat digunakan untuk mendukung evaluasi berbagai gangguan neurologis, seperti epilepsi, demensia, penyakit Parkinson, dan stroke.
3. Bidang Onkologi
Dalam penanganan kanker, SPECT scan dapat membantu menemukan keberadaan tumor jenis tertentu serta menilai bagaimana jaringan tumor merespons pengobatan. Selain itu, pemeriksaan ini juga sering dimanfaatkan untuk mendeteksi penyebaran kanker ke tulang, yang dikenal sebagai metastasis tulang.
4. Gangguan Tulang dan Ortopedi
SPECT scan tulang memiliki kemampuan yang cukup sensitif dalam menilai aktivitas jaringan tulang. Oleh karena itu, pemeriksaan ini dapat membantu menemukan patah tulang yang sulit terlihat pada pemeriksaan rontgen, mendeteksi infeksi tulang, serta mengidentifikasi area dengan proses pembentukan atau kerusakan tulang yang tidak normal. Informasi tersebut dapat membantu dokter menentukan penyebab keluhan serta merencanakan penanganan yang tepat.
5. Evaluasi Organ Lain
Selain organ jantung, otak, dan tulang, SPECT scan juga dapat digunakan untuk menilai kondisi beberapa organ lain, seperti kelenjar tiroid, hati, dan ginjal. Pemeriksaan ini membantu memberikan gambaran mengenai fungsi organ sekaligus perubahan aktivitas jaringan yang mungkin terjadi.
Indikasi SPECT Scan
SPECT scan direkomendasikan ketika dokter perlu menilai fungsi organ, seperti aliran darah atau aktivitas jaringan, yang tidak dapat terlihat melalui pemeriksaan berbasis struktur saja, seperti X-ray, CT scan, atau MRI. Pemeriksaan ini dapat membantu menegakkan diagnosis, menentukan tingkat keparahan penyakit, maupun mendukung perencanaan terapi.
Beberapa kondisi yang dapat menjadi pertimbangan pemeriksaan SPECT scan antara lain:
a. Gangguan Otak dan Sistem Saraf
Pada bidang neurologi, SPECT scan dapat direkomendasikan pada beberapa kondisi yang berkaitan dengan fungsi otak, seperti:
-
Evaluasi fungsi kognitif, termasuk dugaan demensia.
-
Gangguan kejang, untuk membantu menentukan lokasi fokus sumber kejang, terutama sebagai bagian dari persiapan sebelum tindakan operasi epilepsi.
-
Menilai gangguan aliran darah pada otak, misalnya pada pasien stroke atau gangguan pembuluh darah otak lainnya.
-
Mendeteksi proses infeksi atau peradangan pada otak, seperti pada kasus ensefalitis.
b. Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah
Dalam bidang kardiologi, dokter dapat merekomendasikan SPECT scan untuk menilai kondisi aliran darah pada otot jantung, seperti:
-
Mengevaluasi kemungkinan penyakit arteri koroner.
-
Menilai respons jantung terhadap pengobatan atau tindakan medis.
-
Membantu diagnosis pada pasien dengan keluhan nyeri dada yang tidak spesifik.
-
Melakukan penilaian sebelum tindakan operasi pada pasien dengan dugaan atau diagnosis penyakit jantung koroner.
c. Kondisi Medis Lainnya
Selain pada otak dan jantung, SPECT scan juga dapat digunakan untuk membantu mengevaluasi beberapa kondisi medis lain, misalnya:
-
Gangguan pada tulang, seperti infeksi atau kelainan metabolik tulang.
-
Gangguan pada kelenjar tertentu, seperti paratiroid.
-
Deteksi penyebaran penyakit ke jaringan tertentu.
Kontraindikasi SPECT Scan
Secara umum, SPECT scan tidak memiliki kontraindikasi absolut atau kondisi yang sepenuhnya melarang prosedur ini dilakukan. Namun, terdapat beberapa keadaan yang perlu menjadi pertimbangan sebelum pasien menjalani pemeriksaan, terutama yang berkaitan dengan keamanan penggunaan zat radioaktif. Beberapa kondisi yang perlu diperhatikan antara lain:
-
Kehamilan, karena adanya risiko paparan radiasi terhadap janin.
-
Menyusui, karena pasien akan disuntikkan zat radioaktif yang akan beredar di dalam tubuh dan sebagian kecil akan keluar melalui cairan tubuh, misalnya ASI, urine, dan keringat. Dokter mungkin akan menyarankan ibu untuk menghentikan sementara menyusui atau memompa serta membuang ASI pada beberapa waktu setelah pemeriksaan.
-
Alergi terhadap zat tracer, jarang terjadi.
-
Gangguan fungsi ginjal, yang dapat memengaruhi proses eliminasi zat radioaktif dari tubuh.
Prosedur SPECT Scan
Pemeriksaan SPECT scan dilakukan melalui beberapa tahap, dimulai dari persiapan sebelum prosedur, pelaksanaan pemindaian, hingga perawatan setelah pemeriksaan. Berikut setiap tahapan yang perlu diperhatikan untuk memastikan hasil akurat dan keamanan pasien.
1. Persiapan Sebelum SPECT Scan
Persiapan sebelum SPECT scan tergantung kondisi pasien dan tujuan pemeriksaan. Beberapa langkah umum meliputi:
-
Hindari minuman berkafein minimal 12–24 jam sebelum prosedur karena dapat memengaruhi aliran darah dan efektivitas obat vasodilator (pelebar pembuluh darah) yang mungkin digunakan.
-
Puasa minimal 3 jam sebelum pemeriksaan dan buang air kecil sebelum pemindaian untuk kenyamanan.
2. Pelaksanaan SPECT Scan
Prosedur SPECT scan memiliki durasi yang bervariasi tergantung jenisnya, misalnya pada:
-
Brain SPECT: 20–30 menit.
-
Bone SPECT: 30–45 menit.
-
Myocardial perfusion SPECT: 1–3 jam.
Prosedur ini terdiri dari dua tahap utama, yaitu pemberian zat radioaktif (tracer) dan pemindaian menggunakan mesin SPECT. Berikut ini langkah-langkahnya:
-
Pemberian tracer
Zat radioaktif diberikan dengan dosis sangat kecil melalui injeksi vena di lengan pasien. Pasien biasanya diminta menunggu selama 15–60 menit atau lebih agar tracer diserap oleh tubuh.
-
Pemindaian SPECT
Dalam pemeriksaan SPECT, pasien akan berbaring di atas meja khusus sementara alat berbentuk lingkaran memindai tubuh. Mesin ini mendeteksi zat radioaktif (tracer) yang telah diserap jaringan sehingga bisa menampilkan bagaimana organ atau jaringan tersebut bekerja. Hasil pemindaian diproses menjadi gambar tiga dimensi yang membantu dokter melihat aktivitas organ secara lebih jelas.
3. Setelah Pemeriksaan SPECT
Setelah SPECT scan selesai, pasien biasanya dianjurkan untuk minum lebih banyak air atau cairan lain agar proses pembuangan tracer dari tubuh melalui urine berjalan lebih cepat. Sisa zat radioaktif yang masih berada di dalam tubuh akan diuraikan secara alami dalam beberapa hari berikutnya. Umumnya, pasien juga dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasa setelah pemeriksaan.
Risiko Efek Samping dan Komplikasi SPECT Scan
Pada umumnya, SPECT scan tergolong aman dan jarang menyebabkan komplikasi serius. Namun, beberapa efek samping ringan dapat muncul, terutama yang berkaitan dengan suntikan tracer atau obat yang digunakan selama pemeriksaan. Efek samping yang mungkin terjadi antara lain:
-
Nyeri, perdarahan ringan, atau bengkak di area suntikan.
-
Sakit kepala, wajah terasa hangat, pusing, atau gangguan pencernaan akibat obat tertentu.
-
Reaksi alergi terhadap tracer atau obat.
Dalam kondisi yang jarang terjadi, pasien dapat mengalami efek yang lebih serius, seperti penurunan tekanan darah, gangguan irama jantung, atau rasa tidak nyaman di dada. Oleh karena itu, dokter biasanya akan mempertimbangkan dengan hati-hati penggunaan pemeriksaan ini, terutama pada pasien yang sedang hamil atau merencanakan kehamilan.
Demikian pembahasan mengenai fungsi SPECT scan dalam berbagai bidang medis serta prosedur dan risiko yang mungkin terjadi. Perlu dipahami bahwa informasi ini bersifat edukatif dan tidak dapat menggantikan pemeriksaan, diagnosis, maupun rekomendasi medis langsung dari dokter.
Apabila Anda atau anggota keluarga memerlukan pemeriksaan untuk menilai fungsi organ, seperti jantung, otak, atau tulang, sebaiknya berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Kedokteran Nuklir di Siloam Hospitals terdekat. Melalui konsultasi tersebut, dokter dapat menilai kondisi kesehatan secara menyeluruh dan menentukan apakah pemeriksaan SPECT scan diperlukan sebagai bagian dari proses diagnosis atau pemantauan penyakit.
Prosedur pemeriksaan SPECT scan dapat berbeda di setiap fasilitas kesehatan, tergantung pada kondisi pasien, tujuan pemeriksaan, serta peralatan yang digunakan. Meski demikian, tenaga medis akan berupaya memberikan pemeriksaan yang aman dan sesuai dengan kebutuhan medis pasien.
Untuk mempermudah akses layanan kesehatan, Anda dapat menggunakan aplikasi MySiloam. Melalui aplikasi ini, Anda dapat melihat jadwal praktik dokter, membuat janji konsultasi, serta mengakses hasil pemeriksaan medis secara online. Unduh MySiloam dan manfaatkan berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Sumber
StatPearls. SPECT Imaging. Diakses pada 2026 | Mayo Clinic. SPECT Scan. Diakses pada 2026 | National Cancer Institute. Single-Photon Emission Computed Tomography. Diakses pada 2026 | Open Access Journal. Single-Photon Emission Computed Tomography (SPECT): Advancing Functional Imaging in Medicine. Diakses pada 2026 | British Heart Foundation. What is a SPECT scan?. Diakses pada 2026 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Ivana Dewi Mulyanto, SpKN (K), FANMB
Kedokteran Nuklir
Subspesialis Onkologi
MRCCC Siloam Hospitals Semanggi
Tersedia :
Tersedia hari ini
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Hapsari Indrawati, SpKN-TM (K)
Kedokteran Nuklir
Subspesialis Onkologi
MRCCC Siloam Hospitals Semanggi
Tersedia :
Tersedia hari ini
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Febby Hutomo, SpKN (K), FANMB
Kedokteran Nuklir
Subspesialis Onkologi
MRCCC Siloam Hospitals Semanggi
Tersedia :
Tersedia hari ini






