Kesehatan Tubuh
Bolehkah Minum Susu sebelum atau setelah Minum Obat?

Table of Contents
Pada dasarnya, setiap jenis obat memiliki aturan penggunaannya tersendiri. Misalnya, terdapat beberapa jenis obat yang disarankan untuk tidak dikonsumsi bersamaan dengan susu, seperti obat untuk penyakit tiroid, antibiotik tertentu, dan sebagainya. Lantas, bolehkah minum susu setelah minum obat atau sebelum minum obat? Mari temukan jawaban selengkapnya dalam artikel berikut ini.
Bolehkah Minum Susu setelah Minum Obat atau sebelum Minum Obat?
Sebetulnya, aturan minum susu sebelum minum obat atau setelah minum obat dapat dikonsultasikan dengan dokter terkait. Namun, secara umum, terdapat beberapa jenis obat yang tidak bisa dikonsumsi bersamaan dengan susu. Hal ini dikarenakan obat-obatan tertentu bisa berinteraksi dengan kalsium yang terkandung di dalam susu. Beberapa jenis obat tersebut, di antaranya:
-
Obat untuk menangani hipotiroid, seperti levothyroxine.
-
Antibiotik tertentu (obat untuk menangani infeksi bakteri).
-
Dolutegravir, yaitu obat antiviral untuk menangani HIV/AIDS.
-
Obat untuk menangani osteoporosis, seperti risedronate, alendronate, dan ibandronate.
-
Lithium (obat untuk menangani gangguan suasana hati).
-
Obat antihipertensi, seperti thiazide.
-
Suplemen zat besi.
Apabila ingin minum susu setelah minum obat yang dijelaskan di atas, disarankan untuk memberikan jarak selama beberapa jam, tergantung dari obat apa yang sedang dikonsumsi.
Pengaruh Susu terhadap Obat-obatan yang Dikonsumsi
Pengaruh susu yang dikonsumsi bersamaan dengan obat-obatan cenderung beragam, tergantung pada jenis obat-obatannya. Lebih jelasnya, berikut adalah uraian selengkapnya mengenai pengaruh susu terhadap jenis obatan-obatan tertentu.
1. Antibiotik
Antibiotik adalah golongan obat yang digunakan untuk menangani infeksi bakteri di dalam tubuh. Efektivitas beberapa jenis antibiotik, seperti cephalexin, cefradine, dan penicillin bisa menurun jika seseorang mengonsumsinya bersamaan dengan susu. Berdasarkan penelitian dalam The Journal of Antimicrobial Chemotherapy, penyerapan obat antibiotik jenis cephalexin, cefradine, dan penicillin dapat menurun hingga >40% jika dikonsumsi bersamaan dengan susu.
2. Antiviral
Dolutegravir (antiviral untuk menangani HIV/AIDS) juga bisa berinteraksi dengan kalsium yang terkandung di dalam susu. Hal ini bisa mengurangi kadar dolutegravir di dalam darah sehingga turut berdampak pada efektivitas obat tersebut. Karena itu, dianjurkan untuk menggunakan dolutegravir 2 jam sebelum atau 6 jam setelah mengonsumsi makanan maupun minuman kaya kalsium, termasuk susu.
3. Obat Hipotiroid
Sebuah studi berjudul Concurrent Milk Ingestion Decreases Absorption of Levothyroxine menjelaskan bahwa konsumsi susu bersamaan dengan levothyroxine (obat untuk menangani hipotiroid) bisa menurunkan kadar senyawa aktif dalam obat tersebut di dalam darah.
Hal ini dikarenakan kalsium dalam susu bisa memengaruhi tingkat keasaman lambung yang dapat menghambat proses penyerapan obat hipotiroid di dalam saluran pencernaan. Maka dari itu, Food and Drug Administration (FDA) dari Amerika Serikat menyarankan untuk menggunakan levothyroxine setidaknya 4 jam setelah mengonsumsi makanan atau minuman tinggi kalsium, seperti susu.
4. Suplemen Zat Besi
Suplemen zat besi merupakan suplemen yang digunakan untuk membantu meningkatkan produksi sel darah merah di dalam tubuh. Secara umum, suplemen ini disarankan untuk dikonsumsi saat perut dalam keadaan kosong karena dapat memudahkan penyerapan zat besi tersebut dalam saluran pencernaan. Namun, terkadang suplemen zat besi dapat menimbulkan efek samping yang tidak nyaman, seperti sakit perut.
Karena itu, sebagian individu dianjurkan untuk mengonsumsi suplemen zat besi dengan sedikit makanan atau minuman. Namun, pastikan makanan atau minuman yang dikonsumsi bersamaan dengan suplemen tersebut bukan yang tinggi kalsium, seperti susu. Pasalnya, senyawa kalsium bisa berinteraksi dengan suplemen zat besi yang bisa mengganggu efektivitasnya.
5. Obat untuk Osteoporosis
Osteoporosis adalah kondisi medis ketika berkurangnya kepadatan tulang yang membuat tulang cenderung keropos dan mudah patah atau retak. Untuk memperkuat tulang dan menangani osteoporosis, penderita kondisi ini dapat diresepkan beberapa jenis obat-obatan, misalnya risedronate, alendronate, dan ibandronate.
Namun, obat-obatan tersebut tidak disarankan untuk dikonsumsi bersamaan dengan makanan atau minuman yang kaya kalsium, seperti susu, meskipun kalsium sendiri juga bisa membantu memperkuat tulang. Pasalnya, kalsium bisa berinteraksi dengan obat-obatan tersebut yang menyebabkan penyerapan obat menjadi tidak efektif.
6. Lithium
Lithium adalah jenis obat yang bekerja dengan menstabilkan suasana hati, sehingga kerap digunakan untuk menangani berbagai gangguan kesehatan mental, seperti gangguan bipolar, depresi, atau skizofrenia. Namun, penggunaan lithium dalam jangka panjang diketahui bisa menyebabkan peningkatan kalsium di dalam darah (hiperkalsemia).
Karena itu, penting untuk tidak minum susu setelah minum obat lithium guna menghindari risiko terjadinya hiperkalsemia. Sebab, hal tersebut bisa memicu terjadinya berbagai masalah kesehatan, seperti batu ginjal, penipisan tulang, serta gangguan pada kerja jantung serta otak.
7. Obat Antihipertensi
Konsumsi obat antihipertensi thiazide bersamaan dengan susu juga bisa memicu terjadinya milk-alkali syndrome, yaitu kondisi ketika pH darah terlalu basa (alkalosis metabolik) dan ditandai dengan tingginya kadar kalsium di dalam darah (hiperkalsemia), serta gagal ginjal akut.
Pada intinya, setiap jenis obat memiliki aturan minumnya masing-masing. Terdapat beberapa jenis obat yang disarankan untuk tidak dikonsumsi bersamaan dengan susu karena bisa memengaruhi efektivitasnya. Maka dari itu, sangat penting untuk berkonsultasi dengan dokter terkait guna mengetahui cara penggunaan obat-obatan yang tepat guna menangani berbagai gangguan kesehatan.
Dalam hal ini, Anda bisa mengunjungi Siloam Hospitals terdekat untuk bertemu dengan Dokter Umum berpengalaman. Tak perlu khawatir, Siloam Hospitals juga menyediakan tim dokter multidisiplin dan fasilitas medis berteknologi mutakhir yang memungkinkan pasien untuk memperoleh tindakan medis secara komprehensif dan sesuai kondisi tubuh
Perlu diketahui, setiap prosedur medis yang dilakukan di masing-masing rumah sakit mungkin akan berbeda, karena hal tersebut perlu disesuaikan dengan fasilitas kesehatan yang tersedia. Namun, tenaga medis profesional akan memastikan seluruh tindakan pemeriksaan dan pengobatan yang dilakukan sesuai dengan kondisi pasien.
Untuk memudahkan Anda, manfaatkan pula aplikasi MySiloam yang dilengkapi dengan berbagai fitur untuk melihat informasi jadwal praktik hingga reservasi dokter pilihan. Aplikasi ini juga memungkinkan pasien untuk self check in dan antre secara online. Dengan begitu, Anda tidak perlu menunggu terlalu lama di rumah sakit.
Sumber
Health. 6 Medications You Should Never Mix With Dairy. Diakses pada 2024 | Research Gate. Understanding Milk-Drug Interactions: Safety, Controversies, and Precautions. Diakses pada 2024 | The Journal of Antimicrobial Chemotherapy. Do Dietary Interventions Exert Clinically Important Effects on the Bioavailability of β-Lactam Antibiotics? A Systematic Review with Meta-Analyses. Diakses pada 2024 | Thyroid. Concurrent Milk Ingestion Decreases Absorption of Levothyroxine. Diakses pada 2024 | U.S Food and Drug Administration. LEVO-T Label. Diakses pada 2024 | Clinical Medicine. Hypercalcaemia – presentation and management. Diakses pada 2024 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
MRCCC Siloam Hospitals Semanggi
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Denpasar
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals TB Simatupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Paket Hidup Sehat 3 - Homecare
Tes Laboratorium & Medical Check Up Homecare
8 Service/Item
Rp2.199.000
TERPOPULER
Paket Hidup Sehat 1 - Homecare
Tes Laboratorium & Medical Check Up Homecare
8 Service/Item
Rp1.025.000
Paket Hidup Sehat 2 - Homecare
Tes Laboratorium & Medical Check Up Homecare
6 Service/Item
Rp875.000






