Kesehatan Tubuh
Tumor Lysis Syndrome - Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Table of Contents
Tumor lysis syndrome (sindrom lisis tumor) adalah sindrom atau sekumpulan gejala yang muncul setelah pasien kanker menjalani perawatan kemoterapi, misalnya pada kanker jenis leukemia dan limfoma. Kondisi ini perlu diwaspadai karena berpotensi mengancam nyawa jika tidak segera ditangani dengan tepat. Mari kenali sindrom lisis tumor selengkapnya dalam artikel berikut ini.
Apa itu Tumor Lysis Syndrome?
Seperti yang telah dijelaskan, tumor lysis syndrome (TLS) adalah gejala-gejala yang bisa muncul setelah pasien menjalani perawatan kanker, misalnya kanker darah (leukemia) atau kanker kelenjar getah bening (limfoma). Ketika pasien menjalani kemoterapi, sel-sel kanker yang mati mungkin memicu zat-zat kimia masuk ke dalam aliran darah.
Kondisi ini bisa menyebabkan perubahan kadar senyawa kimia tertentu di dalam darah, sehingga berisiko memicu terjadinya kerusakan pada organ-organ dalam tubuh, termasuk ginjal, liver, serta jantung, dan menimbulkan sindrom lisis tumor.
Namun, dokter pada dasarnya akan melakukan pemantauan secara rutin pada pasien yang menjalani pengobatan kemoterapi. Dengan begitu, jika hasil pemeriksaan yang dijalani pasien menunjukkan perubahan kadar senyawa kimia dalam darah, dokter dapat segera melakukan penanganan guna menghindari risiko tumor lysis syndrome.
Penyebab Tumor Lysis Syndrome
Tumor lysis syndrome terjadi ketika pengobatan kanker, seperti kemoterapi, menghancurkan sel-sel kanker di dalam tubuh dengan cepat. Hal ini bisa membuat sel-sel kanker menumpahkan isinya ke dalam aliran darah. Akibatnya, terjadi peningkatan zat kimia di dalam darah.
Pada kondisi normal, secara umum, organ ginjal dapat menyaring dan menghilangkan zat-zat tersebut melalui urine. Namun, apabila pengobatan kanker dilakukan dengan cepat dan telah membunuh sel-sel kanker dalam jumlah banyak, organ ginjal bisa kewalahan dan mengalami kesulitan untuk menyaring senyawa kimia dari sel tumor yang mati. Hal inilah yang dapat menimbulkan sindrom lisis tumor.
Secara umum, para ahli telah mengelompokkan jenis-jenis kanker berdasarkan risiko berkembangnya TLS, di antaranya sebagai berikut:
Jenis kanker dengan risiko tinggi
-
Limfoma Burkitt stadium akhir.
-
Leukemia stadium akhir.
-
Leukemia stadium awal atau limfoma Burkitt dengan peningkatan enzim lactate dehydrogenase.
-
Leukemia limfositik akut, dengan sel darah putih yang lebih dari 100.000 per mikroliter, atau peningkatan enzim lactate dehydrogenase sebanyak dua kali dari nilai normal tertinggi.
Jenis kanker dengan risiko menengah
-
Leukemia mieloid akut dengan jumlah sel darah putih antara 25.000–100.000/mikroliter.
-
Leukemia limfositik akut, dengan sel darah putih kurang dari 100.000 per mikroliter, dan kadar enzim lactate dehydrogenase lebih rendah dari dua kali nilai normal tertinggi.
Jenis kanker dengan risiko rendah
-
Leukemia mieloid akut dengan jumlah sel darah putih kurang dari 25.000/mikroliter, dan kadar enzim lactate dehydrogenase lebih rendah dari dua kali nilai normal tertinggi.
-
Leukemia limfositik kronis.
-
Leukemia myelogenous kronis.
-
Tumor padat.
Gejala Tumor Lysis Syndrome
Gejala sindrom lisis tumor biasanya berkembang dalam kurun waktu 12–72 jam setelah pasien menjalani perawatan kemoterapi. Kondisi ini dapat memicu gangguan di dalam tubuh, seperti hiperkalemia, hiperfosfatemia, hipokalsemia, dan hiperurisemia yang bisa menyebabkan kerusakan organ dalam tubuh. Adapun beberapa gejala umum sindrom ini, di antaranya:
-
Lesu dan lemas.
-
Mual dan muntah.
-
Perubahan jumlah urine yang keluar saat buang air kecil.
-
Nyeri saat buang air kecil (disuria).
-
Munculnya darah dalam urine (hematuria).
-
Nyeri sendi.
-
Kram otot.
-
Bengkak pada kaki.
-
Perut membesar (asites).
-
Pingsan (sinkop).
-
Detak jantung tidak teratur.
-
Tekanan darah rendah (hipotensi).
-
Sesak napas.
Diagnosis Tumor Lysis Syndrome
Dalam menegakkan diagnosis TLS, dokter akan melihat profil rekam medis pasien untuk mengetahui riwayat pengobatan dan jenis kanker yang dialami oleh penderita. Pemeriksaan fisik juga dilakukan untuk mengevaluasi kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan.
Untuk menegakkan diagnosis terjadinya tumor lysis syndrome pada pasien yang menjalani perawatan kanker, dokter juga akan melakukan tes darah seperti kadar elektrolit, ureum, kreatinin, dan tes urine. Melalui prosedur pemeriksaan ini, dokter dapat mendeteksi keberadaan senyawa kimia maupun zat beracun tertentu pada tubuh pasien yang menjadi penyebab utama sindrom lisis tumor.
Dokter juga dapat melakukan pemeriksaan rekam jantung elektrokardiogram (EKG) untuk melihat adanya gangguan irama jantung. Selain itu, pemeriksaan pencitraan lainnya yang dapat dilakukan dalam menegakkan diagnosis kondisi ini, yaitu X-ray, CT scan, atau USG.
Pengobatan Tumor Lysis Syndrome
Pengobatan sindrom lisis tumor cenderung beragam, sesuai dengan tingkat keparahannya. Namun, beberapa metode yang kerap digunakan untuk menangani sindrom ini adalah sebagai berikut:
-
Penggunaan obat diuretik, untuk meningkatkan frekuensi buang air kecil yang bisa membantu mengeluarkan racun di dalam tubuh.
-
Penggunaan obat-obatan tertentu untuk mengurangi kadar fosfor dan kalium berlebih di dalam tubuh.
-
Penggunaan obat untuk memecah kristal yang terbentuk di dalam organ ginjal.
-
Prosedur dialisis (cuci darah) untuk membersihkan senyawa beracun di dalam tubuh.
Pencegahan Tumor Lysis Syndrome
Untuk meminimalkan risiko terjadinya tumor lysis syndrome, dokter dapat menangani pasien yang menjalani pengobatan kanker melalui beberapa metode berikut ini:
-
Pemeriksaan kesehatan secara rutin, termasuk tes darah dan tes urine, selama pasien menjalani pengobatan kanker.
-
Pemberian cairan melalui intravena (IV) untuk membantu fungsi organ ginjal dalam memproduksi urine, sehingga proses pembuangan racun di dalam tubuh berjalan secara optimal.
-
Pemberian obat-obatan tertentu untuk mencegah pembentukan kristal pada organ ginjal.
Perlu diketahui bahwa tanda dan gejala yang disebutkan di atas tidak merepresentasikan sindrom lisis tumor secara pasti. Dengan kata lain, hal tersebut juga dapat terjadi pada kondisi medis lainnya, sehingga tidak bisa digunakan untuk menggantikan diagnosis maupun saran medis dari dokter.
Sangat penting untuk memperoleh prosedur perawatan kanker yang tepat guna menghindari risiko terjadinya TLS. Dalam hal ini, Anda dapat mengunjungi Dokter Spesialis Onkologi di Siloam Hospitals terdekat guna memperoleh diagnosis yang akurat serta pengobatan kanker yang sesuai dengan kondisi tubuh.
Namun, perlu diingat, tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang dilakukan di setiap rumah sakit bisa berbeda-beda, mengingat prosedurnya bergantung pada fasilitas kesehatan yang tersedia. Namun, tenaga medis profesional akan memastikan setiap tindakan medis yang dilakukan sudah sesuai dengan kondisi kesehatan pasien.
Lebih lanjut, Anda juga bisa mengunjungi MRCCC Siloam Hospitals Semanggi untuk memperoleh diagnosis dan penanganan tumor maupun kanker secara komprehensif. Sebagai pusat unggulan kanker di Siloam Hospitals Group, MRCCC menyediakan fasilitas kesehatan yang lengkap dan tim dokter multidisiplin berpengalaman untuk deteksi dini kanker, onkologi bedah, radioterapi, kemoterapi, serta pengobatan kanker lainnya.
Sumber
Cleveland Clinic. Tumor Lysis Syndrome. Diakses pada 2024 | National Library of Medicine. Tumor Lysis Syndrome. Diakses pada 2024 | National Cancer Institute. Tumor Lysis Syndrome. Diakses pada 2024 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Ralph Girson Gunarsa, SpPD-KHOM, FINASIM
Onkologi (Kanker)
Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi Onkologi Medik
MRCCC Siloam Hospitals Semanggi
Tersedia :
Tersedia hari ini
Online & Kunjungi Rumah Sakit
Dr. dr. Jeffry Beta Tenggara, SpPD-KHOM
Onkologi (Kanker)
Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi Onkologi Medik
MRCCC Siloam Hospitals Semanggi
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Elisabeth Maria De Haan, SpPD-KHOM
Onkologi (Kanker)
Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi Onkologi Medik
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini







