Kesehatan Tubuh
Spondilitis TB - Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

Table of Contents
Spondilitis TB atau Pott disease adalah sebuah peradangan pada tulang belakang yang disebabkan oleh infeksi tuberkulosis (TB). Seiring berjalannya waktu, infeksi ini bisa menimbulkan kerusakan pada tulang belakang serta sendi-sendi di sekitarnya.
Mari ketahui lebih lanjut mengenai penyakit spondilitis TB atau TB tulang belakang dalam artikel berikut ini.
Apa itu Spondilitis TB (TB Tulang Belakang)?
TB tulang belakang atau spondilitis TB adalah infeksi tuberkulosis yang menyerang bagian tubuh lain di luar paru-paru, tepatnya di tulang belakang. Umumnya, bagian tulang belakang yang terdampak adalah area lumbal (di daerah punggung bawah) dan torakal (di daerah punggung tengah).
TB tidak hanya dapat menyerang tulang belakang, namun juga dapat menyerang tulang panggul dan lutut. Spondilitis TB adalah kondisi yang serius dan perlu mendapatkan penanganan segera karena dapat menyebabkan kerusakan tulang belakang dan saraf-sarafnya.
Penyebab Spondilitis TB
Penyebab spondilitis TB adalah infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis pada tulang belakang. Bakteri tersebut bisa berasal dari paru-paru yang menyebar ke tulang belakang melalui darah. Bakteri ini menyerang sendi di antara tulang belakang, sehingga terjadi kematian pada jaringan sendi dan kerusakan pada tulang belakang.
Spondilitis TB sering terjadi pada penderita TB paru, namun bisa juga menyerang orang yang tidak pernah mengalami TB paru sebelumnya. Kondisi ini pun dapat ditularkan oleh penderita TB tulang belakang yang juga mengidap TB paru melalui percikan air liur (droplet) ketika penderita bersin atau batuk.
Sementara itu, penderita spondilitis TB yang tidak memiliki TB paru dapat menularkan penyakitnya melalui darah atau nanah dari luka.
Adapun sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya spondilitis TB adalah sebagai berikut:
- Sedang menjalani pengobatan yang menyebabkan supresi atau penekanan sistem imun, seperti kemoterapi dan penggunaan obat-obatan imunosupresi.
- Tinggal di lingkungan yang padat penduduk dan kumuh.
- Berusia lanjut.
- Memiliki daya tahan tubuh yang lemah akibat kondisi medis tertentu seperti HIV/AIDS, diabetes, kanker, dan lain-lain.
- Tinggal berdekatan dengan penderita TB.
- Mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan dan obat-obatan terlarang.
- Tinggal atau mengunjungi daerah dengan kasus TB yang tinggi.
- Menderita kekurangan gizi.
Gejala Spondilitis TB
Pada awal terjadinya infeksi TB pada tulang belakang, kondisi ini cenderung tidak menunjukkan gejala apapun. Gejala baru akan muncul ketika infeksinya sudah berkembang. Biasanya pasien akan merasakan nyeri yang terlokalisasi dan tidak spesifik pada tulang belakang. Timbulnya nyeri punggung yang tidak spesifik ini membuat spondilitis TB sulit terdeteksi di awal perkembangan penyakit.
Selain nyeri punggung, beberapa gejala lain yang menyertai spondilitis TB adalah sebagai berikut:
- Gejala bersifat progresif atau berkembang secara bertahap.
- Keluar keringat di malam hari.
- Demam.
- Penurunan berat badan.
- Memiliki postur tubuh tegak dan kaku.
- Gangguan makan, seperti anoreksia.
- Kifosis (tulang belakang melengkung ke belakang secara tidak normal).
- Timbul benjolan pada pangkal paha.
- Pembengkakan di tulang punggung.
Seiring dengan perkembangan penyakit, akan muncul beberapa gejala yang cukup serius, seperti:
- Gangguan saraf seperti kelemahan otot, paralisis, mati rasa, dan lain-lain.
- Kelainan bentuk tulang.
- Tungkai memendek pada anak-anak.
- Gangguan pergerakan tubuh pada anak-anak.
- Nyeri kepala, demam, dan kaku leher akibat penyebaran infeksi TB ke selaput otak.
- Gangguan menelan atau suara serak jika infeksi TB menyebar ke leher.
Diagnosis Spondilitis TB
Sebelum menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan anamnesis atau wawancara medis terkait gejala yang dialami dan riwayat kesehatan pasien beserta keluarga. Kemudian, dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik secara menyeluruh, yang mencakup pemeriksaan jantung dan paru-paru, kelenjar getah bening, tulang belakang, serta pengukuran suhu tubuh, berat badan, dan tekanan darah.
Adapun beberapa pemeriksaan penunjang yang biasanya diperlukan untuk membantu menegakkan diagnosis spondilitis TB adalah sebagai berikut:
- Kultur bakteri, yaitu pemeriksaan sampel darah atau dahak.
- Biopsi, yaitu pengambilan jaringan yang mengalami infeksi.
- Tes pemindaian, dengan foto rontgen, CT scan, atau MRI untuk melihat kondisi tulang belakang.
- Tes cairan tubuh seperti pengambilan cairan pleura dari paru-paru dan cairan serebrospinal jika terdapat kecurigaan infeksi TB di paru-paru dan otak.
- Tes PCR untuk mendeteksi materi genetik dari bakteri penyebab TB.
- Tes imunologi dengan mengambil sampel darah atau cairan tubuh untuk mendeteksi antibodi yang melawan bakteri penyebab infeksi TB.
Komplikasi Spondilitis TB
Apabila tidak segera ditangani, beberapa komplikasi yang bisa ditimbulkan oleh spondilitis TB adalah sebagai berikut:
- Kerusakan tulang belakang yang semakin parah, hingga melebur menjadi satu dengan tulang lainnya.
- Cedera saraf tulang belakang yang bisa menimbulkan kelemahan otot atau kelumpuhan permanen.
- Penyebaran abses ke otot-otot di sekitar tulang belakang, bahkan bisa lebih jauh dan menimbulkan luka terbuka.
- Gagal ginjal atau gagal hati.
- Meningitis akibat penyebaran infeksi TB ke selaput otak.
- Kematian.
Pengobatan Spondilitis TB
Pengobatan spondilitis TB dapat dilakukan dengan pemberian obat antituberkulosis dan operasi. Obat antituberkulosis (OAT) bertujuan untuk membunuh bakteri penyebab infeksi TB, namun obat ini perlu dikonsumsi dalam jangka panjang dan harus dihabiskan sesuai dengan aturan pengobatan infeksi TB, setidaknya selama 9 bulan hingga satu tahun.
Sementara itu, bila infeksi bakteri TB yang menyerang tulang belakang telah berkembang secara progresif dan menyebabkan kerusakan tulang belakang yang serius, maka perlu dilakukan operasi laminektomi untuk mengangkat bagian atau struktur tulang belakang yang telah mengalami kerusakan.
Pencegahan Spondilitis TB
Cara terbaik dalam mencegah atau menurunkan risiko spondilitis tuberculosis (TB) adalah dengan melakukan vaksinasi. Vaksin yang diberikan untuk mencegah kondisi ini adalah vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guerin). Namun, efektivitas vaksin BCG lebih besar untuk bayi daripada orang dewasa.
Jika belum pernah mendapatkan vaksinasi BCG ini, maka konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter Siloam Hospitals terdekat. Nantinya, dokter akan mempertimbangkan pemberian vaksin BCG sesuai kondisi kesehatan pasien. Perlu diperhatikan bahwa kedisiplinan dalam meminum obat antituberkulosis secara teratur memiliki peran besar dalam mencegah perkembangan penyakit infeksi TB.
Gunakan fitur Cari Dokter atau aplikasi MySiloam untuk membuat janji temu yang lebih mudah, cepat, dan praktis, di mana dan kapan saja. Aplikasi ini juga sudah dilengkapi dengan fitur pengingat janji temu konsultasi serta pengobatan harian. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang dan jaga selalu kesehatan Anda #BersamaSiloam!
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Dorothea Fortuna Meita Caturwulan, M.Kes, Sp.N, F.MIN, CIPS, FIPP
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini







