8 Fakta dan Mitos TB (Tuberkulosis) yang Penting Diketahui
Kesehatan Tubuh

8 Fakta dan Mitos TB (Tuberkulosis) yang Penting Diketahui

21 November 2025 5 menit waktu baca
(rework) fakta & mitos TB

Tuberkulosis atau yang secara singkat disebut dengan TB adalah penyakit infeksi yang perlu diwaspadai. Dilansir dari WHO, TB merupakan penyebab kematian terbesar ke-13 di dunia. Penyakit ini tidak hanya menyerang orang dewasa tetapi juga anak-anak. Sayangnya, tak sedikit masyarakat yang belum sadar akan bahaya TB dan mempercayai mitos TB yang keliru.

 

Mari simak informasi lebih lanjut mengenai fakta dan mitos TB dalam artikel di bawah ini.

 

Mengenal Fakta dan Mitos TB

 

Pemahaman yang keliru akibat banyaknya mitos TB (tuberkulosis) yang beredar di kalangan masyarakat sering kali membuat orang cenderung mengabaikan bahaya dari penyakit mematikan ini. Berikut adalah sejumlah mitos dan fakta tentang tuberkulosis yang penting untuk diketahui.

 

1. Mitos TB: Penyakit Keturunan

 

Tak sedikit yang menganggap bahwa tuberkulosis merupakan penyakit yang diturunkan. Faktanya, TB bukanlah kelainan genetik, melainkan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. 

 

Penularan tuberkulosis dapat terjadi melalui droplet (percikan air liur saat batuk atau bersin). Risiko penularan infeksi akan lebih besar terjadi pada orang-orang dengan daya tahan tubuh yang lemah. Jadi, penting untuk selalu menjaga kesehatan dan kebersihan diri, serta melindungi diri dengan menggunakan masker terutama jika bertemu dengan pengidap TB.

 

2. Mitos TB: Hanya Menyerang Paru-Paru

 

Anggapan bahwa TB hanya menyerang paru-paru adalah mitos dan keliru. Meski kebanyakan infeksi TB terjadi pada paru-paru, faktanya tuberkulosis dapat menyerang organ atau jaringan lain, salah satunya adalah meninges (lapisan tipis) yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang. Penyakit yang disebut juga dengan TB meningitis ini bisa terjadi apabila TB paru tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat, sehingga infeksi TB menyebar ke sistem saraf.

 

Selain sistem saraf, infeksi tuberkulosis juga dapat menyerang tulang (TB tulang), usus (TB usus/TB perut), ginjal (TB ginjal), kulit (skrofuloderma), kelenjar getah bening (limfadenitis TB), dan lain-lain. Meski jarang terjadi, infeksi TB juga bisa menyebar ke jantung, sistem hepatobilier, dan laring. Namun, jenis TB selain paru (TB ekstra paru) tidaklah menular.

 

3. MItos TB: Tidak Dapat Disembuhkan

 

Banyak orang yang masih bingung apakah tuberkulosis bisa sembuh. Pasalnya, tak sedikit orang yang beranggapan bahwa penyakit ini tidak dapat disembuhkan. Faktanya, meski membutuhkan waktu lama, penderita TB bisa pulih dengan menjalani pengobatan secara konsisten selama 6–9 bulan.

 

Apabila pengobatan tidak dijalani secara konsisten, bakteri penyebab infeksi TB hanya akan melemah sementara waktu dan dapat aktif kembali hingga menjadi resisten terhadap obat-obatan anti tuberkulosis. Kondisi tersebut dikenal juga dengan multidrug-resistant tuberculosis atau MDR-TB.

 

4. Mitos TB: Penyakit Masyarakat dengan Ekonomi Menengah ke Bawah

 

Tak sedikit orang yang mengaitkan TB dengan status sosial, menganggap bahwa penyakit ini hanya menyerang masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Padahal, faktanya tuberkulosis adalah penyakit yang bisa menyerang siapa pun tanpa mengenal usia, jenis kelamin, status sosial ekonomi, status pendidikan, dan lain-lain.

 

Agar lebih waspada, berikut adalah beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terserang infeksi tuberkulosis:

 

  • Menderita penyakit atau kondisi yang melemahkan sistem imun tubuh, seperti penyakit diabetes, HIV/AIDS, dan pasien yang menjalani perawatan kemoterapi.

  • Perokok aktif.

  • Mengonsumsi alkohol dan menggunakan obat-obatan terlarang.

  • Mengalami malnutrisi.

  • Kontak dekat dengan pengidap TB dalam jangka waktu yang panjang.

  • Tinggal di lingkungan yang lembap dan tidak mendapatkan cukup paparan sinar matahari, serta tingkat sanitasi dan kebersihan yang buruk.

 

5. Mitos TB: Penyakit Infeksi yang Mudah Menular

 

Meski TB dapat menular, faktanya penyakit ini tidak terbilang mudah ditularkan. Jadi, penderita TB tidak perlu dijauhi atau diasingkan. TB hanya bisa menular ketika seseorang menghirup droplet atau percikan air liur yang terkontaminasi bakteri penyebab tuberkulosis.

 

Menurut CDC, TB tidak akan menular hanya dengan melakukan kontak fisik seperti berikut ini:

 

  • Berbagi makanan dan minuman.

  • Hubungan seksual.

  • Berbagi atau menggunakan barang pribadi secara bersama-sama.

  • Menggunakan toilet yang sama.

  • Bersalaman atau berpegangan tangan.

 

Penularan TB juga bisa dihindari dengan menerapkan sejumlah langkah pencegahan penularan tuberkulosis, seperti menggunakan masker saat berinteraksi dengan penderita TB, menjaga daya tahan tubuh, dan melakukan imunisasi BCG.

 

6. Mitos TB: Orang yang Terinfeksi Bakteri TB Pasti Sakit

 

Perlu diketahui, kebanyakan orang setidaknya pernah terpapar bakteri penyebab TB sekali dalam hidupnya. Namun, faktanya tidak semua orang akan menderita TB.

 

Biasanya bakteri masuk ke dalam tubuh namun tidak aktif, kondisi ini disebut dengan TB laten. Jadi, tidak ada gejala apa pun yang muncul. Pasalnya, semakin kuat daya tahan tubuh, risiko bakteri TB berkembang dan menyebabkan penyakit pun menjadi lebih rendah.

 

7. Mitos TB: Batuk Berdarah Pasti Gejala Awal TB

 

Faktanya, batuk berdarah bukanlah gejala awal dari penyakit TB. Batuk berdarah biasanya baru terjadi ketika penyakit sudah semakin berkembang dan menyerang jaringan parenkim atau pembuluh darah paru-paru. Hal ini akan menyebabkan pembuluh darah paru-paru mengalami kerusakan dan mengeluarkan darah.

 

Namun, tidak semua batuk berdarah pasti disebabkan oleh tuberkulosis. Pasalnya, terdapat beberapa penyakit lain yang dapat memicu batuk berdarah, salah satunya adalah kanker paru.

 

8. Mitos TB: Merokok Dapat Menyebabkan TB

 

Faktanya, tuberkulosis tidak disebabkan oleh rokok, melainkan infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Namun, asap rokok dan kandungan nikotin di dalam rokok dapat mengganggu proses pembersihan saluran napas dari dahak dan melemahkan makrofag yang bertugas mencegah bakteri Mycobacterium tuberculosis masuk ke dalam tubuh.

 

Jadi, rokok bukanlah penyebab utama tuberkulosis. Namun, tak dipungkiri bahwa perokok aktif memiliki risiko lebih tinggi terserang infeksi TB karena kondisi kesehatan saluran pernapasannya yang menurun.

 

Itulah informasi seputar fakta dan mitos TB (tuberkulosis) yang perlu diketahui kebenarannya. Fakta tentang tuberkulosis penting dipahami agar kepedulian masyarakat terhadap penyakit ini bisa meningkat, sehingga pencegahannya pun bisa menjadi lebih efektif.

 

Jika Anda maupun kerabat memiliki keluhan kesehatan yang mengarah pada tuberkulosis, jangan ragu untuk mengunjungi Siloam Hospitals terdekat agar bisa mendapatkan penanganan yang tepat dari dokter. Ingin membuat janji temu? Praktis, gunakan fitur Cari Dokter atau aplikasi MySiloam yang dapat diakses dari mana saja dan kapan saja. Mari jaga kesehatan Anda dan keluarga #BersamaSiloam!

 

Aplikasi My Siloam (1)

Dokter Kami
dr-albertus-daniel-sppd

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Albertus Daniel, SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ra-aditya-adhi-puruhita-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ra Aditya Adhi Puruhita, M.M.R., SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-juliyanti-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Juliyanti, SpPD, FINASIM

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Kelapa Dua

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail