Mengenal Imunisasi BCG: Cara Kerja, Jadwal, dan Efek Samping
Ibu dan Anak

Mengenal Imunisasi BCG: Cara Kerja, Jadwal, dan Efek Samping

07 Januari 2026 5 menit waktu baca
mengenal imunisasi bcg untuk bayi

Imunisasi BCG adalah imunisasi dasar anak yang wajib diberikan. Menurut Kementerian Kesehatan, pada tahun 2022, Indonesia menempati urutan ketiga dengan kasus tuberkulosis tertinggi di dunia, setelah India dan China.

 

Tuberkulosis adalah penyakit menular yang menyerang paru-paru akibat infeksi bakteri, yang dapat menyebabkan batuk kronis hingga sesak napas. Untuk mencegah penularan penyakit ini, maka diperlukan imunisasi BCG. Mari simak lebih lanjut seputar imunisasi BCG dalam ulasan berikut ini.

 

Apa itu Imunisasi BCG?

 

Imunisasi BCG adalah vaksin yang bertujuan untuk melindungi bayi dari penyakit tuberkulosis (TB) yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Selain menghindari penyakit tuberkulosis, vaksin BCG juga dapat mencegah terjadinya radang otak (meningitis) akibat dari komplikasi TB. 

 

Hingga saat ini, imunisasi BCG (Bacille Calmette Guerin) masih menjadi langkah pencegahan tuberkulosis pada bayi yang paling efektif. Vaksin ini berisi kuman Mycobacterium tuberculosis yang sudah dilemahkan, sehingga tubuh bayi bisa menghasilkan antibodi.

 

Pemberian vaksin BCG akan merangsang sistem imun tubuh menghasilkan sel-sel penghasil antibodi yang berguna untuk melindungi tubuh dari infeksi bakteri penyebab tuberkulosis. Oleh sebab itu, imunisasi ini berperan penting dalam pencegahan tuberkulosis berat dan TB meningitis.

 

Cara Kerja Imunisasi BCG

 

Sebelum memberikan imunisasi BCG pada bayi, biasanya tim medis akan memberikan tes mantoux atau tes kulit tuberkulin untuk memeriksa apakah bayi sudah terpapar atau terkena infeksi TB. Hasilnya dinyatakan positif apabila terdapat benjolan kemerahan dengan ukuran diameter kurang lebih 10 mm yang menyerupai gigitan nyamuk di area suntikan. 

 

Jika hasil tes mantoux positif dan bayi belum pernah menerima vaksin BCG, maka hal ini menandakan bahwa sistem kekebalan tubuh bayi sudah aktif dan mengenali bakteri penyebab tuberkulosis, karena sudah pernah terpapar sebelum menerima vaksin. Jika sudah begitu, maka bayi tidak perlu menerima imunisasi BCG lagi karena justru bisa menyebabkan efek samping. Sebaliknya, jika hasil tes kulit tidak menunjukkan adanya reaksi benjolan, maka pemberian vaksin BCG bisa dilanjutkan.

 

Perlu diketahui bahwa TB tidak hanya menyerang paru-paru tetapi dapat menyebabkan komplikasi serius yang menyerang otak. Akan tetapi, menurut Vaccine Knowledge, efektivitas vaksin BCG mencapai 70–80% dalam mencegah penyakit tuberkulosis yang menyerang otak, yakni TB meningitis.

 

Imunisasi BCG Ditujukan untuk Siapa Saja?

 

Menurut CDC, BCG diperuntukkan bagi orang dengan kriteria kesehatan tertentu dan yang sudah berkonsultasi dengan dokter spesialis anak atau paru-paru. Adapun beberapa kelompok yang wajib mendapatkan imunisasi BCG adalah sebagai berikut:

 

  • Bayi dan anak-anak: Vaksin ini bisa diberikan kepada bayi yang negatif pada tes kulit TB dan berisiko tinggi tertular infeksi TB dari orang dewasa.
  • Tenaga kesehatan: Tenaga kesehatan yang sering berhadapan dengan pasien tuberkulosis wajib mendapatkan vaksin BCG.

 

Efektivitas vaksin BCG pada bayi cukup tinggi. Di sisi lain, vaksin BCG diketahui tidak bekerja dengan optimal pada orang dewasa, terlebih jika sudah berusia di atas 35 tahun. Meski begitu, vaksin ini tetap dianjurkan bagi tenaga kesehatan yang memiliki risiko tinggi tertular TB.

 

Adapun beberapa kelompok orang yang tidak bisa menerima imunisasi BCG adalah sebagai berikut:

 

  • Pernah menderita tuberkulosis atau tinggal serumah dengan penderita TB yang tidak menjalani pengobatan.
  • Menderita kondisi imunosupresi (memiliki imun tubuh yang sangat lemah).
  • Sedang hamil.
  • Dinyatakan positif HIV.
  • Hasil tes kulit TB positif.
  • Sedang dalam masa pengobatan kanker.

 

Jadwal Imunisasi BCG

 

Pemberian vaksin BCG di Indonesia umumnya hanya diberikan satu kali ketika bayi baru lahir hingga berusia 1 bulan. Apabila tertunda, maka paling lambat imunisasi ini harus diberikan ketika usia bayi tidak lebih dari 2–3 bulan.

 

Meski termasuk imunisasi dasar wajib untuk anak, pemberian vaksin BCG perlu ditunda apabila bayi mengalami sejumlah kondisi berikut:

 

  • Memiliki berat badan lahir rendah kurang dari 2,5 kg dan dalam kondisi yang tidak sehat.
  • Telah mendapatkan vaksin lain dalam satu bulan terakhir.
  • Mengalami infeksi kulit.
  • Lahir dari ibu yang positif HIV dan hasil tes HIV bayi belum terkonfirmasi.
  • Sedang mengalami demam atau sakit lainnya.

 

Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Imunisasi BCG

 

Dosis vaksin BCG pada bayi di bawah usia 1 tahun adalah 0,05 ml. Penyuntikan BCG dilakukan di lengan bagian atas, dan setelah mendapatkan suntikan BCG, lengan bagian atas tersebut tidak boleh disuntikkan imunisasi lain, setidaknya dalam waktu tiga bulan.

 

Setelah penyuntikkan vaksin BCG, umumnya akan muncul bisul atau luka bernanah. Hal ini terjadi karena vaksin mengandung bakteri hidup sehingga menyerupai infeksi alamiah. Di mana, bisul tersebut merupakan bentuk respon imun tubuh terhadap bakteri.

 

Namun tak perlu khawatir, menurut IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), bisul akibat BCG tidak membahayakan. Sehingga, orang tua tidak perlu melakukan tindakan lebih lanjut. Namun, jika terjadi pembengkakan dan muncul banyak nanah pada bekas suntikan yang disertai demam tinggi, maka segera konsultasikan pada dokter.

 

Lantas, bagaimana jika tidak muncul bisul setelah suntik? Hal ini bisa saja terjadi pada beberapa bayi dan tidak menandakan adanya kegagalan pada imunisasi.

 

Efek Samping Imunisasi BCG pada Bayi

 

Bisul yang muncul setelah penyuntikkan umumnya akan mengeras dan meninggalkan bekas luka kecil setelah sembuh. Luka ini dinamakan dengan scar BCG. Efek samping ini cukup aman dan bukan merupakan kondisi yang perlu diwaspadai.

 

Pada beberapa kasus yang jarang terjadi, efek samping serius akibat imunisasi BCG adalah reaksi anafilaksis. Oleh sebab itu, proses vaksinasi harus dilakukan oleh dokter atau tenaga kesehatan yang sudah terlatih untuk mewaspadai efek samping berbahaya.

 

Imunisasi BCG adalah imunisasi yang wajib dilakukan untuk melindungi si kecil dari penyakit tuberkulosis. Jadi, pastikan buah hati Anda sudah mendapatkannya. Selain itu, jika si kecil mengalami gejala yang mengarah pada penyakit tuberkulosis, segera kunjungi Dokter Spesialis Pediatri (Anak) di Siloam Hospitals terdekat.

 

Anda dapat menggunakan aplikasi MySiloam untuk membuat janji temu dengan dokter secara lebih mudah, cepat, dan praktis. Aplikasi ini juga sudah dilengkapi dengan fitur self check in dan antre secara virtual, yang membuat Anda tidak perlu menunggu lama di rumah sakit. 

 

Digital Booking Lab&Rad - KV 2

Dokter Kami
dr-liem-eremius-arifin-spa

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Liem Eremius Arifin, SpA

Pediatrik (Anak)

Spesialis Ilmu Kesehatan Anak


Siloam Sriwijaya Palembang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ifo-faujiah-sihite-mked-ped-spa

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ifo Faujiah Sihite, M.Ked (Ped), SpA

Pediatrik (Anak)

Spesialis Ilmu Kesehatan Anak


Siloam Hospitals Jambi

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-anggun-kusumasari-spa-msc

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Anggun Kusumasari, SpA, MSc, AIFO-K

Pediatrik (Anak)

Spesialis Ilmu Kesehatan Anak


Siloam Hospitals Balikpapan

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail